White, The Elf Princess

ws_Elf_princess_1440x900 (2)

.

Title         :   White, The Elf Princess
Author    :  @adiezrindra
Length    : one shot
Genre      :   Fantasy, romance, fairy-tale
Cast(s)    : White (OC), Aiden (Dong Hae Super Junior)

Disclaimer :
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2013 adiezrindra, all right reserved.

.

Kakinya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan lain, hingga memijak ranting tertinggi. Lantas gerakannya melambat. Perlahan nyaris tak bersuara. Tangannya mengendap-endap mendekati sepasang peri seukuran telapak tangan yang bersantai, lantas dengan kuat menangkap mencengkeramnya. Ia terhitung cukup lincah sebagai elfe. Ia duduk di salah satu cabang, dengan seringai lebar ia menatap dua makhluk malang itu dan mencabut kasar sayap mereka yang bercahaya.

“…Sembilan puluh sembilan, dan… lima ribu!” serunya, lalu terkekeh senang.

Elf lain berlari dari bawah, menengadah dan menggelengkan kepala menatap rekan seperjuangannya. Kawan masa kecilnya. “White! Apa yang kamu lakukan?! Cepat turun!”

White menatap temannya jengkel. Ia dengan cepat melompat dan menjejak tanah. “Aiden, aku mengumpulkan sayap peri. Kamu tahu itu kan?”

Aiden menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir. White, elfe muda yang jelita itu memiliki kelakuan tak sejelita parasnya sepertinya. Kulitnya pucat, bak butiran salju yang bergelayut, tingginya semampai dengan rambut hitam lebat  mencapai punggung. Matanya cemerlang, hidungnya lencir dengan bibir merah ranum yang tipis. Telinganya runcing, lebih runcing dari elfe lainnya. Ia hanya mengenakan baju seadanya, tak menutup lengan dan hanya sebatas pertengahan paha. Di pinggangnya, pedang Rosarion dengan gagah bersarang.

“White, kamu kan bisa minta tolong padaku. Kamu ini elfe tapi sama sekali tidak feminim.”

White memutar bola matanya jengkel. “Diam, Aiden.” Ia berbalik meninggalkan elf itu di belakangnya. “Aku harus segera membuat baju armor untuk menyelamatkan negeri ini.”

Sang elf hanya mendesah pelan. Ia lantas menarik pergelangan tangan White dan mengajaknya ke tepi sungai. “Duduklah White. Aku akan mengobati lukamu,” perintah Aiden. White duduk di batu besar di pelipir sungai. Elfe itu hanya diam kala Aiden dengan cekatan membasuh luka di tubuhnya. Di tungkai kanannya, di paha kirinya, di lengannya. Pun dengan luka panah di pundaknya. “Snow White, aku tidak melarangmu untuk berburu peri. Tapi pulihkan dulu tubuhmu. Bagaimana bisa kamu menyelamatkan negeri kalau kamu sendiri tidak selamat?”

Snow White hanya terdiam. Iris ruby-nya menatap sekeliling hutan. Dulu hutan ini tak ayal adalah taman bermainnya. Tempatnya menghabiskan waktu bersama Aiden. Pohon tinggi nan rindang bersanding dengan taman hijau bak permadani. Wewangian alami yang saling memadu memberi sensasi unik menyegarkan. Ia selalu betah berlama-lama diantaranya.

Namun, tetap saja. Pemandangan itu hanya ada dalam kenangannya. Sekarang, pohon-pohonnya menjulang, menutup celah sinar matahari. Semua daunnya berwarna kelam, pun dengan batangnya. Padang rumputnya gersang, dipenuhi oleh kayu-kayu yang tumbang. Jangan berharap ada kembang yang mekar di sini. Peri semakin sedikit. Sebagian dari mereka tak mampu bertahan hidup. Sementara yang lain memilih untuk pergi jauh ke Fairy Sanctuary. Karena itu, ia semakin giat berburu peri.

Semua ini karena ratu Ravenna. Ibu tirinya.

White menghela napas. Ia menatap Aiden. Sahabat karib yang menemaninya berkelana. Elf itu salah seorang ksatria muda istana, dibesarkan semenjak kecil bersamanya. Rambutnya putih, matanya tajam dan dalam, telinganya runcing sama seperti dirinya maupun elf pada umumnya. Elf itu menemaninya hanya berbekal Two-moon blade kebanggaannya.

Ia memanggil kawan dekatnya, “Aiden.” Matanya menatap Aiden yang membalut luka terakhirnya. “Menurutmu, apakah kita bisa mengalahkan Ravenna?”

Aiden menengadah, bibirnya melengkung. Mata kecoklatannya menatap White intim, “Tentu saja, White. Tentu saja.” Ia lantas berdiri dan menepuk pelan ubun kepala Sang Putri.

Sebaliknya, White hanya terdiam. Lantas bola matanya mengekor mengikuti kemana Aiden pergi. Tanpa sadar, tangannya telah menyentuh puncak kepalanya, tepat di tempat tangan Aiden berjejak.

Ia tersenyum.

.

***

.

Snow White mengekor di belakang Aiden, meneruskan perjalanan, meninggalkan hutan kegelapan. Langkahnya gontai. Di benaknya mengawang berjuta anak pikiran. Ia rindu Alfheim, rumah elves yang dulu. Tempat dimana para elf dapat dengan damai bernyanyi di tepi sungai. Ia rindu istananya. Ia rindu ayahnya.

Sepuluh tahun berlalu, dan ia masih mampu memutarnya ulang seluruh kenangan indah bersama ayahnya, Yang Mulia Olwe. Namun ketika segala yang indah sekejap terporakporandakan, sejak ayahnya pergi memimpin perang melawan Malkos, malaikat yang membelot dan menjadi raja kegelapan.

Yang Mulia Olwe bertemu dengan Ravenna, elfe yang hilang ingatan kala ia dalam perjalanan pulang. Ia membawanya pulang dan mempersuntingnya. Ravenna sungguh jelita. Matanya sedikit sayu, pipinya cekung dengan bibir penuh kemerahan. Telinganya sangat runcing. Tubuhnya semampai, nyaris tak bercela. Elfe yang sempurna.

“Snow White. Sini, berkenalanlah dengan ibumu, Ravenna,” ucap ayahnya kala itu.

