Before The Worst

image Read before continue:
If you are good girls and boys, don’t read it. This may contain thing that will contaminate your brain.
If you think it’s no problem, then open your wallet and check if you have (certified legal) ID Card.
If you have that, please read it with no expectation. Yes, it’s safe.

.

Adalah derap beraturan yang memecah senyap lorong lantai dua apartemen murah di kawasan Hongdae. Barangkali suaranya terdengar hingga lantai dasar. Nyatanya toh tidak ada seorang pun terbangun. Mungkin telah terbiasa. Beberapa saat kemudian, sepatu pantofel hitam berkilat itu berhenti di depan pintu terujung. Derapnya hilang, berganti dengan putaran kunci dan tarikan kenop, diikuti dengan derik nyaring pintu apartemen.

Yun melangkah masuk. Ada wangi Armani yang lantas melewati hidungnya, jelas ia tak sendiri di ruangan itu. Terlebih, ia sangat mengenal harum Aqua di Gio yang satu ini. Ia melangkah menuju ruangan tidur, mendapati seseorang yang mengerlung di atas ranjangnya. Bergumul dengan selimut yang menutupi perut hingga kaki. Mendekap erat bantal yang seharusnya menjadi miliknya.

Satu desah panjang terlepas dari bibir Yun. Harusnya ia tak datang malam ini. Tapi toh menyesali bukanlah solusi. Jika ia datang kemarin atau bahkan minggu lalu, apa aroma laut bercampur wood itu pasti tidak akan memenuhi ruangan?

Belum tentu.

Tas kerjanya dibuang sembarangan di lantai. Pun setelan perlente yang ia kenakan. Di pelipir ranjang —menatap punggung yang terlelap— Yun berdiri dengan hanya celana dalam. Sisanya berjebai di mana-mana.

Yun menaiki kasur, menyelipkan tubuh di balik selimut yang sama. Dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. Iris cokelatnya menatap lembut wajah serupa malaikat di sampingnya, sementara jemarinya bergerak menyusuri rambut cepak kecokelatan itu. Ia mendesah—untuk kesekian kalinya— sekali lagi, lantas memutar bola matanya menerawang kaca jendela. Apa yang harus ia lakukan pada manusia di sampingnya?

“Yun?”

Apapun yang berkemelut di pikiran Yun buyar sudah. Mengalihkan pandangan ke arah suara. “Maaf, aku membuatmu terbangun.”

Tak ada jawaban. Hanyalah tangan yang lantas terulur, mengular pada tubuh kekar Yun. Seakan pelukan tak cukup, ia menempelkan pipinya pada pinggang Yun, menghirup aroma maskulin pria itu dalam-dalam. Membiarkan wanginya berpenetrasi masuk hingga tiap celah otaknya. Kerinduan tak pernah terbayar tuntas baginya. Karena demi apapun, ia selalu merasa hilang sedetik Yun menutup pintu kamar. “I always love your Davidoff, Yun.”

Yun mendengus. Tentu saja, anak itu sendiri yang memilih parfum itu sebagai hadiah ulang tahunnya. Lucu sekali. “Kenapa kamu di sini?” cecar Yun, setelah beberapa saat tubuhnya dihujani ciuman.

Mata rusa di sampingnya menatapnya sedih. Bahkan bibir tipisnya mengerucut bak anjing yang dihukum majikannya. “Kamu tidak suka?”

Tidak suka?

Bohong jika Yun berkata benci, sementara langkahnya pun mengkhianati otaknya. Harusnya ia pulang, bukan menuju apartemen kumuh ini. Bukannya melucuti pakaiannya dan lompat ke ranjang ini. Bukan berbincang sambil terus memainkan rambut. Apartemen yang hanya Yun, dan tangan yang memeluknya itu, tahu. “Kamu tahu apa jawabanku, dear. Pertanyaanku adalah, kenapa kamu di sini?”

“Aku tidak bisa tidur di rumah.” Mungkin baginya, ini bukan sekadar rindu. Yun mungkin adalah candu. Jika ia memang tidak boleh bertemu dengannya. Maka merasakan sentuhan tangannya, mencium wangi tubuhnya yang tercecer di sprei dan bantal sudah lebih dari cukup. Ia butuh Yun —meski hanya bagian terfana darinya— untuk menenangkan jiwanya. “Kamu sendiri, kenapa di sini?”

