Groom

“Am I important to you?”

Aku menatap ceruk gelas setelah tegukan terakhir mencapai kerongkongan. Yang tersisa hanya beberapa bongkah es berbentuk tabung dengan lubang di tengahnya. Aku tak mengerti, mengapa es batu itu harus dibentuk sedemikian rupa. Apa mereka berbondong-bondong membeli satu bentuk cetakan yang sama? Apa di toko tidak ada yang menjual es bentuk lain? Apa perusahan pencetaknya sudah kehabisan ide? Yang lebih tak kupahami, mengapa aku masih sempat memikirkan hal seremeh ini.

Mungkin karena suasana di sekitarku terasa begitu hening. Atau tidak. Atau setidaknya bagiku. Sebab di seberangku, pria itu masih menghujamku dengan sorotnya. Aku yang merunduk dan ia yang menatapku, seakan membuat suatu perputaran sendiri di antara rotasi bumi terhadap matahari. Rotasi di mana kami berdua adalah planet dan meja di hadapan kami merupakan porosnya. Lantas dalam perputaran yang kami ciptakan sendiri inilah, segalanya terasa senyap, bahkan di antara hingar bingar.

“Lihat aku,” ucapnya, setengah memohon. Permintaan yang tak berani aku turuti. Aku tak punya nyali untuk menatap dua irisnya. Karena bahkan dalam intonasinya, aku tak bisa memahami maknanya. Yang kulakukan hanya memainkan lembaran tisu di antara jemariku, di kolong meja.

Apa arti kebahagiaan sesungguhnya? Sebelumnya, aku tak pernah benar-benar memikirkannya. Meraih nilai tertinggi di kelas, adalah kebanggaan. Mendapatkan lotere yang telah aku lupakan, adalah keberuntungan. Namun itu terasa sangat kecil jika aku menyejajarkan dengan apa yang telah kueram selama ini. Dengan milikku yang sering luput dari kesibukanku. Dengan apa yang kueja sebagai…

Dia.

Maka, apa arti kehilangan sesungguhnya? Untukku, adalah ketika kebahagiaan memupus tanpa aku sadari. Seperti pasir dalam genggaman yang terlalu rekat. Meluruh dari sela jari, hingga yang tersisah hanya remah. Dalam hitungan matematika sederhana, jika kebahagiaan adalah dia, maka kehilangan adalah ketika ia mengucap kata menyerah. Simply, yet painful.

“Hey… look at me,” pintanya, dan aku memberanikan diri untuk menatapnya.

Why everything comes in pair? Sesederhana garpu dan sendok, sepasang sumpit, piring dan gelas. Sefilosofis yin dan yang. Seimajinatif Romeo dan Juliet. Setragis Orihime dan Kenggyu. Setabah Abellard dan Helois.

“Kalau kamu nggak penting buat aku, ngapain aku pindah kerja ke kotamu?” ia balik bertanya.

“Karena biar dekat sama keluargamu,” jawabku. Lebih kepada berpura bodoh.

“Ngapain aku nggak nyari orang lain?”

Aku terdiam, mencari dalih untuk menggerus ketakutanku. “Karena nggak ada yang mau?”

Kali ini ia yang terdiam, menghempaskan tubuh pada sandaran. “Oh please… you know, it’s always you who important for me. For years, ‘till now.”

I choked my tears, and throw the lump of words into my throat. Aku tahu maksud deklarasi singkatnya. Kami semacam dua tikus yang berlari dalam satu labirin. Saling mencari hanya untuk berkait. Segila apapun kami mencoba mencari arus yang berbeda. Sehebat apapun kami melawan gravitasi imajiner yang terhubung horizontal di antara kami.

Here I know, he is my pair. Light for my darkness. Wings when I fall. Strength in my weakness. Even when I tried to deny, world always has own method to revive me.

Di sinilah aku. Separuh enggan menjawab. Selebihnya memang kosakata sudah lenyap dari gugus otakku. Yang aku tahu adalah, for the first time in my life…

I know he is my groom.

 

You and I together, don’t ever let go my hands
I’ll never say goodbye to you, even when this world ends.
(Park Bom – You and I)

.

PS :
Happy birthday, dearest. ♡
I know I am not perfect, and neither is you. There’s no such thing. And here we have is only an imperfect love, who comes to us in a perfect way.
Thanks for everything this years, and prepare your heart (and patience) for years in front of us.
🙂

image

Advertisements

2 thoughts on “Groom

  1. Aduh, kalo baca yg kayak gini tuh aku suka leleh dis. Saling mencari, lantas menemukan. Gimana keduanya memaknai kehadiran masing2 dengan dengan manis dan jujur 🙂 aih, kalo gini caranya aku cuma bisa berdoa supaya kalian berjodoh, aamiin 😀

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s