Di belakangnya, Ravenna tersenyum padanya. “Hai, Snow White. Putri yang cantik sekali.”

Ia menunduk, menghormati ibu barunya. Ia bahagia. Setelahnya, ia mempunyai keluarga utuh yang lengkap. Yang tak ia ketahui kemudian adalah…

hari itu adalah hari terakhir ia melihat senyum ayahnya.

Esok harinya ayahnya sudah tiada. Di tangan istri barunya. Ravenna menjadi sang ratu dan Alfheim tak lagi menjadi tempat tinggal yang nyaman. Keindahan musnah. Ravenna tak lebih baik dari Malkos.

“White?”

White tersadar. Ia tak bersuara, hanya kepala yang berjengit. Matanya melirik, bertanya tanpa aksara.

“Kita sudah keluar hutan. Kamu kenapa?” tanya Aiden. Whita menggeleng. Elf di sampingnya menunjuk satu bukit membentang sepanjang mata memandang. Nyaris tak kasat mata, tertutup kabut keabuan tebal. “Itu Bukit Berkabut. Tempat para hill dwarf bernaung. Kamu siap?”

White merapatkan bibir. “Ya.”

.

***

.

Alfheim yang suram. Banyak elf yang akhirnya menemui ajal, kendati sebenarnya bangsa Elves merupakan makhluk yang abadi. Hanya peperangan dan penyakit mematikan yang membuat mereka menghembuskan nafas terakhir.

Alfheim kini lebih seperti tempat pembuangan. Tak lebih buruk dari dunia bawah tanah, hunian Malkos sang raja kegelapan. Menjijikkan. Tak layak tinggal. Menakutkan. Tak pernah terdengar senandung elves yang terkenal menakjubkan, mampu menggiring peri, makhluk pencinta keindahan, mendekat. Hening. Hanya ada rintih kepedihan.

Di istana, Ravenna mematut diri di depan cermin ajaibnya. Keindahan tubuhnya yang abadi. Kecantikannya yang tak tertandingi. Segala yang ada pada dirinya adalah sebuah bentuk kesempurnaan.

“Spiegel…” serunya, memanggil cermin kesayangannya.

Cerminnya menggema, “Iya, Sang Ratu?”

“Siapa yang paling cantik di dunia ini, Spiegel?” tanyanya. Masih dengan berlenggak memuja tubuhnya. Ia menanyakannya nyaris setiap hari. Dan nyaris di tiap pertanyaan itulah, ia ingin membanting Spiegel hingga menyerpih.

Ia tahu jawabannya.

“Anda yang cantik, Ratu… Tapi jauh di dekat Bukit Berkabut, ada Putri Snow White yang sungguh jelita. Kulitnya seputih salju, dengan pipi yang merona. Bibirnya semerah bunga mawar yang baru merekah. Rambutnya hitam, secemerlang langit malam. Matanya kirana bak rusa, hidungnya bangir serta telinga yang terruncing. Ia yang tercantik, Ratu…”

Kali ini, Ravenna benar-benar membanting Spiegel. Ia mengambil satu pecahannya dan menatap bengis pantulan dirinya. “Snow White… kamu benar-benar bebal. Tunggu saja, kali ini kamu akan habis di tanganku.”

.

***

.

“Mau apa kamu di sini?!” Tanya satu dwarf dengan kasar. Palu di tangannya teracung pada Aiden, nyaris menyentuh dagu. Tangan yang lain memegang erat perisai. Dahinya mengernyit jengkel, hingga kerutan di sekitar matanya terlihat saling berlipat. Jenggot tebalnya menjuntai hingga dada. Tingginya hanya mencapai paha Aiden. Kerdil sekali. Ia menggeram. “Pergi kau, Elf!!”

Belum sempat Aiden dan White menjawab, dwarf lain muncul, diikuti dengan lima dwarf di belakangnya. Dwarf itu terlihat jauh lebih sepuh. Jenggotnya lebih panjang, nyaris menyentuh perut. Ia menumpukan tubuhnya pada tongkat kayu lapuk, dan berjalan tertatih. Suaranya bergetar kala bertanya, “Kamu bicara dengan siapa, Gott?”

Dwarf bernama Gott meringking, “Barn! Ada elf masuk kekuasaan kita!!”

Barn melirik palu yang teracung, lantas berpindah pada Snow White. Ia terperanjat seketika, lekas-lekas menunduk, “Tuan putri? Apa yang kamu lakukan di sini?”

Amarah Gott kian meruap, “Barn!! Apa yang kamu lakukan?!!”

White hanya terperangah, hingga beberapa saat ia berseru, “Tuan Barn! Aku ingat! Oh Tuhan… Tuan Barn, mengapa Tuan ada di sini?” Elfe itu menghambur tubuh mungil Barn. Dwarf tua itu terlihat kecil di hadapan sang putri.

Gott melerai mereka. Meraung membahana, “Barn, kamu gila?!” Ia berbalik menunjuk White dan memicing tajam, “Dan kamu, elfe! Cepat pergi dari sini!!”

Barn menepuk pundak Gott lembut, “Gott, hentikan. Dia Snow White. Sang putri dari Alfheim. Putri dari teman lamaku, Olwe.” Gott mengatup bibir. Jengkel namun memilih untuk tak angkat wicara. Barn beralih pada sang putri, “Snow White, apa yang kamu lakukan di sini?”

White berjongkok, menyejajarkan tubuhnya di hadapan Barn. Ia mengeluarkan baju yang telah susah payah ia jahit dari sayap peri. Sayap peri yang mati-matian ia buru. “Aku ingin menyempurnakan baju armor-ku, Tuan Barn. Dengan stellar stone dari gua tambang milik para dwarf.”

Barn meraba hati-hati baju yang disodorkan padanya. “Ah… baju sayap peri… kamu sudah menggenapinya, Tuan Putri? Lima ribu?” tanyanya. Ia masih mengagumi benda di tangannya. Sayap peri begitu tipis, rawan robek. Namun memiliki kekuatan magis yang menakjubkan. “Baiklah, biar Ron yang mengubahnya menjadi armor. Bersantailah sejenak.”

Dwarf tua itu menyerahkan baju milik White pada salah satu dwarf muda. Tampangnya tak lebih baik. Ia berkali-kali membenahi setelan yang dikenakannya. Ron, dwarf muda tersebut, segera mengambil stellar stone dan mengucapkan mantra magis dalam bahasa Quendi, bahasa sihir para Dwarf.

