Surprise!

image

Kolaborasi ajaib dengan oliver, moilody, daehanbingu, jojujinjin, bapkyr, chocolakay, dan theboleroo

.

Awalnya, Minggu pagi Lee Seunghoon cukup normal.

Ia terjaga pukul tujuh lebih sedikit, “mengumpulkan nyawa” sekian menit di atas ranjang sambil mengecek ponsel.

From: dumbmino

Terlambat? Tiga per empat dari honormu menjadi milikku. HAHAHAHA

“Song Minho berengsek,” umpatnya. Ia menoleh ke samping kanan, mengamati sinar matahari yang masuk melalui serat kain gorden biru lautnya. Setelah mendesah panjang tanpa alasan, ia pun bangkit untuk pergi mandi.

Well, tak ada yang aneh di kamar mandi; shower-nya tidak mati, peralatan mandinya pun masih sama dengan yang kemarin. Alih-alih mandi sambil bersenandung, pagi ini ia lebih memilih diam saat kumpulan air itu turun menghujani puncak kepalanya.

Entah kenapa, kilasan wajah orang itu sesekali muncul di depan wajah, membuatnya mendengus lalu meringis. “Bisa-bisanya kau muncul saat aku mandi,” protes Seunghoon sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.

Lee Hee masih asyik tidur di atas sofa ruang tengah saat Seunghoon menghampiri. Televisi yang menyala membuat kening lelaki itu berkerut sedikit. Seingatnya, sebelum pergi tidur ia sudah mematikannya. Tapi sudahlah, ia malas memikirkan hal yang menyebabkan benda itu menyala lagi. Anggap saja remotnya terinjak Lee Hee. Selesai.

“Bangun, kau tidak malu sama ayam?”

Seunghoon duduk di samping anjingnya, tak berminat ke dapur karena yakin yang tersisa di sana hanya roti jamuran dan kotak susu yang kosong. Jadi sambil menunggu jam yang pas untuk pergi, ia pun memutuskan untuk menonton televisi.

Prang!

Kegaduhan terdengar di detik selanjutnya. Ia terkejut, tanpa pikir panjang langsung berlari ke dapur yang tak lain dan tak bukan tempat berasalnya kegaduhan itu.

“Kau?!”

Cukup sulit bagi Seungyoon untuk menahan diri dari semburan kraker susu yang tengah dilumatnya ketika Seunghoon datang. Pria itu bersusah payah melompat-lompat kecil menghindari serpihan kaca yang berserakan di bawah aura membunuh dari Seunghoon.

“Aku bisa jelaskan ini,” Seungyoon menepikan tubuhnya di pintu kulkas yang terbuka. Gugup, ia menatap Seunghoon sambil berdoa agar sisa-sisa kraker di wajahnya bisa musnah dengan magis. Irisnya menyiratkan pesan, aku cuma makan kraker, jangan bunuh aku dong.

Seunghoon agaknya tidak setuju dengan usulan jangan bunuh aku, pria itu memandang Seungyoon seakan ia baru saja menggunduli naga gimbal. “Kau punya waktu kurang dari tiga detik untuk menjelaskan.”

Seungyoon terkesiap. Seunghoon pikir dirinya apa? Ultraman? Oke, lupakan. Seungyoon tidak ingin disama-samakan dengan manusia yang memiliki lampu kecil di dadanya. Tidak keren.

“Satu,” Pria di depannya mulai menghitung. Tatapan membunuhnya tak lekang sesekon pun.

“Umm,” Seungyoon mengulur-ulur waktu, berharap Seunghoon lupa urutan numerik secara mengejutkan.

“Dua.”

Yah, tidak berhasil.

“Ti-“

“Lee Hee!” Seungyoon berteriak, menghentikan potongan kata ‘ga’ keluar dari bibir Seunghoon. Kening keduanya berkerut, meski dalam kasus Seungyoon ia tidak yakin untuk apa ia terheran-heran.

