Ring

image Jemari Ji beruntun membuat ketukan berirama di atas meja. Kian lama kian cepat. Namun sepertinya gagal menenangkan detum jantung yang makin bergemuruh. Mata Ji berputar ke seluruh penjuru ruangan. Semua orang yang ia kenal berkumpul, berbincang satu sama lain. beberapa saling mendentingkan gelas champagne mereka. Gelak tawa bercampur dengan musik hip-hop.

Begitu ramai, dan ia berdiri sendiri dengan satu tangan yang bertumpu di meja bundar. Ji melirik arloji. Satu jam sudah, dan wanita itu belum menampakkan batang hidungnya. Detik terus melindap, secepat bulir keringat yang menetes di dahi. Ia menggigit bibir bawahnya keras. Tak usah ditanya, bagaimana rautnya yang mulai panik tak keruan.

Kemana wanita itu pergi?

Tangannya merogoh ceruk kantong, mengeluarkan ponsel. Ibu jarinya dengan cekatan memencet tombol dan mendekatkannya ke telinga. Beberapa kali nada panggil, sebelum seseorang di seberang telepon menjawab. “Bae! Rin belum datang?” tanyanya tergesa.

“Belum, Ji. Mungkin macet di jalan,” jawab sahabatnya. Bae, berdiri di dekat pintu depan klub, melongok ke dalam ruangan dan tertawa kecil melihat Ji yang kini mendekatkan tangannya ke bibir. Ia pasti menggigiti kukunya sampai habis saking bingungnya.

I wish so. Semua persiapan sudah siap kan?”

“Sudah.”

“Band? Balon? Musik? Err… apalagi ya—“

“Oh my God, Ji. Calm down! Semua kan sudah beres. Tinggal kamu yang bersiap.” Ji menarik nafas panjang dan mengeluarkan pelahan. Ya, semuanya sudah terencana. Hanya tinggal dirinya yang belum siap, atau ia memang harus siap.

Bae melirik ke luar ruangan, kala mobil Lamborghini merah berhenti di depan klub. Ia menyeringai lega. Kembali pada ponsel di telinganya, ia berbicara pada pemuda yang hilang akal di dalam sana. “Rin sudah datang.”

“What?”

“Rin sudah masuk ruangan. Prepare your heart, bro. Good luck!” ucapnya lantas menutup telepon.

.

Ji menenggak habis cocktail-nya dalam sekali teguk. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia membenarkan dasi hitam dengan corak diagonal berwarna emasnya, merapikan kemeja putih yang ia setrika sendiri tadi pagi, membenahi kerah jas hitamnya. Sempurna.

Dari sudut matanya, ia menemukan surai rambut kecoklatan Rin menari bersama gerakan lincahnya. Wanita itu berulang kali menebar senyum pada orang yang menyapanya. Sesekali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Rin mengenakan dress putih semata kaki dengan belahan rok di tengah, sesekali menyibak memperlihatkan kaki jenjang eksotisnya. Kendati pakaian itu berlengan panjang dengan kerah Sanghai, terusan itu membentuk lubang di bagian dada berbentuk oval hingga belahan dadanya dapat menyedot semua perhatian. Ji berdecak, bagaimana bisa seorang wanita menjadi manis dan seksi pada saat yang sama?

Anyway, it’s Rin. Show time. Ji mengambil satu gelas cocktail yang masih penuh, dan mencemplungkan benda yang ia siapkan tergesa.

.

Tuk. Tuk. Tuk.

Ruangan itu begitu riuh. Berbagai lengkingan, tawa, musik, beraduk. Namun yang Ji dengar hanyalah ketukan teratur dari stiletto wanita di depannya. Wanita itu berhenti, tepat di hadapannya. Rambutnya yang tergerai, ia satukan di sisi kanan dengan satu sapuan. Ia tersenyum. Sejenis senyuman yang menjorokkan Ji pada kematian. Jika kematian dapat semudah itu, mungkin Ji sudah hilang dari dunia ini sejak dulu. “Happy birthday, Ji,” ucapnya, menjulurkan tangan.