White dan Aiden hanya mengamati bagaimana Ron dengan khidmat menggumamkan kalimat-kalimat, sembari mengekor di belakang Barn. Tertatih, Barn mengajak mereka duduk di ruang makan gua kecilnya.

Di sudut lain ruangan, para dwarf lain bergerombol, bergumam kesal. Bangsa Elves tak pernah memiliki hubungan baik dengan bangsa Dwarf. Sejak dulu, kini, maupun hingga kapanpun. Pun mereka membenci kehadiran sepasang elf dan elfe muda di gua mereka. Mengganggu. Gott salah satu yang paling vokal menghujat, namun tak berkutik. Pimpinan mereka mengenal si elfe.

Tuan Putri, katanya. Apapun jabatannya, apapun statusnya. Elf tetaplah elf. Dan mereka, menjengkelkan!

“Apa yang terjadi denganmu, Tuan Putri?” tanya Barn. Ia menelisik setiap inci tubuh White. Kulit piasnya tak lagi bersih. Penuh berkas, goresan dan luka kebiruan. Pundak kanannya apalagi, luka besar bersarang, meski sudah terbebat dengan kain bersih berkat Aiden. “Mengapa tubuhmu penuh luka seperti ini?”

Snow White hanya terkelu. Pertanyaan itu terlalu menyedihkan untuk dijabarkan. Dijeblai secemerlang apapun, dihias dengan roman manapun.

Atau mungkin, ia tak perlu repot menjelaskan. Hanya tinggal menyebut satu nama. Ravenna biangnya.

Hidupnya tak pernah sama semenjak Ravenna menjadi ratu di negerinya. Di Alfheim. Ia dikungkung di dalam menara istana. Sepuluh tahun. Maka di sanalah, berbagai strategi ia canangkan. Penuh perhitungan, lengkap dengan cadangan rencana di tiap langkah.

Langkah pertama, membuat armor terkuat. Sayap peri. Baju dari sayap peri.

Peri adalah makhluk dengan penuh kekuatan magis. Tiap mili dari tubuhnya mengandung sihir menakjubkan. Perkamen-perkamen telah menyebutkan lantang, debu terbangnya saja, sering diburu sebagai bahan membuat pedang, zirah, maupun perisai. Lantas, bayangkan betapa kuatnya armor miliknya, seluruhnya terbuat dari sayap peri, bagian tubuh yang memiliki kemampuan magis tertinggi?

Sayangnya, itu tak mudah. Menaranya terlalu tinggi, dan Alfheim terlalu kelam untuk para peri untuk terbang. Seindah apapun dia bersenandung, tetaplah tak mampu mengundang para peri mendekat.

Maka, ia menunggu kesempatan. Hingga sepuluh tahun berlalu.

.

Snow White kala itu mengikatkan tali di pinggangnya, membebat bajunya agar mempermudah geraknya. Hari eksekusi yang dinantinya tiba. Aiden sudah menunggu di bawah menara. Ia menyeringai, petualangan menyelamatkan negerinya akan dimulai.

Namun, perkiraannya meleset.

Ravenna masuk semena ke kamarnya. Menjeblak pintu hingga terbuka lebar. White kontan berbalik dan terperanjat mendapati ibu tirinya menatapnya bengis. Di tangannya sudah tercengkeram sebuah belati. Suaranya yang dingin dan menakutkan membahana, menggema ke seluruh sudut ruangan. “Mau ke mana kamu, White?!”

Alih-alih menjawab, White mundur selangkah demi selangkah. Ibu tirinya menatapnya bak hendak memakan mangsa. Belatinya memanjang menjadi pedang, sepanjang pelipirnya berkilauan. Langkah White terhenti oleh dinding menara. Bangsa Elves bisa menembus dinding, namun Ravenna telah membuat seluruh istana tak mampu dilewatinya. Di belakangnya tepat jendela tanpa kaca, terhubung dengan dunia luar pada ketinggian puluhan meter.

“Kamu tidak akan bisa kabur, anakku! Hari ini, kamu harus mati di tanganku!!!” pekik Ravenna. Tangannya bersiap menghunuskan pedang.

Sekarang, atau tidak sama sekali.

Snow White dengan cepat menginjak pelipir jendela dan melompat. Terjun bebas.

Ravenna terperanjat. Ia berlari melongok ke luar jendela. Tangannya menjulur ke bawah, ke arah Snow White. Dari sana keluar beribu jarum tajam, siap mencerca tubuh White.

Ia memekik. Gila. Ia sungguh gila. Tubuhnya penuh luka, dari gores hingga tusukan sana sini. Bajunya terkoyak, nyaris robek di segala tempat. Tapi lebih baik ketimbang ia tak berusaha sama sekali. Karena ia percaya, Aiden menunggu di bawah menaranya. Bersiap untuk menangkap tubuhnya.

Dan perkiraannya benar.

Tubuhnya berhenti, melayang di udara. Di punggung dan tungkainya ada lengan Aiden menumpunya. Ia terkekeh melihat White yang mengatupkan mata seerat mungkin. Satu kelopak White berjengit, mebiarkan berkas cahaya memasuki matanya. “White, kamu ternyata berat, ya…” celetuk Aiden.

Bibir White mengerucut. Tangannya menghantam dada Aiden hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Keduanya terjerembab di tanah. “Kurang ajar!”

Aiden terbahak. Sedetik kemudian, sorot matanya berubah serius. “White, sebaiknya kamu cepat lari. Ravenna akan memburumu sesegera mungkin.”

“Dan kamu? Kamu ikut bersamaku, kan, Aiden?”

Aiden mengulas senyum tipis, “Aku akan menyusulmu. Kamu percaya aku, kan?”

.

Aiden ternyata benar. Ravenna tak menyerah. Ia lekas-lekas menyuruh pemburu kepercayaannya mengejar Snow White. Dengan menunggang kuda, ia memburu sang putri masuk hingga hutan kegelapan. Aiden dbuatnya tak berkutik dengan panah sihir miliknya.

Sementara Snow White tertatih melewati hutan. Mengendap pada kayu, bersembunyi dari binatang yang menggila. Semua yang ada di sini telah meliar. Dari hewan yang setinggi pohon rindang, hingga serangga yang tak lebih besar dari ibu jarinya. Seluruhnya siap melahapnya habis, tanpa nyawa.

