Nobody Knows

tumblr_m8gjag1tgb1rcpowho1_500_large_副本

Warning :

M-rated for some scenes, and some words. No children allowed, please close this tab.
If you choose to continue read it, I don’t care. You take your own responsibility.

Psstt! Masterpiece of me and my brave partner — Jusmalia Oktaviani

.

I

Laksmono menyeka peluhnya untuk ke sekian kalinya hari ini. Matahari tepat di ubun, menyengat hingga mendengungkan kepala. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam satu warung pinggir jalan dan memesan satu es kelapa muda. Ia duduk menghadap lampu merah jalanan. Tas jinjingnya diletakkan begitu saja di sampingnya.

Es kelapa mudanya baru datang, dan ia segera menegaknya cepat. Mereda dahaga, mengembalikan tenaga. Begitu pikirnya. Bagamana tidak, ia sudah berjalan dua jam lebih mengelilingi tiap rumah di Jakarta Pusat, menjajakan katalog barang miliknya pintu ke pintu. Tiada hasil. Alih-alih mereka mendengarkan Laksmono menjelaskan, sebagian dari mereka cepat-cepat menolak begitu bukunya dibuka. Sebagian yang lain bahkan langsung membanting pintu rumahny begitu melihat Laksmono.

Sial.

Tiba-tiba ia berhenti meminum minumannya. Matanya terpaku pada lampu merah yang menyala di depannya. Bukan karena lampu itu berubah menjadi merah muda, atau kuningnya berubah menjadi warna ungu. Namun karena anak-anak kecil yang berebutan mendatangi kendaraan bermotor yang berhenti. Saling membunyikan alat musik seadanya yang mereka bawa. Kencrengan, begitu mereka menyebutnya. Lampu merah padam berganti hijau, mereka kembali ke tepi jalan dan kendaraan mulai meraung. Salah satu dari mereka menarik matanya.

Anak itu berambut panjang sepunggung, lurus alami dan diikat seadanya. Matanya bulat jernih serupa mata rusa. Bibirnya tipis, dan ada dua lesung di pipinya ketika tersenyum. Kulitnya kuning langsat walau kotor oleh debu. Umurnya mungkin masih 7 tahun, atau 8. Bajunya lusuh, seperti tak pernah dicuci. Tangannya menggenggam kencrengan, sementara yang lain membawa koin-koin hasil sedekah.

“Bang,” panggil Laksmono pada penjual warung. “Siapa anak itu bang?” tanyanya, tangannya menunjuk anak kecil itu.

“Yang rambut panjang itu, pak?”

“Iya.”

“Oh itu namanya Sari, pak.”

Laksmono mengangguk. Sari.

“Ia memang kerja seperti itu setiap hari?” tanya Laksmono lagi. Ia bertanya dengan mata masih tak lepas dari anak itu. Rasa penasaran menggodanya begitu kuat. Entah mengapa, gadis kecil itu membuat matanya terpaku.

“Namanya juga anak jalanan, Pak. Kalau mereka nggak cari makan di jalan begitu, mereka kelaparan.” Si penjual warung menjawab seadanya.

Laksmono mengangguk-angguk. Masih memfokuskan pada sang anak jalanan. Imajinasinya meliar. Ingin segera menyapa anak itu, tapi ia tak mungkin melakukannya di siang hari itu juga, di saat hari begitu terang benderang, dan kumpulan anak jalanan masih mengerumuni gadis itu. Lagipula, biasanya anak jalanan mempunyai koordinator. Mereka tak mungkin bekerja sendiri-sendiri. Bagaimana kalau kerumunan anak-anak jalanan itu sedang iawasi oleh koordinatornya? Nasibku bisa naas, pikir Laksmono.

Laksmono memutar otak. Ia kebingungan. Hasratnya menggegelegak. Sebuah ide muncul dalam benaknya yang kotor.

.

II

Ini hari ketiga Laksmono mampir ke warung jalanan yang sama. Lantas mengamati lampu merah, gerombolan anak kecil yang mengadu nasib. Tentu saja, Sari.

