Paralyzed

tumblr_lxgcgfHdWW1qgkkf9o1_500_large_副本

Title         :   Paralyzed
Author    :  @adiezrindra
Length    :  Ficlet
Genre      :  Angst, violence
Rated      :  PG-19
Cast(s)    : Lilian, Lily (OC), Tabi (TOP Bigbang)

Recomended Song : Maroon 5 – Payphone

Disclaimer :
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2012 adiezrindra, all right reserved.

.

Mataku mengerjap dua kali, sukar percaya. Pipiku bersua dengan kain tipis yang membalut tubuhnya. Kepalaku melekat di dadanya hingga leher, sedang puncak kepalaku menjadi tumpu untuk dagunya. Lengannya merengkuh tubuhku, pun dengan tanganku yang menyusur punggungnya. Aku menengadah, dia masih bercinta dengan mimpinya. Mungkin tentang masa depan bersamaku.

Bibirku menyungging senyum. Perlahan menciumi wangi tubuhnya. Nyaris lima tahun berselang, dan aroma menenangkannya tetap membuatku mencintainya.

Hey,” sapanya separuh berbisik.

Dia merangsek turun, sampai kepalanya sejajar denganku. Manik mata kami bersirobok. Bibir penuhnya mengukir lengkungan hingga mata lebarnya menyipit. Pipi bulatnya menyisakan lesung di masing sisi. Dagunya membelah antik. Orang bilang, jarang orang Asia yang memilikinya. Anak-anak rambut pendeknya beterjunan hingga wajah. Hidung bangirnya menyentuh hidungku, mengikis tak berjarak.

Hey,” balasku. “Kamu tidak akan meninggalkanku kan?”

Dia tersenyum lagi. Telapak tangannya mengusap pipi, lembut laiknya kulit bayi. Namun, dia tak mengungkap sepatah aksara.

Lantas tubuhnya menjauh, kakinya menjejak tanah. Dia beranjak meninggalkan ranjang.

Hon, kamu mau ke mana?” tanyaku khawatir.

Kepalanya berpaling, dan mengerlingkan mata. “Mandi.” Begitu jawabnya sebelum menghilang dari pandangan.

Sontak aku merutuk pada diriku sendiri, mengetuk ubun kepala pelan. Apa yang aku sangsikan sesungguhnya? Dia tak akan pergi kan?

Aku menantinya di pelipir ranjang, berpindah ke ujung dinding, memandang jendela. Berlari kecil sepanjang kamar, menghempas diri ke ranjang. Empat puluh menit berlalu tanpa ada tanda darinya akan kembali mencumbuku.

Diantara bibirku yang mengatup, geligi bergemeletuk. Tanganku mengepal, seiring dengan langkan yang menderap. Habis kesabaranku. Dia pasti sudah pergi. Dia pasti sedang merengkuhkan tanganya di leher pria lain. Dia pasti sudah membiarkan leher dan dadanya dipenuhi ciuman. Dia meninggalkanku.

Iya kan?! Dia pasti sudah…

Pintu kamar mandi menjeblak kasar. Manik mataku berputar liar, menelisik tiap sudut. Kloset di samping pintu. Wastafel di seberangnya. Bath-up putih yang mengisi ujung ruangan, berlanjut bilik shower berlapis kaca temara. Tidak ada tanda darinya. Kosong. Aku menatap hampa.

Hatiku remuk redam. Tubuhku runtuh, seakan tulang telah melumer di dalamnya. Dia benar-benar meninggalkanku.

Dia barang pasti sudah mencumbu pria lain. Mungkin di taman, di kafe, di rumahnya. Pasti kakinya sudah melingkar di pinggang sang pria, tangannya merayapi rambut, bibir penuhnya merekah, lehernya memerah. Tak usah dinyana tangan pria yang merayapi punggungnya, melesap diantara kemejanya. Mereka bercumbu, di dinding, di sofa, di ruang tamu, di dapur, di tangga. Di ranjang. Tubuhnya tak lagi terbalut, kain teronggok di tiap tempat yang mereka jejaki. Ruangan yang memanas, tak ada sudut tanpa gairah.