Yun terdiam beberapa saat. “Entahlah,” jawabnya jujur. Entahlah. Karena kakinya yang mengiringnya kemari.

“Kamu habis minum?”

Yun mengangguk. “Beberapa gelas. Pesta kecil dengan anak kantor. Kamu ingat Jun, Chun dan Min, kan? Well, proyek yang kukerjakan cukup sukses.”

“Kamu tahu, Yun. Kamu tidak perlu menjelaskannya padaku,” balasnya terkekeh.

Bibir Yun terangkat sedikit. Memang benar, ini hanyalah masalah kebiasaan lama yang tidak bisa Yun hilangkan. Menyebalkan. “Kapan kamu potong rambut?” tanya Yun, masih memainkan rambut halus cepak di sampingnya.

“Minggu kemarin.”

“Kenapa?”

“Jean menyuruhku. Kamu tahu, ia mengomel berminggu-minggu tentang rambutku. Katanya harusnya aku bertingkah lebih normal.”

Yun mengangguk-anggukkan kepala. “Sayang sekali. Aku suka rambutmu dulu. Cantik.”

“Yeah, sayang sekali. Padahal yang kemarin sebenarnya tidak berlebihan juga. Cuma sebahu.” Ia merengkuh Yun kian erat, dan tertawa kecil. “Aku bahkan tak tahu apa artinya normal.”

Yun pura-pura berpikir keras. Berimaji Jean memandangi jijik rambut sebahu yang selalu diikat sembarangan itu. “Mungkin baginya kamu terlihat terlalu lusuh.”

“Mungkin,” sahutnya mengedikkan bahu. “Setidaknya bagimu aku tidak lusuh.”

Yun menyeringai. Pernyataan itu tak mengundang tawa sejatinya, bahkan itu sebenarnya terdengar seperti ironi murahan. Tapi entah kenapa, menjadi satu-satunya selalu menggelitik perut Yun.

“Kamu kedinginan?” tanya Yun, mengamati tubuh ceking itu menggigil. “Sedikit.”

“Sebentar, kunyalakan pemanasnya dulu.” Tangan Yun baru saja hendak membuka selimut, kala rengkuhan di perutnya semakin erat. Mungkin perangko dan amplop akan iri dengan lekatnya.

“Tidak usah.”

“Tapi—”

“Tidak usah, Yun,” ucapnya bersikeras. “Peluk aku saja.”

Yun menghela napas. Ia mengambil posisi sama rendah, memeluk tubuh di sampingnya lekat. Ia meletuskan ucapan pertama. “Kamu tahu ini yang terakhir, kan, Jae?”

“Aku tahu.”

“Apartemen ini sudah laku. Besok kuncinya akan kuserahkan pada pemilik baru, Jae.” Pernyataan kedua.

“Aku tahu.”

“Sama seperti apartemen yang bukan milikku, kamu pun bukan milikku lagi.” Yang ketiga, lengkap dengan pisau kenyataan yang menghujam ulu hatinya sendiri. Ia ingin muntah membayangkannya saja.

“Aku tahu, Yun,” jawab Jae ketiga kalinya. Kali ini dengan ceguk tertahan di tenggorokan. Katakan Yun memang tak punya hati, atau hatinya sudah kebas dengan pernyataan yang mungkin tiap hari ia ulang dalam hati bak menelan pil pahit. Maka ia mengucapkannya tanpa hati.

“Jean menunggumu untuk menjadi normal. Istrimu itu mencintaimu begitu hebatnya. Kamu tahu itu, kan?” Jae menarik napas dalam-dalam. Demi Tuhan, ia ingin menyumpal bibir Yun. Jika bisa, ia pun ingin menyumpal hatinya yang berdarah-darah karena kalimat-kalimat menyebalkan Yun. Ia sungguh tak butuh Yun untuk memberi alarm.

“You know, Yun? Diamlah dan peluk aku saja,” balas Jae sembari mengeratkan pelukan. Ia menenggelamkan wajahnya di dada kekar Yun, menyembunyikan air mata yang sejak tadi merangkak keluar. “Yun, in case you forget, Chloe juga menunggumu di rumah.”

