Yang Tidak Terlihat

image

Note :
Known as epilog of Walk Away
Better you read it before continue. Because for some moments you’ll feel loss of some untold scenes.

.

Thanks for the bathroom, Lex.”

Alex berhenti mengetik dan mengalihkan pandangan ke arah kamar mandi. Rin berbalut kaus miliknya —yang jelas kebesaran hingga menutupi separuh pahanya— mengeringkan rambutnya sambil tersenyum lebar. Senyum yang Alex kenal tidak seperti ini. Setidaknya yang ini tidak seperti biasanya. Namun toh Alex hanya mengangguk dan kembali menatap laptopnya.

Rin berjalan mendekat dan menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Alex masih terpaku di depan dua benda kesayangannya —laptop dan mikroskop— sejak tadi ia masuk rumahnya. “Oh God, Alex. Berhentilah melakukan apapun yang kamu lakukan sekarang, please. I am here, hello~!”

Alex menumpukan siku di meja dan memijit pelipisnya yang penat. “Sorry, Rin. Kamu tahu deadline risetku itu besok lusa, Rin. I need to finish it as soon as possible.”

Rin menghela napas. Ia sungguh kehabisan kata. Pantas saja ayahnya lebih memilih teman sekolah menengahnya itu menjadi anaknya ketimbang ia sebagai putrinya.

Rin mengambil tempat di samping Alex dan berbaring dengan paha Alex sebagai bantal. Untuk beberapa saat, jantung Alex sepertinya berhenti memompa darah. Jemarinya mengepal, mencengkeram putaran mikro mikroskop keras-keras. Ia menarik napas panjang, mencoba memusatkan pikiran kemanapun selain benda di antara pahanya. Ia lantas bertanya, “Kenapa kamu datang ke sini pagi-pagi dengan bau alkohol dan pinjam kamar mandi?”

Rin mengedikkan bahu. “Well…

Dahi Alex mengernyit, namun masih berusaha berkonsentrasi pada gambaran sel datia di lapangan pandang mikroskopnya. “Well? ‘Well’ what?

Tak ada jawaban, hingga suara kesibukan New York begitu jelas dari kamar Alex. Deru mobil dan bisingnya orang yang berlalu lalang. Rin memainkan kukunya yang baru ia manicure kemarin pagi, berusaha mencari kata yang tepat untuk memulai. Mungkin kata-katanya terselip diantara cat kukunya.

“Ji datang.”

Alex berhenti mengetik. “What? Ke New York?”

Rin mengangguk pelan. “…dan ke apartemen, masuk ke kamar, and saw me half-naked.”

Half-naked?!

Alex nyaris memuntahkan sumpah serapah, namun ia memilih diam. Jelas, Rin akan mengoceh panjang lebar dan ia hanya butuh Alex sebagai pendengar. Setidaknya begitulah yang ia lakukan selama dua tahun sejak Rin mulai membangun hidupnya di New York.

Sahabatnya itu adalah pendongeng yang baik, setidaknya otak Alex mampu membayangkan adegan dramatis sahabatnya itu di antara pergerakan sel di bawah lampu mikroskopnya. Rin mengakhiri ceritanya dengan pertanyaan, “What the fuck, Lex. He wants me come to his wedding! Why is he never look at me? See my love? Why, Lexy?

Alex terdiam sejenak. Mencari jawaban untuk pertanyaan retoris Rin. Seandainya ada kunci bagi pertanyaan-pertanyaan sulit seperti itu. Beberapa saat berselang —masih memandang mikroskop lekat— ia berbisik, “You know, Rin. Cinta itu seperti sel-sel dalam tubuhmu. Ia tak terlihat dengan mata telanjang.”

Rin tak menjawab. Alex mengenal diamnya, cengkaman jemari di kaus lusuhnya, serta rasa basah yang merembes di kulitnya. Ia menghembus napas panjang, mengilhami kata-katanya sendiri.

Cinta tak terlihat dengan mata telanjang. Seperti Ji tidak melihat Rin. Seperti Rin tidak melihatnya.

I wish you could be me
I wish I could be you
I wish you could feel it for just a day
Your heart
My heart
(2NE1 – If I Were You)

Advertisements

12 thoughts on “Yang Tidak Terlihat

  1. Pingback: Walk Away | dandelion notes

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s