Tabi?

Aku tersentak. Jantungku menghentak. Kontan aku berbalik, menatap tubuh mungilnya dalam balutan handuk. Salah satu tangannya menggenggam ujung handuk, menutup dada. Ujung rambutnya menggelincirkan tetesan air. Iris hazel-nya memicing cemas.

Kelegaan melingkupi sekujurku. Aku hendak menenggelamkannya dalam dadaku, lantas terhenti. Apa yang kupandang kemudian adalah mimpi buruk.

Darah mengucur di pelipis dahinya, hidungnya, mulutnya. Menetes dari tiap jemarinya. Mencicik di sepanjang paha dan betisnya. Merah menyala yang sama bersemburat di handuk putihnya. Lebam di ujung mata, di sepanjang lengan dan kaki. Ada mata air di pelupuknya, mengalir tanpa jeda.

H… hon?”  aksara yang keluar terbata, bergetar.

Tubuhnya melemah, oleng. Menyebut namaku berulang kali.

Pandanganku menggelap. Kesadaranku lenyap.

.

“Lilian!!!” seruku tiba-tiba. Mataku terbuka lebar, memandang langit-langit putih. Peluh memandikan tubuhku. Jantungku berdetum, tak mampu menemukan ritmenya. Aku tersengal untuk beberapa saat.

Lilian.

Di mana dia? Di mana?! Aku ingin bertemu dengannya!!

Bola mataku berputar. Aku sendiri di ruangan putih berukuran 4×4. Tak ada sebarangpun di sini, kecuali ranjang busa tempatku terlelap. Tidak ada Lilian.

“Lilian?” panggilku tak yakin. “Liliaaann? Honey? Liliaann?!! LILIAAANN!!! LILIAAANNN!!!!”

Aku beranjak dari kasur, kala kusadari tanganku terikat, melesap dalam kain putih yang membalut tubuhku. Tanganku tak berdaya. Tapi jika hal itu akan menghalangiku mendapatkan Lilian, itu artinya salah. Aku lebih kuat dari sekedar kain ini. Aku berlari mengelilingi ruangan. Mencarinya di kolong, dan nihil. Aku ingin keluar dari sini, mencari pasanganku. Hanya jeruji yang ujung kamar, mungkin itu pintu. Aku menumbukkan tubuhku berulang kali. Kian keras, pun dengan teriakan mengharapnya.

Ada yang datang. Wanita, berkemeja dengan rok selutut. Putih, sama dengan topi mungil di puncak kepalanya. Lilian.

Itu Lilian.

“Lilian? Kamu datang?!”

Dia hanya tersenyum tipis. “Iya, kamu duduk yang manis ya.”

“Kamu jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku.”

Aku mengangguk senang. Lilian ada di sampingku, aku tak ingin berpisah dengannya barang sekerling. Dia menggiringku ke ranjang, menyuruhku berbaring. Dia menggenggam tanganku, meski terhalang kain. Tiba-tiba ada yang menusuk lenganku.

“Itu apa?”

“Apanya?”

“Yang menusukku.”

“Tidak ada. Mungkin hanya nyamuk?”

Perlahan kelopak mataku memberat. Aku tersenyum, ada Lilian di sampingku. Menyanyi lirih sembari menyapu lenganku.

.

“Lyn, pasien itu tidur lagi?”

Lyn mengangguk. “Iya. Aku heran. Apa aku semirip itu dengan kekasihnya? Mana namanya mirip pula.”

Rekan sejawatnya mengedikkan bahu. “Memangnya kenapa dia bisa sampai di sini?”

Paranoid Personality Disorder. Dia selalu mengurung kekasihnya di rumah, selalu berpikiran kekasihnya akan meninggalkannya jika dia tidak melihatnya. Yang aku tahu, dia membunuh kekasihnya kala dia tidak menemukan kekasihnya di kamar mandi. Setelah itu, dia didiagnosis skizofrenia.”

