Sweet Heart

image

  1. sweet
    swēt/
    adjective
    adjective: sweet; comparative adjective: sweeter; superlative adjective: sweetest

Continue reading

Setia

qVy6Bo2iAn“Menunggunya lagi?” tanya nenek tua di depanku. Namanya Rose, dan ia sungguh renta. Dengan tubuh separuh membungkuk ia selalu berjalan berkeliling areal pemakaman. Mengenakan terusan putih bersih seolah baru ia setrika tadi. Sering kali, ia terkekeh jika ia memperogokiku berdiri termangu di persimpangan jalan pemakaman.

Aku meringis. Mengangguk menyetujui.

Ia tersenyum, setengah mencemooh, setengah iba. Menurutnya, aku sungguh bodoh. Untungnya, setidaknya ia tidak pernah terang-terangan mengucapkannya.

“Lelaki bodoh.” Continue reading

Ring

image Jemari Ji beruntun membuat ketukan berirama di atas meja. Kian lama kian cepat. Namun sepertinya gagal menenangkan detum jantung yang makin bergemuruh. Mata Ji berputar ke seluruh penjuru ruangan. Semua orang yang ia kenal berkumpul, berbincang satu sama lain. beberapa saling mendentingkan gelas champagne mereka. Gelak tawa bercampur dengan musik hip-hop.

Begitu ramai, dan ia berdiri sendiri dengan satu tangan yang bertumpu di meja bundar. Ji melirik arloji. Satu jam sudah, dan wanita itu belum menampakkan batang hidungnya. Detik terus melindap, secepat bulir keringat yang menetes di dahi. Ia menggigit bibir bawahnya keras. Tak usah ditanya, bagaimana rautnya yang mulai panik tak keruan.

Kemana wanita itu pergi?

Tangannya merogoh ceruk kantong, mengeluarkan ponsel. Ibu jarinya dengan cekatan memencet tombol dan mendekatkannya ke telinga. Beberapa kali nada panggil, sebelum seseorang di seberang telepon menjawab. “Bae! Rin belum datang?” tanyanya tergesa.

“Belum, Ji. Mungkin macet di jalan,” jawab sahabatnya. Bae, berdiri di dekat pintu depan klub, melongok ke dalam ruangan dan tertawa kecil melihat Ji yang kini mendekatkan tangannya ke bibir. Ia pasti menggigiti kukunya sampai habis saking bingungnya.

I wish so. Semua persiapan sudah siap kan?”

“Sudah.”

“Band? Balon? Musik? Err… apalagi ya—“

“Oh my God, Ji. Calm down! Semua kan sudah beres. Tinggal kamu yang bersiap.” Ji menarik nafas panjang dan mengeluarkan pelahan. Ya, semuanya sudah terencana. Hanya tinggal dirinya yang belum siap, atau ia memang harus siap.

Bae melirik ke luar ruangan, kala mobil Lamborghini merah berhenti di depan klub. Ia menyeringai lega. Kembali pada ponsel di telinganya, ia berbicara pada pemuda yang hilang akal di dalam sana. “Rin sudah datang.”

“What?”

“Rin sudah masuk ruangan. Prepare your heart, bro. Good luck!” ucapnya lantas menutup telepon.

.

Ji menenggak habis cocktail-nya dalam sekali teguk. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia membenarkan dasi hitam dengan corak diagonal berwarna emasnya, merapikan kemeja putih yang ia setrika sendiri tadi pagi, membenahi kerah jas hitamnya. Sempurna.

Dari sudut matanya, ia menemukan surai rambut kecoklatan Rin menari bersama gerakan lincahnya. Wanita itu berulang kali menebar senyum pada orang yang menyapanya. Sesekali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Rin mengenakan dress putih semata kaki dengan belahan rok di tengah, sesekali menyibak memperlihatkan kaki jenjang eksotisnya. Kendati pakaian itu berlengan panjang dengan kerah Sanghai, terusan itu membentuk lubang di bagian dada berbentuk oval hingga belahan dadanya dapat menyedot semua perhatian. Ji berdecak, bagaimana bisa seorang wanita menjadi manis dan seksi pada saat yang sama?

