Air Mata yang Akhirnya Jatuh

Pasuruan, 17 Februari 2015
Kepada pria yang benci melihatku menangis,

.

Papa, aku bertemu dengan seorang pria. Papa sudah mengenalnya sejak lama, jika aku tidak salah ingat, mungkin sekitar delapan tahun yang lalu. Waktu itu ia sering ke rumah selepas sekolah, masih mengenakan seragam putih-abu-abu. Ketika itu, papa hanya tersenyum jika disapanya.

Enam tahun berselang, kami bertemu kembali dan mengukir kasih. Aku pikir, papa akan suka padanya. Toh ia bukan orang yang baru. Bukan begitu, papa?

Aku selalu bercerita mama tentang pria itu, tentang hari-hari kami, tentang kelebihan dan kekurangannya. Tentang ia ingin melamarku.

Pria itu beberapa kali berkunjung ke rumah, dan papa tetap tersenyum ramah padanya. Sayangnya, aku tahu papa dan mama tidak terlalu suka padanya. Kalian hanya menghormati pilihanku, karena bagi kalian, aku sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang baik untukku.

Papa yang baik, sudah berapa ratus kali aku meyakinkan papa bahwa ia yang terbaik untukku?

Papa hanya mengiyakan, lantas mengusap kepalaku dan berkata, “Papa terserah kamu. Kan yang bakal hidup sama dia itu kamu.” Ucapan yang baik, papa. Walau aku tahu, papa menyimpan ketidakcocokan pada pria itu. Misalnya dengan cara berpakaiannya, atau sikapnya bertamu, atau beberapa hal yang bagi papa seakan tidak menghargai (calon) istrinya.

Percayalah, pa. Ia sudah berusaha untuk menjadi lebih baik. Menjadi apa yang papa inginkan dari seseorang yang nantinya papa percayakan.

.

Papa yang selalu panik dengan air mataku,

Papa ingat terakhir kali ia ke rumah? Iya, yang papa kritik ia kurang sopan karena bertamu menggunakan sandal jepit. Iya, yang papa berceramah tentang aturan bertemu calon mertua ala papa. Aku hanya terdiam ya, pa.

Kenapa? Karena siang itu ia mengakhiri hubungan kami.

Aku tidak menimpali apapun, karena aku takut aku air mataku tumpah di samping papa. Aku takut papa sedih, karena bahkan papa pun tidak pernah membuatku menangis. Ironis ya, pa?

Aku menangis dalam hati, dan itu menyedihkan. Aku menangis di balik senyum, dan itu mengerikan. Kita tertawa terbahak sementara diam-diam pikiranku memutar ulang apa yang ia katakan, dan aku harus menahan ceguk di tenggorokan.

.

Papa yang selalu membahagiakanku,

Mungkin aku yang salah, berpegang pada keyakinan bodohku sendiri, sementara papa sudah menyimpulkan lain. Aku yang membiarkan hubungan ini berlama-lama, berharap ia bisa membuktikan bahwa ia adalah yang terpilih, kendati aku tahu ia pun tidak yakin.

Ya, papa. Pria itu sendiri yang tidak yakin denganku, sementara aku sudah membayangkan pelaminan bersamanya. Jahat? Tidak, pa. Pria itu tetaplah pria yang baik. Bahkan jika papa bertanya tentang pandanganku tentang pria itu hari ini, pria itu tetaplah pria yang terbaik, terlepas dari apa yang telah kami lalui. Ia hanya sadar bahwa aku bukan perempuan yang baik, setidaknya untuknya dan masa depannya.

.

Papa yang berhati besar,

Semoga papa suatu hari dapat memaafkannya, untuk segala yang ia perbuat yang tidak cocok dengan apa yang papa inginkan. Tidak ada manusia yang tanpa cacat, meskipun itu aku, papa, pun pria itu.

Percayalah, pa. Suatu hari pun, aku akan bertemu pria yang punya keberanian untuk menjawab semua harapan dan kepercayaanmu. Yang membuatmu yakin bahwa ia sanggup menjagaku. Yang membuat papa tahu, tidak akan ada air mata yang jatuh dari anak perempuan semata wayangmu.

.

Kecup sayang,
Anak perempuanmu yang bahagia

.

Note: ditulis untuk 30 hari menulis surat cinta hari ke-19

Advertisements

One thought on “Air Mata yang Akhirnya Jatuh

  1. Pingback: Perihal Surat Cinta | dandelion notes

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s