Ada yang berbeda dengan anak itu, yang membuat Laksmono suka memperhatikannya. Mungkin karena senyum cerianya, atau tawa renyahnya, atau jernih matanya. Mungkin karena tubuhnya yang mungil dibandingkan teman-temannya.

Hari ini tidak boleh sama dengan sebelumnya.

Laksmono segera membayar es jeruknya dan berjalan mendekati lampu merah. Menunggu kesempatan ketika Sari menghitung receh sendirian. Ia melangkah lamat-lamat hingga berhenti di samping Sari. Anak itu masih asyik dengan koin-koin miliknya.

“Hey adek kecil,” sapanya.

Sari berhenti menghitung, menengadah melihat Laksmono. “Om siapa?”

Laksmono berjongkok, menyamakan tingginya dengan Sari. Ia tersenyum ramah, “Kenalkan, nama om Laksmono. Panggil aja Om Mono. Kamu?”

“Sari, om,” jawabnya polos, bernada ceria. Dua lesung di pipinya nampak seiring dua sudut bibirnya yang tertarik ke atas.

“Sudah dapet berapa hari ini?”

Sari membuka genggaman tangannya, menyibak beberapa receh dan uang kertas yang melipat lusuh. Ia menghitung sejenak, menggunakan jemari mungilnya sebagai sempoa manual. “Eh… Masih sepuluh ribu om.”

“Wah… padahal kan ini sudah siang. Kamu nggak kepanasan?” Tangan Laksmono meraih riap rambut yang jatuh di wajah Sari, menempel basah oleh peluh. Ia merapikan tiap anak rambutnya hingga rapi.

“Sudah biasa kali, om,” jawab Sari sekenanya.

“Wah… hebat banget ya kamu. Eh, kamu nggak laper?”

“Laper sih, om.” Sari memberungut. Tangannya mengusap perut yang berbunyi semenjak tadi.

“Mau makan sama om?”

“Makan? Om mau traktir?” Sari dengan wajah berbinar langsung meloncat gembira kala Laksmono mengangguk. Laksmono sudah memperkirakan, bahwa Sari takkan menolak. Anak jalanan seperti Sari, pasti tak punya cukup uang untuk makan enak. Cukup dirayu sedikit, Sari pasti mau ikut dengannya. Apalagi anak itu masih kecil, polos, dan lugu. Takkan paham arti dibalik bujuk rayu Laksmono padanya. “Nanti kalau sudah makan enak, Om mau traktir es krim, permen, dan apa saja yang kamu mau. Gimana?” Laksmono masih membujuk Sari. Wajah Sari makin berbinar. Ia mengangguk-angguk setuju tanpa ragu. “Sari mau, Om!”

Laksmono memberikan senyum termanisnya. Ia menggandeng tangan Sari, mengajaknya menjauh dari kerumunan anak-anak jalanan yang lain. “Om ajak kamu, dengan satu syarat. Kamu harus diam, ya. Jangan kasih tahu teman-temannya.” Laksmono mengangkat telunjuknya di bibir.

Sari kembali mengangguk. “Sari mau makan enak, Om. Kalau Sari kasih tahu yang lain, ntar Sari nggak kebagian, Om. Kita kan harus saling berbagi kalo di jalan, nggak boleh pelit,” Sari menyahut dengan keluguan khas anak-anak.

“Oke, kita pergi sekarang, yuk?” Laksmono menggamit tangan mungil Sari. Menjauhi lampu lalu lintas yang padat. “Nggak ada yang ngawasin kamu, kan?” tanya Laksmono waspada. “Nggak, Om. Bang Fadil biasanya cuma ngawasin pas pagi hari,” sahut Sari.

.

III

Laksmono menilik gerik Sari yang lahap memakan sepotong dada ayam bertepung di hadapannya. Sebentar-sebentar menyeruput sodanya. Tak butuh banyak waktu untuk memghabiskan seluruh jenis makanan yang menyarati meja. Ayam siap saji, dua gelas soda, satu cup es krim dan sekotak biskuit sudah berpindah. Kini Sari mengulum permen susu di mulutnya.

