Mereka Berbohong

wp-1473364540806.png

– I –

Mereka berbohong. Aku tak akan terbiasa.

Hari ketiga, dan aku tak tahu harus bagaimana. Aku mencari keramaian, karena sepi merajamku begitu kejam. Namun pada hiruk pikuk, aku masih dipeluk pilu. Hingar bingar mal hanyalah latar, sementara telinga hanya mendengar gelakmu. Yang lain tak lebih dari semu.

Mengapa kamu tidak menghilang?

.

– II –

“Ia sudah tiada, Jen…”

Nyawaku seketika tercerabut. Aku tak ingin melihat apapun, tak ingin mendengar apapun, tak ingin mencerna apapun. Aku tak ingin mengerti…

“Nggak. Dia nggak—”

…Meninggal. Kamu tidak mungkin pergi meninggalkan aku setelah janjimu padaku. Kamu masih hidup di sini. Bahkan cincin pertunangan di jemarimu masih berkilat-kilat. Kamu tidak mungkin…

Meninggal.

Bukankah membohongi diri sendiri pun ada batasnya? Jasad itu tak berbentuk, hanyalah tubuh yang menghitam yang tak dikenali. Api membakarnya hidup-hidup di dalam mobilnya sendiri. Tak ada satupun tubuhnya, yang aku tahu. Bahwa idiot pun tau, kamu tak lagi di dunia ini.

Tapi kamu tak mungkin menghilang.

.

– III –

Mereka berbohong. Aku tak akan terbiasa.

Aku menghempaskan diriku di jok mobil, menghidupkan mesin keluar mal. Membayar sejumlah uang parkir dan melaju di antara kemacetan. Ironis. Aku masih merasakanmu menggenggam tanganku pelan.

Pada ruas jalan tol yang senyap, kakiku menekan pedal gas tanpa kendali dan aku tak peduli. Radio di mobil —dengan sangat kurang ajar— memutar lagu-lagu melankolis, seakan mencibirku. Aku beteriak, dan tak kuhiraukan bagaimana air mataku beriak.

Aku hanya ingin kamu menghilang.

.

– IV –

Mereka berbohong. Aku tak akan terbiasa.

Mobilku berhenti di entah di kilometer berapa. Aku tak tahan lagi. Kamu ada di mana-mana. Meliar di seluruh akar pikiranku, bercabang hingga tiap anaknya. Suaramu terdengar di mana-mana. Desismu mendesir ke seluruh tubuhku, sementara tawamu menggema di telingaku. Hangatmu tersebar di mana-mana. Di tanganku, menyelimuti tubuhku, menciumi bibirku.

Aku sungguh ingin kamu menghilang.

.

– V –

Aku menyerah.

Mereka berbohong. Pun aku berbohong. Aku tak ingin kamu menghilang.

 

– kkeutt –

He is most cheerful person ever. Like sunshine among us. He always called us ‘young generation’ and told us to being grateful. Now I know, he is the young generation itself.

My deepest condolences to my dear friend, Andreas Kurniawan.
Please rest in peace.

you can read any information of him in here.
Thank you.

Advertisements

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s