Di perjalanan, sang pemburu menemukan Snow White, dengan seringai yang menghiasi bibirnya. Mangsanya begitu tak berdaya. Bersandar pada pohon, siap mengakhiri hidup di ujung panahnya. Ia mendekat, berjongkok menatap Snow White yang nyaris meregang nyawa.

Matanya tak lagi mampu membuka dan menatap sang pemburu. Wajahnya penuh luka, pun dengan tubuhnya. Darah biru telah mengalir dari tiap celah luka, pun dari bibir dan hidungnya.

Sejatinya, ia tak perlu repot mengejarnya kemari. Dengan keadaannya yang mengenaskan saja, ia tak akan mampu bertahan lebih dari satu jam. Namun, sayang sekali jika panahnya tak digunakan.

Ia meregangkan tubuhnya, menarik nafas pelan. Lantas tanpa belas kasihan, ia menusukkan panahnya kuat-kuat di pundak kanan White. Warna kebiruan yang segar mengucur hebat.

Sang pemburu menyorot hasil karyanya puas, menunggangi kudanya dan kembali ke istana.

Yang ia tidak sadari adalah, beberapa saat kemudian Aiden berhasil menemukan White dengan susah payah. Tubuhnya pun penuh luka, namun tak membuatnya menyerah pada janjinya. Janjinya pada Snow White.

Yang pemburu itu tidak tahu adalah, ia telah menyelamatkan Snow White.

Yang Ravenna tidak perhitungkan adalah, Snow White bukanlah seorang putri biasa. Bukanlah elfe sembarangan. Di benaknya sejuta rencana telah terpetakan.

.

“Ini armormu, Elfe!” ucap Ron, separuh menggerutu, sembari mendekati White. Ia menyerahkan baju armor yang baru saja jadi di tangannya. Armor-nya hanya berdesain sederhana, seperti kimono lelaki. Kainnya putih tulang dan tipis, namun kekuatannya barang berkali-kali lipat lebih menakutkan dari senjata apapun.

Bibir Snow White melengkung, pun dengan sepasang mata kirananya. “Terima kasih, Ron.” Ia berpaling pada Tuan Barn sembari beranjak dari kursi mungilnya. “Terima kasih atas kebaikanmu, Tuan Barn.”

Dahi Barn mengernyit, “Kamu mau ke mana, Putri?”

“Aku akan kembali ke istana dan melawan Ravenna, Tuan Barn.”

Barn mendekat, menggenggam tangan White. “Putri, bermalamlah di sini sebelum kamu kembali ke istana. Kamu perlu memulihkan keadaan.”

“Tapi…” elak White, menggigit bibirnya.

Aiden menepuk pundak sang elfe dan memungkas, “White, Tuan Barn benar. Hari ini kita sudah cukup lelah. Kamu tidak bisa menyelamatkan Alfheim jika kamu sendiri tidak selamat kan?”

White hanya tergelak. Tak berkutik.

.

***

.

Aiden? Dimana dia?

White sudah mengitari seluruh gua, dan belum menemukan sahabatnya. Sudah satu jam ia berkeliling, semenjak ia terbangun di pagi buta. Ia keluar gua, dan menemukan Aiden tertidur di dekat bibir gua. Elfe itu kontan tersenyum, “Aiden?”

Aiden membuka mata dan menemukan White duduk di sampingnya. Ia perlahan bangun dan bersila menatap White. “White? Baru bangun?”

White mengangguk. “Kenapa kamu di sini?”

“Ah, aku baru mengitari bukit,” jawab Aiden, yang diikuti dengan anggukan White.

Hening sejenak, hingga White akhirnya mengubah topik, “Aiden, setelah ini kita langsung berangkat. Kita tidak bisa membuang waktu terus-menerus.”

“Iya.”

“Sebentar, aku cari Tuan Barn.” White akan beranjak dari duduknya, berdiri memasuki gua sebelum kemudian Aiden meraih pergelangan tangannya. Kontan White menatap Aiden heran.

“Kamu pasti bisa mengalahkannya, White.”

“Huh?”

“Ravenna. Kamu pasti bisa mengalahkannya. Kita akan mengalahkannya dan mengembalikan Alfheim.”

Bibir White berjungkat, “Ya, Aiden.” Aiden lantas terdiam. Menggigit bibir bawahnya. Satu tangannya mengepal di samping badan. Satu alis White menjengit, “Aiden?”

Aiden menunduk sejenak dan menarik nafas perlahan. Kala dua pasang mata mereka bersirobok, ia hanya berucap, “Dan aku akan mengatakan sesuatu yang penting saat itu tiba.”

“Heungg… penting…?”

Aiden tersenyum dan melepaskan genggamannya. Jemarinya merogoh ceruk celananya, mengeluarkan dua buah apel. “Mau apel?” tanyanya, menyodorkan satu apel pada White, sedangkan apel yang lain berakhir di mulutnyaa. “Aku tadi menemukan pohon penuh apel ranum.”

White tergelak. Aiden selalu tak terduga. Ia mengambil apel untuknya dan memakannya lahap, “Terima kasih, Aiden. Tahu saja kalau aku sedang lapar.”

Aiden terbahak.

Namun sesaat kemudian, mata White membeliak. Nafasnya tercekik, tak ada udara yang bisa masuk ke dalam peparunya. Tergopoh ia menarik nafas, namun tak berguna. Aiden menatapnya panik, berulang kali menyebut namanya. Suaranya lamat-lamat menghilang. Karena sembari jemari White menekan dada, perlahan kesadarannya menguar. Matanya memberat, hingga ia terjatuh.

Tak sadarkan diri.

Aiden tercenung. Hingga satu bibirnya menyeringai.

Mata tajamnya melembut, nyaris sayu. Rahangnya mengecil. Rambutnya yang kecoklatan berubah menjadi perak. Tubuh tegapnya yang berotot, menghilang, berganti dengan tubuh semampai elfe yang sempurna. Sosok Aiden menghilang, berganti oleh Ravenna. “Selamat tinggal, Snow White, sayang…”

.

***

 .

