Cerita Sebelum Tidur

: teruntuk pria dalam kenangan pengantar tidur.

Jadi, aku ingin membocorkan satu rahasia padamu, kawan. Tentang pria dalam kenanganku yang selalu berhasil menemaniku terlelap. Sebentar– sebenarnya, ini bukan tentang seorang pria, dan kenangan ini bukan tentang cinta. Ini semacam tentang bagaimana satu potongan ingatan tak pernah gagal membunuh nyalang mataku.

Apa? Jangan coba-coba menebak siapa pria itu, karena aku belum bercerita.

Begini, potongan ingatan itu selalu diawali dengan diriku mengenakan kaus berwarna jingga dengan celana skinny jeans, memasang bibir dengan lengkung sempurna. Tanganku hangat, karena pria itu menggenggamnya. Pria itu jangkung sekali, sekitar tiga puluh sentimeter lebih tinggi dariku. Cukup tampan, hingga tiap temanku yang bertemu dengannya selalu mencuri-curi pandang di belakangku. Ia mengenakan kaus merah terang, bergambarkan logo Jack Daniel, dipadu dengan celana jeans selutut. Ia tertawa, terbahak-bahak hingga membelah sunyinya jalan.

Jalanan di sana sepi sekali, hanya berpandu dengan temara lampu jalan di tiap satu meter. Kami menyusuri jalanan itu karena selesai makan dari warung pinggir jalan, menuju rumahku. Tautan jemari kami tak terlepas sampai di penghujung jalan.

Sejujurnya, aku lupa kami berbicara tentang apa. Mungkin tentang ia yang mengatai tubuhku yang terlampau mungil. Atau ia yang aku goda karena koleksi video dewasanya. Atau tentang es krim Cornello yang ia janjikan sejak minggu lalu. Atau tentang cerita-cerita jenaka yang ia lontarkan tiba-tiba– ia memang humoris. Hanya saja, tawanya renyah sekali, seperti ada alunan Rapsody in Blue di telingaku.

Ia kemudian meraih ubun kepalaku dan mengacak rambut ikalku. Aku tergelak, tak menyangkal -menyukainya. Aku ingat! Ada kembang api yang meletup-letup keras sekali di dadaku saat itu. Kami menyusuri jalanan itu lama sekali.

Sampai aku lupa, bahwa aku telah terlelap. Itu saja?

Ya, itu saja. Kukatakan, itu hanya sepotong kisah, bukan tentang pria itu, maupun tentang cinta. Tapi tentang bagaimana ingatan kecil itu begitu membekas di otakku sampai saat ini, dan selalu berhasil mengatasi insomniaku.

Jadi, kira-kira kenapa ya?

Ah! Sebelum kamu menebaknya, aku akan mengajukan beberapa hipotesis. Pertama, mungkin karena ingatan itu terasa begitu damai dan menyenangkan. Kedua, mungkin karena pria itu salah satu komponen yang berharga dalam kesatuan kenangan. Ketiga, mungkin karena memutar kembali potongan itu tak ubahnya seperti cokelat, meningkatkan dopamin sehingga terjadi relaksasi tubuh dan akhirnya aku dapat tertidur.

Atau mungkin kamu ingin menambahkan hipotesis lain?

Apa? Kamu tahu orangnya?

Bohong!

Iya, iya, aku mengaku.

Pria itu kamu. Pria delapan tahun yang lalu itu, kamu.

.

.

.

Eh iya, aku lupa. Anakmu tahun ini sudahย kelas berapa?

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Sebelum Tidur

  1. Jadi? Apakah pria itu cinta pertamamu? Dan apakah pria itu telah dimiliki oleh orang lain? Ataukah… kamu yang benar-benar menjadi milik orang lain?

    Baiklah, aku tidak akan memberitahukan kepada orang lain. Jadi, ceritalah kepadaku. Jawablah sesuai kebenaran yang berasal dari hatimu.

    ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ˜€

    • Apa siihh ini komennya. Hihihii.
      Bukan cinta pertama, dan mungkin bukan cinta. Pria itu milik anak-istrinya sekarang. Dan saya milik hidup saya sendiri.
      Terima kasih sudah membaca. ๐Ÿ™‚

  2. Pingback: Perihal Surat Cinta | dandelion notes

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s