Mata

Portrait_Eyes_Closed_by_robshookphoto

.

Aku bangun dengan dada berdebar. Hari ini datang juga. Fajar bahkan belum menyingsing, karena langit masih nampak kelamnya. Biasanya tubuhku pasti sakit semua jika tidur dengan posisi duduk seperti semalam, tapi nyatanya tidak pagi ini. Bergegas aku mandi sebelum rombongan yang kunanti tiba jam setengah tujuh pagi nanti.

Aku sungguh menanti hari ini. Hari yang menjadi awal perubahan hidupku, dan Lyn. Aku gagal menggambarkan apa yang aku rasakan. Sedih, senang, bersemangat, kehilangan. Entahlah.

Ptongan apel yang baru saja kukupas baru saja kuletakkan di piring samping ranjang. kala pintu kamar dibuka. Lyn, yang kukira masih tidur dari tadi, ternyata sudah duduk di ranjangnya, memeluk boneka kelinci yang ayahnya hadiahkan. Rombongan yang aku dan Lyn tunggu masuk dengan senyum cerahnya. Langkah mereka berderap, lantas berhenti di samping ranjang Lyn. Aku berdiri di sisi yang lain, dengan tanganku yang dicengkam erat oleh jemari mungil Lyn.

“Bagaimana tidurmu, Lyn?” Tanya pria yang berdiri paling depan. Wajahnya bersih dengan senyum yang menampakkan kerutan di ujung dua matanya. Rambutnya klimis, disisir ke belakang. Dua tangannya dijejalkan dalam saku jas sneli-nya.

“Nyenyak, dokter,” jawab Lyn dengan senyum yang mengatup bibir.

Dokter Ben, begitu Lyn memanggilnya —karena nama Bernard terlalu panjang dan susah untuk dilafalkan— menginstruksikan pada perawat di belakangnya untuk mengukur tekanan darah. Sementara ia memasang stetoskop dan memeriksa dada dan perut Lyn. “Wah, dadamu berdebar cepat sekali. Kenapa, Lyn? Sudah siap untuk hari ini?” Tanya pria itu sambil tersenyum.

Lyn mengangguk cepat-cepat. Aku hanya tersenyum tipis melihat polah polosnya.

“Oke, kita mulai ya…” ujar dokter Ben, sekali lagi. Ia meraih plester di ujung perban yang menutup mata Lyn. Mengurai perlahan kasa di kepalanya.

Tangan Lyn mencengkeram keras selimut. Bibirnya mengatup, beberapa kali kulihat ia menggigit bibir bawahya. Aku saling meramas tangan yang basah. Jelas dadaku berdegup tak tahu irama, dengan bulir keringat dingin sebesar biji jagung di dahiku.

Aku biasanya masih bisa menghalau pikiran-pikiran seperti ini. Tapi ketika perban itu semakin terurai, aku tak bisa lagi menghindari pemikiran-pemikiran yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Dan itu menakutkan. Sesuatu yang tidak terprediksi adalah hal yang paling mengerikan. Apa yang akan terjadi setelah perban itu dibuka? Apa yang akan Lyn katakan? Apa yang akan terjadi pada hidup kami selanjutnya?

Lapisan perban terakhir yang membungkus matanya telah terlepas. Dokter ben meletakkan perban panjang itu di nampan besi yang dibawa perawat di sampingnya. Kini mata Lyn sudah tidak terbalut, kelopak matanya menutup seakan ia tidur. Aku sungguh, bisa merasakan bagaimana hebatnya debar dada Lyn, dan takut yang menjalar di tubuhku.

Ini hal yang paling kunantikan, sungguh. Namun dengan cara yang paling tidak kubayangkan.

“Lyn, sekarang buka matamu,” perintah Dokter Ben.

Kami semua menarik nafas. Tak ada hela yang terlepas dari hidungku, semuanya tercekat di tenggorokan. Aku menelan ludah.

Lyn membuka matanya perlahan. Bola matanya menari, berpandar ke segala arah. Ia mengerjap. Satu kali, dua kali, beberapa kali.

“Lyn? Bagaimana?”

Matanya membelalak, berbinar terang sekali. Dengan bibir yang melengkung lebar-lebar. “Dokter… Aku bisa lihat!!”

“Apakah terang, Lyn? Bagaimana warnanya?”

“Terang, dokter! Ini… aku… aku bisa…—“ ia terhenti, menahan ceguknya sendiri. Ia melanjutkan dengan lirih, dengan nada masih tak percaya, “…melihat.”

Ya Tuhan… operasinya berhasil…

Ia beralih padaku, “Ibu?”

Adalah pukulan pertama padaku kala ia melihatku dengan matanya yang sungguh hidup. Ia menatapku dengan matanya yang bisa melihat, untuk pertama kalinya. “Iya, ini ibu, Lyn…”

Ia menghambur memelukku. Erat sekali, nyaris aku hilang nafas. Ia memanggil namaku berulang kali, hingga ada bulir yang kemudian membasahi pundakku.

