Perihal Surat Cinta

Halo.

Di bulan Februari ini, saya menemukan diri saya berkejaran dengan suara-suara di pikiran saya. Tentang menulis untuk 30 Hari Menulis Surat Cinta. Tentang pengakuan dan cerita yang bergulat dalam diri saya. Tentang cinta yang sebelumnya belum saya ungkapkan.

Ini perihal surat cinta yang sudah terkirim. Tidak banyak memang, karena saya hanya membuat sepuluh atau berapalah saya lupa. Tapi toh saya mencapai target yang saya inginkan. Mengingat di awal tahun, saya menargetkan diri saya setidaknya menulis sepuluh surat cinta, karena saya sungguh malas sibuk sekali dengan tetek bengek UKDI. Bahkan beberapa masuk ke dalam blog @PosCinta, hal yang tidak saya duga sama sekali.

Iya, saya memang pemalas sibuk sekali.

Saya memang perempuan yang gemar melupa, lantas mengorek kembali apa yang sedang dilupakan. Pada akhirnya, ingatan berebut menggoreskan nama di tiap kertas surat. Maka, mereka yang berhasil mengalahkan kemalasan nama-nama lain, saya rangkum di sini:

  1. My Super-Duper-Superhero
  2. Heart to Brain
  3. Monolog Awal Bulan
  4. Missing Fragments (dimuat pula di sini)
  5. Yang Saya Benci
  6. Kepada Pria Asing yang Baik Hati
  7. Cerita Sebelum Tidur
  8. Yang Dihindari
  9. Hal-Hal Kecil Berarti Besar (dimuat pula di sini)
  10. Air Mata yang Akhirnya Jatuh
  11. Everything Happen for a Reason (dimuat pula di sini)
  12. Doa yang Realistis
  13. Perempuan Yang Besar Hatinya (dimuat pula di sini)

Dan saya mendapatkan hadiah manis berupa surat cinta dari Benedicta (@Okage_de), yakni Penulis Surat Terbaik Tentang Ayah (dimuat pula di sini).

Perihal surat cinta yang masih di atas meja saya, saya akan tetap mengirimkannya meski acara ini berakhir. Karena cinta tidak hanya bersemi di Bulan Februari. Bukankah Maret juga cukup manis untuk mengecap cinta?

Akhir kata, terima kasih banyak untuk @PosCinta acara #30harimenulissuratcinta yang menyenangkan ini. Terima kasih untuk tukang pos @gembrit @iitsibarani_ yang mau bersedia direpotkan oleh saya yang tidak lebih dari rupa-rupa serbuk dandelion. Semoga kita dipertemukan oleh cinta yang lebih indah di tahun mendatang.

Semoga saya juga dipertemukan oleh cinta yang baru, agar surat cinta saya tidak melulu tentang masa lalu.

.

Tale-catcher,
adiezrindra

What I thought at Midnight

Maybe things don’t happen for a reason.
Maybe we’re just grasping for ways to make sense of the chaos around us.
Maybe we’re giving meaning to things that have no meaning.
Maybe we’re clinging to hope so hard, that we forget about reality.

What if we’re wrong and nothing is meant to be?
We’re just lost souls wandering endlessly, desperately seeking comfort from notion that things will work out in the end no matter what.
What if we’re tricked ourselves into believing that everything will be okay in the end just so we don’t have to face the reality that maybe it won’t?

.

Regard, Tale-catcher.

Unsaid Things

Because we are depressed. Because we try so hard. Because we keep falling. Because we keep going. Because what else we can do?
(Nayla Majestya)

 

“Let’s be friend,” ucapnya lirih. Dua irisnya menghujam lantai keramik.

Aku tersenyum tipis. Aku tahu ia akan mengatakannya. Aku tahu ia telah mempersiapkan pernyataan itu dari rumah. Mungkin sejak ia menyetrika kemeja putihnya. Atau sejak ia terbangun pada fajarnya. Atau jauh sebelum semua itu. Sesungguhnya, aku sudah bersiap.

Yang aku tidak tahu adalah, ia akan mengatakannya di hari ini. Ketika aku sudah menyiapkan rupa-rupa kejutan. Dan aku tidak siap.

Okay,” jawabku.

Kamu tahu, manusia selalu dihadapkan pada pilihan bertahan atau meninggalkan. Banyak diantaranya berjalan menuju opsi pertama. Mungkin berharap bahwa masing-masing individu berhak mendapatkan kesempatan. Atau berharap ia dapat memperbaiki apa yang salah.

