My Name is Ed

Kolaborasi bersama Jusmalia Oktaviani

Matahari bersinar terik, sekencang-kencangnya di titik tertingginya. Seharusnya sinarnya membakar kulit lelaki itu, yang telah berkerut karena terlalu lama terendam air laut. Namun angin dingin beraroma garam yang tak henti berembus kencang, serta air laut yang masih membasahi sebagian badan kurusnya membuat kulitnya mati rasa terhadap sengatan panas sang raja siang. Ia —lelaki itu—membuka mata. Berusaha mengembalikan seluruh kesadaran yang tadinya tiada. Ia menjilat bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Asin merajai indera perasanya. Perlahan tapi pasti, ia berusaha bergerak, mengangkat jemarinya, menggerakkan otot-otot lehernya yang terasa kaku.

Sudah berapa lama aku pingsan? pikirnya. Ia bingung, tapi tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Tak ada seorang pun yang bisa ia tanyai. Ia seorang diri.

Srek, srek. Suara tangan dan kakinya mengelus pasir pantai yang jernih bak kristal. Aw, ia meringis. Kulitnya terasa sakit tergesek pasir.

Kemudian lelaki itu tersadar. Ada hal yang penting yang juga harus ia ketahui. Ia tak tahu siapa dirinya. Aku siapa? Dan… ini dimana? Rentetan pertanyaan terus menghantuinya. Lelaki kurus itu telah terpisah dari ingatan akan identitasnya.

Ia merangsek susah payah. Hanya beberapa langkah, lantas rubuh. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Lelaki itu tergeletak begitu saja di hamparan pasir. Lengannya menelungkup matanya, meredam sinar yang lincah menelusup masuk korneanya.

Aku siapa? Siapa?

Sekonyong-konyong ada yang menusuk pipinya lembut. Lelaki itu membuka pelan sepasang kelopaknya. Di sampingnya seorang gadis kecil berjongkok. Dua kuncir mengikat habis rambutnya. Matanya kirana, dengan pipi bulat merona. Tangannya menggapit boneka beruang sewarna langit, tak beda dengan jutaan anak seusianya di seluruh dunia. Ia bertanya pelan, “Kamu… siapa?”

Lelaki itu hanya terkelu, lantas menggeleng. Seandainya ia bisa menjawabnya.

“Kamu…dari sana?” Si gadis kecil itu mengarahkan telunjuk tangannya yang bebas, merentangkan tangannya ke seberang samudra.

Lelaki itu menoleh mengarahkan kepalanya tepat ke telunjuk sang bocah. Matanya menyipit. Mencoba menyaring cahaya matahari yang dengan ganas memasuki iris matanya yang belum siap benar. Sebuah pulau, yang tampaknya tak terlalu jauh. Dada sang lelaki bergetar. Pulau itu terasa familiar, begitu tak asing baginya. Tapi mengapa? Apakah ia berasal dari sana? Ataukah itu tempat tinggalnya? Lagi-lagi dalam bisu ia bertanya pada kepalanya sendiri, yang tak mampu ia jawab juga. Maka lelaki itu hanya diam. Sementara gadis kecil itu masih memandangi sang lelaki dengan pandangan ingin tahu, terpancar dari kedua bola mata yang berbinar namun penuh lugu tanpa takut atau ragu.

“Aku, Lin.” Si gadis kecil memperkenalkan diri sambil menepuk dadanya sendiri, tersenyum lebar.

Sang lelaki balas menjungkit sudut bibir. Ia ingin sekali memperkenalkan dirinya pula, membalas sapaan gadis itu, namun ia sendiri tak punya nama saat ini. Matanya tiba-tiba tertumbuk pada boneka beruang yang tergelayut manja di lengan Lin. “Panggil aku, Ed,” baIasnya. Ia memotongnya secara asal saja dari nama Teddy Bear. memperkenalkan diri dengan suara seraknya, sambil menjabat tangan gadis itu.

Lin menyambut dengan gembira. “Ayo, ikut aku.” Lin menggamit tangan Ed, nama lelaki itu kini.

Sebenarnya Ed terlalu malas untuk berjalan sekarang. Ia merasa staminanya belum pulih benar. Tapi di tengah sebuah pulau antah-berantah, semua kemungkinan hidup bisa memperpanjang usianya. Dan diselamatkan oleh seorang gadis kecil adalah salah satu pilihan memperbesar peluang keluar dari pulau ini hidup-hidup. “Baiklah.”

Tertaih Ed mengekor langkah Lin, dengan jemari mereka yang saling menggenggam. Lin bersenandung lagu entah apa. Ed seperti pernah mendengarnya, tapi apa yang diharapkannya? Alih-alih menyebutkan judul lagu itu, namanya sendiri saja ia tak mampu mengingatnya.