Ji mungkin sudah mengalami keterbelakangan mental mendadak, karena kosakata dalam pikirannya hilang entah kemana. Untuk beberapa saat, ia menjelma menjadi stupa.

“Thanks, Rin,” jawab Ji, pada akhirnya. Susah payah ia mengucapkannya. Setelah satu tegukan ludah, ia melanjutkan, “Aku pikir… kamu tidak akan datang.”

Rin terkekeh. Semacam tawa renyah yang menjadi senandung pengantar tidur bagi Ji. “Sorry, jalanan macet sekali.”

Ji memanggut, berlagak mengerti. Genggamannya pada gelas cocktail mengeras. Gelas cocktail istimewanya. “Ah, Rin. Kamu ingin minum?” tanyanya menyodorkan gelas.

“Ah, yeah—“ Tangan Rin terhenti di udara —sebelum ia menerima minuman Ji— karena seseorang menepuk pundaknya pelan, lantas menyejajarkan diri. Rin menoleh, lantas tersenyum lebar.

O-oh.

Rin kembali menatap Ji, dengan senyum yang sama. Sepertinya bibirnya tidak bisa lebih lebar lagi, atau jika tidak, bibirnya bisa membelah pipi meronanya. Dengan mata berbinar yang mengalahkan gemerlap lampu klub, ia bertanya sambil menunjuk pria di sisinya, “Ji, kamu tahu Jay kan?”

Ji mengangguk pelan. Dahinya berkerut.

“Jay baru melamarku tadi pagi!” seru Rin, sementara Jay hanya tersenyum tipis menyaksikan aksi Rin. Ji meneguk ludah. “Look at this!” Rin memperlihatkan tangan kanannya. Menunjuk jari manisnya yang berhias cincin emas dengan permata berkilau di tengahnya. “Cantik, kan? Iya kan??!”

Wajah Ji berubah pias. Pria itu terdiam beberapa saat, lantas mengangguk pelan. Senyum Rin semakin lebar, sementara Ji tergagap menerima pernyataan. Ji menatap gelas cocktail yang di tangan kanannya. Meneguknya cepat-cepat hingga tandas. Cairan di dalam gelas berpindah ke perut, beserta cincin yang ia siapkan di dasarnya. Ponselnya berdering, pesan dari Bae.

‘Kapan dimulai acara melamarmu? Semuanya sudah siap.’ 

Ia tersenyum kecut. ‘Tidak jadi. Batalkan.’

.

“Loh, Ji? Cocktail-nya kenapa kamu minum? Katamu buat aku?”

-kkeut-

. Note :

  • I wish I can write something longer. However I want to post tales regularly, at least once a week. Even it’s just flash fictions, drabbles, or ficlets. What’s better actually?
  • Rin and Ji again eh? Haha… They are the most perfect roles for my tales. Even their names is perfectly cute in my ears. Do you want to suggest other names?
  • Please spare your time to give some feedback below. Happy walking!

. Regard, Tale-catcher.

Advertisements

16 thoughts on “Ring

  1. Kak Adiiiis… Aaaaaaaakkk.. Kakak berhasil bikin perasaan aku berantakan~ Aku kira ini bakal happy ending dan fluffy banget kaya bberapa ff kakak yang pernah aku baca. Tapi iniiii…

    Aku jadi keinget MVnya Taeyang yang Wedding Dress. Enggak jadi nikah cuma karena keduluan dikit. Coba kalo Ji ngelamarnya kemarin pasti diterima kan ? Iya kan?

