Ibuku Membenciku

image

Ibuku tidak banyak bicara. Aku dapat menghitungnya dengan sepuluh jariku, berapa kata yang diucapkan ibuku setiap hari. Ibuku hanya membangunkanku setiap pagi dengan memanggil namaku, dan mengajakku sarapan hanya dengan dua atau tiga patah kata. Setelah itu, beliau tidak akan berbicara apapun sampai saatnya ia berangkat kerja, dan pulang setelah aku terlelap. Jika aku belum tertidur —mungkin waktu itu aku berniat menunggunya— dan melihat ibuku sudah pulang, beliau hanya bertanya mengapa aku belum tidur. Ibu tak menunggu jawaban, alih-alih beliau langsung memasuki kamarnya tanpa keluar hingga esok menjelang.

Ibuku mungkin membenciku.

Continue reading

Walk Away

image

Ji terdiam di depan pintu apartemen lantai dua puluh satu dengan menenteng dua gelas kopi panas. Ia sudah berdiri sejak beberapa menit setelah bel kesepuluh —kalau ia tidak salah mengingat— ditekannya. Namun tidak ada derap atau tanda-tanda seseorang mendekat dan mempersilakannya masuk. Sejatinya ia tahu percuma saja menunggu di sini, tapi toh ia tetap melakukannya.

Continue reading

Perihal Surat Cinta

Halo.

Di bulan Februari ini, saya menemukan diri saya berkejaran dengan suara-suara di pikiran saya. Tentang menulis untuk 30 Hari Menulis Surat Cinta. Tentang pengakuan dan cerita yang bergulat dalam diri saya. Tentang cinta yang sebelumnya belum saya ungkapkan.

Ini perihal surat cinta yang sudah terkirim. Tidak banyak memang, karena saya hanya membuat sepuluh atau berapalah saya lupa. Tapi toh saya mencapai target yang saya inginkan. Mengingat di awal tahun, saya menargetkan diri saya setidaknya menulis sepuluh surat cinta, karena saya sungguh malas sibuk sekali dengan tetek bengek UKDI. Bahkan beberapa masuk ke dalam blog @PosCinta, hal yang tidak saya duga sama sekali.

Iya, saya memang pemalas sibuk sekali.

Saya memang perempuan yang gemar melupa, lantas mengorek kembali apa yang sedang dilupakan. Pada akhirnya, ingatan berebut menggoreskan nama di tiap kertas surat. Maka, mereka yang berhasil mengalahkan kemalasan nama-nama lain, saya rangkum di sini:

  1. My Super-Duper-Superhero
  2. Heart to Brain
  3. Monolog Awal Bulan
  4. Missing Fragments (dimuat pula di sini)
  5. Yang Saya Benci
  6. Kepada Pria Asing yang Baik Hati
  7. Cerita Sebelum Tidur
  8. Yang Dihindari
  9. Hal-Hal Kecil Berarti Besar (dimuat pula di sini)
  10. Air Mata yang Akhirnya Jatuh
  11. Everything Happen for a Reason (dimuat pula di sini)
  12. Doa yang Realistis
  13. Perempuan Yang Besar Hatinya (dimuat pula di sini)

Dan saya mendapatkan hadiah manis berupa surat cinta dari Benedicta (@Okage_de), yakni Penulis Surat Terbaik Tentang Ayah (dimuat pula di sini).

Perihal surat cinta yang masih di atas meja saya, saya akan tetap mengirimkannya meski acara ini berakhir. Karena cinta tidak hanya bersemi di Bulan Februari. Bukankah Maret juga cukup manis untuk mengecap cinta?

Akhir kata, terima kasih banyak untuk @PosCinta acara #30harimenulissuratcinta yang menyenangkan ini. Terima kasih untuk tukang pos @gembrit @iitsibarani_ yang mau bersedia direpotkan oleh saya yang tidak lebih dari rupa-rupa serbuk dandelion. Semoga kita dipertemukan oleh cinta yang lebih indah di tahun mendatang.

Semoga saya juga dipertemukan oleh cinta yang baru, agar surat cinta saya tidak melulu tentang masa lalu.

.

Tale-catcher,
adiezrindra

Perempuan Yang Besar Hatinya

Kepada perempuan yang besar hatinya.

Hari-hari di Bulan Februari ini kuyakin adalah bulan paling melelahkan bagimu. Ia seperti pintu gerbang dari sebuah labirin panjang yang kamu jalani. Pada akhir langkah yang berputar-putar seakan tak ada habisnya, kamu tak bisa membuka gemboknya begitu saja. Ia masih menyisakan ujian yang tidak mudah untuk mendapatkan kunci. Bagaimana kabar isi kepalamu sekarang?

Tenang, esok lusa kamu hanya tinggal bersantai dan menunggu kunci itu sampai padamu.