Anyway, it’s Rin. Show time. Ji mengambil satu gelas cocktail yang masih penuh, dan mencemplungkan benda yang ia siapkan tergesa.

.

Tuk. Tuk. Tuk.

Ruangan itu begitu riuh. Berbagai lengkingan, tawa, musik, beraduk. Namun yang Ji dengar hanyalah ketukan teratur dari stiletto wanita di depannya. Wanita itu berhenti, tepat di hadapannya. Rambutnya yang tergerai, ia satukan di sisi kanan dengan satu sapuan. Ia tersenyum. Sejenis senyuman yang menjorokkan Ji pada kematian. Jika kematian dapat semudah itu, mungkin Ji sudah hilang dari dunia ini sejak dulu. “Happy birthday, Ji,” ucapnya, menjulurkan tangan.

Ji mungkin sudah mengalami keterbelakangan mental mendadak, karena kosakata dalam pikirannya hilang entah kemana. Untuk beberapa saat, ia menjelma menjadi stupa.

“Thanks, Rin,” jawab Ji, pada akhirnya. Susah payah ia mengucapkannya. Setelah satu tegukan ludah, ia melanjutkan, “Aku pikir… kamu tidak akan datang.”

Rin terkekeh. Semacam tawa renyah yang menjadi senandung pengantar tidur bagi Ji. “Sorry, jalanan macet sekali.”

Ji memanggut, berlagak mengerti. Genggamannya pada gelas cocktail mengeras. Gelas cocktail istimewanya. “Ah, Rin. Kamu ingin minum?” tanyanya menyodorkan gelas.

“Ah, yeah—“ Tangan Rin terhenti di udara —sebelum ia menerima minuman Ji— karena seseorang menepuk pundaknya pelan, lantas menyejajarkan diri. Rin menoleh, lantas tersenyum lebar.

O-oh.

Rin kembali menatap Ji, dengan senyum yang sama. Sepertinya bibirnya tidak bisa lebih lebar lagi, atau jika tidak, bibirnya bisa membelah pipi meronanya. Dengan mata berbinar yang mengalahkan gemerlap lampu klub, ia bertanya sambil menunjuk pria di sisinya, “Ji, kamu tahu Jay kan?”

Ji mengangguk pelan. Dahinya berkerut.

“Jay baru melamarku tadi pagi!” seru Rin, sementara Jay hanya tersenyum tipis menyaksikan aksi Rin. Ji meneguk ludah. “Look at this!” Rin memperlihatkan tangan kanannya. Menunjuk jari manisnya yang berhias cincin emas dengan permata berkilau di tengahnya. “Cantik, kan? Iya kan??!”

Wajah Ji berubah pias. Pria itu terdiam beberapa saat, lantas mengangguk pelan. Senyum Rin semakin lebar, sementara Ji tergagap menerima pernyataan. Ji menatap gelas cocktail yang di tangan kanannya. Meneguknya cepat-cepat hingga tandas. Cairan di dalam gelas berpindah ke perut, beserta cincin yang ia siapkan di dasarnya. Ponselnya berdering, pesan dari Bae.

‘Kapan dimulai acara melamarmu? Semuanya sudah siap.’ 

Ia tersenyum kecut. ‘Tidak jadi. Batalkan.’

.

“Loh, Ji? Cocktail-nya kenapa kamu minum? Katamu buat aku?”

-kkeut-

. Note :

  • I wish I can write something longer. However I want to post tales regularly, at least once a week. Even it’s just flash fictions, drabbles, or ficlets. What’s better actually?
  • Rin and Ji again eh? Haha… They are the most perfect roles for my tales. Even their names is perfectly cute in my ears. Do you want to suggest other names?
  • Please spare your time to give some feedback below. Happy walking!

. Regard, Tale-catcher.

Buaya Darat

Dentang musik jazz bersenandung ke seluruh penjuru kafe. Jia mengetukkan ujung jemarinya, berantuk dengan permukaan meja senada dengan irama. Melihat parasannya yang menawan dengan senyum merekah itu, sungguh membuatku ingin bernyanyi untuknya.