Aku memilih untuk opsi kedua. Bukan karena aku tidak mencintainya, melainkan karena wanita harus tahu kapan ia harus berdiri untuk kebahagiaannya. Jika bahagia adalah dengan melepaskannya, lakukanlah. Jika bertahan tidak membuat segalanya menjadi lebih baik, menyerahlah.

Untuk apa aku bekerja sendirian, sementara di lain sisi sudah tidak mengharapkan?

Setelah jawabanku meluncur, kami terdiam. Tak ada yang berusaha memecah hening, selain detik yang merayap. Segalanya berkecamuk. Namun dari segala macam yang beraduk, aku tak tahu sesungguhnya aku ingin mengatakan apa. Meski, aku tertawa seakan aku sudah membaca skenario yang ia diam-diam selipkan di otak.

Ada banyak pertanyaan di kepalaku, di pikirannya. Ada banyak tuntutan di lidahku, ataupun di hatinya. Ada banyak pengharapan yang lantas meluruh. Karena harapan adalah komponen yang tidak perlu.

Kami bergerak. Ia melirik arlojinya, lantas memilih untuk berdiri dari sofa. Akan ke rumah sakit, katanya. Aku mengangguk mengerti. Bukankah itu yang terakhir kami butuhkan? Mengerti bahwa masing-masing sudah tidak mungkin disatukan.

Aku membukakan pagar, sementara ia menaiki motornya. Kami bergurau tentang mobilku yang baru keluar dari bengkel. Terbahak seakan pertemuan hari itu adalah kencan pertama kami.

Kami tidak ingin melihat tangis yang tumpah pada masing-masing air mata, maka kami memilih untuk melucon. Lelucon yang tidak terasa lucu. Tapi toh kami tertawa.

Ia menggeber motornya dan berujar, “Thanks for everything.”

Aku mengangguk. “Thanks to you, too.”

Beberapa saat, ia telah menghilang dari jalan, dan aku menutup pagar. Aku meneguk ludah. Menelan pertanyaan yang tidak aku tanyakan, yang tidak akan aku tahu jawabannya. Aku menarik nafas. Menarik semua pernyataan yang tidak akan bisa aku bisikkan. Aku menutup pintu rumah. Seperti aku juga menutup kejutan yang aku siapkan.

Pun seperti aku harus menutup ingatan.

 

I have always believed that certain things are better unsaid. They seem to lose their magic or beauty, the moment they are uttered.
(Fatimah Alkaff)

 

Footnote:
I read some tweets, and I want to write something. Already 1 AM and this feeling kinda bloating up. I need to release.

Credit:
The highest credit for two women who wrote this poetic quote, Nayla Majestya (@majesticnayla) and Fatimah Alkaff (@ftkf).
Thank you so much for letting this follower using your quotes.

Sepuluh Rahasia

image

Ada banyak hal rahasia yang tidak pernah aku ucapkan padamu. Kamu mungkin tidak tahu, karena aku bukan orang yang mudah untuk mengungkapkan. Mungkin, kamu tidak cukup waktu untuk melongok tulisan ini. Maka aku akan menyingkatnya saja, agar kamu bisa membacanya sebelum kamu tidur malam ini.

  1. Aku suka ketika kamu mengucapkan selamat pagi. Meski saat itu, aku sudah berada dalam perjalanan kerja. Meski aku selalu lupa untuk sekadar menyapa. Kamu tahu bagaimana kopi yang kamu nikmati pagi hari, dapat mengawali suasana hatimu satu hari itu? bagiku, itu kamu.
  2. Aku selalu kikuk jika kamu meneleponku. Aku mengerti ini terdengar sarkastik di telingamu. Namun di balik diam dan dinginku jika telepon baru saja tersambung, aku menyimpan debar jantung. Dan debar itu, karena kamu.
  3. Aku tak pernah bisa memilih baju. Karena kedatanganmu selalu istimewa, aku sudah menelisik satu-satu semua baju dalam lemari, satu hari sebelum kita bertemu. Mencoba menggambarkan bagaimana ekspresimu jika aku mengenakannya di depanmu.
  4. Aku mendengarkan album Greyson Chance – Truth Be Told, dan membayangkan semua pelakon di lagu itu, sebagai kamu. Dan aku selalu tertawa malu sendiri jika mulai mengimajikan hal itu.
  5. Aku tahu, kamu pasti sebal karena aku selalu merespon semua emosimu dengan datar. Aku selalu malu untuk melakukan hal romantis. Aku tak bisa membalas pernyataan cintamu, atau bereaksi manis jika kamu memberiku kejutan. 
  6. Aku tak bisa menahan senyum jika kamu mengusap kepalaku. Terasa nyaman, seakan aku tahu kamu melindungiku.
  7. Aku suka wangi tubuhmu. Jadi, aku suka jika kamu makin erat memelukku.
  8. Aku menelan ludah, jika kamu merangkulku dari belakang. Aku hanya berharap dalam hati, kamu tak mendengar degup jantungku yang berderap kencang.
  9. Aku benci jika kamu melihatku menangis. Maka aku akan melucu agar kamu tidak melihat genangan pada mataku.
  10. Ketika kita bertemu siang tadi, sejujurnya aku ingin sekali mengecup manis bibirmu. 