    Oh iya, gatau kenapa aku malah suka pas Ji neguk cocktail beserta cincinnya itu XD Agree sama kakak. Nama Ji dan Rin kedengerannya manis dan cute. ><

    Ditunggu shameless tag selanjutnya 😀

    xoxo,
    @helmynr

    • Halo helmy.. ^^
      Iya, endingnya reversal sekali. :3
      Iya ya, macam MV nya taeyang. Bedanya yang ini cincinnya ditelen. :p
      Kalo ngomong duluan… ga tau ya apa diterima apa gak. Kan terserah Rin nya suka sama syapah. But at least, Ji gak nyesel dan nelen cincinnya. Hahaha. 😆😆
      Kan kaaannn… nama Ji dan Rin is cuuuute!
      Okay, jangan kaget sama shamelesstags ku yang lain. 😀

  2. Eoooonnn…
    Sepagi ini udah dibikin patah hati bacanya. *kalo baru bangun masih diitung pagi*
    Diksinya tsakep eon.
    Ini ceritanya mereka temenan? Huft.
    Being in love with your best friend doesn’t always end up good. The one who loves more gets hurt more. 😦

  3. HAAAAAAAAAAAAAAH! AKU UDAH NGAREP BAKAL ADA ACARA LAMARAN YANG ROMANTIS TAUK BUT WHYYY DIS WHYYYYY!!!!
    well, soal nama, kayaknya aku lebih suka ji dan rin ketimbang ji dan chae. hihihi. sebagai penggemar nama pendek aku sangaaaaat suka yeah yeah!
    tulisan kamu yang ini enak banget dibaca dis, and i found something different from you. hahaha. love love!
    thanks tag nya ya! keep writing dis 😀

  4. SUKURIN JI DI SINI PATAH HATI KAN!! Di dunia nyata bikin chae sama dara patah hati sihhh!! /duhh kikooo duhh serasi/
    Udah lama nggak baca ceritanya kak adis TT.TT 😦 kangennn dan bener aja sekali di tag langsung klepek klepekk ❤
    Pemilihan kata nya itu loh selalu manis manis gimana gitu .-.
    makasih lohh kak di tag 😀
    Anyway ini unexpected banget ending nya setuju sama komen atas yang mirip sama wedding dress.. yah ini versi agak gak nyeseknya sih.. wedding dress kan patah nya wkt wedding, ini at least wkt propose /duhh bahasamu naa/
    tapi bedanya di wedding dress cuma sedih sedih wkt jadi wedding march nya ya.. ini sedih sedihnya sampe nelen cincin 😦 /thumbs up kak/ 😀

    Lain kali shameless tag lagi ya kak ^^ 😀

    • Duhh. Aku masih gak relaaa ji sama koki. Duhh. /yaudahdehgapapa/ /maugimanalagi/
      Iyaa, aku nulis aja jarang, apalagi ngetag. Hehe..
      Ini apadeehh klepek2 .—. 😂😂
      Iya, benernya di wedding dress itu, juga samaan, bae juga mau ngelamar tapi keduluan. Lebih nyeseknya dia disuruh jadi pemain piano di nikahannya juga. Syediihh. 😢😢
      Iya, desperatenya samoe nelen cincin. Mbok ya dikasihin akooohh. :p
      Thanks ya naa. 🙂
      Kapan2 aku tag lagi.

  5. WAIT! AKU UDAH NGOMEN KOK DIS DARI PAS KAMU TAG KENAPA GADA KENAPA KENAPA KENAPAAAAAA???!!!

    jadi intinya gue dikibulin abis-abisan sama ff ini. kirain bakal fluffy ending gimana gitu eh taunya ngenes endes des des! kasian ji! kamu kenapa begitukan dia?! ha?! :—(((

    well, mungkin ini cara kamu merelakan ji bersama kiko. hahaha

    eh btw, aku lebih suka Ji dan Rin ketimbang Ji dan Chae, lebih cute aja kedengarannya. hihi

    keep writing dis, makasih loh udah nge-tag mwac!

    • Ehehe… sorry niss. Komenmu selaluuuuu masuk spam. 🙂
      Well, nice fic have a great twist and unpredictable ending kan. Iya sih, secara Ji selalu semena2 sama Rin. Huh!
      Kan kaaaann! Ji and Rin is tooooo cute!

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s