Lips

Ia menatapku dengan cinta yang pekat, seperti api yang membakar kayu hingga asapnya membumbung rapat. Aku takluk pada kedua bola matanya. Pada kedua tangannya, aku menyerahkan ragaku. Sementara masa lalu perlahan terberai dari ingatan, dan masa depan tak lagi kuragukan. Bibirnya berjungkit simetris, sembari dua lengannya merengkuh pinggangku erat. Di pelipir ranjang sempitnya, aku berdiri dengan gelora yang meluap.

Punggung jemarinya berjalan di pelipis, menuju pipi, menyentuh dagu dan membawanya mendekat padanya. Tidak ada satupun diantara kami yang berlagak polos. Diriku mengerti apa yang ia inginkan. Sementara tungkai kananku menaiki ranjang hingga jarak kami merapat, dua tanganku melingkar pada lehernya. Ia menyeringai, juga denganku. Pada jangka yang makin nihil, aku menutup mata. Membiarkan hasrat kami melanjutkan acara.

Bibirnya yang dingin dan kasar memagutku. Mulanya kecupan-kecupan kecil berkali-kali. Sembari tangannya mengular sepanjang punggungku, ia semakin melumat habis bibirku. Aroma kayu manis dari lehernya melenyapkan akal, sementara aku tak ambil pusing untuk memungutnya kembali. Malam kian beringsang, dengan lenguhanku tiap lidahnya menari, dan detak dari arloji Fossil miliknya.

Ciumannya berhenti. Aku kelimpungan menarik nafas. Terengah, tapi bahagia. Di mataku, ia sempurna.

“I like your lips…” bisiknya.

Aku menyengir, memainkan lidah sepanjang bbir. “I like my lips too…” balasku, lantas kedua telapak tanganku meraih pipinya, mengecupnya kembali sekali lagi. “Especially when they touch yours…”

Mereka Berbohong

wp-1473364540806.png

– I –

Mereka berbohong. Aku tak akan terbiasa.

Hari ketiga, dan aku tak tahu harus bagaimana. Aku mencari keramaian, karena sepi merajamku begitu kejam. Namun pada hiruk pikuk, aku masih dipeluk pilu. Hingar bingar mal hanyalah latar, sementara telinga hanya mendengar gelakmu. Yang lain tak lebih dari semu.

Mengapa kamu tidak menghilang?

Continue reading

Yang Terlantar

Uhuk.

Sudah berapa bulan blog ini dibiarkan tanpa postingan baru? Nyaris delapan bulan mungkin, sejak Agustus tahun lalu.

I am literally failed with my own goal to fill this blog more. Really sorry.

Sejak lulus sekitar bulan Agustus tahun lalu (yeay I am officially doctor!), akhirnya banyak kesibukan yang datang bertubi-tubi. kerjaan freelance sana-sini (sambil cari koneksi biar bisa sekolah lagi) buka toko kecil-kecilan, pacaran (eh?) dan tetek bengek lain yang akhirnya bikin makin nggak ada waktu  untuk nulis.

Waktunya sih ada, tapi mood-nya yang nggaak ada. The almighty writer block kinda sucked my mood to write anything. Even when I wrote something, I didn’t post it here. Continue reading

Surat Terakhir

Tuanku terdiam. Matanya menatap jendela, sementara pandangannya kosong entah ke mana ia terpaku. Tubuh ringkihnya duduk bersandar di ranjang, dengan meja lipat yang membentang di atas pahanya. Sesekali telunjuknya mengetuk meja pelan.

Tuanku lantas menghela napas panjang dan menatap langit-langit. Tujuh kali tujuh petak persegi plafon. Tak ada benda di kamar kecil berbau klorin itu selain ranjang dengan kepala menempel di satu sisi kamar, dua meja tidur di masing-masing sisi, dan sofa di seberangnya. Tiang infus terhimpit diantara belakang ranjang dan dinding, sementara selangnya menjulur dari ujung tiang dan punggung tangan tuanku. Cairan berwarna merah muda mengalir di dalamnya. Jendela di sisi kanan ranjang menampilkan gemerlap Tokyo yang tak pernah tidur. Sangat kontradiktif dengan lampu temara yang berpendar malas dari meja ranjang. Lamat-lamat tuanku menggoreskan pena.

Aku tak mengucapkan apapun. Alih-alih mencabut pena dari tangan keriputnya, aku hanya terdiam. Tak pula mencegahnya untuk menulis di tubuhku. Aku hanya berharap apa yang ia tulis hanyalah sekadar jejalan kata.

Tuanku tersenyum lebar. Tergambar jelas di raut mukanya, rasa tenang dan lega yang menyelimuti jiwanya. Ia meletakkan pena di atas meja dan membaringkan tubuhnya lamat-lamat.

Matanya perlahan memejam. Dadanya naik turun, lambat laun memanjang, lantas menghilang.

Di kamar yang selalu sunyi ini, aku tak belum pernah merasakan suasana sehening ini. Aku menangis.

.

Pintu berderik pelan, dan seorang perawat melangkah masuk dengan nampan berisi jarum-jarum suntik di atasnya. Wanita dengan rambut tergelung itu berhenti di samping ranjang, meletakkan nampan dan hendak membangunkan sang penulis kenamaan Jepang tersebut. Ia baru saja menyentuh jemari sang penulis, kala ia sadar kulitnya telah mendingin. Terlebih, badannya kaku bak baru saja dicelupkan dalam air es. Air mukanya berubah pasi, pun dengan detak jantungnya yang seketika mencelos. Ia cepat-cepat menyentuhkan jari telunjuk dan tengahnya di leher pria yang seumuran kakeknya itu.

Beberapa kali suara melengkingnya menyebut nama sang penulis. Tak ada jawaban.

Wanita muda itu lekas-lekas memencet tombol darurat berulang kali. Ia masih saja mencoba memanggil, kendati ia tahu tak akan pernah ada sahutan untuknya.

Dua tangannya jatuh di samping badannya. Ia terdiam. Mata cokelatnya bertumbuk pada meja di atas ranjang. Ia mengambil secarik kertas di atas meja. Sementara derap kaki dari sejawatnya semakin lama terdengar nyaring, ia menatap kertas putih yang basah entah karena apa. Di tengah halaman, huruf-huruf kanji terpatri apik. Wanita itu terhenyak.

Selamat tinggal.

Ibuku Membenciku

image

Ibuku tidak banyak bicara. Aku dapat menghitungnya dengan sepuluh jariku, berapa kata yang diucapkan ibuku setiap hari. Ibuku hanya membangunkanku setiap pagi dengan memanggil namaku, dan mengajakku sarapan hanya dengan dua atau tiga patah kata. Setelah itu, beliau tidak akan berbicara apapun sampai saatnya ia berangkat kerja, dan pulang setelah aku terlelap. Jika aku belum tertidur —mungkin waktu itu aku berniat menunggunya— dan melihat ibuku sudah pulang, beliau hanya bertanya mengapa aku belum tidur. Ibu tak menunggu jawaban, alih-alih beliau langsung memasuki kamarnya tanpa keluar hingga esok menjelang.

Ibuku mungkin membenciku.

Continue reading