Setia

qVy6Bo2iAn“Menunggunya lagi?” tanya nenek tua di depanku. Namanya Rose, dan ia sungguh renta. Dengan tubuh separuh membungkuk ia selalu berjalan berkeliling areal pemakaman. Mengenakan terusan putih bersih seolah baru ia setrika tadi. Sering kali, ia terkekeh jika ia memperogokiku berdiri termangu di persimpangan jalan pemakaman.

Aku meringis. Mengangguk menyetujui.

Ia tersenyum, setengah mencemooh, setengah iba. Menurutnya, aku sungguh bodoh. Untungnya, setidaknya ia tidak pernah terang-terangan mengucapkannya.

“Lelaki bodoh.”

Mataku membelalak. Pada akhirnya ia bergumam mengejekku. Nyaris satu dasawarsa aku mengenalnya, dan selama itu ia melihatku tiap pagi dan sore menunggu, baru kali ini ia dengan lantang menertawaiku dengan gusi tanpa giginya.

“Sepuluh tahun, anak muda…” ucapnya lagi. “Kamu menunggunya sepuluh tahun di tempat ini. Kamu pikir dia akan datang, huh?”

Aku mengedikkan bahu dan tersenyum. “Mungkin dia akan datang hari ini.”

Tawanya pecah. Ia sepertinya gila atau ia sudah hilang akal menasihatiku yang sudah gila. Dengan tertatih karena kaki kurus keringnya, ia mendekatiku. “Berhenti membuang waktumu di sini sepertiku. Pergilah terlebih dulu. Jika wanita itu memang mencintaimu, maka ia akan tahu di mana tempat yang seharusnya ia tuju.”

Aku mengangukkan kepala, pura-pura setuju. Nasihat memang baik, namun terkadang kita tidak membutuhkannya. Karena, beberapa keputusan sudah kita pilih tanpa membutuhkan persetujuan.

Nenek Rose itu menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin ia mengerti bahwa kami tidak sepaham, dan ia tidak mau repot membuatku sejalan dengannya. Agaknya kami sama-sama putus asa. Ia menatapku sekilas dengan iba, lantas berlalu.

Ya, aku tahu ia akan datang hari ini.

Eheum… aku tahu nenek Rose, aku tahu aku sudah mengatakannya setiap hari selama sepuluh tahun ini. Tapi sungguh, aku yakin hari ini!

.

Tiba-tiba segerombolan orang menyerbu pemakaman. Barisan itu dimulai dengan sebuah peti mati dari kayu jati. Permukaannya jelas mengkilat, dengan ukiran vektor di penutup peti. Di belakangnya banyak orang mengenakan pakaian serba hitam. Nyaris semua wanitanya menutup air matanya dalam lembaran sapu tangan, sementara pria-pria di sampingnya tak bisa berbuat apa-apa selain berkaca-kaca. Aku sepertinya tidak asing dengan wajah-wajah mereka…

Hmm… penghuni baru…

Gerombolan itu berhenti di samping tanahku. Beberapa menginjak tubuhku. Mereka menurunkan peti mati ke lubang galian di samping tempatku berbaring. Tak berapa lama, peti seelok itu telah terkubur di balik tanah gembur.

Hey! Tidak sembarang tempat bisa berada di situ!

“Ji?” sesuatu menepuk pundakku.

Aku menoleh, lantas tergagap. Waktu berhenti melindap, ia terhenti di antara kami. Selesai sudah sepuluh tahun ini, tergantikan oleh sosoknya yang berdiri di sampingku. Wanita itu tersenyum, dengan mata kucingnya yang membentuk croisant. Ia tidak berubah, meski ia terlihat sedikit tua jika dibandingkan sepuluh tahun lalu. Umurnya memang bertambah dalam sepuluh tahun ini, sementara aku masihlah pria tiga puluh tahun yang sama. Rambut ikalnya ternyata sudah ia potong sampai bahu. Rona wajah pucat serta kulit kecoklatannya ditembus matahari.

“Kasihan, umurnya masih muda…”

“Rin? Masih sekitar 40 tahun kan? Memangnya kenapa meninggalnya?”

“AIDS.”

“Hey!! Kok diem?” hardiknya tiba-tiba.

“…Rin,” gumamku lirih, separuh tak percaya. Bibirku berjungkat lebar sekali. “Kamu datang…”

Ia mengangguk sambil tersenyum lebar.

Aku mencengkam lengan kurusnya, aku tahu ia jauh lebih kurus dibandingkan sepuluh tahun lalu. Aku tahu ini salahku. Menyentuh pipi tirusnya, meraba mata, hidung lantas di bibir. Mengurai rambut hitamnya. “Kamu datang… Kamu datang! Kamu datang! Kamu—”

Rin membekap mulutku. “Iya, Ji…”

Mungkin aku terlalu bersemangat. Tapi bagaimana aku bisa menyembunyikan kebahagiaan yang aku tunggu selama sepuluh tahun!