“Jia…”

Jia jelas terbuyar dari suasana yang dibayangkannya sendiri. Ia mengalihkan pandangan pada pria di depannya. Sementara aku masih menatapnya. “Humm, Ji? Ada apa?”

Ji bergeliat di atas kursinya. Sejak tadi gelagatnya memang aneh. Entah apa yang disembunyikannya. Ia pun tak berkata-kata apapun selanjutnya, hanya memainkan tangannya di bawah meja.

“Ji?” panggil Jia sekali lagi. Ia mengernyitkan dahi, bingung.

Ji lantas menatap lekat sepasang iris hazel di hadapannya. Rautnya tegang. Bibir bawah ia gigit keras-keras lantas tersenyum dibuat-buat. Ia menarik nafas panjang. Aku heran, apa yang ia akan katakan pada Jia sesungguhnya?

Pria itu tiba tiba menjulurkan kotak beludru warna merah marun yang telah ia buka penutupnya. Tampaklah apa yang berada di dalamnya. Jia terkejut bukan kepalang. Ia kontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pun aku yang turut tercengang dibuatnya.

Cincin.

Ji menarik nafas dalam, untuk ke sekian kali, sebelum kemudian bertanya, “Will you marry me, Jia?”

Say yes, Jia! pikirku.

Jia butuh waktu beberapa saat untuk mencerna. Ji. mengajaknya. menikah.

MENIKAH.

“Ji–”

Byoorrr!!!

Aku tiba-tiba terlempar, membasahi muka Ji dengan semena. Aku tak tahu siapa yang melemparku. Bukankah sampai tadi keadaan masih bahagia?

“Enaaakk kopinyaa??!” tanya seorang wanita tiba-tiba. Ia berdiri, berkacak pinggang di hadapan Ji. Ia pun cantik, memikat dengan caranya sendiri. Sayang, dua mata kucingnya menyengit. Api seakan membakar di sekelilingnya. Rambut sepinggangnya berkibar bagai medusa. “Jadi begini ya kamu di belakangku??”

Ji terbelalak. Pun dengan Jia. Dan denganku, jika aku bisa.

“Rin?!” kata Ji, tanpa sadar sepertinya.

“Pacaran satu tahun, pinjam uang sepuluh juta dan belum kamu balikin, tiba-tiba hilang… lalu sekarang mau nikah sama cewek lain? Cakep banget ya kamu!”

“Rin, aku bisa–”

Adegan ala sinetron itu berhenti pada tepisan tangan Rin. Ia hanya beralih menatap Jia, dan tertawa mencibir. “Kamu mau menikah sama buaya darat ini? Ambil dengan senang hati!!” serunya membahana, lantas meninggalkan sepasang yang tercengang itu -dan aku tentu saja- dengan seringai lebar.

-kkeut-

Note: Siapa ‘aku‘?

Regard, Tale-catcher.

The Last Midnight

image .

Pintu kamar berderik pelan, nyaris tengah malam. Rin membuka separuh dua matanya, kala suara langkah kaki beradu, diikuti dengan derik pintu lemari dan bunyi gemericik shower yang menggema. Ia mendengus pelan. Membayangkan pria di kamar mandi itu keluar dengan bertelanjang dada sambil mengeringkan rambut, dan meninggalkan kamar menuju kamar tidur tamu.

Ia sudah terbiasa. Maka tubuhnya pun terlampau malas untuk membuat sedikit gerakan untuk merespon kebisingan malam itu. ia kembali akan menutup matanya.

Akan, dan urung.

Karena lantas sebuah lengan mengular di pinggang ramping Rin, berkeliling di perut ratanya. Ia tersontak. Meski ia sudah terlalu familiar dengan aroma maskulin pria itu, gerakannya yang tak terlintas di pikirannya malam itu, seakan mendekatkannya pada kematian. “…Ji?” panggilnya —separuh tak percaya— dengan berbisik.

“Hmm?” tanya pria itu balik.

Lengan Ji menarik tubuh Rin mendekat, hingga mereka tak lagi bersekat. Punggung dengan dada.  Ubun kepala menyentuh ujung dagu. Dua pasang kaki saling menyentuh, pada posisi yang serupa. Nafas yang tercekat. Detak jantung yang berderap. Rin tak siap. Tidak malam ini, setelah sekian lama malamnya hanya ia habiskan sendiri. Ia menarik nafasnya yang nyaris hilang. “Apa …yang kamu lakukan?”

