Baked Lasagna dan Kamu.

Hey,

Malam tadi, aku keluar bersama seorang handai yang lama tak bersua. Tak spesial sejatinya, kami hanya makan malam di kafe Cinnamon belakang tempat kerjaku. Menu yang kami makan, tak pula istimewa. Cuma dua piring Baked Lasagna, makanan yang kamu bilang tak sesuai lidahmu. Kami tak habis memakannya. Hidangannya kelewat asin. Kata temanku itu, chef yang membuatnya sudah pasti tak sabar ingin menikah.

Untuk yang ini, makan malam tadi tak cocok juga dengan lidahku.

Terkadang, malam bukanlah tentang bagaimana kamu menghabiskannya, namun tentang dengan siapa kamu melewatinya. Karena malam ini bukanlah tentang kafe di Hotel Sahid Montana. Atau tentang buku paket trilogi IQ84 yang kutenteng dari Gramedia.

Namun tentang apa yang lantas kukatakan pada kawanku di tengah santap itu.

Ia menanyakan kabarmu, pun dengan jemari kita yang saing mengait. Aku pikun bagaimana awalnya. Yang kuingat, aku bercerita padanya perkara kamu akhir-akhir ini.

Bagaimana malasnya aku melihat ponsel dan membalas pesanmu. It’s not that I’m not loving you. I am just simply lazy to type anything. Aku membanggakan dirimu di depannya, tentang kelapangan dadamu menerima seburuk-buruknya aku. Tentang bagaimana kamu mampu mengingat tanggal tak penting, sementara aku selalu tak peduli dengan hari, selain tanggal dengan satu digit.

Kamu tahu, dia lantas bernostalgia tentang kekasihnya. Ucapnya, you just like him.

We already know, it’s hard to find someone who understand us, doctors. You are not in medical field, but at least, you try to know, to comprehend our inhumanly busy days.

I know it’s not easy job.

Kami menyudahi Baked Lasagna dengan separuh enggan. Sayang, nanti kentangnya menangis, begitu yang ia bilang. Kusambut dengan gelak bersambung.

Lantas perjalanan pulang itu hanya diisi dengan musik A Thousand Miles dari Boyce Avenue. Kami bergulat dengan otak masing-masing. Menatap jalanan lenggang tanpa wicara. Setidaknya sampai mobilku berhenti di depan rumahnya.

Kala aku hanya mengatakan padanya,

Aku tahu, mungkin apa yang aku beri nggak sebading dengan apa yang dia beri ke aku. Cintaku pun, nggak akan bisa dibandingin sama cintanya dia ke aku. He is too kind for me. Maybe for everyone, I am not suitable with him.

But, you know, Bel. I cannot capture image of me, without him beside me.

*

Dan di pagi buta ini, aku masih menghujam laptop di depanku, di kamar yang biasa kamu gunakan untuk melepas penat kala terlalu lelah dari perjalanan panjang. Membayangkan kamu mengerlung di sampingku sementara aku menyesap segelas air putih dan menuliskan surat beralamatkan padamu.

Ini hariku, bagaimana harimu?

PS :
If you can’t handle me at my worst, sure as hell you don’t deserve me at my best. You know, Marylin Monroe quote? 😀

-oOo-

Note:
Ditulis untuk kamu, dan event #30harimenulissuratcinta hari ke-10

Advertisements

2 thoughts on “Baked Lasagna dan Kamu.

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s