Paper Stars

363eaad286a01436eb4b4a3fcf8a1a15-d6avch2

One two three
You left me
but I hear your breath from somewhere

Once again, four five six
Red tears fall down
I miss your scent that embraced me

Jill mengerjapkan mata dua kali. Jemarinya meraup surai rambut ikal yang berjuntai ke belakang. Mengerling pada detik yang melangkah semena. Jam sepuluh malam. Ia melenguh pelan. Sejak kapan ia tertidur di meja?

Ia menatap lembaran kertas warna-warni berserakan di meja kerjanya. Beberapa telah digunting melintang, sementara yang lain masih dibiarkan dalam bentuk perseginya, bertumpuk satu sama lain. Toples kaca di samping serakan berdiri apik, dengan butiran kertas yang dibentuk bintang. Tangannya meraih gunting dan memotong kertas menjadi dua strip tipis. Ia mengambil nafas dalam-dalam, dan memejamkan mata. Membenamkan diri pada fragmen tiga tahun yang lalu.

Jari-jarinya tak perlu penglihatan untuk melipat potongan itu.

 

You said this was all for me
Like a lie, you coldly turned around
Why? Why? You’re gone away

 

Malam bahkan belum nampak ujungnya, namun kenop pintu apartemen sudah ditarik dari luar. Jill menapaki teras apartemen, menanggalkan sepatu dengan heels tujuh sentimeternya. Ia menarik nafas lega, lantas mengernyitkan dahi. Aroma yang menguar masuk dalam penciumannya sangat tidak biasa. Terlebih, jika itu berasal dari apartemennya.

Sejak kapan rumahnya jadi berbau manis seperti ini? Seingatnya, ia belum mengisi ulang parfum ruangan. Atau dari tubuhnya? Tapi masa iya? Ia mendekatkan hidung ke ketiaknya, -mungkin berharap tubuhnya mengeluarkan wewangian cake agar ia dapat mengekstrak bulu ketiaknya menjadi parfum dan dijual -dan euhh… jelas bukan dari tubuhnya!

“Kris?” panggilnya keras-keras. Lamat-lamat kakinya menjejaki ruangan. Jill diam-diam merutuk dalam hati. Tidak mungkin Kris ada di dalam. Pria itu masih berada di Beijing untuk mengurus ekspansi bisnisnya atau apalah. Otak Jill tidak pernah sampai jika kekasihnya itu mulai bercerita tentang bisnis. Jadi, tidak mungkin kan Kris menjadi amuba, membelah diri, lantas menggelundung menuju apartemennya? Pfft!

Baunya semakin kuat tercium, dan Jill makin sibuk mengira-ngira siapa yang memasak. Kris? Mom? Yuri? Pencuri? Jill meragukan pilihan terakhir. Memangnya ada pencuri yang masuk dalam apartemen, dan repot-repot memasak? Karena lapar? Atau sebagai permintaan maaf sudah mencuri LCD TV?

“Mom?”

“Kris?”

“Haloo…? Kris? …mom?”

Jill sampai di ruang makan, dan tercengang. Meja makannya penuh dengan peralatan makan yang tertata rapi. Beberapa makanan sudah tersaji, termasuk pasta panggang kesukaannya. “Kris?”

Pria yang dipanggilnya sejak tadi itu, membawa cake coklat dengan topping figur dirinya dalam bentuk clay di dua tangannya. Ia berdiri di depan meja makan, berseberangan dengan Jill di ujung ruangan. Matanya mengerjap dua kali. “Jill? Kok sudah pulang?”

Dahi Jill mengernyit. Bukankah pertanyaan itu seharusnya ia tanyakan pada Kris? “Ada meeting di luar, jadi aku langsung pulang. dan kamu, kenapa kamu di sini? Beijing-nya bagaimana? Terus, ini apa-apaan?”

Kris, masih membawa cake di tangannya, meringis. Jika tangan kanannya sedang bebas, ia pasti akan menggaruk tengkuknya canggung, seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Ia kemudian tersenyum. Sejenis senyuman yang dibenci Jill, senyuman dengan satu sudut bibir ditarik ke atas dengan aksen sedikit angkuh. “Hmm… sebenarnya aku ingin membuat kejutan untukmu. Tapi kamu sudah pulang sebelum persiapannya selesai, Jill.”