Skakmat. Yun hanya memutar bola matanya dan tergelak.

Tentu saja, esok mereka kembali ke rumah masing-masing. Memeluk istri masing-masing. Tentu saja, delapan jam dari tengah malam itu, mereka tidak bisa lagi bertemu di apartemen reyot ini, seperti kala mereka lajang dulu. Tentu saja, hubungan mereka tidak akan sama setelah mereka menutup pintu apartemen jam tujuh pagi nanti.

Namun itu masih besok.

Setidaknya, malam ini tidak ada lagi Jean dan Chloe di pikiran mereka. Tidak ada kata normal. Tidak ada apapun selain Yun dan Jae, dan tubuh tanpa sehelai benang yang saling mendekap.

Tidak ada apapun, selain dua pria yang sejenak menikmati damai.

Kkeut.

.

Footnote:

  • Err… beberapa dari kalian mungkin sudah menduga. Beberapa yang lain syok dengan topik yang kemudian terungkap. It’s okay. It’s normal.
  • I am not fan of gay-relationship. But if you know me from so long time ago, I think you know that I love chalenge myself to write sensitive and dangerous topic. 🙂 Fiksi ini pun, merupakan tulisan kedua setelah fiksi Married yang saya tulis tiga tahun lalu, yang membahas tentang masalah ini. Feel free to look a back and read it.
  • I wish this fic won’t give you trauma, but essence about simple fact if not everyone can accept who we are. And somehow, it’s still sad.
  • Last, if you interested of my fictions and want reminder if I post something in future, you always can fill your twitter username in this Shameless Tag page.
  • Enjoy!
Advertisements

20 thoughts on “Before The Worst

  1. INI YUNJAE. FULL STOP. AHAHAHAHAHAHA INI YUNJAE AKU KETAWA PAS BACA JUN CHUN DAN MIN. AKU UDAH TAU INI YUNJAE DARI PAS KAK ADIS NYEBUT YUN TERUS PAS NYEBUT JUN CHUN MIN AKU SADAR INI BENERAN YUNJAE. (Padahal kenal tipiekski aja pas udah bubaran…)

    Syuka syuka, udah lama nggak baca fiksi indonesia hehehehe. Aku agak nggak ngerti sama kaitan dengan judulnya sih kak, apa semacam calm before the storm dengan pasangan hidup masing-masing atau gimana?

    Yaudin dear yunjae, mbok yo si ciwei-ciwei dicerai saja kalian kabur nikah di belanda yang melegalkan pernikahan sejenis trus hidup bahaya selama-lamanya. Ehe
    Ehe
    Ehe

    /ngaco

    • kay ketawanya dipuas2in gitu cobaaa. Uhuhuhu.
      yagitu deh, ini yunje. Adis pemalas banget yak, cuma ngasih nama satu suku kata doang. Ahaha.
      tentang judulnya itu: fiksi ini kan menceritakan mereka sebelum benar-benar berpisah. since Yun said it’s their last time, and Jae aleays feel ‘lost’ everytime Yun gone. And you know the worst of fall in love is when you need to fall out love. Gitu.
      ehehe
      ehe
      😗😗😗

  2. Yampuuun jangan bilang kamu nulis ini buat di dedikasikan buat couple yang enlist ke military di bulan yang sama. Huahahahah aku agak geli baca beginian sejujurnya kak. Sadar kalau ini yaoi *eh bener kan ya namanya yaoi* waktu Jun, Chun, Min di sebut. Tapi kurang satu orang. Dan langsung deh sadar ketika nemu Jae. Nice kaaa😄😄😄

  3. DIEZZZZZ….. ini apa?!?!?!?!? Ini apa?!?!?!?!?
    Oke aku gak tau mesti nulis comments macam apa…
    Yang pasti terlepas ini Yunjae, aku selalu suka sama gaya menulis adiez, selalu suka sama permainan katanya, mau sesederhana apapun fictnya klo adiez yg nulis jd mahallll….
    Hatiku mulai dag dig dug pertama kali membaca yun dalam hati teriak2, “ini yunjae bukan? Tapi masa iya? Ah mungkin yg lain?” Tapi pas nemu nama2 buntut belakang itu makin yakin itu yunjae, tapi jaenya mana…. Eh pas ada jaenya muncul langsung WE O WE keyeeeenzzz …