Laksmono tanpa sadar membayangkan bagaimana mulut itu mengulum miliknya. Bagaimana bibir yang belepotan minyak itu akan meringking nyaring. Bagaimana– ah! Gairahnya memuncak, menjalar di tiap sendinya.

“Sudah selesai makannya?” tanyanya.

Sari mengangguk puas. Mata cemerlangnya kian bersinar. Ia menatap Laksmono penuh puja. “Sudah, Om. Terima kasih.” Sari lantas menelisik setiap penjuru rumah Laksmono. Sepi, selintas terasa suram dan dingin. Nyaris tak berperabot sejatinya, hanya barang ala kadarnya yang berdiri di beberapa sudut. Selebihnya, kosong. “Om tinggal sendiri?”

Laksmono menunduk sedih, dan berucap lirih, “Iya, Sari.” Ia terdiam sejenak, memoles mimiknya sedemikian sengsara. “Istri Om sudah meninggal beberapa tahun lalu, bahkan kami baru saja menikah, lho. Istri Om bahkan sedang hamil anak pertama kami. Om juga tidak punya orang tua, tidak punya saudara. Om kasihan sekali, ya, Sari?”

Sari menatap Laksmono iba. Baginya, seorang anak yang hidup sebatang kara, tanpa seorang pun yang melindunginya di Jakarta yang sedemikian megah, tentu hidup Laksmono tak ubahnya bagai dwisisi yang hampir selaras. Nyaris tak ada beda. Ia menggenggam tangan Laksmono yang mengepal. “Om, yang sabar ya, Om… Sari juga sendiri, lho, Om. Dan Sari kuat kan? Om juga harus kuat!” ujarnya, menyunggingkan senyum lebar dengan tawa kecil di selanya.

Laksmono, di dalam kepalanya yang tertunduk, menyeringai tipis. Domba kecilnya sudah mendekati ranjang serigala, sudah percaya oleh tiap akal bulusnya. Kali ini ia hanya tinggal menerkamnya. “Sari…”

“Iya, Om?”

Laksmono mengangkat kepalanya, menatap Sari penuh nafsu. Seringainya berubah menjadi senyum lebar. Terlalu lebar agaknya, menyisakan sengatan listrik di sekujur tubuh gadis kecil itu. Peringatan untuk menyelamatkan diri. “Kamu mau nggak hidup sama Om?”

Sari, gadis kecil yang tak paham arti kalimat tersebut hanya bisa menunjukkan wajah kebingungan. Laksmono tak mau lagi menunggu. Bukan pembicaraan yang ingin ia utarakan. Laksmono segera meraba-raba bagian vital gadis itu. Sari mulai gemetar, ketakutan dengan apa yang baru saja diperbuat Laksmono. Namun Laksmono bergerak cepat. Ia segera memeluk erat gadis itu. Menciuminya perlahan-lahan dari kening hingga leher. Sari mulai menggelinjang. “Om, Om…” Ia merengek. Namun Laksmono terus membujuknya dengan melontarkan ucapan bernada menghibur,”Ini enak kok, Sar. Seperti permen tadi.” Ucapannya dibarengi dengan senyum lebar nan licik.

Laksmono tak berhenti sampai di situ. Ia segera menindih tubuh gadis itu. Membuat gadis itu tak mampu bergerak kemanapun. Laksmono leluasa menelanjangi tubuh anak kecil itu, sementara ia sendiri pun sudah tak berpakaian lagi. Laksmono yang sudah keburu nafsu langsung mencoba menelusuri dan menikmati setiap inci tubuh gadis itu dengan seluruh indra perabanya. Tak ia pedulikan rengekan gadis kecil itu. Yang ia pikirkan hanya kepuasan tak terbayangkan yang nikmatnya tiada tara. Dan hanya anak kecil seperti Sari yang mampu memberikannya kepuasan sehebat itu.

