Mastermind

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melupakan seseorang?” tanya Key tanpa tedeng aling-aling. Sembari merapikan tumpukan baju kering yang baru diangkat, ia bertanya padaku.

Aku mengernyitkan dahi. Sambil membuka tutup kaleng soda yang baru kuambil dari kulkas apartemen Key dan meneguknya hingga nyaris tandas, aku mencondongkan tubuh sedikit. Melongok ke dalam kamar Key. “Maksudmu?”

“Yah… ingin tahu saja…”

Ini tidak biasanya, dan aku tidak mengerti maksudnya. Sungguh. Di antara kerincing hiasan di pintu Key yang terbelai angin di siang bolong ini, pertanyaan Key tak ubahnya seperti lumba-lumba yang tiba-tiba melompat ke jendela apartemen. Aku mengajukan pertanyaan kembali, “Ini bicara tentang siapa?” Kakiku berjalan ke pelipir pintu kamar Key. Key membiarkan tumpukan rapi baju yang belum disetrika di sudut ruangan, dekat rak CD yang ia banggakan. “Kamu?”

“Hah?” Key yang kini kebingungan. “Apa maksudmu dengan aku?”

Aku mengedikkan bahu. “Maksudku, apa kamu sedang membicarakan dirimu?” kejarku. Aku melangkah menuju samping ranjang, duduk di atasnya dengan dua kaki menggantung. Aku memang harus pandai bersilat lidah.

“Ha ha ha,” tawanya sarkatis. Ia menyabet kaleng soda dari tanganku dan meneguknya. Hawa siang ini memang bisa membuat orang mati kekeringan. “Tentang kamu-lah, Nic.”

“Aku?”

“Iya. Kamu masih memikirkan Ray kan?” tanyanya dengan satu sudut bibir yang berjungkat. Aku melongo. Iris hazelnya menatapku seolah ia bisa membaca pikiranku. Mungkin memang ia mastermind, karena yang ditanyakannya adalah pertanyaan retoris.

Fcuk, Key.”

Key berdecak. “Not this word, Nic.” Tangannya mengacak rambutku pelan, lantas melepas kaus merahnya hingga dada telanjangnya terpajang dengan tidak indah di depan mataku. Uukh! Sambil memilih baju di lemarinya, ia bergumam, “Sudah satu tahun, Nicole.”

Alih-alih menjawab, aku hanya mendengus sambil menghempaskan tubuh di ranjangnya. “Shut up, Key.”

Key menutup lemarinya dan berbalik padaku. “Kalau kamu masih mengingatnya, kapan kamu akan melihatku?” tanyanya, dengan cengiran di bibirnya.

Aku mengerjap dua kali. Apakah bumi berhenti berputar? Apakah air mengalir? Apakah Key mengatakan sesuatu yang aneh? Aduduh!

Key sudah meninggalkan kamar kala aku tersadar. “Key?! Mau kemana?” tanyaku, setengah berteriak.

“Mandi!” serunya dari luar. “Kamu mau ikut, Nic?”

 

 

 

 

You wish!!!”

Advertisements

10 thoughts on “Mastermind

  1. Woaaahhh….
    Sooo berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melupakan seseorang???
    Kalau that person means the world for somebody…
    Aku suka deh ceritanya…
    Penempatan diksi dan dialognya menurutku pas, dan ini adalah sesuatu yang sangat sulit kulakukan..

    Dan pada akhirnya aku selalu menikmati semua karya penulis diblog ini….
    Love yaa

  2. Diksi kamu selalu bikin aku jatuh cinta diez… Kenapa blogmu di private? Aku hampir hopeless krn blog kamu yang private… Ngelupain seseorang itu gak mungkin, yang sangat mungkin adalah ngelupain perasaan ke dia. Dan aku butuh setahun untuk itu -___- lama kali ya..

  3. halo kak .-. readers baru salam kenal ya hehehe.

    aku udah baca beberapa tulisan kakak tapi baru komen di sini maafkan daku :((( dan… aku suka caramu menggambarkan sesuatu, keren diksinya apalagi aakkkk suka deh :’3

    dan ini ehmm kalo yang ditanya aku mungkin juga susah jawab karena melupakan seseorang itu gak segampang kelihatannya 😦

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s