Buaya Darat

Dentang musik jazz bersenandung ke seluruh penjuru kafe. Jia mengetukkan ujung jemarinya, berantuk dengan permukaan meja senada dengan irama. Melihat parasannya yang menawan dengan senyum merekah itu, sungguh membuatku ingin bernyanyi untuknya.

“Jia…”

Jia jelas terbuyar dari suasana yang dibayangkannya sendiri. Ia mengalihkan pandangan pada pria di depannya. Sementara aku masih menatapnya. “Humm, Ji? Ada apa?”

Ji bergeliat di atas kursinya. Sejak tadi gelagatnya memang aneh. Entah apa yang disembunyikannya. Ia pun tak berkata-kata apapun selanjutnya, hanya memainkan tangannya di bawah meja.

“Ji?” panggil Jia sekali lagi. Ia mengernyitkan dahi, bingung.

Ji lantas menatap lekat sepasang iris hazel di hadapannya. Rautnya tegang. Bibir bawah ia gigit keras-keras lantas tersenyum dibuat-buat. Ia menarik nafas panjang. Aku heran, apa yang ia akan katakan pada Jia sesungguhnya?

Pria itu tiba tiba menjulurkan kotak beludru warna merah marun yang telah ia buka penutupnya. Tampaklah apa yang berada di dalamnya. Jia terkejut bukan kepalang. Ia kontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pun aku yang turut tercengang dibuatnya.

Cincin.

Ji menarik nafas dalam, untuk ke sekian kali, sebelum kemudian bertanya, “Will you marry me, Jia?”

Say yes, Jia! pikirku.

Jia butuh waktu beberapa saat untuk mencerna. Ji. mengajaknya. menikah.

MENIKAH.

“Ji–”

Byoorrr!!!

Aku tiba-tiba terlempar, membasahi muka Ji dengan semena. Aku tak tahu siapa yang melemparku. Bukankah sampai tadi keadaan masih bahagia?

“Enaaakk kopinyaa??!” tanya seorang wanita tiba-tiba. Ia berdiri, berkacak pinggang di hadapan Ji. Ia pun cantik, memikat dengan caranya sendiri. Sayang, dua mata kucingnya menyengit. Api seakan membakar di sekelilingnya. Rambut sepinggangnya berkibar bagai medusa. “Jadi begini ya kamu di belakangku??”

Ji terbelalak. Pun dengan Jia. Dan denganku, jika aku bisa.

“Rin?!” kata Ji, tanpa sadar sepertinya.

“Pacaran satu tahun, pinjam uang sepuluh juta dan belum kamu balikin, tiba-tiba hilang… lalu sekarang mau nikah sama cewek lain? Cakep banget ya kamu!”

“Rin, aku bisa–”

Adegan ala sinetron itu berhenti pada tepisan tangan Rin. Ia hanya beralih menatap Jia, dan tertawa mencibir. “Kamu mau menikah sama buaya darat ini? Ambil dengan senang hati!!” serunya membahana, lantas meninggalkan sepasang yang tercengang itu -dan aku tentu saja- dengan seringai lebar.

-kkeut-

Note: Siapa ‘aku‘?

Regard, Tale-catcher.

Advertisements

4 thoughts on “Buaya Darat

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s