“Aku-aku tidak begitu yakin ini ide bagus, tapi tanyalah dia terlebih dahulu. Setelah itu aku pasrah jika kau mau membunuhku.”

Air muka keras Seunghoon hilang seketika. Kerut di dahinya berganti dengan sejuta tanda tanya di kepala dan umpatan-umpatan untuk Seungyoon. Agaknya berada di dekat Seungyoon bisa membuatku tambah bodoh.

“Ya! Aku masih waras, Seungyoon!” geram Seunghoon. “Lagipula, dia sedang tidur, dan lagipula lagi.” Seunghoon mengambil satu langkah maju, memicu Seungyoon menelan ludah susah payah. “Lee Hee adalah seekor anjing yang bisa menggonggong, makan, minum, dan tidur.”

“Bukan begitu, Hoon. Tanya saja-“

“YA! AKU TIDAK AKAN MENANYAKANNYA PADA LEE HEE!” pekikan Seunghoon mendarat tepat di depan wajah Seungyoon. Kesal sekaligus memuntahkan rasa lapar dengan amarah.

Oh, anjingku yang malang. Seekor anjing saja disalahkan.

“Sekarang, jelaskan yang sebenarnya Kang Seungyoon.”

Seungyoon menghela napas, bersyukur eksekusi matinya tertunda. Lalu ia melangkah mundur. Wajah Seunghoon ketika marah begitu menyeramkan.

“Cepat jelaska-“

“Tanya Mino, Song Minho.”

Seunghoon langsung mendesah panjang. Orang berengsek itu lagi? Sial.

“Telepon dia, cepat.” Anehnya, Seunghoon menurut saja. Ya tidak aneh sih. Hanya saja kekesalannya sudah berkurang.

Seunghoon menggoyangkan kakinya tak sabaran karena bunyi beep begitu lama terdengar sampai akhirnya Mino mengangkat panggilannya.

“Eh, sudah bangun? Hahah.” Sapaan pembuka yang nampaknya seperti ejekan tersebut sontak membuat Seunghoon berteriak untuk yang ketiga kalinya pada pagi ini.

“Tentu, bodoh. Memang kau di mana?”

“Aku-” lalu kalimat Mino diinterupsi oleh gonggongan anjing yang begitu familier untuknya.

“KENAPA ADA SUARA LEE HEE?!!”

Oh my God.

.

Oh my God.

Paginya rusak sudah. Semua rencananya hari ini, kacau balau karena dua temannya menghancurkan dengan sempurna. Kepala Seunghoon rasanya akan membludak. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Lee Hee, jangan salahkan ia kalau ia ingin mengambil pisau dari dapur dan menohokkannya ke kepala Mino dengan semena!

Seunghoon berjalan tergesa menuju ruang tengah. “Mino-” Matanya membeliak ngeri. Lee Hee dengan pakaian… BADUT?!

“SONG MIN HO!! Kau apakan Lee Hee, hah?!”

Mino, kepalang basah dengan aksinya, hanya bisa meringis ngeri. Pelan-pelan ia memasang topi berbentuk kerucut di kepala Lee Hee, lantas dengan gemetar-karena Seunghoon tidak pernah sejengkel itu padanya-menyodorkan anjing kecil itu ke hadapan Seunghoon.

Happy Birthday, Hoon…”

Seunghoon mengerjapkan mata. Sekali, dua kali. INI TANGGAL BERAPA?!!

Keempat temannya tiba-tiba memenuhi ruang tengah mengucapkan selamat sekali lagi, kali ini lebih meriah dan tanpa gemetar seperti Mino sebelumnya. Bahkan, Jinwoo dengan senyum anak kecilnya seakan tidak ada apa-apa sebelumnya, berjalan lebih dekat padanya dengan kue tart di dua tangannya.

“Seunghoon, saengil chukkae…”

Senghoon terdiam. Semua kekacauan ini, hanya untuk acara macam ini? Well, memang tidak ada yang bisa mengalahkan kekonyolan teman-temannya.