Pada kebingungan yang terasa pekat di dalam labirin, Tuhan menghadiahkan kamu padaku. Tuhan Maha Baik, ia memberi seseorang yang bisa menjadi cahaya untukku. Seseorang yang begitu cantik, hingga aku bisa melihat cahaya berpendar dari tubuhnya. Cantik hingga tak sedikit pria bertekuk lutut. Tapi aku pun takluk, pada kecantikan hatinya yang teramat sangat. Donabella, terima kasih untuk ada pada gelapnya hidupku.

Bella, aku berulang kali merasa takjub. Di dalam kepalamu, kamu menciptakan pemikiran-pemikiran serupa cendikiawan, menyimpulkan perihal dari sudut berbeda. Tak jarang, kamu berhasil menggiring opsi dari sesuatu yang tampaknya buruk rupa, menjadi serupa berlian. Menyingkap bahwa kejadian selalu memberi dua permukaan koin, aku hanyalah perlu membuka mata untuk melihat yang tertutup di balik koin.

Di telapak tanganmu yang terbuka lebar-lebar, kamu tak segan berbagi. Aku kagum, kamu bisa saja menutup matamu dan berlagak tak acuh. Kamu bisa saja melipat tanganmu di dada dan tak menghiraukan sekitarmu. Namun nyatanya, kamu tak pernah berhenti menghargai bagaimana perasaan orang lain. Kamu menghujani sekelilingmu dengan kebaikan. Sudah berapa kali aku menerima kebaikanmu sementara aku tidak mampu menawarkan apa-apa padamu?

Mereka bilang, berhati-hatilah padaku, karena aku bisa saja memanfaatkanmu. Mungkin itu benar, Bella. Aku memanfaatkan kebaikanmu untuk diriku. Untuk menjadi matahari kala hatiku dirundung awan kelabu. Untuk menggenggam tanganku dan berbalik mencari jalan lain, saat labirin yang kita tapaki menemui jalan buntu. Untuk menjadi tangan yang merengkuh, kala kutahu aku akan jatuh. Apakah aku jahat, Bella?

Maaf, Bella, karena aku membutuhkanmu.

Bella, besok lusa kamu ujian kan? Tuhan Maha Besar dan Ia mengetahui hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Kamu sudah berdoa pada-Nya. Aku tahu, Tuhan bersamamu dan akan membantumu mendapatkan kunci gembok pintu gerbang yang kamu nanti. Karena seperti katamu yang selalu terpatri dalam pikiranku,

“Doa itu penting. Kamu bisa saja bercerita padaku, tapi aku hanya bisa memberi saran seperti ini. Berdoalah, dan hasilnya pasti akan berbeda. Ada tangan Tuhan yang bekerja membantumu menyelesaikan semua ini dengan cara Dia yang tidak terduga.”

Akhir kata, terima kasih sudah hadir di hidupku. Aku sayang kamu.

Have a nice day, good luck UKDI OSCE-nya. Doaku bersamamu.

.

Salam hangat,
Teman yang selalu mendukungmu

.

ditulis untuk 30 Hari Menulis Surat Cinta hari ke-30, untuk @belleabell 🙂

Doa yang Realistis

: Teruntuk seorang wanita yang berjuang tiap harinya untukku.

“Doakan aku ya, ma. Biar aku bisa beli semua ini pake uang aku sendiri kalau aku udah kerja.”
“Iya. Mama doain kamu bisa mendapatkan apa yang nggak bisa mama kasih ke kamu sekarang.”

Apa mama ingat percakapan ini? Saat itu, aku ingin menggenggam tangan mama, namun jemariku nyatanya hanya saling meremas. Aku ingin berkilah, bahwa apa yang mama berikan padaku sampai detik ini, sudah melampaui dari cukup. Sudah jauh dari apa yang aku harapkan. Sudah lebih dari apa yang dapat dimiliki anak-anak lain. Tapi lidahku sepertinya melarikan diri, hingga aku hanyalah bungkam di samping mama.

Mama tentu tahu beberapa perihal yang menjadi motivasiku belajar keras sampai saat ini. Untuk bekal mencari uang. Untuk membeli apa yang bisa dibeli dengan uang. Untuk memenuhi kebutuhanku dan keinginanku dengan hasil keringatku sendiri.

Ya, ma. Mungkin ini terdengar materialistik. Tapi aku hanya wanita yang realistik. Aku bukan wanita yang mengharapkan pria menafkahi. Sebaliknya, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa perlu berpangku tangan pada gaji lelaki.

Kala saat itu tiba, aku ingin mencari uang untuk membahagiakan mama seperti mama membahagiakanku. Untuk membeli barang yang mama butuhkan, namun urung karena biaya sekolahku. Untuk memenuhi keinginan-keinginan mama, yang mama pendam karena uang sakuku.

Doakan, ya ma.

.

: Dari anak perempuanmu yang (katamu) berkepribadian lelaki.