Lyn lantas menjauh dariku. Kini tatapannya berubah penuh tanda tanya. “Ibu…”

“Iya?”

“Kapan ayah pulang?”

Pecah sudah air mataku, setelah pukulan terhebat yang ia lontarkan pagi ini. Mimpi burukku nyata terjadi. Aku tak bisa menjawab, sementara ia masih melihatku dengan mata mengharap.

Bagaimana mungkin aku menjawab, jika mata yang menatapku adalah mata ayahnya?

-kkeutt-

Untitled-1

Advertisements

18 thoughts on “Mata

  1. Ngga baik baca ini pagi2, saat nyawa baru berkumpul sedikit
    Dan sekrang aku sedih banget
    Abis nonton angel eyes, sekarang baca ginian..
    Nice diez, anda berhasil membuat saya terenyuh dan berniat makan wortel demi kesehatan mata…

    Seperti biasa saya suka gaya penulisannya..
    Whoaaaaaa…

  2. Nice eon, mungkin temen eonni bisa nebak karena emang ada kisah gombalan tapi matanya mata si cowok buat ceweknya eon.

    Selalu ya eon, namanya satu suku kata. Cute

  3. Maaf ya dis, aku utang komen karena kemarin nggak menemukan koneksi yang bagus buat internetan di laptop..
    Aku nggak bisa nebak twist-nya lho, pertama, aku ga nyangka ceritanya dari sudut pandang sang ibu, kedua, aku nggak nyangka mata itu adalah mata ayahnya.
    Yang jelas cerita ini membuat aku nyesek :’)

  4. Aku kira matanya dari ibunya, ngga taunya ayahnya.-.
    Aku selalu suka sama fic kakak. Beberapa baris awal pasti selalu bikin bingung. Dan endingnya selalu nggak terduga.-.
    Keren: 3

  5. Kak Adiiiiiis… Maaf banget aku baru bisa main ke sini. Kemarin abis UAS dan ternyata belum bisa hidup tenang sebelum bagi raport huhuhu/abaikan

    Okay, pertama aku kira si Lyn ini mau kawin soalnya ada perasaan gugup dari POV 1, tapi aku masih mikir ini kenapa orang pertamanya bilang kalau dia merasa kehilangan?

    Pas mulai scene sama dokter inilah pikiranku mulai merajalela ke mana-mana. Siapa si orang pertama? Kenapa dia mesti khawatir sama sikap Lyn nanti? Terus terus lega pas tahu kalau itu Ibunya Lyn tapiii… nyesek. Gatau mesti bilang apa sama kejadian bahagia dan sedih dalam satu waktu hahaha :’)

    Nice story, Kak, really.

    Oh iya, aku mau nanya yang di luar fiksi kak. Dari dulu penasaran sih. Boleh ya mumpung lagi di tab komen blognya dokter, hehe. Ehem, kalau operasi mata kaya ayahnya Lyn buat didonorin gitu apa ayahnya pasti meninggal Kak? Maksud aku, ayahnya Lyn (contohnya) nggak bisa tetap hidup tanpa mata ya terus pake mata palsu gitu? Sorry again kalau pertanyaanku aneh, hehe.

    Ditunggu shameless tag selanjutnya kak! :))

    • Aduduhh.. semoga dapat hasil rapor yg baik ya helmy.. 🙂
      Thanks too for reading.
      untuk pertanyaanmu, nggak bisa sayangs. Donor tidak boleh dilakukan oleh orang yg hidup. Jadi jika km berniat mendonorkan mata, km mengajukan persetujuan, dan baru akan diambil ketika km meninggal. Karena mata itu kan organ vital. ^^

  6. Halo, Kak Adiez. Maaf ya baru mampir sekarang setelah beberapa minggu lalu ditag 🙂
    Oke, seperti biasa, cerita Kak Adiez selalu punya impresi keren di hati saya, suka banget dengan gaya cerita yang ngalir banget, singkat, tapi menyentuh. Duh, saya jadi inget MV girlband Kiss yang dulu tenar banget di Youtube.

    Fiksi ini Kak Adiez banget pokoknya. Pendeskripsian tentang ruangannya juga bagus dan terasa banget. Dan ini tipe tulisan yang saya suka endingnya, yang twistnya di akhir, dan tokoh utamanya membisu.

    Keep writing ya kak.
    Ceritanya keren 🙂

    • Halo ching~
      Duh, saya ndak tau tulisan yang adiez banget ini kayak gimana sebenernya. Dan pujian setinggi langitnya ini lho, berlebihan aneett. Mamacih ya..
      Tapi aku belom pernah nongton MV kiss nya.. 😂😂😂
      Makasih ya, keep writing too. 😀

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s