“AH!” seru Seungyoon tiba-tiba. “Kami membawa seseorang yang ingin bertemu denganmu! Spesial!”

Dahi Seunghoon mengernyit. Seseorang katanya? Keluarganya? Ibunya rasanya ada acara di Busan hari ini. Teman? Fans? FANS?! Semacam sasaeng fans yang mereka restui untuk memakanku?! Teman-temannya tidak akan setega itu, kan?

“Sebentar-” kata Seungyoon sambil berlari kecil memanggil entah siapa di ruang tamu. Beberapa saat kemudian ia kembali, bersama…

Wanita.

Cukup mungil dengan tubuh tidak terlalu tinggi. Rambut kecoklatannya dikuncir kuda tinggi-tinggi dengan bandana warna merah, senada dengan dress merah setengah lututnya.

Ia tersenyum pada Seunghoon. Cerah sekali.

What the-

“Alice?!”

Ini semacam petir di siang bolong. Untuk apa teman-temannya mengundang mantan pacarnya kemari?! Untuk apa membawa orang yang sudah seenaknya pergi tanpa alasan?

Oh my God. Adakah yang lebih buruk dari ini?

Seunghoon terbelalak, mulutnya menganga dua kali lebih besar dari yang seharusnya. Seungyoon yang masih mengunyah kraker-yang ia colong lagi dari lemari persediaan-hampir tersedak. “Ada apa dengan suasana aneh ini?”

“Alice … kapan … kau … mengapa ….” Seunghoon melupakan segala pakem penyusunan kalimat yang ia pelajari sejak sekolah dasar. Matanya mengerjap tanpa henti dan ia merasa bangun pagi adalah salah satu pilihan terburuk dalam hidupnya.

Alice, hadiah terekstrem yang pernah Seunghoon terima terkekeh. “Tadi malam? Kurasa. Mino menghubungiku minggu kemarin dan ….” Gadis itu terkekeh-lagi. “Di sinilah aku sekarang.”

“Song Minho!”

“Oh man jangan sensi begitu!” Mino merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, berharap Seunghoon akan menerima pelukannya. “Bagaimana bisa aku mengabaikan gadis yang namanya selalu kautulis di tiap helai sebuah notes busuk?”

“Tulis apa?!”

“Kita semua tahu, ayolah.” Taehyun si pendiam mendengus dari ujung sofa, menunjukkan nol persen antusiasme.

Seunghoon menarik napas dalam-dalam, giginya bergemeletukan, matanya menatap tajam ke satu titik di hadapannya. “Kau pun Alice! Kenapa harus datang?!”

Lima pasang mata itu menatap Seunghoon, menolak percaya atas apa yang baru saja laki-laki itu ucapkan. Sepuluh sekon mereka habiskan tanpa ada yang berani bicara, sampai Seunghoon memecah keheningan tersebut dengan berjalan tergesa menuju pintu kamarnya-tanpa lupa merebut Lee Hee dari pangkuan Jinwoo.

Bunyi berdebam, bergema di seluruh penjuru ruangan.

Seunghoon kini menggandeng kesayangannya yang lain, Bumblebee. Si cantik berwarna kuning itu adalah satu-satunya kawannya yang manis, tak banyak tingkah, dan sudi mendengarkan segala curhatnya. Bunyi bedebam tadi akibat Bumblebee yang terjatuh. Agaknya setelah ini Seunghoon harus meminta maaf pada kesayangannya itu.

“Aku pergi!”

Di atas mejanya, ia sengaja meninggalkan empat boks dengan bungkus kertas kado yang berbeda warna. Empat boks itu seharusnya menjadi hadiah tanda persahabatan dari dirinya, tapi setelah kawan-kawannya mempermainkan Lee Hee, kesayangannya yang nomor satu, ia tak bisa lebih toleran lagi. Kotak-kotak itu telah menjadi hadiah perpisahan.

