Unsaid Things

Because we are depressed. Because we try so hard. Because we keep falling. Because we keep going. Because what else we can do?
(Nayla Majestya)

 

“Let’s be friend,” ucapnya lirih. Dua irisnya menghujam lantai keramik.

Aku tersenyum tipis. Aku tahu ia akan mengatakannya. Aku tahu ia telah mempersiapkan pernyataan itu dari rumah. Mungkin sejak ia menyetrika kemeja putihnya. Atau sejak ia terbangun pada fajarnya. Atau jauh sebelum semua itu. Sesungguhnya, aku sudah bersiap.

Yang aku tidak tahu adalah, ia akan mengatakannya di hari ini. Ketika aku sudah menyiapkan rupa-rupa kejutan. Dan aku tidak siap.

Okay,” jawabku.

Kamu tahu, manusia selalu dihadapkan pada pilihan bertahan atau meninggalkan. Banyak diantaranya berjalan menuju opsi pertama. Mungkin berharap bahwa masing-masing individu berhak mendapatkan kesempatan. Atau berharap ia dapat memperbaiki apa yang salah.

Aku memilih untuk opsi kedua. Bukan karena aku tidak mencintainya, melainkan karena wanita harus tahu kapan ia harus berdiri untuk kebahagiaannya. Jika bahagia adalah dengan melepaskannya, lakukanlah. Jika bertahan tidak membuat segalanya menjadi lebih baik, menyerahlah.

Untuk apa aku bekerja sendirian, sementara di lain sisi sudah tidak mengharapkan?

Setelah jawabanku meluncur, kami terdiam. Tak ada yang berusaha memecah hening, selain detik yang merayap. Segalanya berkecamuk. Namun dari segala macam yang beraduk, aku tak tahu sesungguhnya aku ingin mengatakan apa. Meski, aku tertawa seakan aku sudah membaca skenario yang ia diam-diam selipkan di otak.

Ada banyak pertanyaan di kepalaku, di pikirannya. Ada banyak tuntutan di lidahku, ataupun di hatinya. Ada banyak pengharapan yang lantas meluruh. Karena harapan adalah komponen yang tidak perlu.

Kami bergerak. Ia melirik arlojinya, lantas memilih untuk berdiri dari sofa. Akan ke rumah sakit, katanya. Aku mengangguk mengerti. Bukankah itu yang terakhir kami butuhkan? Mengerti bahwa masing-masing sudah tidak mungkin disatukan.

Aku membukakan pagar, sementara ia menaiki motornya. Kami bergurau tentang mobilku yang baru keluar dari bengkel. Terbahak seakan pertemuan hari itu adalah kencan pertama kami.

Kami tidak ingin melihat tangis yang tumpah pada masing-masing air mata, maka kami memilih untuk melucon. Lelucon yang tidak terasa lucu. Tapi toh kami tertawa.

Ia menggeber motornya dan berujar, “Thanks for everything.”

Aku mengangguk. “Thanks to you, too.”

Beberapa saat, ia telah menghilang dari jalan, dan aku menutup pagar. Aku meneguk ludah. Menelan pertanyaan yang tidak aku tanyakan, yang tidak akan aku tahu jawabannya. Aku menarik nafas. Menarik semua pernyataan yang tidak akan bisa aku bisikkan. Aku menutup pintu rumah. Seperti aku juga menutup kejutan yang aku siapkan.

Pun seperti aku harus menutup ingatan.

 

I have always believed that certain things are better unsaid. They seem to lose their magic or beauty, the moment they are uttered.
(Fatimah Alkaff)

 

Footnote:
I read some tweets, and I want to write something. Already 1 AM and this feeling kinda bloating up. I need to release.

Credit:
The highest credit for two women who wrote this poetic quote, Nayla Majestya (@majesticnayla) and Fatimah Alkaff (@ftkf).
Thank you so much for letting this follower using your quotes.

Advertisements

2 thoughts on “Unsaid Things

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s