Huh? Lalu itu salahku, Kris?

Kris meletakkan kuenya di ujung meja, merogoh ceruk celemek –oh iya, baru kali ini Jill melihat Kris menggunakan celemek!- dan memasang dua pasang lilin berangka, “Happy birthday, Jill.”

“Oh my… aku lupa!”

“Yeah, aku tahu, Jill. Aku tahu…” cengiran angkuhnya melebar. Jill rasanya bingung, antara senang karena kejutan Kris, atau sebal dengan garis lengkung asimetris bibirnya. “Come on, Jill… Tiup lilinnya dan kita bisa makan. Aku lapar.”

Jill membelalakkan mata dan mendengus. Kris!

“Ah iya! Ini hadiah untukmu,” ujar Kris setelah Jill meniup lilin.

Jill benar-benar tak mengerti Kris hari ini. Kris habis terbentur Tembok Cina? Atau di Beijing, ia sudah dicuci otak? Sejak kapaaaaan seorang Kris punya waktu membuat cake? dengan hiasan-hiasan seperti itu pula! Eh, memangnya ini, Kris sendiri yang buat? Dan sejak kapan, Kris memberi kado? It’s Kris! Manusia paling sibuk dan business-oriented! Biasanya juga Jill yang menyiapkan pesta kecil seperti ini. Hmft!

“Apa ini Kris?” tanya Jill, sembari memainkan kado Kris. Okay, sepertinya Kris tidak benar-benar dicuci otak. Ini khas Kris. Ia bahkan tidak repot membungkus kadonya. Toples kecil dengan tutup dari busa –seperti tutup botol wine- berisi kertas origami berbentuk bintang, kecil-kecil, dan warna-warni. Di lehernya diikatkan tali warna hitam dengan kartu kecil yang digantungkan. Jill tak tahu maksud pita hitam disini. Apa Kris sedang berkabung untuk hari ulang tahunnya?

Happy birthday, Jill.
All my wishes for you and us in here.
-Kris-

“Hmm… itu bintang kertas. Jadi, aku membuatnya khusus untukmu. Kalau kamu membuka bintangnya, di sana aku sudah menulis harapan-harapanku ke kamu. It’s so many wishes,” jelas Kris. Sementara Jill masih terkejut dengan fakta Kris membuat barang kecil-kecil ini sendiri. “Kamu tahu kan, cerita kalau kita menulis harapan di kertas dan melipatnya menjadi bintang, maka harapan itu akan terkabul? Kamu tahu kan? Kamu… tidak tahu, ya? Euhh… aku mendengarnya dari Tao. Ingat kan, teman kuliahku di Beijing? Jadi, aku pikir, di sela kesibukanku, aku ingin membuatnya juga—“

Okay… Stop, Kris.” Jill tergelak kecil mendengar Kris mengoceh. Ini pun juga khas dari seorang Kris, ketika ia merasa malu untuk menjelaskan. Kris bukan tukang bicara, tapi ia akan berbicara banyak kalau mulai merasa canggung… dan malu. “Jadi, kamu sendiri yang menulis, dan memasukkan keinginan-keinginanmu di sini?”

Kris mengangguk. Menggaruk tengkuknya canggung. Pipi dan telinganya memerah.

Jill membuka toplesnya dan mengambil satu bintang. Ia membuka jalinannya. “I wish I’ll be able to spend so many more birthdays with you,” baca Jill keras-keras dan rasanya Kris ingin menghilang dari muka bumi, atau bersatu dengan udara, atau mencair ke dalam tanah atau apapun saking malunya. Sungguh, Jill ingin tertawa terbahak, atau menunjuk-nunjuk pipi merah padam Kris, atau apalah untuk sekedar menikmati momentum ini.

Namun tidak. Jill hanya berdeham -separuh ingin menahan gelaknya- dan berkata, “Bagaimana sih cara membuatnya? Ajarkan aku…”

Raut Kris berubah cerah. Setidaknya bahasannya beralih… sedikit. “Okay, Jill!”