Selamat tidur, kamu.

Kepada Kenangan

Terkadang, aku membenci perjalanan yang tidak aku kendarai. Misalnya jika aku harus naik bus siang ini. Terlebih, karena aku melewati rute yang sudah aku hafal di luar kepala. Ada banyak waktu yang kemudian berlalu, habis dengan menatap jendela. Selain tikungan yang sudah terekam jelas dengan jejas tebal di kepalaku, aku akan mereka ulang beberapa memori tidak penting yang telah terlewat.

Misalnya, masa lalu.

Seperti bangunan yang tidak banyak berubah, kamu di ingatanku pun tak pernah berbeda. Masih bugar dengan senyum khas yang sama. Seperti kamu di ingatanku yang selalu ramah, kios pinggir jalan itu tetap kokoh dengan cat kuning hijaunya.

Kecepatan bus yang berjalan lamat-lamat, tidak pernah sebanding dengan begitu lekasnya otak kita bergegas. Meramu kenangan menjadi imaji. Seakan aku melihat diriku berdiri di depan kios, dan kamu di hadapanku sembari menawarkan air mineral. Aku yang mual karena lupa sarapan, hanya bersandar pada motor sambil meneguk isinya banyak-banyak.

Kamu, dengan raut bingung dan khawatir, lantas bertanya, apa aku baik-baik saja, apa perlu kita istirahat di sana, apa aku membutuhkan sesuatu yang lain. Terlalu banyak pertanyaan hingga aku tergelak kecil. Aku hanya menggelengkan kepala, dan meyakinkanmu jika aku cukup sehat untuk meneruskan perjalanan.

Lucu.

Tidak pernah ada jalan pintas untuk melupakan seseorang. Aku memang hanya bisa menahan sakit ketika merindukannya setiap hari, hingga akhirnya perasaan itu hilang dengan sendirinya. seperti kuman yang resisten dengan obat-obatan, aku pun pada akhirnya  juga akan resisten pada kenangan.

Seperti saat ini. Aku masih memutar kenangan, tapi tidak dengan rasa sedih yang sama. Tidak dengan luka yang masih basah. Aku tersenyum. Karena masa lalu tidak bisa diubah, dan tak perlu diubah.

Kamu adalah bagian dari masa lalu yang bahagia. Aku mengingatmu dengan tawa merekah. Terima kasih.

 

There is really no shortcut to forgetting someone.
You just have to endure the missing them every day until you do not anymore.
(Anonym)

Groom

“Am I important to you?”

Aku menatap ceruk gelas setelah tegukan terakhir mencapai kerongkongan. Yang tersisa hanya beberapa bongkah es berbentuk tabung dengan lubang di tengahnya. Aku tak mengerti, mengapa es batu itu harus dibentuk sedemikian rupa. Apa mereka berbondong-bondong membeli satu bentuk cetakan yang sama? Apa di toko tidak ada yang menjual es bentuk lain? Apa perusahan pencetaknya sudah kehabisan ide? Yang lebih tak kupahami, mengapa aku masih sempat memikirkan hal seremeh ini.

Continue reading

Excuses

What is we need for a commitment?

Because when you come to a point that you don’t have base for you stand, you need more reasons to keep tight your grip. You will looking for excuses to make you stronger. When everything going harder, you wish you find something that make you know, that commitment is mean to be happen.

I am looking for arguments to fighting what we afraid. I am trying to use premisses, to make me feel secure. I am betting with my luck, with my own self, to believe, there is still exist a slight chance to saving what we have.

However, what is going next if you, already give up with all of this? If you don’t have encouragement for hold me.

Then, I am asking to myself, what I am fighting for?

Like a ship with two people inside, we need both to make it work.