Ron meregangkan tubuhnya, berjalan ke bibir gua. Menghirup udara dalam-dalam. Udara pagi sealu menyegarkan tubuhnya. Terperanjatlah ia, kala ia menemukan ada yang tergeletak di tanah. Snow White. “Elfe?!” Ia lantas berlari panik masuk dalam gua dan menyeru pada kawanannya, “Barn! Kemarilah, cepat! Gawat!!”

Barn tertatih keluar dari satu percabangan gua,“Kenapa, Ron?”

Elfe!” teriak Ron tergopoh menjelaskan. Ia menarik tangan Barn keluar dan menjelaskan penemuannya susah payah, “Elfe itu tak bernafas, Barn!”

Barn membeliak, “Apa?!” Bersama dwarf muda di depannya, ia ikut tergopoh. Dwarf yang lain mengekor di belakangnya, turut berlari. Mereka menghambur menghampiri tubuh White. Barn kontan berjongkok dan mengguncangkan tubuh sang putri. Ia menyeru dengan suaranya yang bergetar berulang kali, “Putri?! Snow White?!”

Aiden baru saja pulang dari menyusuri jalan pulang mereka, memastikan semua aman. Namun apa yang dinantinya dalam gua dwarf adalah yang tak pernah disangkanya. Ia mendapati para dwarf berkerumun di bibir gua. Beberapa berbisik, menggerutu, sisanya menyeru ‘elfe’ berulang kali. Suara Barn yang paling keras terdengar. Rintihnya memanggil Snow White.

Dahinya mengerut sembari menghampiri mereka, “Apa yang terjadi di sini? Tuan Barn?”

“Aiden?!” Barn  berbalik. Ia lantas menjauh dari tubuh White, menyuruh kawanannya membuka jalan bagi Aiden untuk menyaksikan, “Snow… White… Dia…”

Tubuh  Aiden menegang. Belingsatan, ia membabi buta merengkuh White. Satu tangannya menepuk pipi White, menyebut namanya berulang kali, semakin lama suaranya semakin meringking. “White?!! White?! Sadar, White!!!”

Bukit Berkabut tak memberi petunjuk apapun sebagai pertanda pagi itu. peristiwa yang menghancurkan impian White maupun Aiden. Menyisakan tak percaya dalam jiwa Aiden, maupun seluruh dwarf.

Barn menepuk punggung Aiden. “Sebaiknya kita pindahkan dulu, Aiden. Ke kamarnya.”

.

Ada yang hancur. Bukan tubuh Aiden. Melainkan jiwanya. Impiannya. Hatinya. Ia menatap tubuh sahabatnya yang tak bernyawa. Tangannya meraih jemari White yang telah nyaris membeku. Suaranya mencicit, nyaris gila. “White… kamu tak mungkin meninggal kan? Kamu sudah berkelana sejauh ini, White. Kita sudah akan mencapai garis akhir. Kita akan mengalahkan Ravenna. Bangunlah, White!”

Air matanya jatuh, tepat mengenai punggung tangan White. Ia menyentuhkannya di pipi. White tak menjawab apapun, sementara Aiden semakin merintih menyeru namanya. “Bangunlah…”

Ia butuh keajaiban.

Ia butuh White.

Alfheim membutuhkan Sang Putri.

Alfheim membutuhkan penyelamat. Aiden tak ingin impian mereka hanya menjadi asa yang mengabur, lantas menguar tak berbekas. Ia berdiri dari pelipir ranjang dengan satu keyakinan. Membawa mimpi mereka berdua menuju satu realitas.

Aiden menatap wajah White dalam-dalam. Bahkan dalam kematiannya, White tetaplah sempurna di matanya. Kulit pucat serta rona masih bersarang di pipinya. Senyum tipis masih berhias di bibirnya. Ia tertidur, namun tak bernyawa.

Ia mendekatkan wajahnya. Bibir mereka bertemu. Satu tetes lain jatuh di pipi sang elfe. Sang putri. “White, aku akan mengalahkan Ravenna. Untukmu, untuk kita. Untuk Alfheim.”

.

***

.

Alis Ravenna berjengit, menatap heran gerbang istana dari menaranya yang megah. Aiden berdiri, menantang bangunan kastel. Di tangannya, Two-moon blade miliknya meneteskan darah biru, sementara dua pengawal gerbang telah tumbang tak bernyawa. Sudah pasti senjata dengan sisi tajam yang memutar bak piringan itu yang mengkahirinya. Ravenna tersenyum mencemooh, “Aiden… oh Aiden… mau membalas dendam kematian Snow White?” Ia menjentikkan jarinya, dan gerbang menjeblak lebar. “Kita lihat sampai mana kemampuanmu.”

Ravenna menengadah, burung gagak yang melintas di atas menara membuatnya menyeringai. Ia mengangkat tangan dan memutar jemarinya. Gagak itu mendekat dan bertengger di telunjuk sang ratu.

“Synechistei kai eis diploun.”

Burung gagak itu meluncur turun. Lantas membelah diri, semakin banyak hingga tak terhitung.

“Epithesi.”

Burung-burung itu bergerak sinergis, dinamis, searah dengan cepat menyerbu Aiden.

Aiden terperangah. Jumlah yang datang tak ia perkirakan. Ia mengambil kuda-kuda, menggenggam Two-moon blade-nya di masing tangan. Burung gagak yang berdatangan, berjatuhan sekaligus dalam sekali tebas. Namun jumlahnya kian banyak, kian tak terhitung, membelah dan tak mampu diakumulasi. Aiden berulang kali menerbangkan blade miliknya, menebas burung-burung itu laiknya boomerang. Sayang, semakin banyak ia membunuh, semakin banyak pula gagak-gagak itu berlipat ganda.

Halaman istana penuh bulu kehitaman, serta burung-burung yang berlimpangan. Aiden sendiri, dikerubung oleh semua gagak. Ia menyilangkan tangannya, membentengi tubuh. Lantas sebelum burung-burung hitam itu lebih dekat, ia mendesis, merapal mantra dan bola cahaya menyelimuti dirinya. Seakan menjadi selaput tak kasat mata.

Aiden memasang kuda-kuda sekali lagi, menarik tangan ke belakang dan bersiap melempar Two-moon blade-nya sekali lagi. “Lepida fotia!” teriaknya sembari melepaskan senjatanya. Secepat cahaya blade itu melaju, api terbentuk di sekelilingnya. Menebas semua gagak dengan baranya yang menjilat. Burung-burung itu musnah, tak bersisa.