 

I hate you for not answering
I wonder if you’ll miss me sometimes too yeah

I’m trapped in a time without you
I can’t see ahead, I’m so scared

 

Tangan Jill bergetar kala ia menulis di secarik kertas tipis. I wish I could forget you. Melipatnya hingga menjadi simpul datar, membentuk pentagon hingga lipatan terujung, lantas menekan tiap sisinya. Bintang kertas kecil terbentuk sempurna.

Ia menggenggam bintang sempurna itu lemah, seakan takut jemari merusaknya. “I wish I could forget you,” bisiknya, meyakinkan doanya dengan nada bergetar, dan bintang itu terjatuh, berkumpul dengan harapan-harapan lain dalam toples.

Jill membuat bintang yang lain, dengan harapan yang sama. Menjatuhkannya di atara bintang lain. Bahkan hingga bintangnya yang kesekian, ia masih tak mampu menatap bintang kertas dalam toples itu. Karena harapan yang terlimpah di sana adalah ketika cinta masih membumbung tinggi. Ia terlalu takut. Terlalu menyakitkan.

Harapan di antara bintang-bintangnya selalu serupa, untuk melupakan. Yang ia tak sadar adalah, cinta selalu punya caranya sendiri untuk membuatnya ingat. Seperti sebagaimana burung yang tak pernah lupa dengan rumahnya.

Jill menutup mata sekali lagi, membiarkan kenangan keluar dari pandora dalam otaknya.

 

The many days that are unfinished,
it seems like they’ll be waiting for us
Where are you?
Where? Too far away.

 

“Kamu lupa, Kris?!” nada Jill meninggi. “Ini ulang tahun pernikahan kita, Kris!!”

Jill tak mengerti harus berkata apa lagi pada suaminya. Ia sudah mencoba untuk mengerti business-oriented dalam otak Kris. Lupa dengan janji-janjinya, ia selalu memaafkan. Lupa dengan hari ulang tahunnya, ia memaklumi. Lupa dengan hari pernikahan pertama mereka? Ia tak habis akal.

Itu hari paling ia nanti, dan itu bukanlah apa yang menurut Kris penting untuk ditulis dalam agendanya.

Jill sudah menyiapkan segalanya dari pagi. Bahkan belajar memasak Sup Kanada dengan mama Kris sejak jauh hari. Hari itu ia mengambil cuti kerja, untuk mengerjakan semuanya. Dan Kris… tidak pulang dan baru sampai rumah nyaris subuh. Ia sudah menghubungi, namun tak ada yang dijawab.

Entahlah. Jill tak bisa berkomentar.

“Maaf, Jill. Tugas kantor sedang banyak sekali… dan aku tertidur di kantor. Sorry, Jill…” ucap Kris, separuh memohon.

Jill tak tahu. Mungkin tak mau tahu. Entahlah.

Ia menghempaskan tubuhnya di pelipir ranjang. Dua tangan berpangku pada lutut, menelungkup wajahnya. Terdiam sejenak, lantas menatap Kris, menyerah. “You know, Kris? I’m tired.”

“Jill?”

“Memangnya apa yang aku inginkan, itu terlalu muluk?” tanya Jill. “Aku cuma minta satu malam saja, untuk kamu mengingat hari ini, Kris. Apa terlalu berlebihan?”

Kris tak menjawab. Dan Jill tak mau repot melongok, bagaimana Kris menatapnya. “You can go, Kris. Pergi, dan urus semua urusan bisnismu. Aku tidak peduli.”

“Jill, pleaseI’ll make up—“

“Aku capek, Kris…” ujar Jill, memotong ucapan Kris. Kali ini, mata mereka bersirobok. Segalanya, termasuk wajah, suara, ekspresi, tingkah Kris membuatnya membuatnya naik pitam. Sejujurnya, cinta selalu memberi maaf. Namun terkadang, emosi menggelapkan jalannya. “Kamu tahu pintu keluar, Kris. I am… not happy with you.”

Tentu saja itu tidak benar, dan ia tahu, perkataan itu menyakitkan bagi Kris. Namun untuk beberapa saat, ia ingin melakukannya.

