The Last Midnight

image .

Pintu kamar berderik pelan, nyaris tengah malam. Rin membuka separuh dua matanya, kala suara langkah kaki beradu, diikuti dengan derik pintu lemari dan bunyi gemericik shower yang menggema. Ia mendengus pelan. Membayangkan pria di kamar mandi itu keluar dengan bertelanjang dada sambil mengeringkan rambut, dan meninggalkan kamar menuju kamar tidur tamu.

Ia sudah terbiasa. Maka tubuhnya pun terlampau malas untuk membuat sedikit gerakan untuk merespon kebisingan malam itu. ia kembali akan menutup matanya.

Akan, dan urung.

Karena lantas sebuah lengan mengular di pinggang ramping Rin, berkeliling di perut ratanya. Ia tersontak. Meski ia sudah terlalu familiar dengan aroma maskulin pria itu, gerakannya yang tak terlintas di pikirannya malam itu, seakan mendekatkannya pada kematian. “…Ji?” panggilnya —separuh tak percaya— dengan berbisik.

“Hmm?” tanya pria itu balik.

Lengan Ji menarik tubuh Rin mendekat, hingga mereka tak lagi bersekat. Punggung dengan dada.  Ubun kepala menyentuh ujung dagu. Dua pasang kaki saling menyentuh, pada posisi yang serupa. Nafas yang tercekat. Detak jantung yang berderap. Rin tak siap. Tidak malam ini, setelah sekian lama malamnya hanya ia habiskan sendiri. Ia menarik nafasnya yang nyaris hilang. “Apa …yang kamu lakukan?”

Ji tersenyum getir. Meski ia tak melihat wajah Rin yang membelakanginya, ia tahu bagaimana tubuh wanita itu menegang karenanya. “Memelukmu,” jawabnya singkat. “Aku ingin memelukmu malam ini. Boleh?”

Rin meneguk ludahya jauh ke dalam. Menata kata yang hanya berakhir anggukan. Pada hening yang melindap, tak ada di antara mereka yang melanjutkan pembicaraan. Hilang berkelana pada pikirannya masing-masing. Pertanyaan yang menggumpal tanpa pernyataan. Satu dua nafas yang mereka atur seperti tentara berbaris, nyaris seirama dengan detik jam dinding di sudut ruangan.

“Ini hari terakhir, ya, Rin?” tanya Ji tiba-tiba. Seperti jangkar yang memecah lautan tanpa ombak. “Pesawatku akan berangkat sore, setelah persidangan besok siang. Koper-koperku akan diambil Dami besok lusa.”

Rin terdiam. mendengarkan suara Ji saja, membuatnya ingin menulikan telinga. Ia tak tahu apa yang seharusnya ia rasakan. Berita ini bukan berita baru. Agenda itu sudah ia ketahui sejak beberapa hari yang lalu.

“Aku akan tinggal di apartemen yang kubeli untuknya…” ucap Ji. Rin tahu siapa yang Ji maksud. Wanita Jepang yang menanti Ji di kondominium baru mereka. Ia menjungkitkan satu sudut bibirnya. Pahit. “…bersamanya.”

Rin menutup mata. Mematikan tubuhnya dalam alam bawah sadar. Melanjutkan pembicaraan itu adalah hal terakhir yang diinginkan Rin malam itu.

Putaran detik berganti menit. Melaju hingga beberapa jam. Di antara lampu kamar yang temara, mata keduanya masih menyalang, tanpa satu sama lain sadari. “…Rin,” panggil Ji setelah berjam-jam berlalu. Tak ada jawaban. Mungkin Rin sudah terlelap.

Ji menghela nafas panjang. Pada kebahagiaan yang ia rajut, ia telah menikam senyum Rin. Pada harapan yang ia susun, ia memorandakan hidup Rin. Pada cinta yang ia tanam, ia telah menginjak ikatan yang ia bangun dengan Rin. Pada tujuan yang ia anggap benar, ia akan meninggalkan rumah ini… dan penghuninya.

“Maaf, Rin…” ucap Ji, lirih. Nyaris senada dengan getaran garpu tala. “Maaf, karena mencintainya. Maaf, karena memilihnya. Maaf, karena meninggalkanmu…” Air mata yang jatuh dari dua pelupuk matanya, bersamaan dengan pelukannya yang mengerat. Semuanya serba terakhir. Malam terakhir, pelukan terakhir, kecupan terakhir.

“… aku bukan suami yang baik, ya?” Tak ada jawaban. Tak akan pernah ada sahutan untuknya malam itu. Ji menggigit bibir bawahnya. Sembari berulang kali merapal kata maaf, ia mendekap istrinya… terakhir kali.

Sudah berapa kali ia tersenyum sementara hatinya menangis? Rin tak tahu. Yang paling menyedihkan adalah, karena ia dapat mengatakan bahwa ia telah terbiasa. Karena sprei di bawah wajah Rin adalah saksi, bahwa ia telah lebih dulu basah untuk tangis yang melesak.

Love is losing game.

.

Note:

  • Gambarnya cocok gak sih? Susah bingiits cari yang sesuai. Tapi ya udahlah ya. Yang penting ceritanya. Idiiihh. Kayak cerita udah oke aja. 😒😒
  • Sorry, akhir-akhir ini sedih-sedih mulu. Gatauu kenapaaaaa. Kebanyakan nonton film action kalik ya. 😋
  • Enjoy blogwalking, reading, and give me some feedbacks below. Thanks.

Regard, Tale-catcher.

Advertisements

4 thoughts on “The Last Midnight

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s