Rin ada di depanku!

“Iya, tertular suaminya.”

“Suaminya? Ji maksudmu? Dia main perempuan?”

Ia meraih tanganku, mengaitkan jemari kami satu sama lain. “Maaf membuatmu lama menunggu, Ji.”

“Tertular sewaktu mendapat transfusi darah.”

“Bukan masalah,” ucapku tersenyum. “Ayo pergi,” ajakku, disambut dengan anggukan cepat Rin. Lantas aku menuntun Rin meninggalkan kerumunan pelayat.

-kkeutt-

SHl1iUD09k

Footnote :

I always have no confident with my recent posts. Actually I never have confidence. But when we stop trying, that’s when we stop growing. So please criticise me harshly. Thanks.

signature

Advertisements

18 thoughts on “Setia

  1. Aww.. Ini entah lah happy ending atau nggak…
    Pas org2 berdatangan membawa peti jenazah aku langsung nangkep sipria itu pasti sudah tiada..
    Ia juga mana ada org hidup mau nunggu org di pemakaman..
    Setidaknya ini mengobati rasa kangen sama tulisanmu diez..
    Nice story.

    • Err… it’s happy enough to make me smile. Setidaknya mereka bersama pada akhirnya.
      iyaaaa kali orangnya di kuburan sambil jualan kembang. Hahaha.
      Kan aku belom lama hiatusnya. 😂😂
      thanks ya… 😚😚

  2. Oke, awalnya kukira si ‘aku’ mondar-mandir di pemakaman sebagai manusia, pas baca si nenek memakai terusan putih, barulah mulai menangkap ‘kode’ bahwa ini adalah cerita tentang ‘mereka yang ada di sana’, dan makin jelas saat membaca kalimat demi kalimat berikutnya.

    Tetapi sungguh, aku nggak nyangka kalau ini ada sangkut pautnya dengan AIDS… dan cara adis menyelipkan obrolan para pelayat di antara percakapan Ji dan Rin itu bagus banget 🙂 ini mungkin seharusnya muram, tetapi karena penantian Ji akhirnya terbayar, aku kok ikut senang ya?

    Btw, aku juga lagi nggak pedean soal tulisan…padahal dulu sejelek dan seabsurd apapun ya publish aja, sekarang kok bawaannya ragu dan nggak PD ya? *malah curcol*

    • Yaahh… kodenya udah ditangkep sejak awal. Ahaha..
      tapi memang kalau terlalu sulit kodenya, pembaca juga nggak nangkep maksudnya. Nggak nyampe dong pesannya ke pembaca. Well, I write not only for myself but readers to. 🙂
      Itu… semacam aku juga nggaj nyangka sih. I mean, aku nggak terpikir sedari awal ingin menceritakan ttg sepasang ODHA. Hha.. but it’s december, bulan AIDS sedunia. Mayan cucok lah yaa…
      aku mah tiap mau publish selalu pengen aku tarik ulang. Tapi yaweslah. Kalau nggak dipublish, ya artinya aku nggak bercerita dan nggak mendapat masukan. Aku nggak bertumbuh dongs. Gitu..
      Thanks ya mii. 😘😘😘

  3. haalo kak, aku gaknyangka kalo kakak bakal buat mereka sakit AIDS kek gini. kesian banget, si Ji juga kenapa bisa sampe tranfusi tapi darahnya ada virus itu. aku suka karakter ji yang setia romantis gitu wkwkw oh ya neneknya itu juga udah meninggal ya? nice fic kak

    • Halo. 🙂
      …err maapp yess. Ini bikinnya kan deket sama hari AIDS sedunia. Ya bisa aja sih, kan salah satu cara penularannya dr transfusi. Apalagi yg kena si Ji, kemungkinan kenanha 15-20th yll. Mungkin pengamanan transfusi waktu itu nggak sebagus sekarang.
      iya dongs, neneknya juga meninggal. Tetangga makam lho ini. :p

  4. qaqa kudatang kemari karena dikao merikues daku mengomen AHAAAAAAY AKU KOK SENYUM BACANYA? KOK SENYUM? KOK AKU KETAWA?

    bittersweet sebenernya, dan kalaupun rin ketularan aids dari ji, it’s better since chaerin took that risk to marry ji and get that virus. CINTA SEJATINYA ITULOH KOK PENGEN GIGIT YONGBE JADINYA?

    • ahhh, dikaooo beneran datangs. Hahaha.
      lhoo, ya silakan senyum dongs. Bagiku ini bukan tulisan sedih sih. Hahaha.
      huhuhu, iya nih. Cinta sejati yang bahkan merelakan dirinya kena virus mematikan. 😋😋
      ihh, SILAKAN KAMU GIGIT YONGBE NYA! MAKAN SEKALIAN!!
      😆😆😆😆😆

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s