Mereka

Adalah mereka yang bergemuruh dalam kepalaku. Saling menyahut tak mau kalah. Berbisik kala aku menyibukkan diri, berteriak lantang ketika lampu dipadamkan. Pada cahaya temara seberang jalan yang kutilik dari jendela, suara mereka semakin bertabuhan.

Mereka berbagai rupa. Mematut diri, bersolek dengan gincu merah darah. Berlagak melacur. Mereka mengumpat, bermulut manis, bersilat lidah. Menyesap kopi lantas meludah.

Diamlah, kataku. Mereka tak acuh. Alih-alih melirih, mereka terus bersemangat menari dalam kepalaku. Rancak. Tak tahu irama. Tanpa malu berubah wujud. Anehnya, mereka hanyalah satu saja.

Engkau saja.

.

.

.

DIAM!!

Advertisements

What I thought at Midnight

Maybe things don’t happen for a reason.
Maybe we’re just grasping for ways to make sense of the chaos around us.
Maybe we’re giving meaning to things that have no meaning.
Maybe we’re clinging to hope so hard, that we forget about reality.

What if we’re wrong and nothing is meant to be?
We’re just lost souls wandering endlessly, desperately seeking comfort from notion that things will work out in the end no matter what.
What if we’re tricked ourselves into believing that everything will be okay in the end just so we don’t have to face the reality that maybe it won’t?

.

Regard, Tale-catcher.

Enough

Sometimes, just love is not enough. That is what I read in one chapter of an online fiction. In many moments, love is not mere that three words. That is more about how you prove what you meant by then, and actions are not easy things.

Maybe, we were in love. Nevertheless, we are not now. Perhaps, you felt in on me. But you already stand outside me. Accidentally, the promise we compromised months ago, just be a history. A lost story.

As easy, like that.

Surely, just love is not enough. We are like an apple, with a worm inside. The red skin is still glowing, fresh. In addition, you will look at it with curiousness. However, without you now, there are holes inside. Fragile. Like a crystal at the edge. One accidentally moment and it will be crushed.

Yes. Just love is never enough.

Danau Lumpur

People in mud lake

Bagaimana rasanya berenang di danau lumpur?

Tempat itu kotor. Pun menjijikkan. Perenang di dalamnya, buruk rupa. Mereka tersenyum seakan air itu adalah madu. Tanpa sehelai malu pun, mereka menenggaknya. Namun layaknya kubangan yang mereka diami, mereka pun telah berangsur berubah. Buruk rupa, buruk nurani. Gelap mata, gelap logika. Tak beda dengan genangan itu.

Sama menjijikkannya.

Tempat itu kotor. Pun menjijikkan. Tuan rumahnya adalah iblis bertubuh tambun. Lidahnya berbisah, bibirnya nyinyir. Jangan pernah membayangkan bagaimana tampangnya, hanya akan membuatmu muntah. Serupa dengan semangnya.

Sama menjijikkannya.

Tempat itu kotor. Pun menjijikkan. Bersusah payahlah berenang mengarunginya. Danau pekat itu, bak kubangan tak berujung. Perkaranya hanya tersisa dua. Ikuti saja arusnya, agar layak diterima dengan gerombolan memuakkan itu, atau berenanglah tanpa ternodai lumpur meski mereka tak henti mencemoohmu dengan kubangan mereka.

Tempat itu kotor. Pun menjijikkan. Perkaranya, mana yang kamu piih?

.

note: ditulis untuk mengenang episodik terburuk dalam kehidupan.

Ini Malamku

12600_400_large

Ini malamku. Kala sunyi membangunkan luka tak tentu arah. Menghantam bertubi tanpa jeda. Ketika hitam tidaklah lebih dari kelam sementara perih meraung diantara air mata. Mungkin di belahan lain kamu terdiam, menyaksikan halaman sarat aksara. Entah apa. Mungkin milikku yang terjatuh berceceran atau milikmu yang mengukirnya penuh kearifan.

Mengungkap bahagia yang tak berupa. Menggariskan kepedihan yang menggila.
Tatkala perpisahan tertulis setajam belati, menggerus nadi hingga mati.

Ini malamku. Menyerah diri pada sesak yang merayu. Mungkin di halaman itu kamu tak lagi menemukan aku, bercerita kenangan lalu. Mungkin kamu harus menutupnya rapat-rapat, atau memilih meghitung detak yang berkejaran hingga fajar mendaki atap. Sebab halaman yang kau simak telah sekarat, oleh sepi dan kesedihan yang pekat.

Biarlah hening yang merayap tak mengenal lelah, tersimpan dalam halaman yang berbeda.
Menendang ingatan. Menguburnya dalam-dalam.

Ini malamku. Mungkin begitulah malammu.

Cafe

Aku melihatmu.

Dari sudut café, aku melihatmu.

Kamu masih menyerukan suara bariton yang khas. Lantunannya menggema, menyihir seluruh penjuru. Pun aku di dalamnya. Nyatanya kamu tetaplah sempurna. Definisi sempurna cukup selaras dengan pandangan khalayak. Rahang keras membingkai wajah, bibir tipis dan sorot mata kuat. Tubuh tegap dengan kaki jenjang memikat. Seseorang, ujarkan apa yang cacat dari sosokmu. Continue reading