    Jadi mereka nikah sama cewe yah, tuntutan carrier dan dunia, menyedihkan memang mengingat mereka saling mencintai, tapi yah namanya hidup..
    Aku bukan pendukung LGBT tapi juga tdk menentang aku hanya tdk ingin berkomentar… Ah sudahlah yunjaeeee kangen ih
    Tks adiesssss aku sukaak, tnd bintang kenapa cuma satu, aku mau nge klik 1263849274846 kali like buat fict ini…

    • Ini… tulisan menantang, Rin. Ehehe
      apalaahh ini jadi mahal. Tulisan akoohh bukan batu bacan. Huhuhu.
      iya, mereka tetep nikah sama cewek, dan yaaa… memutuskan untuk stop their love. yasudahlah, namanya juga dunia percintaan. Hak hak hak!
      satu aja udah cukup mewakili cintamu padaku kok. Bhihik!
      have nice day, dear.

    • meskipun lais ga suka yaoi kak dis dan baru ngeh ini yaoi pas tengah-tengah (yha), lais tetep baca yes. soalnya bukan tipe yaoi yg kayak couple beneran gitu ih lais baru jijik kalo nemu yg kayak gitu hahaha lah napa curhat:(

      daT ‘JUST-FORGET-ABOUT-TOMORROW-SINCE-WE-STILL-HAVE-TODAY’ FEELS!!!!!!!!!!!! Aku suka bangeeett kerasa bangeet bangeeet:’) judulnya juga; ‘Before the Worst’, DUH. Lagi galau terus disodorin ginian like the worst is already standing beside me now wth i’m so done aku nambah galau ihh kak diezz;______;

      ‘Tidak ada apapun, selain dua pria yang sejenak menikmati damai.’ i told u i hate yaoi so when i see this line i–whatever. ENDINGNYA hwhw singkat padat jelas; udalah, mikirin besoknya taran ae toh ini masih hari ini. (LAGI).

      ‘Barangkali suaranya terdengar hingga lantai dasar. Tapi toh tidak ada seorang pun terbangun.’–> ‘tapi’ nggak boleh jadi pembuka sebuah kalimat, kakak diezz, jadi titik sebelum ‘tapi’ itu diganti koma saja mengingat itu kata penghubung 😉

      ‘“Aku tidak bisa tidur di rumah.” Mungkin baginya, ini bukan sekadar rindu.’–> aku nggak tahu, tapi katanya kalau setelah dialog mau ada kalimat lagi itu harus pake koma? tapi beberapa kakak pake koma kok, dan yeahh hahah aku tahunya yang bener memang yang kayak gini; ‘“Aku tahu, Yun,” jawab Jae ketiga kalinya.’

      ah, maaf kesannya kalau sok menggurui, kak diesx) cuma sharing aja. DAN MAKASYII SUDAH TAG AKOOH!!<3<3 lain kali kalo bikin fic oppa tampan yang nggak yaoi tag lagi ya, yang angst lho (kok jadi request gini….) BHAY KAK DIEZ! Have a nice day dan sukses terus bu dokteeerrr!!!<3

      xx

      • Anuh Lais, akoohh juga ndak suka yaoi kok. if you want explanation why I write this, kindly check my footnote, dear. Bhihik!
        iya ya, judulnya emang bikin makin galau, since the fiction itself juga bikin galo. maapp ya lais, bikin kamu makin galo. Ehehehe.
        karena aku lebih mengutamakan percakapan dan keintiman yg implisit, jadi nggak ada cerita bermesraan yang berlebihan sih.
        For the reviews:
        1. iya, itu kalimat pernghubung. kadang aku melanggar aturan yang ini sih. Karena di beberapa buku novel yg kubaca juga ‘menghalalkannya’. So, ya gitu deh. tapi udah aku ganti kok.
        2. Nggak. itu memang menggunakan titik. Karena keduanya memang dua kalimat yang terpisah dan berdiri sendiri.
        Lain halnya jika: “Aku tahu,” jawab Jae. Ini satu kalimat, maka digunakan tanda koma.
        Aniya, aku selalu terbuka untuk koreksi kok. Even I always ask Zura to correct my fics. 🙂
        have nice day dan sukses buat sekolah kamu juga ya dearest. *smooch*

