Espresso

Dua cangkir nyaris saling berdenting. Pada kepulan demi kepulan yang membumbung, muara berjinjit menyejajari ujung. Hening. Tak ada yang berani mencicit selain jarum jam yang terus mengayuh. Di dalam kubus bersebut kafe, Ben tetap merasa sempit.

“Thanks for everything.”

Ben menengadah, menangkap dunia yang kelam di iris hazel milik Jill. Pada sepasang mata yang menatapnya itu, Ben tak mengerti arti di dalamnya. Ia ingin tenggelam. Menyelam. Tak ingin kembali.

“Are you really…—” Ben memutus ucapannya sendiri. Terseret bersama ludah yang ia paksa berseluncur di tenggorokan.

“Ya,” jawab Jill tanpa menunggu Ben merampungkan pertanyaannya. Lugas. Tak ada sepenggal pun yang bergetar.

Sunyi seakan menelan bumi perlahan, mengikis tanah bersamanya. Mencuri warna. Merambat dari segala arah, mendekati tempat Ben duduk. Ia nyaris tertelan. Bola matanya berputar, mencari celah untuk lari. Tak ada. Tak pernah ada.

“Jill… tell me…” ucap Ben terhenti, kala mata mereka bertumbuk. “Can you live without me?”

Ben menata degup yang berkhianat. Menyembunyikan peluh yang berlomba keluar dari pori kulitnya. Membangun asa di penghujung tebing.

…Please say no.

Jill menyesap espresso miliknya, lamat-lamat. Mengikis harapan tipis Ben lambat. Bibir wanita itu berjungkit, sembari jemari lentiknya meletakkan cangkir kembali.

Because I can’t…

“Yes, Ben. I can.”

Ben berharap bumi bisa menelannya. Sekarang. Pada gemeletuk sepatu Jill yang menjauh, merta bel kafe yang bergemerincing nyaring, Ben ingin menghilang.

Everyone has their own fault. For him, loving her thoroughly is his fault.

Satu teguk terakhir. Tanpa aba-aba, segalanya berakhir.

Ben tersenyum getir. “Pahit.”

Because nothing last forever. Nothing, but the bitter taste of espresso which lingering in his mouth.

.

Note : efek kebanyakan nonton Prime Minister and I kok begini amat yak?

Advertisements

4 thoughts on “Espresso

  1. jill, pasti dia happy bisa berada di tengah tengah cerita yg ditulis oleh author sekece kamu kyaaaa!
    kaget sekaligus senang pas dapet tweet dari kamu dis hahahaha meski sekedar nama tapi si jill ini berasa lakon di setiap ff yang kubikin dan tadaaaaa tetiba namanya nongol di cerita kamu duh :3

    oke, ini ceritanya galau sekali. dan jujur aja aku pernah loh di posisi ben. sial sial sial.
    ceritanya sepahit judulnya dan aku cuma berharap ben cepet cepet move on dan dapet wanita yabg seribu kalil lebih baik dari jill.
    ah, scene akhir itu; jill pergi, ben meneguk espresso. itu favorite banget. aaaaaaak T.T sangat dramatis dan meninggalkan luka bagi pembacanya (gue gt maksudnya wkwk) dan…

    diksi kamu makin indah aja dis, sukaaaaaa ❤

    • Heukk. Ato malah sedih, soalnya Jill nya dibikin kejem. :p
      Iya, ceritanya ngehek banget. Nyebelin. Apa banget. Duh. Aku pas banget yaaa pake nama Jill untuk cerita yg kamu banget. #eh
      Amin amin untuk doanya. :p
      By the way, ini gatau aku nulis lagi kesambet apa. Biasanya juga tulisan aku nggak begininya. Bhahak!

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s