He’s Paralyzed. Still stuck in that time when they called it love. Menyedihkan sekali.”

Lyn hanya terdiam, dalam hati mengiyakan.

.

Author’s note :
Another failed post. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi.*melipir*
Semoga menikmati.

Advertisements

38 thoughts on “Paralyzed

  1. O . M . G . . . Tabi dibikin sakit . Hmm istilah kasarnya Gila. . Dan berakhir dgan terbunuhnya kekasihnya sendiri ditangannya pula. . Tragis

    • hhii~ iya unnyii. kasarnya gila gegara paranoid dan ditinggal lilian nya itu. nggak bisa nerima pula kalo lilian mati. cuma karna ini yg ngomong perawat, jadi harus ada istilah medis dikit2. hhe… 😀
      makasih unyii sudah membaca. 🙂

  2. Duh serem sungguh…
    Ceweknya dibunuh karena dia ga tahan liat ceweknya jauh sama dia? Merinding nih beneran, hehehe
    Emang sih scene yang diatas berasa XXX, kekekek. Tapi untungnya bahasanya ga tabu ato gimana, masih oke.
    Duh, gimana sih biar bisa nulis dengan diksi oke banget kayak gini. Kamu banyak baca kamus ya dis?? XD hehehe

    Nice lhoo~ ^^d

    • hhii… begitulah unn. 🙂
      cinta memang sering membawa ke dalam fase yang tidak masuk akal. 😐
      hhii.. memang agak rated sih. >< semoga nggak kelewat vulgar ya… 🙂
      gimana ya unn. saya nulisnya biasa aja sih. 😐
      aku malah nggak punya kamus nih unn. hha…
      makasih yaa.. ^^

  3. adis sekarang kalo bikin yang ‘nyerempet nyerempet’ udah jago ya.. udah expert.. dulu bikin ensi pertama aja semua heboh buahahaha xD

    karena umma nanya ini rated apa engga, kalo aku bilang sih iya.. for smut part (nc-17 lah~), and for mental disorder, kalo ga salah ini juga salah satu unsur NC yak..?

    • hueeee… dulu rasanya kagok banget yee.. saya memang semakin yadong. muahahhahaha~~ XD

      egak mau dibilang rated! egak mauuu!!! itu kan cuma foreplay. *eh
      emang mental disorder masuk rated ya?

  4. karena kamu nanya ini masuk rated apa bukan, aku rasa sih bukan. meski ada sedikit narasi yg menjurus ke sana, tp kurasa itu masih dalam batas aman dan sama sekali tdk eksplisit.tp tidak bisa dikategorikan general jg sih, tp mungkin masuk parental guidance kali ya?

    dannnn… lakimu kok makin serem sih dis?? hahahaha… obsesif parah dia… *ditendang tabi*

    • Uwooooo~~~
      Alhamdulillah gak dijadiin ensi. Hha.. PG ya umma? Oke, ntar aku tambahin. 🙂

      Aduh, iya. Saya suka dia yg obsesif gitu. Kenalkan, saya author yg suka nyengsarain nasip idola. Muahahahaa~~

  5. eummm…*celingukan*
    aku udah gede kok, ngerti yang beginian hahaha >.<
    sadis banget itu si tabi pake ngebunuh ceweknya dan ya, aku gatau sih apa itu paranoid personality disorder (sesuatu yang sadis ya? *lari ke google*)
    inih sih NC-17 kalo aku bilang, soalnyaa….*blush* ya begitu deh ada adegan suit suit…
    tapi aku selalu suka kok sama tulisan adis yang 'wah' banget dan gak heran ceritanya yang sederhana (maksudnya ini kan tentang penyakit dan lalalala) tapi jatohnya keyen gitu haha 😀
    okeh deh, good good fic, sayang aku gak dengerin si maroon pas baca ini, tapi tetep feelnya berasa kok 🙂

