Flower Crown

image

“Sudah?”

“Belum.”

“Sudah?”

“Belum.”

“Sudah?”

“Belum, Rei.”

Gadis kecil yang dipanggil Rei itu mendengus keras-keras. Ia menghempaskan tubuhnya di rerumputan dengan jengkel. Bibirnya mengerucut sebagai tanda kekesalannya. “Kai… sudah?”

Tak ada jawaban. Maka semakin dongkollah hati Rei.

Rei mengamati langit yang mulai menggiring awan ke atasnya. Setidaknya rindang membuat suasana hatinya tidak begitu jelek. Sementara bocah empat tahun itu membayangkan bentuk awan, laki-laki yang seumuran dengannya di sampingnya sibuk merangkai bunga-bunga mawar yang baru berkembang. Rengekan Rei tentu saja tidak membantunya sama sekali. Beberapa saat kemudian,  senyuman dua sudut bibirnya mengembang. “SUDAH!”

Rei seketika melonjak girang. Ia bangun secepat kilat dari rebahnya. “Sudah?!”

Kai menatapnya dengan mata berbinar. Ia mengangguk cepat dan menunjukkan hasil karyanya. Mahkota dari bunga mawar merah dan putih yang dililitnya satu persatu membentuk lingkaran. Hati Rei jelas membuncah. Ia bersorak kegirangan, bertepuk tangan antusias.

Tangan Kai merapikan rambut ikal Rei, surai-surai coklatnya yang jatuh di wajah disibakkan lembut. Dengan hati-hari Kai memasangkan mahkota buatannya di kepala Rei.

“Cantik,” ujar Kai. Rei tersipu malu.

Kai meraih jemari Rei, memasangkan cincin dari lilitan bunga yang sama di jari manis Rei. Kelopaknya terlihat begitu besar di jari mungil gadis itu. Rei terpana melihat cincin di jemarinya. Berulang kali ia membolak-balikkan tangannya.

“Rei, dua puluh tahun lagi, menikah denganku ya,” seru Kai. Anak yang bahkan baru bisa bicara kemarin sore itu menunjuk cincin Rei. “Kan aku sudah memberimu cincin duluan.”

Rei tertawa kecil. Dua pipinya bersemu dengan dada yang berdebar-debar. “Iya,” jawabnya.

Tawa mereka pecah, dengan dua pasang tangan mungil yang saling menggenggam.

“Nona Rei, ayo masuk. Sudah sore!” seru seseorang dari kejauhan.

.

Mae, pelayan muda keluarga Kato berlari dari dalam rumah mendekati tempat nona mudanya bermain sepanjang siang. “Nona Rei, ayo masuk. Sudah sore!”

Rei mengalihkan pandangan kepadanya, dan menganggukkan kepala. Ia kembali menatap padang kosong di sampingnya, seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya di sana. Lantas ia memeluk dirinya sendiri dan tersenyum lebar. “Kai, besok kita main lagi, ya.”

Mae mengernyitkan dahi, terkejut sekaligus bingung bukan main.

“Nona bicara sama sia–”

“Ayo, Mae,” ajak Rei, memotong pertanyaan Mae. Rei beranjak dari duduknya dan menggenggam tangan pelayannya. “Mama papa sudah datang?”

“Belum, nona. Mereka baru akan datang dua hari lagi,” jawab Mae. Tangannya menyentuh bunga mawar di kepala Rei. “Cantik sekali.”

Rei mendesah. Makan malamnya akan sendiri lagi.

.

Footnote: Jadi, siapa yang membuatkan mahkota di kepala Rei?

Advertisements

11 thoughts on “Flower Crown

    • Eciee… Kai nya cuma kayalan aja sikk. But well, kalo ternyata Kai emang ada di suatu tempat dan suatu hari mereka bertemu dan ngelamar Rei gituh asik kalik yaa? 😆😆😆

  1. Halo dis, ini nisa dengan identitas baru /halah/
    sorry baru mampir lagi nih, emang udah lama hiatus dari blog-blogan huhuhu/
    oke, ini ceritanya simple dan gemesin. ane juga waktu sering ngayal punya temen cowok yang… yah, yang asiklah pokoknya tapi ga sampe ngayal diajakin nikah juga huhuy! semoga kai bakalan menikahi rei dua puluh tahun lagi, yeah!

    • Halo nis. Sorry for my super-late reply. Idk why I don’t get any notif from your comment. 😥

      Iya. Ini simpel. Seperti saya yang males mikir. Hmm.. sepertinya memang Rei khayalannya terlalu dewasa. Ato anak kecil emang suka kebelet nikah ketimbang nona umur dua puluh dua taun menjelang dua puluh tiga? :p

      Thanks for your visit ya. :*

  2. maaf ya aku harus bilang gini, tapi begitu baca nama Kai langsung yang…ah sudahlah.

    tapi terlepas dari itu, awh aku suka ceritanya! teman khayalan gitu ya, ato mungkin hantu yg seumuran sama si Rei. aku ngebaca ini jadi kayak lagi baca komik jepang yang zaman-zaman dulu gitu lah, semaca serial cantik buahahaba

    nice nice, Dis hehe 🙂

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s