Kris mematung. Beberapa saat kemudian, Kris membuka lemari pakaian. Mengeluarkan koper dan memasukkan pakaian sembarangan. Jill masih tak bereaksi. Kris menghela nafas dan berbalik meninggalkan kamar. “Aku pergi, Jill.”

Jill mendengar tapak kaki Kris, gesekan roda koper, dan pintu apartemen mereka yang menjeblam keras.

.

.

.

.

.

.

.

Terluka tidak selalu berdarah.

…Karena Jill tahu, ada pisau yang menancap di dadanya. “Maaf, Kris…” Tubuh Jill terjatuh. Memeluk dua tungkainya, ia membenamkan wajah diantaranya. Air mata yang sejak tadi dibendungnya tinggi-tinggi, terjatuh. “Maaf, Kris. Jangan pergi… Maaf…”

Ia tak tahu, mengapa segalanya berubah menjadi seburuk ini.

Come back home
Can you come back home
Don’t leave me at the end of the cold world
but come back to my side

Come back home
Can you come back home
I’m pushing back all the pain
I’m still waiting for you like this
Now you gotta do what you gotta do

Jill menulis di lembaran kertas tipis yang belum terlipat. I wish I could just forget you. Jemarinya lantas menyimpul dan melipatnya. Air matanya dengan lembut meluncur di pipinya.

Ia menatap bentukan bintang di tangannya. Alih-alih menjatuhkannya ke dalam toples, ia malah meremas bintang itu hingga remuk. Lantas menggelinding di atas meja. Jill menatap kertas lusut itu dan toples di sampingnya. Ia tak mengerti, mengapa tangannya tidak mendengarkan otaknya?

Pada lembaran kertas panjang, tangannya tertuju. Jill mencoba menulis kalimat yang sama, untuk berakhir menjadi gumpalan yang sama. Pun dengan beberapa kertas selanjutnya. Untuk beberapa saat, ia termangu. Lalu mengambil secarik kertas lain dan meraih pena. Ia memenjamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.

I wish—

Gerakan tangannya terhenti sejenak. Memberi waktu pada dirinya sendiri, untuk memungut kekuatan. Untuk jujur pada hati. Untuk menepis jauh-jauh ego. Separuh bergetar, ia kembali menulis.

—you’d come back.

Menatap bintang kertas yang baru saja dilipatnya, Jill meyadari, betapa bodohnya apa yang ia inginkan. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Mengepalkan tangan hingga bintangnya mengernyut, hendak meleparnya ke tempat sampah.

Bel apartemennya berbunyi. Jam dua belas malam.

Jill terperanjat. Terengah. Tangannya mengudara, terhenti. Bintang kertasnya jatuh, tepat di antara ratusan bintang dalam toples. Ia kontan melihat dalam toples. Bumi seakan berhenti berputar, ia kehabisan udara untuk bernafas. Yang ia lihat hanyalah satu bintang kertas renyuk berwarna putih, di antara puluhan warna lain.

Ketukan di pintu apartemen terdengar.

Jill menyeret kakinya ke depan pintu. Detak jantungnya berpacu sementara tangannya sudah menggenggam kenop. Seolah ia tahu apa yang tersembunyi di balik ketukan.

Ketukannya terdengar lagi. Satu tarikan nafas panjang dari seorang Jill, dan ia membuka pintu perlahan. Matanya tertumbuk pada pria yang berdiri di depannya.

Ia berada di sana. Surainya berantakan, dua iris matanya menyiratkan penyesalan. Keduanya terdiam, pada senyap yang tidak berani mereka pecahkan.

Meraih tangan kanan Jill, Kris memberikan bintang-bintang kertas di telapak tangan Jill. Pandangan Jill mengekor pada apa yang ia genggam. Ia membuka lipatan bintangnya, masih dalam kebisuan. Dengan Kris yang masih berdiri di depannya.

I wish you could forgive me.

I wish I could fix my faults.

I wish I could hold you again and never let you go.

Jill menggigit bibir bawahnya, menahan ceguk di tenggorokannya. Sementara Kris meneguk ludahnya dan berkata lirih, “Happy birthday, Jill.

Dua sudut bibir Jill mengembang. Alih-alih membalas ucapan Kris, ia menarik pintu lebar-lebar.