    • muahahaaa~~
      dira yakin udah boleh bacaaa?? itu tulisan PG-19 lho dir.. hhaa.. :))
      iya, tabi emang lagi sadis. paranoid personality disorder itu ya paranoid yg berlebihan. indikasinya ya kalo dia berhubungan, dia berpotensi melakukan hal2 yang kasar ke ceweknya karena sifatnya. dan dalam hal ini… tabi ngurung ceweknya, dan akhirnya ngebunuh dia. :))
      oh, bagi kamu ini NC ya? hhii…
      makasih ya dira… :*
      nggak papa, ini cm karena aku terinspirasi dari maroon 5 kok. 😉

  6. wuahh adies,.. >_<
    q tw scene pertama, pasti k'jadian pas d'mimpimu ya,..
    ckckck,..
    qm tuangkan dlm sini,.. 'd'tendang'

    wah, gk nyangka ternyata akhirnya si tabi punya kelainan gitu,..
    hoho,..
    gk ap 2 biar tabi menderita,.. 'd'timpuk'
    oh, ya scene pertma i2 bayangan tabi ya? atw cm mimpi aj,..
    ok, diez d'tunggu karya lainny,..
    fighting,.. 🙂

    • uwooooo~~ mimpi gue begini amatt kaakk? hha..
      nggak sih. awalnya malah nggak kepikiran mau make cast tabi. :))
      hiihh!! kakaknya malah seneng kalo tabi menderita. itu kan tabi kuuuhhh… T3T
      itu mimpi tabi. tapi itu juga potongan masa lalu. jadi dia kayak dibayang2i sama apa yg udah dia lakukan itu. tapi dia masih belom nerima kenyataan kalo dia yang ngebunuh lilian. eungg… ngerti nggak kak?
      makasih ya kaakk.. ^^

  7. HURAY! Mampir ke sini dan udah ada FF baru *aaa*
    Ehm, unn, skizofrenia itu apa.an yah .-.
    Itu tabi kasian banget TT.TT, kayanya gara” dia gagal deketin sky di big bang’s only girl jadi mulai” menggila dengan Lilian dan Lili deh *ehh nyambung kemana coba ini*
    ini emang udah masuk NC kayanya, nggak karena adegan ehem”, tapi karena Paranoid Personality Disorder lebih tepatnya .-.
    terlalu terobsesi memang gk baik TT.TT

  8. Pingback: Kelas #WriterCircle Makin Seru :D | lunastory

  9. gasuka ah tabi, bunuh orang gitu…
    etapi ini PG-19 ? *purapura lupa umur,
    tapi saya kira PG itu cuma sampe 17, kan lewat 18 dianggep udah tanpa bimbingan, hhe, salah ya,
    meskipun tabi menyebalkan, anehnya aku menikmati ini, gimana penjabaran keposesifan tabi tergambar, atau
    “Itu apa?”
    “Apanya?”
    “Yang menusukku.”
    “Tidak ada. Mungkin hanya nyamuk?”
    bagian ini bikin senyum,
    *bilangnya sebel, tapi nyatanya kasian tabi, pukpuk..
    sudah, dari pada smakin geje,
    semangat!

  10. Makin kesini aku makin suka ff buatan eonni. *entah kenapa punya feeling harusnya manggil eonni*
    Dan entah fans macem apaan aku ini kalo baca ff yang bias sendiri tertindas, dijatoh2in, lemah tak berdaya, apapun itu deh. Selalu aja ngefans. Gara2 punya otak angst/thriller kali ya.
    Paling suka sama diksinya itu lho,, pengen belajar nulis kayak begini. 🙂

  11. Tabi ngebunuh ceweknya sendiri 😱,
    Ahh tabi sakit ahh..
    Tapi aku suka ff yg macem gini, yg obsesi2 gini, lebih menegangkan gimana gitu..
    bahasanya keren, jadi nagih baca ff disini.

  12. Pingback: Sweet Heart | dandelion notes

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s