  4. Hahahaha… Awalnya aku gak mikir ini bakal yaoi. Tvxq oke, yun oke. Mikirnya normal nih, reminder di atas aku pikir bakal ada smut-nya tapiiii ternyataaa…
    Jae yang jadi couplenya…

    Ini hadiah buat mereka yang enlist berdekatan . akhirnya mereka bersatu di wamil. Hahaha..

    Dan diksimu diez.. Selalu indah buat dibaca… Aku selalu belajar dari diksi yang kamu gunain tapi yah pada akhirnya aku cuma bisa mengagumi tulisanmu >/////<

    • ehehe.
      kalo smut biasanya nggak sampe aku kasih peringatan. tapi ini kan gay gitu yess. I think it’s not right if I don’t give any warning before.
      Yahh, anggeplah begitu. Anggeplah ini hadiah buat mereka lah ya. Bhihik!
      aduh, apa sih. kata-katanya kan biasa ajaaa. 😶😶
      ehehehe
      ehehe
      ehe
      maacihh yaaa sudah membaca.

  5. KAK SERIUS NGGAK NYANGKA._. Kirain Yun itu semacam nama OC yang memang lagi kekinian 😀 Udah ada alert wkt baca “Jun, Chun, Min” kok kaya familiar yaa, terus ada Yun terakhir ada Jae._. Langsung yang.. speechless abis.-.

    Oh ya kak bagian ini : Jae menarik napas dalam-dalam. Demi Tuhan, ia ingin menyumpal bibir Chun. –> Ehm semacam typo kah?

    Duh serius kak, berhasil banget menggiring suasana ke layaknya “normal” dan baru twist di akhir membuktikan “no expectation” nya 😀 Keren keren ❤ Sampe kepikiran "tumben betah baca yaoi ya, biasanya begitu tahu suatu cerita yang tanpa embel embel atribut di atas dan di tengah mengindikasikan kalau itu yaoi gak peduli apapun langsung close tab"

    Kak Adiez bener bener sukses membuat ff nya seperti hanya berkonteks sekedar "affair", bukan "same-gender affair" 😀 nggak kerasa banget ketidaknormalannya 😀 thumbs up kak 😳

    • Ehehehehehe.
      Maapkeun. Udah bikin speechless dan mengkontaminasi otakmu. 😂😂
      Iya, itu typo. Padahal udah aku cek berkali2 lho, kok masih adaaaaa aja typo ini. Mafhum, bikinnya jam 2 pagi.
      Iya, beberapa perselingkuhan emang nggak normal. aku emang pengen mengeksplor sehingga tidak terlihat vulgar. Abisan aku sendiri juga nggak paham dunia per-yaoi-an yg mendalam dan gak pengen setau itu juga. Uhuhu..
      Maapkeun aku ya, dan thankies sudah membaca. :*

  6. gay :’D kirain cuma selingkuhan biasa.. pantes ada kata *Normal* segala macam.. hihi dibikin nge wah wah wah lagi sama fiksi di dendelion notes ini. karena ide ceritanya.. karena judulnya.. dan karena susunan kata-katanya.. ^^

  7. Aku ngeh kalau ini castnya tvxq waktu ada Jun, Chun, Min dan pikiranku langsung ke couple YunJae.
    Well aku juga bukan pendukung boyxboy tapi pernah beberapa kali bikin cerita boyxboy sih x) Tulisan kakak, walau membahas hal-hal yang sensitif dan (di ff ini) agak menjijikkan, kakak selalu bisa ngebungkusnya dengan indah. Jadi baca topik kaya gini tetep berasa seni-nya 😀
    Dari awal sampai akhir enggak ada yang ngebosenin. Enak banget buat dibaca. Ditunggu shameless tag selanjutnya kak :))

  8. Pingback: Walk Away | dandelion notes

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s