Welcome home, Kris.”

-o0o-

Credit:

  • Picture taken from deviantart (here)
  • Song title is 2NE1 – Come Back Home, lyric originally from Korean language, while the translation taken from popgasa

PS :

  • Writing for a bestie with her favourite name (Jill), Theboleroo (@ansdwyt). Kindly check her blog here. Wishing she like it. ^^
  • I am not really confident with this post, actually. Not mention I too feeling unsatisfied. Maybe because a long hiatus. Eurgh… not good, dis. Not good. -_-“
  • Sorry if it’s too cliche, and fluffly. However (admit it) because of it, love is always bittersweet. ♡♡

PSS :
Please spare your little time for giving advice, comment, and some words in comment box below.
*smooch!*

signature

Advertisements

18 thoughts on “Paper Stars

  1. Halo, Kak Adiez. Terima kasih sekali lho buat tagnya. Saya sukaaaa ceritanya! Gimana ya? Bittersweet gitu kali ya? Kayal lagunya The Verve *apa deh ini*, awalnya saya baca cerita ini, pas scene Jill pulang dan Kris nyiapin cake untuk dia; saya kira ini bakal berlangsung langgeng, kayak drama romcom gitu. Manis. Bikin ngakak dan aduh, Kris… romantis banget deh kamu.

    Tapi, pas di pertengahan, saya akhirnya mengerti kalau part yang unyu-unyu itu sekadar flashback belaka. Sedih. Sedih. Tapi pas rada belakang…. untung Kris balik lagi. Entah deh, terakhir saya mengambil kesimpulan kalau ff ini kayak rollercoaster. Naik turun. Bikin ketawa, bikin mewek, rangkap satu.

    Dan saya suka banget sama quotes ini: “Terluka tidak selalu berdarah”

    Bener banget. Dan keren banget. Sekaligus ngena banget. Kadang kalau cewek bilang dia baik-baik aja, sebenernya dia gak baik-baik aja. Luka gak selalu diindikasikan dengan darah :3

    Pokoknya ff ini juara deh, Kak. Suka juga dengan narasi yang kakak pake untuk menjelaskan tiap peristiwanya, sukses mengobok-obok perasaan saya.

    Keep writing ya, Kak.

    • Halo ching! 🙂 sebenernya agak ragu sih mau ngetag writer kece macam kamu ke tulisan daku ini. Tapi ya namanya jg shameless tag, yaudahh, pede aja. :p
      Mamacih sudah suka storyline nya. Kamu sudah re-explain ceritanya, dan bikin saya mesem2. Haha..
      Iya, sometimes woman gives different reaction outside to hide feeling inside. Nyebelin ya. :p
      Nggak, lebih juara kamuuu kalo bikin tulisan. (//o\\) aaakk!

      Thank you for comment ya ching. 😀

  2. Hai kak! *ya ampun udah lama bener nggak kemari*

    sedikit ke random sama paragraf awal dan setelah quotes lagu kedua, tapi mikir lagi kalau awalnya nggak ke random bukan gaya Kak Adiez banget 😆 dan clumsy nya nggak baca lirik lagunya bener bener jadi nggak sadar itu lagu apaan ._.

    sampe sebelum reff nya come back home, sempet hopeless sama endingnya, sedih bener… untungnya endingnya.. back to the place the you used to be 😀 /kibas kibas/

    anyway ini cuma feeling nana atau cerita ini punya ‘gaya’ baru ya.-. semacam nulisnya pake bahasa dewasa tapi penggambaran keadaannya pake pandangan ‘anak muda’ jadi SERU BANGET 😀

    thumbs up lah intinya, semua komposisi ceritanya sambung menyambung satu sama lain 😀 dan nggak bosen sekalipun banyak bener ff di luar sana yang berusaha jadiin come back home inspired nya 😀 ohh dan Nana keinget quotes ini tiba tiba wkt baca ff kak Adiez “When you’re mad at someone you love, be careful what you say because your mind gets angry but your heart still cares.” iya nggak sih? hehehe 😀

