Everything Happen for a Reason

Kepada kamu yang menyebutku Little dandelion,

Sudah dari awal aku ingin mengirimkan surat ini padamu. Namun urung, otakku sepertinya lumpuh di kalimat pembuka. Tak pernah berbeda di tiap tahun, setiap aku hendak menulis surat kepadamu. Tak pernah berbeda, seperti kita yang tak mengenal halo dan selamat jalan.

Tapi aku ingin menulis, untuk mengingat bagaimana kamu datang. Aku ingin menulis, untuk membalas surat beramplop coklat yang dititipkan di pos satpam sekolah. Aku ingin menulis, untuk mengutarakan alasan yang baru kutemukan.

Kamu mengetuk hidupku dengan sepucuk surat tanpa pengirim, hanya tertera simbol persegi dengan empat warna di amplopnya. Logo yang kamu desain sendiri untuk mengenali bahwa itu kamu.

Kala itu hatiku tak utuh, maka kamu membantuku menemukan serpihannya. Bukan waktu yang singkat, namun kamu tak pernah absen di sampingku. Kamu merekatkannya kembali, hanya untuk menemukan aku lagi-lagi jatuh dalam lubang yang sama. Lantas kamu meraih tanganku (lagi). Menjadi tongkat bagi jiwaku yang lumpuh. Kamu tentu ingat, mengapa aku menamakan diriku dandelion enam tahun lalu? Karena aku menanti seseorang yang kusebut angin, maka kamu tersenyum dan menyebut dirimu Big Dandelion. Agar aku tidak merasa sendiri dalam menunggu.

Everything happen for a reason, Big. Aku sepertinya tak kunjung pintar. Aku baru menemukan alasan-alasan yang nyaris tak pernah berhenti berputar dalam otakku. Alasan kita ditakdirkan bersinggungan dan berjalan bersama pada satu masa.

Kamu datang untuk mengajarkanku bagaimana berdamai dengan kehidupan. Jika hidup tidak dapat memberiku apa yang aku inginkan, maka aku harus meyakini, bahwa hidup akan memberiku apa yang aku butuhkan. Aku hanya harus bersabar dan percaya.

Kamu datang untuk memaksaku kuat. Pada kerasnya kenyataan, kamu menyeka air mata, dan mengajarkanku tertawa. Menertawakan ironi yang tidak perlu ditangisi. Meyakini bahwa jangan takut pada sederas apapun hujan yang datang, sebab kita hanya perlu membuka payung dan menerjangnya.

Kamu datang untuk mengajakku berpindah. Karena kaki tak boleh berputar di area yang sama. Langkah haruslah menjejak tempat yang belum pernah terjamah. Pun cerita tak melulu tentang kisah lama.

Everything happen for a reason. Hatiku tak pernah utuh sejak kamu menemukanku. Pun, hati itu masih saja tercuri, tak lagi bersamaku. Sialnya, pria itu membawanya lantas menghancurkannya di depanku. Aku bahkan bisa melihat remahnya di ujung kakiku.

Sayangnya, kamu tak lagi di sini, Big, Tak lagi bersamaku dan menawarkan pundak tempatku bernaung. Tak ada uluran tangan yang membantuku mengumpulkannya. Bahkan aku tak pernah tahu kabarmu. Tapi kau harus tahu, aku bukanlah wanita yang sama seperti ketika kamu menemukanku. Aku dapat berdiri tegak hingga hari ini, tanpa kamu.

Namun percayalah, ini karena kamu dan apa yang kamu ajarkan padaku.

Everything happen for a reason, Big. Maka, tersenyumlah kala membaca surat ini. Sama seperti aku tersenyum kala menulisnya.

Have a nice day. Don’t forget to bring umbrella before rain.

.

Regard,
Little dandelion.

.

Note: ditulis untuk 30 Hari Menulis Surat Cinta Hari ke 24

Advertisements

3 thoughts on “Everything Happen for a Reason

  1. Pingback: Perihal Surat Cinta | dandelion notes

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s