Aiden tersenyum puas.

Ravenna mendengus, menahan tawa. “Ternyata kamu cukup kuat, Aiden.”

.

Mana puncak menara?! Mana Ravenna?! Bersembunyi di menara yang mana ia?!!

Aiden menaiki puri tergesa. Tenaganya terkuras hingga ia butuh kekuatan lebih untuk berlari. Begitu banyak yang harus ditumpasnya hingga ia sampai di lantai ini. Tak terhitung prajurit Ravenna yang habis di tangannya. Terakhir, ia baru saja mengalahkan Centaurus buatan iblis itu.

Ia baru saja sampai di tangga terakhir, kala sadar ada naga yang menunggunya di ujung. Nafasnya masih terengah ketika naga tersebut meroar, mengeluarkan api dari moncongnya. Api mengenai pundak Aiden, membuatnya mengaduh, menyebut nama hewan tersebut, “…Igneel.”

Susah payah Aiden menggerakkan Two-moon blade-nya, melompat dan menyerang Igneel. Namun apa yang dilakukannya hanya menggores dada hewan sihir itu, lantas luka itu menghilang perlahan. Rupanya naga api itu berkemampuan lebih, menyembuhkan lukanya sendiri. Naga itu bergerak lebih gesit. Cakarnya yang besar tajam menorehkan koyakan dalam di kulitnya. Aiden merintih. Darah birunya nyaris habis tercecer keluar. Rasa-rasanya ia tak sanggup berdiri.

“Aiden!!”

Aiden berbalik susah payah. Suara itu dikenalnya, sangat familiar. Satu sosok berlari ke arahnya dengan tergesa. “…White?”

White berhenti di sampingnya, berjongkok dan memeriksa keadaan. “Aiden, kamu terluka parah sekali.”

Aiden tersenyum lega. Tangannya terangkat, menyentuh pipi White. “Kamu masih hidup? Bagaimana bisa?“

Rona merah di dua pipi White tidak bisa disembunyikan. Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa kecupan Aiden lah yang menyadarkannya? Ia berpaling, menghindar dari tatapan Aiden. “Kita harus segera mengalahkannya, Aiden. Kamu masih bisa berdiri?” tanyanya, sembari membantu sahabatnya untuk tegak bersamanya.

“White, naga ini punya kekuatan healing wound. Aku berulang kali berusaha melukainya tapi gagal. Kali ini aku akan menebasnya tepat di jantungnya dan kamu harus menusuknya sebelum ia berhasil menyembuhkan dirinya.”

White mengangguk. Keduanya mulai bersiap menyerang. Aiden mencengkeram dua blade-nya kuat, mempertemukannya di depan dada. “Lepida anemou!” serunya, dan blade itu terbang melesat mengoyak sisik naga. Darah kehitaman menyembur keluar. Blade itu kembali ke tangan Aiden dan elf itu seketika runtuh.

White dengan cepat melompat. “Spathi fothia!” ringkingnya dalam bahasa Quendi, menghunuskan Rosarionnya tepat di jantung Igneel. Naga itu tumbang seketika.

Ia kembali menghampiri Aiden, hanya untuk dihentikan sebelum ia melangkah. Aiden merintih, sebelum kesadarannya menghilang, “White, pergilah. Ravenna menunggumu, bukan aku. Alfheim di tanganmu.”

.

Langkah White terhenti di puncak menara, tepat kala ia menemukan punggung Ravenna yang membelakangi. Ibu tirinya itu lantas berbalik dan tersenyum lebar padanya. Senyum mengerikan, dingin yang menjalar hingga ke tulang. “Wahh… lihat siapa yang datang… anakku tercinta, datang menemui ibunya.” Ravenna berjalan mendekat, terhenti di tengah ruangan, dan bertanya, “Snow White, seingatku kamu sudah kubunuh beberapa kali. Masih bebal saja kamu berani k. Ada apa kamu kemari?”

White memicingkan mata. Ia menggeram, “Diam kamu!”

“Wah wah… berani sekali kamu, menentang ibumu sendiri, Snow White?”

White tak menjawab. Ia mendesiskan mantra kuno dan mengacungkan Rosarion, “Diaschizoun to spathi fothia!” Pedangnya seketika mengeluarkan bara api di sekujurnya. Dihunuskannya dalam-dalam ke arah ibunya, tanpa ragu. Diyakininya itu mengakhiri segalanya.

Asap membumbung, mengaburkan pandangan. Tak berapa lama, White masih menunggu, dan Ravenna muncul dari balik kabut. Tertawa tanpa sedikitpun luka bersarang. “Hanya seperti itu kekuatanmu, White?”

Ravenna tak memperlihatkan perubahan mimik sedikitpun. Jemarinya menari, membentuk balok-balok es yang lantas meluncur maju menyerang Snow White. White berdiri kokoh di atas kakinya. Tak gentar. Balok-balok itu hancur berkeping sebelum mencapai tubuhnya. menyerpih jatuh. Baju sayap perinya melindunginya. Armor terkuat yang pernah diciptakan. “Tentu saja tidak, ibu.”

White mengerahkan segala kekuatannya pada Rosarion, segala mantra yang ia pelajari. Namun tak ada yang mampu memberikan goresan pada Ravenna. Ia terengah, nyaris habis energinya.

Ravenna hanya tertawa licik. “Jika kamu lupa, Snow White. Tulangku terbuat dari tulang yang membeku. Seranganmu tak berarti apa-apa bagiku. Ah, seharusnya aku tak perlu mengingatkanmu.” Ia memejamkan mata, mengumpulkan tenaga sihirnya. Seketika aura yang mencekam memenuhi gelanggang. Sekitarnya menghitam, mencekik hingga tak mampu bernafas. “Rasakan gelombang keputusasaan terdalam, Snow White! Kataigida apelpisias!

Seakan aura kehitaman itu berkumpul, menggerumbul di sekujur tubuh White. White belum sempat berpikir apapun untuk mempertahankan diri, kala badai itu dengan cepat menyedot energinya. “ARRGGHH!!”

“Setiap kekuatan memiliki energi negatif, namun tidak ada yang bisa mengalahkan emosi negatif manusia!” teriak Ravenna, terus mengeluarkan aura yang menakutkan. Riap rambutnya melayang, mataya berubah semerah darah. Wajah liciknya tampak berjuta kali lebih mengerikan.