Bumblebee mengikutinya dari belakang, untung dia baik, mau saja menemani Seunghoon kemana pun ia pergi. Kaki-kaki panjangnya melangkah menuju pintu apartemennya yang tertutup rapat, diiringi oleh pandangan kelima pasang mata yang masih tertegun, merasa bersalah.

“Seunghoon, tunggu!” ujar Mino. Tangannya terentang seakan ingin menghalangi jalan keluar. Mino melarikan jemarinya di rambut, “Kau membawa Bumblebee?”

“Tentu saja! Ia satu-satunya kawan yang mengerti diriku! Tidak seperti kalian, bisanya menyiksa Lee Hee saja!”

“Lalu bagaimana dengan rencana kita? Apa yang akan kukatakan pada Pabyeongi? Kau bilang Bumblebee bakal menjadi menantuku?”

“Maaf, Mino. Kita batalkan saja rencana itu.”

Sementara Mino termangu mendengar pernyataan Seunghoon, ia memanggil Lee Hee dan menggandeng kesayangannya, Bumblebee, menuju ke kehidupan yang lebih baik. Ia menekan layar ponselnya, hendak menghubungi seseorang.

‘Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku~’

Ia menatap pasrah pada caller id, dasar penyuka musik mancanegara nyentrik!

“Halo?”

Tapi Alice menubruknya sambil berurai air mata, “Jangan pergi! Aku minta maaf!”

Seunghoon kaget, hampir-hampir jantungnya ingin copot. Ia mendelik ke arah Alice sekilas, merasa kesal karena perbincangannya dengan orang di telepon harus terinterupsi.

“Tunggu sebentar…” Seunghoon berbicara kepada seseorang di seberang sana dengan nada yang dilemah-lembutkan.

“Iya… Berikan aku waktu lima menit. Oke?” Sepertinya si penelepon tersebut tak bisa menoleransi sekon demi sekon yang mesti ia lewati hanya karena Seunghoon harus menyelesaikan permasalahannya terlebih dahulu dengan Alice.

Karena tak mau-garis miring malas-mematikan sambungan teleponnya, Seunghoon menutupi handphone yang ia genggam dengan sebelah tangannya yang lain, Bumblebee ia taruh tak jauh-jauh. Seunghoon tidak ingin kawannya yang paling setia itu dibawa lari oleh siapapun; pencuri salah satu contohnya.

“Maaf untuk?” tanya pria itu datar tak beberapa lama.

Alice mengigiti bibir bawahnya, kemudian menatap Seunghoon nanar. “Maaf karena telah memutuskan hubungan kita.”

Seunghoon mendengus samar. Ia bertolak pinggang, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alice barusan. Bagaimana bisa gadis itu meminta maaf dengan mudahnya setelah ia menghancurkan hatinya-dengan mudahnya pula?

Tiba-tiba ia merasa pening. For God’s Sake! Hari ini merupakan hari ulang tahunnya tapi mengapa orang-orang di hidupnya-teman, mantan pacar-malah membuat ia ingin meledakan kepala mereka dengan basoka satu per satu? Er… terlalu ekstrem, batin Seunghoon.

Ia mendesah panjang. “Alice, kamu tak perlu memikirkan ucapan temanku tadi. Meraka membual. Aku tak pernah menulis apap-oke, pernah,” katanya setelah melihat mata Alice yang menyipit tidak percaya. “Tapi itu dulu, sekarang aku tak berniat lagi melakukannya setelah… Setelah kau ikut dalam komplotan teman-temanku itu dan mau menerima ajakan Song Minho-si Biang Keladi yang telah membuat Lee Hee seperti ini!” Seunghoon menunjuk anjing kesayangannya.

Oh, betapa hancur hati Seunghoon melihat Lee Hee diperlakukan secara tidak senonoh oleh Mino. Bayangkan saja, topi badut yang masih terpasang di kepalanya membuat anjing tersebut menjadi mengenaskan, setidaknya bagi Seunghoon.

