Bersama

“Setelah kami berdiskusi dan mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan…” pria seumuran kakekku di depanku menghentikan ucapannya sejenak. Aku menarik nafas dalam-salam sementara bulir keringat sebiji jagung sudah menetes deras di dahiku. Tanganku saling meremas tak tahu diri, agaknya ia mengerti bahwa jantung pun berpikiran sama. “…Kamu lulus.”

Dua bola mataku seketika membeliak. Oh Tuhan, telingaku tidak sedang memberi harapan palsu kan?

“Lulus… Prof?” tanyaku terbata. Karena tiap ucapannya barusan tak ubahnya membuatku menaiki tangga menuju awan. Diam-diam aku mencubit balik punggung tanganku. Tidak bermimpi. Oh Tuhan!

“Kamu tidak mau, Ken?”

Lekas-lekas aku menggeleng. “Mau, Prof!” seruku. Aduh, bagaimana jadinya jika mereka menarik ucapan?! Tiga tahun setengahku yang melelahkan berakhir sudah. Aku mengucap berulang kali terima kasih sembari menyalami ketiga dosenku dam izin undur diri.

Buru-buru aku membuka pintu sidang dengan perasaan yang membuncah, masih dengan tanganku yang basah dan sedikit gemetar. Derap pertama, melewati pintu sidang, ketika pintu ruang sidang sebelahku juga terbuka, bersamaan.

Langkahku terhenti, lantas tersenyum lebar. Lebar sekali, kala dua mata bak rusa di hadapanku menatapku dengan berkaca-kaca. Sama sepertiku, ia pun bermandi peluh. Tapi bukan itu yang membuatnya menawan. Lengkungan di bibirnyalah yang membuatku tahu makna di dalamnya.

You did it?” tanyaku, memastikan.

Ia mendengus, khasnya jika aku mulai sok tak mengerti maksud tersiratnya. “I did it, Ken. WE DID IT!!!”

Ia tertawa lepas, sementara jantungku berdebar tak tahu malu. Tentu saja jantungku tidak mau diatur, ia tiba-tiba saja menghambur memelukku. Di depanku -dan di belakangnya- tiga dosenku -dan tiga dosen pengujinya- baru saja keluar ruangan dan melihat kami.

oh Tuhan!

.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program Simulasi Kompetisi Menulis berhadiah 2 tiket PP + voucher menginap di hotel berbintang BALI dari www.nulisbuku.com dan www.tiket.com

Advertisements

2 thoughts on “Bersama

    • Aku malah baru bangun dari ketiduran. Terus baru sadar kalo udah jam setengah sepuluh. Jadi bikinnya setengah sadar. Hahaha..
      Gapapa, kan simulasi. Besok kan kontesnyaaa. Ayoyo semangat!

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s