My Super-Duper-Superhero

Kepada, Papa.

Papa, aku baru saja selesai menonton acara Superman Return, serial televisi tentang bagaimana ayah tinggal dengan anaknya yang masih kecil selama empat puluh delapan jam tanpa ibu mereka. Para ayah itu kebingungan, bagaimana menghadapi anak balita mereka, dengan raung tangisnya, rajuk manjanya, dan segala kerepotannya.

Aku jadi teringat, apa yang aku tanyakan pada papa, sekitar sebulan lalu di supermarket. Apa aku dulu sering dibelikan berbagai macam bubur yang terpajang di etalase supermarket itu? Papa tertawa. Papa ingat tidak, papa jawab apa?

.

“Jangankan bubur. Namanya juga anak pertama, apa aja papa turutin. Susu aja kamu belinya macam-macam. Cuma karna boneka hadiahnya itu, padahal kamu nggak suka susunya.”

.

Aku diam, tersenyum, menggandeng tangan papa yang kokoh erat-erat.


Sejujurnya, pa. aku tidak ingat bagaimana masa kecilku. Tapi tentu aku ingat bagaimana cerita-cerita kebaikan papa. Tentang papa yang tiap sore tergopoh-gopoh pulang kerja, dan aku akan berlari dari halaman rumah menyambut papa, lantas kita membeli es krim Cornello di toko kelontong dekat rumah. Tentang tiap hari kita bertiga berkeliling taman-taman di Surabaya, hanya untuk mengajakku bermain ayunan. Tentang papa yang suka membawa tustel dan aku yang dengan percaya diri bergaya burung kuntul.

Aku tidak ingat.

Tapi aku ingat satu hal penting. Tentang papa yang tersenyum melihatku bermain ayunan waktu TK. Lantas aku terjatuh dan papa berlari menggendongku yang menangis keras sekali siang bolong itu.

Apa papa masih ingat?

Waktu berlalu cepat sekali. Semua berubah, rumah berpindah, usiaku bertambah, kerut wajah mama. Namun sampai sekarang, pun, papa tetaplah sama.

Mengkhawatirkanku meski usiaku sudah menginjak kepala dua. Mengutamakan kepentinganku di atas diri papa. Menyenangkanku, meski dibayar dengan peluh berjuta-juta.

.

“Kepentingan orang tua itu, pasti selalu kalah sama kepentingan anak. Mamamu dulu juga seperti itu. juga seperti itu nantinya kamu, dengan anakmu.”

.

Percayalah, pa. Bagiku, papa seperti para ayah di serial televisi Superman Return itu. Bahkan lebih, berjuta, bermilyun dan trilyun kali lebih hebat dari para ayah di dalam kotak itu. Sungguh!

Bagaimana tidak? Papa yang cuma bisa geleng kepala kalau aku buat masalah dengan mobil. Papa yang rela berangkat ke kota rantau ini selepas kerja, kalau ada barang pentingku ketinggalan. Papa yang Papa yang kebingungan kalau aku mulai bingung sendiri dan sok memecahkan masalah sendiri (yang nyatanya tetap butuh orang tua). Papa yang marah-marah kalau aku mulai ceroboh. Papa yang tidak bisa bilang apa-apa kalau aku mulai menangis.

Aku bertaruh, pa. Tidak akan ada pria yang bisa melebihi papa membahagiakan aku. Tidak akan ada pria yang lebih hebat dari papa mengasihiku. Tidak akan ada orang yang bisa mengalahkan papa, dalam segala hal menyangkut diriku, dan keluarga kita.

Hanya papa.

Papa, di akhir surat, aku ingin mengutip kata-kata Haru, seorang anak perempuan berumur lima tahun di serial itu yang membuatku ingin memelukmu.

.

“Haru, kamu tahu, apa artinya cinta?”
“Cinta adalah ketika ayah membuat Haru tersenyum.”

.

Ya. Cinta adalah ketika papa membuat aku tersenyum, dan papa tidak pernah berhenti melakukannya.

Terima kasih, Papa.

My super-duper-superhero.

.

Peluk hangat,
daddy’s little daughter.

PfkucE4eyQ

Note : ditulis untuk 30 Hari Menulis Surat Cinta – Hari 1

Advertisements

12 thoughts on “My Super-Duper-Superhero

  1. *Berkaca-kaca*

    Terima kasih atas surat indah untuk Papa ini ya Kak Adiez. Setiap tahun kakak tidak pernah luput menulis untuk sosok Hero ini. Semoga Papa Kak Adiez selalu sehat dan bisa lihat Kak Adiez menikahi pangeran Kak Adiez di kemudian hari 😀

    • Halo Dikta. 🙂
      terima kasih juga sudah membaca. Iya ya, tiap tahun pasti ada surat untuk papa. Amin amin, semoga beliau diberi umur panjang, biar bisa liat cucunya (yang kayaknya masih lama terjadi). Haha..
      terima kasih doanha ya, Dic. 😚😚

  2. Pingback: Perihal Surat Cinta | dandelion notes

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s