    • Aniyaaa… aku nggak randooomm! (//_\\) aduh, aku kalo bikin tulisan emang srering random ya? Huks huks. 😥
      Eniwei, aku nggak sadar sih apa ini begaya baru apa nggak, mungkin karena aku udah lama nggak nulis panjang, atau karena kebanyakan baca komik. Tapi, feel refreshed when u read something new, right? Hak hak hak! 😀
      Thank you for ur thumbs up, although I still feel unsatisfied. Haha..
      Iya banget untuk quotes nya, bcs sometimes we hve tendency for hurting someone when we angry. 🙂

  3. Hai Adis 🙂 sebelumnya mohon maaf lahir dan bathin ya 🙂 Terima kasih sudah nge-tag aku…
    Err, aku juga sudah lama nggak nulis dan hei, ini bagus banget menurutku. Awalnya kukira manis sampai akhir, ternyata bukan seperti itu. Selipan lirik lagu di antara ceritanya bikin Paper Stars ini seperti video musik. Untungnya Jill nggak ditinggal terluka begitu saja, Kris kembali pulang :).

    • Halo halooo! 😀
      Mohon maaf lahir batin jugaa. ^^
      Err… asik kali ya, kalo MV nya Come Back Home ini pake adegan ini. *kemudian ngarep* hahaha..
      Thanks for reading.

  4. ih aku baru tahu kak adis bikin ff exo. kris pulak. hahahaha….

    Bagaimana yaaaa hmmm…
    Lama nggak kesini jadinya lucu ketemu ginian. lucu sebetulnya jill itu lagi denial, dia pengennya kris balik tapi pengennya lupa aja. makanya nggak kesampean, giliran kertas yang pengen krisnya balik masuk di toples nah dianya muncul hahaha…

    agak kurang sih di penjelasan betapa sibuknya kris kalo menurut aku. tapi penggunaan barang-barang childish kayak bintang kertas gini menghibur banget. aku sukaa!

    • Hha.. ini pertama kali kok bikin kris. Dealing with what ‘Jill’ want is.
      Hmm.. maksudnya follow your true heart kalik yaa, jadinya begitu dia pengen kris balik, bali deh si kriss. 😀
      I can’t make details in this one shot, actually. Krn lebih menekankan ke Jill nya. Hehe..
      Thank you for reading, dear. ^^

  5. Aduh abis baca cerita ini berasa mau ngakak sambil nangis. Oke, ambigu. Aku seneng banget kakak nulis pair fav aku (Kris & Jill) dan berhasil bikin mewek haduh pokoknya abis ini harus denger Come Back Home-nya 2ne1!
    Anywayy aku sukak banget sama poin kadonya Kris itu. Ya Allah kok dia bisa semanis itu XD Dan cinta banget sama kalimat “Sejujurnya, cinta selalu memberi maaf.
    Namun terkadang, emosi menggelapkan
    jalannya.” Haduh itu bikin mau guling2 gilak dalem banget ><
    Kak Adis abis hiatus kah? Pantes aku ngerasa agak beda sama diksinya. Makin keren 😀
    Itu aja ya Kak. Intinya aku sukak banget sama cerita ini 😀 Ditunggu shameless tag selanjutnya hehe..

    • Ngakak… sambil nangis? Ahaha.
      Harus dengerin come back home yg unplugged version lho hel. Aku dengerin itu dr awal sampe akhir nulis.
      Aduh, gak tau tuh kok bisa manis. Sampe Jill heran, pacarnya gak biasanya manis begitu. Kekekeke.
      Iya, abis semi-hiatus, palingan cuma nulis yg pendek2, abisan sibuk bingiitss. Aniyaa~~ aku merasa kemampuan nulisku syudah tumpul.
      Masih mau dikirimin shameless tag? 🙂

  6. kris jill? akkkk!! paling suka sama dua orang ini/?
    sedih ini ceritanya >< pas bagian flashback manis banget dan kembali ke cerita sekarang entah kenapa sesak banget rasanya :"
    nice fanfiction 😀 simple tapi idenya bagusssssssssss 😀

  7. Pingback: Rekomendasi Fanfiction (Oneshoot) | Ice Flower

  8. halo aku visitor baru di blog kamu and well aku suka bgt sm cara penyampaian kamu kedalam cerita hehehe. fix aku bookmark blog ini^^

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s