Pertanyaan Terakhir

Sebuah reverse writing dari tulisan Frasa Kosong

.

Untuk pertanyaan yang terlontar dan jawaban yang kuutarakan, bibirku menjungkit perlahan.

“Pertanyaan penutup, Faye. Apa kamu bahagia menjadi istri keenam dari sembilan istri Tuan  Evan?”

Ya, sudah kusiapkan jawaban untuk sebuah pertanyaan terakhir. Sebuah pertanyaan klasik yang barang pasti membutuhkan reaksi yang klasik pula, yang memuaskan. 

Dasar!

Menyusahkan saja! Kau berhutang satu lemari Christian Louboutine padaku malam ini, bapak tua!

Hah! bapak tua tak tahu diri.

Mataku berputar, pada mereka yang menunggu sebuah drama. Pengakuan mencengangkan yang menghanyutkan. Isak tanpa henti bak sinetron tanpa mutu. Derai air mata menjulai pipi. Aku tahu, mereka pasti menanti. Semua menunggu apapun yang terlontar di bibirku. Alih-alih berceloteh, aku menciptakan efek hening ke seluruh penjuru studio. Aku terdiam.

Ironis sekali.

Semua ini bersumber dari orang tuaku haus akan gelimang dan kilauan yang terus mengucur. Dikiranya aku tak tahu, mereka hanya ingin mengeruk lebih. Berdalih untuk membalas budi baik karena pria itu telah menolong keluargaku dari kebangkrutan selama bertahun-tahun. Dengan sukarela menyodorkan tubuhku pada orang gila itu.

Ayah dan ibu yang tak tahu diri.

Aku menghela napas berat, memejamkan mata dengan khidmat. Pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab. Dan aku masih sering mempersoalkannya.

Kenapa? Kenapa harus aku yang menjadi tumbal? Kenapa harus aku yang ia pilih?

Kenapa harus aku?

Kenapa aku yang dipaksa menghabiskan separuh usiaku bersama pria bau tanah itu?!

Mana?! Mana yang mereka katakan takdir akan mengantarkanku pada jodoh yang akan kucintai?! Persetan dengan ‘percayalah pada Yang Di Atas’. Bualan omong kosong. Aku menertawakan nasib.

Seharusnya. Seharusnya aku tak menyetujui pernikahan konyol ini.

Seharusnya. Seharusnya aku lari saja dari neraka itu. Seharusnya aku menceraikannya sejak dulu.

Sekarang kau tahu betapa bodohnya aku?

Aku tak ubahnya boneka yang sumarah pada pemiliknya. Menerima perlakuannya. Aku pasrah.

Sesungguhnya, baru tadi malam ia menendang punggungku, memukuli kakiku, lantas mencumbuku bak binatang jalang. Pria bengis itu tak pernah memandangku sebagai manusia. Selalu. Selalu melontarkan kekesalannya padaku. Kali ini tepat membentuk telapak tangannya. Bekas membiru di pahaku yang kutilik dari sudut mata.

Sungguh berpaling seratus delapan puluh derajat dari apa yang terlontar. Frasa kosong tanpa berimbuh kenyataan. Bibirku begitu lihai mengungkap aksara manis.

Munafik.

Diam-diam, aku hanya meringis.

Dengan anggunnya aku menyilang kaki, memulas senyum di bibir merah mudaku. Disaksikan dengan bagitu banyak pasang mata, duduk mengitar di depan podium. Aku tak mengerti mengapa aku bisa sangat lantang mengucapkannya di hadapan Sanders, sang juru acara.

“Aku bahagia.”

.

Footnote:

Reverse writing atau double fiction adalah ketika cerita itu dibalik maka cerita itu akan tetap utuh serta tidak membingungkan saat dibaca. Jadi, ketika kamu membaca ini dari bawah ke atas, akan tetap menjadi satu cerita yang utuh dan memberikan sensasi yang berbeda.

Advertisements

15 thoughts on “Pertanyaan Terakhir

  1. Pingback: Frasa Kosong | dandelion notes

  2. Maksudku.. KEREN banget..
    N nya ketinggalan..
    Kak addies maaf di baca jadi gk enak.. Soorryy..bgt.. Aq bener kok aq jatuh cinta ma karya kakak

  3. reverse writing? aku baru kali ini baca cerita kaya gini,
    ini apik, dan seperti biasa bahasa kaka tetap berat, tapi enak dicerna,
    emosi si wanitanya tersampaikan, narasinya keren, mata aku juga ga nemu typo,
    sip lah,

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s