Ji tersenyum getir. Meski ia tak melihat wajah Rin yang membelakanginya, ia tahu bagaimana tubuh wanita itu menegang karenanya. “Memelukmu,” jawabnya singkat. “Aku ingin memelukmu malam ini. Boleh?”

Rin meneguk ludahya jauh ke dalam. Menata kata yang hanya berakhir anggukan. Pada hening yang melindap, tak ada di antara mereka yang melanjutkan pembicaraan. Hilang berkelana pada pikirannya masing-masing. Pertanyaan yang menggumpal tanpa pernyataan. Satu dua nafas yang mereka atur seperti tentara berbaris, nyaris seirama dengan detik jam dinding di sudut ruangan.

“Ini hari terakhir, ya, Rin?” tanya Ji tiba-tiba. Seperti jangkar yang memecah lautan tanpa ombak. “Pesawatku akan berangkat sore, setelah persidangan besok siang. Koper-koperku akan diambil Dami besok lusa.”

Rin terdiam. mendengarkan suara Ji saja, membuatnya ingin menulikan telinga. Ia tak tahu apa yang seharusnya ia rasakan. Berita ini bukan berita baru. Agenda itu sudah ia ketahui sejak beberapa hari yang lalu.

“Aku akan tinggal di apartemen yang kubeli untuknya…” ucap Ji. Rin tahu siapa yang Ji maksud. Wanita Jepang yang menanti Ji di kondominium baru mereka. Ia menjungkitkan satu sudut bibirnya. Pahit. “…bersamanya.”

Rin menutup mata. Mematikan tubuhnya dalam alam bawah sadar. Melanjutkan pembicaraan itu adalah hal terakhir yang diinginkan Rin malam itu.

Putaran detik berganti menit. Melaju hingga beberapa jam. Di antara lampu kamar yang temara, mata keduanya masih menyalang, tanpa satu sama lain sadari. “…Rin,” panggil Ji setelah berjam-jam berlalu. Tak ada jawaban. Mungkin Rin sudah terlelap.

Ji menghela nafas panjang. Pada kebahagiaan yang ia rajut, ia telah menikam senyum Rin. Pada harapan yang ia susun, ia memorandakan hidup Rin. Pada cinta yang ia tanam, ia telah menginjak ikatan yang ia bangun dengan Rin. Pada tujuan yang ia anggap benar, ia akan meninggalkan rumah ini… dan penghuninya.

“Maaf, Rin…” ucap Ji, lirih. Nyaris senada dengan getaran garpu tala. “Maaf, karena mencintainya. Maaf, karena memilihnya. Maaf, karena meninggalkanmu…” Air mata yang jatuh dari dua pelupuk matanya, bersamaan dengan pelukannya yang mengerat. Semuanya serba terakhir. Malam terakhir, pelukan terakhir, kecupan terakhir.

“… aku bukan suami yang baik, ya?” Tak ada jawaban. Tak akan pernah ada sahutan untuknya malam itu. Ji menggigit bibir bawahnya. Sembari berulang kali merapal kata maaf, ia mendekap istrinya… terakhir kali.

Sudah berapa kali ia tersenyum sementara hatinya menangis? Rin tak tahu. Yang paling menyedihkan adalah, karena ia dapat mengatakan bahwa ia telah terbiasa. Karena sprei di bawah wajah Rin adalah saksi, bahwa ia telah lebih dulu basah untuk tangis yang melesak.

Love is losing game.

.

Note:

  • Gambarnya cocok gak sih? Susah bingiits cari yang sesuai. Tapi ya udahlah ya. Yang penting ceritanya. Idiiihh. Kayak cerita udah oke aja. 😒😒
  • Sorry, akhir-akhir ini sedih-sedih mulu. Gatauu kenapaaaaa. Kebanyakan nonton film action kalik ya. 😋
  • Enjoy blogwalking, reading, and give me some feedbacks below. Thanks.

Regard, Tale-catcher.