Surat Terakhir

Tuanku terdiam. Matanya menatap jendela, sementara pandangannya kosong entah ke mana ia terpaku. Tubuh ringkihnya duduk bersandar di ranjang, dengan meja lipat yang membentang di atas pahanya. Sesekali telunjuknya mengetuk meja pelan.

Tuanku lantas menghela napas panjang dan menatap langit-langit. Tujuh kali tujuh petak persegi plafon. Tak ada benda di kamar kecil berbau klorin itu selain ranjang dengan kepala menempel di satu sisi kamar, dua meja tidur di masing-masing sisi, dan sofa di seberangnya. Tiang infus terhimpit diantara belakang ranjang dan dinding, sementara selangnya menjulur dari ujung tiang dan punggung tangan tuanku. Cairan berwarna merah muda mengalir di dalamnya. Jendela di sisi kanan ranjang menampilkan gemerlap Tokyo yang tak pernah tidur. Sangat kontradiktif dengan lampu temara yang berpendar malas dari meja ranjang. Lamat-lamat tuanku menggoreskan pena.

Aku tak mengucapkan apapun. Alih-alih mencabut pena dari tangan keriputnya, aku hanya terdiam. Tak pula mencegahnya untuk menulis di tubuhku. Aku hanya berharap apa yang ia tulis hanyalah sekadar jejalan kata.

Tuanku tersenyum lebar. Tergambar jelas di raut mukanya, rasa tenang dan lega yang menyelimuti jiwanya. Ia meletakkan pena di atas meja dan membaringkan tubuhnya lamat-lamat.

Matanya perlahan memejam. Dadanya naik turun, lambat laun memanjang, lantas menghilang.

Di kamar yang selalu sunyi ini, aku tak belum pernah merasakan suasana sehening ini. Aku menangis.

.

Pintu berderik pelan, dan seorang perawat melangkah masuk dengan nampan berisi jarum-jarum suntik di atasnya. Wanita dengan rambut tergelung itu berhenti di samping ranjang, meletakkan nampan dan hendak membangunkan sang penulis kenamaan Jepang tersebut. Ia baru saja menyentuh jemari sang penulis, kala ia sadar kulitnya telah mendingin. Terlebih, badannya kaku bak baru saja dicelupkan dalam air es. Air mukanya berubah pasi, pun dengan detak jantungnya yang seketika mencelos. Ia cepat-cepat menyentuhkan jari telunjuk dan tengahnya di leher pria yang seumuran kakeknya itu.

Beberapa kali suara melengkingnya menyebut nama sang penulis. Tak ada jawaban.

Wanita muda itu lekas-lekas memencet tombol darurat berulang kali. Ia masih saja mencoba memanggil, kendati ia tahu tak akan pernah ada sahutan untuknya.

Dua tangannya jatuh di samping badannya. Ia terdiam. Mata cokelatnya bertumbuk pada meja di atas ranjang. Ia mengambil secarik kertas di atas meja. Sementara derap kaki dari sejawatnya semakin lama terdengar nyaring, ia menatap kertas putih yang basah entah karena apa. Di tengah halaman, huruf-huruf kanji terpatri apik. Wanita itu terhenyak.

Selamat tinggal.

Advertisements

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s