Dasar Mino berengsek, rutuk pria itu dalam hati. Ia tak bisa membayangkan jikalau Bumblebee kesayangannya juga harus menderita karena akan-untung sudah ia batalkan-menjadi pasangan hidup Pabyeongi. Rumah tangga mereka bisa kandas di tengah jalan!

Ketika ia ingin melepaskan topi badut sialan itu, tiba-tiba Seunghoon teringat teleponnya yang dianggurkan sejak tadi.

“Iya, maaf,” Seunghoon memohon, ekor matanya melirik Alice diam-diam. “Datang saja ke apartemenku. Kau sudah tahu alamatnya, bukan?”

Sambungan telepon terputus, tak beda jauh seperti hubungannya dengan Alice. Oh, begitukah?

Nyaris semua pasang mata di ruang tengah masih menahan fokus pada dua manusia canggung di mulut pintu. Tidak tahu ingin menyumbang ekspresi macam apa pada kejutan di hari besar Seunghoon. Namun, agaknya Jinwoo sedikit berbeda.

Dengan polos-entah bodoh, Jinwoo mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi meminta atensi. “Hoon! Kau tak keberatan jika aku membuka boks ini?” Tangan kirinya menggoyangkan sebuah boks berbungkus kertas kado lembayung.

Rahang Seunghoon mengeras, berusaha menelan bulat-bulat amarah ketika bel apartemennya berdering tak sabaran. Untung orang tadi tiba di saat yang tepat.

“Ada yang belum kita selesaikan, Seunghoon!” cegah Alice sebelum Seunghoon melewati pintu.

Panil pintu kembali terbanting, cukup keras untuk membuat gaduh, dan penasaran manik-manik mata yang berkedip penuh tanya di ruang tengah. Mino ingin menyusul, tetapi Taehyun dan Seungyoon menahannya dalam waktu yang nyaris bersamaan. Apabila ingin ditulis rincian dosanya, jelas Mino merasa memiliki andil terbesar untuk pesta kejutan gagal pagi ini. Mendandani Lee Hee, serta mendatangkan Alice adalah awal perkara.

Tunggu, kelakuan Jinwoo barusan sepertinya bonus dari kegagalan mereka yang tak direncanakan.

Mereka semua termenung mencatat kesalahan masing-masing. Di tengah pengakuan dosa, suara Lee Hee menyalak tiba-tiba dari seberang dinding. Itu bukan pertanda baik, omong-omong.

“Lee Hee akan berisik jika bertemu orang baru,” Mino berseru gusar, “apakah orang yang dihubungi Seunghoon tadi pacar barunya? Dan mereka bertiga sekarang sedang bertengkar di luar.”

Semua orang di ruangan itu, kecuali Mino, terjangkit wabah menular yaitu memutar bola mata malas.

“Yang benar saja, Seunghoon bukan tipe orang yang mudah mendapatkan pacar.” Awalnya ingin diam, namun Taehyun gatal mengungkapkan kebenaran yang diketahui siapa pun.

Seungyoon lelah berdebat, memilih mendekati pintu dan mencari tahu. Yang lain akhirnya mengekor.

“Kejutan!!!”

Pintu menjeplak, seorang lelaki jangkung memondong setumpuk kotak pizza. Di belakangnya, Seunghoon mengalungkan lengannya di pundak Alice.

Sebentar, beberapa adegan nampaknya ada yang hilang.

“Bagaimana aktingku?” Seunghoon berujar congkak, disertai aksi mengangkat dagu tinggi. “Sebelum kalian mengerjaiku, aku sudah balikan dengan Alice. Ia juga setuju ketika Mino memintanya untuk datang.”

Sudah jelas, kan? Tidak mungkin Seunghoon membayangkan wajah Alice tanpa alasan pagi tadi. Jadi, sekarang siapa yang sebenarnya diberi kejutan?

.

Kkeut!

.

Note: you can find the original file in here.

Advertisements

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s