Pertanda

Aku pikir, banyak perihal yang perlahan memudar lantas punah semenjak kita beranjak dewasa. Sesederhana bagaimana kita pikun pada senyum kala terik surya mulai mendaki kisi jendela, lepasnya hati kala detik berlari seiring kaki melangkah, rasa puas ketika penghujung hari telah melambai.

Sesederhana bagaimana nalar kita tumpul untuk mengkonversi setiap tanda tubuh menjadi satu konklusi.

Sepertinya, itu yang terjadi padaku.

Mungkin, ini tak ada beda dengan rutinitas pagi yang berulang. Berangkat kala pagi baru saja menggeliat, kopi otentik di kanan kemudi, melintasi jalanan  bak milik sendiri. Denting kecil terdengar beruntun, bertumpuk samar dengan senandung radio.

Good morning! Sudah berangkat?

Bibirku berjingkat kecil, lantas mengetik cepat membalasnya. Lingkaran hitam di depanku tak kuhiraukan, seakan yakin pada arah ban berputar.

Yup. Sudah di jalan. Masih di kasur?

kendaraanku berhenti di pinggir jalan, tergesa memasuki lorong dengan satu tangan menggenggam roti gandum isi keju, membuang tas serampangan di loker ketika denting lain datang.

Iyalah. Dingin gini. Don’t forget to have breakfast.

I have. Roti. Cukup kan?

Good. Semangat ya buat hari ini.

Always. Have nice day to you too.

Rutinitas. Pesan-pesan sepotong di sela langkah cepat. Bagaimana mereka datang seringkali bak jadwal konsumsi obat pasien rumah sakit. Nyaris setiap waktu hingga tak terhitung intervalnya. Pesan-pesan sepotong yang tak lagi istimewa. Pun dengan sosoknya yang menjadi biasa.

Kupu-kupu sepertinya meninggalkan perutku.

I no longer feel anything for him.

… at least I think.

Setidaknya, sampai kaki-kakinya akan beranjak dari sisiku. Sampai kehadiran nyaris tak tergapai. Sampai setelah kekalutanku tak lagi sesederhana sebelumnya.

Sampai pertemuan terakhir sebelum ia lenyap.

Aku masih mau nyuci mobil… mau nunggu?

Iya, aku tungguin.

Tapi lama…

No matter.

Tapi aku nggak enak sama kamu.

Why?

Kamu nunggu…

Then?

Kamu jalan-jalan dulu nggak papa…

Aku tungguin. I’ve been waiting for you. No matter for waiting little longer.

Setumpul itukah? Hingga tak lagi aku peka pada setiap pertanda?

Sepertiya tidak.

Pada kalimat terakhir yang sampai di ponselku, jantungku berkontraksi terlampau hebat. Serangga di perutku terbangun. Aku berdebar sepanjang perjalanan.

Tak satupun sinyal tubuh yang tak kumengerti. Segalanya tak asing.

Aku paham betul artinya.

…and I wanna hold him.

.

“Hidup bukanlah perkara apa yang mengisi cangkirmu, melainkan siapa yang menemani keheningan di dalamnya.”

Advertisements

4 thoughts on “Pertanda

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s