“Emosi?!” ringking White. Kini ia tahu mengapa armor tak bisa melindunginya. Armor memang mampu melindunginya dari serangan fisik, tapi tidak serangan seperti ini. “ARRGGHH!!!!”

“Kesakitan… pederitaan… ketakutan… Rasakan Snow White!! Rasakan semuanya dalam kehancuran terdalam!”

Badai itu dengan cepat mengoyak kulit pias White, meluluhlantakkan tubuhnya. Ia hancur, ia tak mampu melawannya. Melawan penderitaan yang dengan paksa dicernanya. Teriakannya semakin tinggi, semakin menyedihkan. Memilukan. Kesakitan yang tak pernah dibayangkannya.

“Nyawa yang berputar, akan menghancurkan semua harapanmu.”

White kemudian tertawa. Tergelak seakan ada badut berkostum beraksi di depannya. Mungkin baginya, itu Ravenna. “Bodoh! Masa depan yang cerah menunggu kami, Ravenna! Hidup kami dipenuhi harapan indah tentang kebahagiaan! Perasaan seperti ini…” ia berhenti sejenak, menatap Ravenna dalam-dalam, “…hilang!!”

Ravenna terperanjat. Tak mungkin…

Waktu lengah dijadikan White sebuah kesempatan. Ia meraih Rosarionnya dan berlari ke arah ibu tirinya. Kakinya menyepak tanah dan melompat tinggi. Degan gesit ia menghunuskan pedangnya tepat di ubun kepala. Jauh, hingga masuk ke dalam tubuh Ravenna. “Jika aku tak bisa menghancurkanmu dari luar, maka aku akan menghancurkanmu dari dalam. Diaschizoun to spathi fothia!!!”

Rosarion sekali lagi mengeluarkan bara api di sepanjang besinya. Kali ini api itu berada langsung dalam tubuh Ravenna. Melelehkan tulang, melumat hingga handur. Ravenna tumbang seketika. Tak bernyawa.

White terduduk. Mimpinya baru dimulai.

.

***

 .

Iris kecoklatan Aiden membola. White di hadapannya tak lagi White yang menggunakan baju armor selutut dengan sebilah pedang Rosarion di pinggang. Bukan White yang selalu menguncir rambut tinggi-tinggi dan dengan bengis mencabut sayap peri. White di depannya adalah Sang Putri. Dengan gaun semata kaki dan parasan yang memikat. Kulitnya yang pias berkilau oleh sinar matahari, kontras dengan merah bibir tipisnya dan rambut hitam kelamnya yang tergerai.

Jantung Aiden jelas berdetum tak beraturan. Ia kehilangan nafasnya. “White?”

Snow White berbalik, lantas tersenyum. “Aiden?”

Aiden nyaris berbisik kala berkata, “Turunlah, peresmian tahtamu akan dimulai. Para sesepuh sudah menunggumu.”

“Ah, ya,” balas White, tersenyum lebar. Ia beranjak dari sisi jendela, menggamit jemari Aiden dan berjalan keluar kamarnya. “Aiden, apa tidak bisa upacaranya pakai baju biasa saja? Baju perangku kemarin juga bagus kan? Baju ini ribet sekali…” keluh White sembari melangkah.

Aiden tergelak, “White… kamu mau dipenggal para tetua?”

Bibir White mengerucut.

Mereka sampai di aula kastel. Aiden menggenggam jemari White kian kuat. Kepala White berjengit, mata mereka bersirobok. “Jadikan Alfheim menjadi tanah impian kita, White,” ucapnya. Diam-diam menyelipkan sesuatu di jari sang elfe.

Snow White berjalan anggun memasuki ruangan megah, lamat-lamat melangkah di karpet merah panjangnya. Terhubung dengan singgasana yang menantinya, beserta tugas mengembalikan tanah Alfheim yang hilang. Ia berhenti di depan seorang elf yang terlihat amat tua. Rambut di wajahnya menjuntai panjang, nyaris menutup perut. Jalannya tertatih mendekati Sang Putri. Tetua Alfheim itu memasangkan mahkota ratu kala White merunduk, lantas memberi jalan untuk ratu muda itu untuk naik ke tahtanya.

Mereka berpesta. Untuk awal yang baru. Untuk Alfheim. Untuk masa depan yang siap mereka ukir.

Diam-diam, Snow White membuka tangannya, menemukan sebuah cincin telah tersemat di jari manisnya. Di lingkarannya, tersemat sebuah kertas mungil yang diikat dengan tali.

Menikahlah denganku.

Aiden, sang ksatria. Prajurit muda berbakat penyelamat negeri tersenyum di ujung ruangan. Sang ratu hanya menyunggingkan sesimpul tawa ketika dua pasang mata itu bertemu.

Aiden sudah tahu jawabannya.

.

Footnote:

Sebenarnya sih nggak ada yang bisa di footnote-in, tapi ya sudahlah. mungkin ada penjelasan saya di atas yang kurang dipahami. yuks mari. 🙂

  • Elf (dan elfe) merupakan makhluk legenda yang muncul sebelum manusia. Memiliki telinga yang panjang, dengan tubuh yang tinggi. Biasa tinggal di tepi sungai, lebih senang menari dan bernyanyi.
  • Dwarf, juga makhluk di era yang sama dengan elf. memiliki tubuh yang pendek dengan rambut di wajah yang lebat. berkumpul di lembah dan hidup dengan menambang. Dikenal memiliki hubungan tidak baik dengan elf.
  • Alfheim, biasa dikenal sebagai Elven city, atau kota para elf tinggal.
  • Semua nama berasal dari bahasa Jerman, tempat mitologi ini berasal, sedangkan mantra diambil dari bahasa Latin.
  • Referensi diambil dari legendarium modern Tolkien, pencipta The Hobbit dan Lord of The Ring, game RPG Dragon and Dungeons, dan komik Le Ciel (Calista Takarai, 2003)

Author’s note:

Huaaaa!!! akhirnya saya bikin tulisan yang full fantasy! Oke, ini cerita adaptasi dari dongeng terkenal Snow White. Tapi tetep aja susyaaahh buat ditulis.
Enjoy!