Sebaliknya, bagi Sari, apa yang sedang digarap Laksmono adalah mimpi buruk. Kendati ini adalah kenyataan tak terbantahkan, tiap detik yang berlalu dengan begitu mencekam tak dapat dicernanya. Ia mulai menyesali mengapa ia tak ikut berkerumun bersama kawannya saja saat ini dan berebut nasi bungkus seadanya, mengapa ia dengan mudah mengekor Laksmono dengan tawaran makan sepuasnya, mengapa bahkan ia menuruti kakinya mendekati Laksmono siang tadi. Namun terlambat. Yang kini ada di benaknya adalah bagaimana cara melarikan diri dari sini.

Sari berusaha melawan. Dengan dua tangannya yang dicengkeram erat, serta dua kaki yang tertindih, tak ada yang bisa ia lakukan selain menggelinjang tanpa henti. Ia mulai berteriak kencang, berharap ada tetangga atau orang lalu lalang yang mendengarnya. Tak peduli ia, dengan tamparan keras di pipinya, atau pada tiap perlakuan Laksmono pada tubuhnya.

Laksmono membentaknya berulang kali. “DIAM! DIAM KAMU! DIAAMM!”

Sari barang pasti tak menurutinya. Lengkingannya meninggi, semakin nyaring dan semakin sering.

Kesabaran Laksmono tandas sudah. Tak bersisa. Sementara satu tangannya masih menggenggam dua pergelangan Sari erat, tangannya yang lain mencekik leher Sari, bermaksud meredam suara Sari. “DIAM KAMU!!”

Cekikan Laksmono kian keras. Namun Sari tak kunjung bungkam. Dengan sisa oksigen yang memenuhi relung peparunya, Sari masih saja meraung. Kian lama kian lirih. Napasnya melemah perlahan kendati ia masih mencicit, Sari tak mampu menarik udara.

Pelan-pelan, penglihatan Sari memburam, menggelam. Lantas padam. Kesadarannya, lenyap. Yang terucap untuk terakhir kalinya ia tujukan pada Laksmono, “…hentikan… Om…”

..

IV

Baiklah! Tenang, tenang, jangan panik, pikir Laksmono. Panik hanya akan menambah masalah. Laksmono menarik nafas dan pikirannya mulai jernih. Hei, katanya pada dirinya sendiri, bukankah ini bukan kejadian yang pertama? Ia menegur dirinya. Bukankah yang dulu pun tak pernah ketahuan, jadi untuk apa khawatir? Laksmono tersenyum lega.

Selalu saja, anak-anak ini! Bandel dan tidak menuruti keinginannya. Memangnya apa susahnya sih diam dan mengikuti birahinya. Dasar!

Sudahlah, toh sudah terlanjur mati.

Laksmono meneruskan aksinya, menuruti gairahnya yang terlanjur memuncak. Bibirnya kembali mecumbu tubuh mungil Sari, sementara jemarinya bergerayang di sekujur kaki. Kepuasannya adalah yang utama, begitu pikirnya, sembari menelanjangi diri. Nyaris hilang akal ia oleh nafsunya. Ia memuaskan birahinya pada tubuh Sari yang mendingin.

Bukankah lebih mudah mengerjakan pada tubuh yang tidak memberontak?

.

V

Terpuaskan sudah.

Bibirnya menyeringai untuk jejas cengkeraman tangannya membentuk lebam di tubuh Sari. Untuk tangis yang telah mengering. Untuk cairan semen yang menyarati selangkangan dan dada.

Laksmono segera membungkus mayat Sari dengan kain seadanya, dan segera menuju ke halaman belakang rumahnya. Tak ada siapapun yang akan tahu mengenai ini, batinnya lagi. Ia segera menggali lubang di lahan belakang itu. Mata Laksmono tertumbuk pada gundukan lain, gundukan yang dulu pernah menjadi mayat korban pertamanya. Di atasnya sudah tumbuh pohon pepaya yang besar. Lagi-lagi Laksmono tersenyum geli. Tak akan ada yang tahu, Laksmono, pikirnya. Sambil bersiul, ia menggali lubang di sebelah pohon pepaya itu. Seakan tak pernah terjadi apapun.

