To Comfort, Always

“To cure sometimes, to relieve often, to comfort always.”

Hipocrates

.

Tanganku menekan ambubag penuh presisi, sementara mata menyipit, menilik ritmik nafas yang ditarik sang gadis mungil itu meski sesekali. Ia telah gagal nafas, begitu istilah awam. Dalam bahasa yang tidak manusiawi, ia sedang mengalami apnea. Yang aku kerjakan di samping ranjangnya adalah memberi nafas buatan secara manual, agar oksigen tetap tersuplai dalam darah.

Untuk apa? Agar organ tetap bekerja sebagaimana mestinya. Jika aku menjelaskan panjang dikuadratkan dengan lebar lantas dipangkatkan berjuta tahun cahaya secara rinci, mungkin aku perlu membuat buku setebal Guyton and Hall.

Di sisi ranjang yang lain, ibunya menggenggam tangan kecinya. Tak luput waktu barang sedetik, air mata yang lantas terjun ke dagunya. Sedang ayahnya menyeka dahi anak tunggalnya itu, hati-hati.

Saat seperti inilah, aku teringat salah satu ucapan dokter seniorku, kala ia berceramah di depan dua puluh tujuh siswanya.

“Saya, kamu itu bukan Tuhan. Saya tidak selalu bisa menyembuhkan pasien. Tapi ada satu hal yang harus kita lakukan kepada setiap pasien kita. Remember. To cure sometimes, to relieve often, to comfort…

always.”

Ini pepatah yang bertolak belakang, dengan apa yang aku pikirkan sejak dulu. Bahkan setelah aku memulai kuliah di tempat ini. Pasien datang dengan keluhan, maka dokter akan mendiagnosis. Resep diberikan and happily ever after.

As simply like that?

No.

Think about it. Banyak dari kita tidak mempertimbangkan satu hal. Dokter tidak dapat menyembuhkan segalanya. Aku, kami, dapat dengan cepat mendiagnosis pasien dengan kanker stadium akhir, atau stroke perdarahan, yang tidak bisa disembuhkan. Tapi terlepas dari perkara menyedihkan itu, kita mungkin sering lupa, bahwa dokter tidak hanya bertindak dalam bidang medis, tapi juga membangun rasa nyaman dengan pasien.

It’s unique. Bagaimana dokter sejatinya, dapat membangun kenyamanan dengan orang yang sungguh asing, agar ia bisa lebih kuat dalam menghadapi diagnosis yang menghantui nyawa mereka.

Sejak aku sekolah, aku dilatih untuk berkomunikasi, menyampaikan empati, menawarkan rasa nyaman pada pasien. Beberapa kasus seperti, anak anda telah terdiagnosis kanker stadium empat, atau ibu anda telah meninggal, atau nyawa kakak anda tak berhasil ditolong. Ini tidak semudah bagaimana kita membicarakan ‘Halo, cuaca hari ini cerah, ya?’

So, we can’t always cure patient, we sometimes fail to relieve them. Because we are not mechanic, who repair your car. We are not technician who programming your computer.

We just help human, who everything happens to them not depend on our will, but on His hand.

But we, as a doctor, always to make sure, can provide unparallel love.

“Dokter, apa anak saya bisa sembuh?” tanya ibunya, membuyarkan fokusku.

Aku hanya tersenyum tipis. “Bu, kita bukan Tuhan, kan? kita tentu berharap yang terbaik, tapi kita sama-sama berusaha ya. Saya berusaha memperbaiki kondisinya, dan ibu jangan berhenti berdoa. Ya, bu?”

.

… To comfort, always.”

Advertisements

8 thoughts on “To Comfort, Always

  1. Baca ini aku jadi ingat kasus yg kmrn itu dan aku rasa kamu nulis ini emang terinspirasi dari sana ya…

    ah, sekian lama gak baca tulisan kamu, dis, makin keren aja kamu.

    Eniwei, semangat buat studimu ya. semoga jd bu dokter yg selalu bisa ngasih rasa nyaman buat pasien”mu kelak. 🙂

    • Halo umma, akhirnya sempat membalas. 🙂
      Iya, ini kn emang bikinnya pas hot2nya kejadian itu, dan saya di RS malah nge-RJP pasien seabrek. Huhuhuu..
      Thankies, umma. Umma too tulisannya makin ketje. :*
      Amin amin yaa. ^^/

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s