PS: coach, ini saya jadiin satu sama tulisan turning point ya? ya ya? oke oke? *wink wink*

Advertisements

25 thoughts on “White, The Elf Princess

  1. Berasa ntn Snow White and The Huntsman. Tapi yg saya bayangkan Park Bom dan T.O.P. . Okeh mulai absurd pikiran gue.

  2. aaakkkk..
    beneran lgi baca ttg snowwhite tapi berbentuk elf yg punya kebenarian tinggi.. hihi..
    bgs dis…
    tp aidenny tw gk 2h sniw white bisa sadar gr2 ciuman.. 🙂
    cantik bgt white sdh jd ratu.. ><
    dtgg tulisan lainny dis..
    fighthing… 🙂

    • hhii… iyes iyes. another versiob od snow white. 😀
      nggak kak, sampe akhir aiden nya nggak tau kalo white bangun gegara dia. 🙂
      cantik banget lhoo white nyaa.
      makasih sudah membaca ya kak. 😉

  3. baru kemarin aku nonton snow white and the hustman, eh! ada versi yang kalo dibuat film lebih seru,
    ini ff fantasy pertama, tapi baguus,
    meskipun feelnya beda sama karya kaka yg lain, disini bahasanya lebih ringan ya, tapi rasanya alurnya cepet ka, atau aku yg baca buruburu gitu? hhe,
    ditunggu karya fantasy yang lain, 🙂

    • iya. ini bahasanya lebih ringan. fantasi gini kalo bahasanya kelewat berat malah nggak nyambung nanti. 🙂
      iya, ini memang alurnya agak cepat. krna ku memulainya dari tengah, pake alur campuran flashback dan maju. soo… maybe agak kecepetan. 😀
      makasih yaa.. 🙂

  4. bagus banget bangetaaaaan -_____-
    saking bagusnya sampe gapaham itu bahasa mana aja. ternyata bahasa jerman toh.
    sumpah, bagus bgt ide kamu. snow white dirangkum dalam versi yg berbeda, tp tetap dgn inti cerita yg sama 😀
    Tadi pas baca aku bayanginnya aiden itu donghae-_- (kan aiden nama baratnya donghae) wkwk gapapa kan thor?
    semuanya bagus, bahasamu pake sastra tingkat dewa sampe ada kata2 yg gak ngerti artinya wkwk *langsung buka kbbi*
    keep writing yaaa, ditunggu karya selanjutnya. kamu writer yg kreatif. bahasa jerman+bahasa latin digabung, trus ada referensi lain dr buku2 terjemahan *lirik note diatas* *kasih 5 jempol*
    ohiya, aku suka juga ff kamu yg sky-dragon. Tapi lupa udah commenting apa belum huhu #digampar
    Well, udah segitu aja, takut kepanjangan hehe (emang udah panjang sih komennya-_-)

    • terima kasih…^^
      gppa kok. itu emang saya bikinnya dengan karakter si donge. hhe..
      maaf ya kalo masih ketinggian.. maaf sekali… ;;___;;
      terima kasih untuk komplimennya kak.. ^^

      • nggaaaak ini bagus banget T^T tapi emang udah ciri khas kamu kalo bahasa penulisan ff nya kaya gitu. cakpe pokonya wehehe :3 keep writing ya adis’-‘)9

  5. Halo halo! Akhirnya aku bisa meninggalkan jejak di sini :3
    Aku baca ini jadi pengen rewatch the hobbit ;___; bayangin elf sama dwarf nya lancar banget xD
    Aku paling suka pas adegan berantemnya, mantra-mantranya oke punya! Cara Ravenna mati juga ih kok aku bayanginnya serem ya? ._.
    Soal diksi, meski ini tergolong ringan dari yang biasa kamu tulis, menurut aku cocok kok karena genre-nya fantasi. keren dis 😀

    • nisaaaaa!!! XD
      emang penjabaranku mirip ya sama the hobbits? ku belum nongton lho.. :)))
      trengkyu trengkyu.
      itu soalnya aku males mikir diksi sih. hhe.. 😀
      makasih uda baca ya nis. 🙂

  6. Ihhh… Kak addies bisa aja deh…
    Selalu ada aja yg manis, slalu ada ja yg beda, slalu ada ja yg cieeeeeee……:)
    Ini crita fantasy lagi..buat fantasy kan susah..tapi kakak bsa..Dua jempol deh…

  7. Halo Kaak~ Helmy here, udah lama ya gak main ke sini XD

    Oke, first, aku gak nyangka banget kalo Kak Adis bakal bikin cerita fantasy yang kaya begini. Tapi asli, ini bener-bener KEREN KEREN KEREN~ Aku jauh lebih suka Snow White versi kakak daripada yang asli, karena punya kakak lebih ‘fantasy’ menurutku hoho XD

    Udah, segitu aja komen rusuhku. Ngomong-ngomong, kakak jadi rada jarang nulis ya sepertinya, lagi sibuk kah?

    • halo helmy~! 🙂
      maaf lama balesnya.

      iya, ini nyoba2 aja sih. 🙂 ini modifikasi total dari karya klasik snow white sih yaa… kepengennya snow white as woman warrior gitu ceritanya.

      iya, sangat jarang nulis, sibuk banget sekarang. 😐
      terima kasih sudah membaca. ^^

  8. baru nemu ff ini sekarang aduh gubrak/? Yaampuuuuuun ini kereeeen uhh sumpah aku gak bisa ngomong saking bagus bgt. Bahasanya juga aku bisa ngerti, cuma pada mantra aja. Pas baca, waktu ada kalimat mantra pasti aku lafalin hehe. Suka banget idenya, dan juga aku emang suka sama cerita dg tema2 kaya gini. Dan klo boleh bilang, seandainya alurnya dilambatin dikiiiit aja ini bakal baaaguuus banget deh. Cuma menurut aku kok. Makasih yah kak udh bikin cerita ini, dan maaf klo komennya ga mutu hihi :DDD

    • Ya ampun, ff lama eikeee.. ><
      Sumpah aku malu banget ada yg bacaaaa. Mameeenn. 😂😂
      Aduh, mantra nya dilafalin pulaaaa. 😱😱
      Hhii. Iya, kamu bener kok. Emang cerita ini temponya terlalu cepat. Tapi apalah aku, pemalas yg males ngedit. Hahaha.
      Every comment is happiness for me kok dearest. :*
      Terima kasih sudah membaca, semoga betah membaca yg lain. Ehehe.

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s