Tak akan ada yang tahu, kan?

***

.

Footnotes:

  1. Big thanks for my besties partner, Jusmalia Oktaviani yang setuju menggunakan bahasan ini. Well, ini salah satu script lawas yang membusuk di dalam folder dan beliau membuatnya lebih indah.
  2. M-rated. Mature contents. No children. Oh yes, saya pikir bahasan ini tidak bagus untuk perkembangan otak anak-anak. Yeah, walau saya pikir anak-anak jaman sekarang tidak seinosen saya dulu. :p
  3. Terinspirasi oleh beberapa kasus pedofil yang beredar akhir-akhir ini. Dunia memang sudah tidak aman. Pfft!
  4. Thanks for reading, semoga cukup worth it untuk dibaca. Enjoy your day!
Advertisements

22 thoughts on “Nobody Knows

  1. okehhh, kembali mengangkat topik yg berani ><
    tapi memang nyatanya sperti itu, banyak banget kasus yg terjadi seperti ini..mengerikan banget deh klo uda baca beritanya, rasanya pgn T-T
    nice ^^

  2. Kemarin habis baca “Menyusu Ayah”-nya Djenar Maesa Ayu. Sekarang baca “Nobody Knows”-nya Adis dan Mbak Lia. Dua cerpen yang menceritakan kekerasan seksual pada anak. Mengenaskan, ya.

    • menyusu ayah itu yang akhirnya dia mencari ‘susu’ lain kan? tapi bahasanya halus, aku suka cerita itu.
      iya, kekerasan seksual pada anak2 sekarang udah kayak hal biasa. mengenaskan. 😥

  3. baca tulisan ini miris bgt,.. :”(
    jd inget berita kakek cabul i2,..
    blm lgi berita yg marak2 akhir2 ini,..
    yes kekerasan seksual pada anak2,..
    apalagi yg kasus anak kecil meniggal di RSCM akibat d’cabuli n’ pelaku blm tertangkap,..
    dimana hukum???

    yap, kl nafsu udah menguasai, akal sehat hilang,..
    kecuali kl 2h orang memang ad kelainan,..
    pengendny dapat hukuman mati 2h pelakuny!!!
    sari ini salah satu contoh, anak jalanan yg tdk ad klwrga yg jelas yg sering mendapat tindakan kyk gini, bahkan gk hanya anak perempuan, anak laki pun korban,..

    • iya kak. miri banget dengan berita akhir2 ini.
      hukum> sometimes I doubt we have law. 😐
      iya kak, begitu deh kalo sudah dikuasai nafsu tanpa diimbangi dengan akal. miris sekali.

  4. Okeh~ topik yang tepat disaat yang tepat menurutku…
    Aku suka tema berani kaya gini.
    Sebenarnya aku speechless bacanya karena kau termasuk orang yang mengutuk dan melaknat segala macem bentuk pelecehan atau kekerasan seksual pada anak-anak.

    Aku suka walaupun endingnya agak Eumm~ gimana ya??? gitu deh.. Haha…
    Good job for you Diez… ^^

    • thankies kakak… 🙂
      err… memangnya ada kah orang yang tidak mengutuk tindakan seperti ini, terutama kita sbg perempuan (dan saya sbg anak kecil) yg sering jadi korban. hak! hak! hak!
      endingya agak… gimana kak? hha…
      so sorry ya, mungkin ratednya bikin gak nyaman. kekeke..
      thankies kak. ^^

  5. halo, nyoba2 blog walking ternyata malah ketemu cerita ini. KEREN! pake banget! bahasanya berani, ada gelegak mual di perut tapi itu yang bikin ceritanya nancep di hati 🙂

    berharap dengan cerita ini bikin masyarakat lebih membuka mata dengan kejahatan seperti di atas. semoga.

  6. Gak kebayang. . Biarpun anak jalanan , tapi ya Tuhan jangan sampe saya ketemu orang2 macam ini yg udh bnyak bgt berkeliaran di Muka Bumi, apalg di Jabodetabek. . Bisa Khilaf pengen tak sambit Golok. .

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s