“Ed, kamu sungguh datang dari laut?” tanya Lin lagi. Kau tahu, bocah itu sudah menanyakannya untuk kelima kali dalam sepuluh meter terakhir. Ed hanya berdeham mengiyakan. “Kamu ini… putri duyung ya? Eh, tapi putri duyung itu perempuan. Ed laki-laki… Jangan-jangan, kamu siluman air?”

Dahi Ed mengernyit, “Siluman air?”

Lin berbalik dan mengangguk cepat. “Kemarin aku baca komik. Ada siluman air. Ia datang tiba-tiba. Wooongg… woongg…” Lin menggerakkan lengannya berputar, menirukan pusaran angin beliung dan melanjutkan, “lalu melompat ke daratan. Ed, kamu seperti itu ya?”

Ed tergelak. “Mana mungkin, Lin?”

Mata Lin mengerjap dua kali. “Eh, bukan ya? Jadi kamu tidak akan memakanku, kan, Ed?” tanyanya yang hanya dijawab dengan gelengan kepala Ed. “Bunda bilang, aku tidak boleh dekat pantai. Nanti ada siluman air yang akan memakanku…”

Bunda?

“Lin! Kamu dari mana, nak?!”

Lin mengalihkan pandangangannya. Seorang ibu paruh baya memanggil Lin dari kejauhan. Rok panjangnya diangkat tinggi-tinggi, berlari mendekati mereka. “Bundaaaa!!”

Ed menaikkan satu alisnya, membaca plang di parasan bangunan. Panti Asuhan. “Lin, kamu tinggal di sini?”

Lin hanya memberikan anggukan kecil dan kemudian berlari menyongsong wanita itu. Wanita itu langsung menyematkan pelukan dan ciumannya pada Lin. “Kamu dari mana saja? Bunda cemas.”

“Maaf, Bunda,” Lin berkata lemah sambil menundukkan kepala. Wanita itu kemudian berkata sambil mengguncangkan bahu Lin, “Jangan lagi keluar menyelinap seperti itu tanpa izin. Kamu tahu ‘kan, apa yang Bunda khawatirkan? Nanti ada siluman air… ” Wanita itu berbisik saat menyebutkan kalimat terakhir.

Wanita itu akhirnya menoleh, seakan baru sadar akan kehadiran Ed di sana. “Kamu siapa?” Ia bertanya dengan nada penuh selidik. Wanita itu jelas-jelas mencurigai Ed. “Apa yang kamu lakukan pada Lin?”

“Aku… maaf… aku…” Ed terbata-bata menjawab. Mendadak kepalanya terasa pening. Fisiknya yang lemah dan panasnya mentari membuat ia tak kuat lagi. Kemudian suara bruak! yang lembut di atas pasir kembali terdengar. Tubuh Ed ambruk dan ia kembali kehilangan kesadaran.

Untuk kedua kalinya hari itu, Ed terbangun dalam keadaan mata berkunang. Pandangannya bersirobok dengan langit-langit sewarna tulang. Sedikit kabur dan perlahan menjernih. Ia bosan bertanya pada dirinya sendiri. Dimana ia kini berbaring, ia tak peduli.

“Kamu sudah bangun?”

Ed menggerakkan kepalanya pelan, bertumbuk pada wanita yang tadi menuduhnya. Dalam jarak sedekat itu, kerut di wajahnya nampak jelas. Mata serta senyumnya teduh. Wanita itu duduk di kursi samping ranjang Ed. “Kamu siapa?”

Sungguh, Ed lelah mendengarnya. Mendengar dari dirinya sendiri, dari Lin, kini dari wanita itu. “Aku tidak tahu,” jawabnya.

“Kamu datang dari mana? Pulau seberang?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat apapun, Nyonya.”

Wanita itu menghela nafas pelan. “Kamu tahu, sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku tidak mau bermasalah dengan orang asing, terlebih dari orang pulau seberang. Aku tak mengerti kenapa Lin begitu bandel, mendekati laut dan menantang bahaya. Padahal aku sudah menakutinya dengan cerita siluman itu,” keluhnya, menekan pelipisnya dengan jemari. “Terakhir mereka kemari, darah dagingku diciduk dan dijual paksa. Ia tak pernah kembali. Aku tak mau kehadiranmu memancing gerombolan laknat itu kemari.”

Ed terdiam mendengar pengakuan wanita itu. “Aku… turut sedih mendengarnya, Nyonya.” Suara Ed yang lirih terdengar tulus, membuat wanita itu tak tega. Ia sedikit melunak terhadap Ed. “Aku akan membuatkan makanan untukmu. Kamu bisa pergi dari sini saat tenagamu pulih.” Ia tersenyum tipis, kemudian beranjak dari sisi Ed.

Ed yang ditinggal sendiri kini memerhatikan ruangan tempatnya dibaringkan dengan saksama. Kamar biasa, dengan perabotan sederhana dan seadanya. Suara anak-anak yang ramai dari luar kamarnya membuat Ed melongok ke jendela. Belasan anak tak berorang tua bermain di pantai di bawah sana. Lin, penyelamatnya, juga tampak bercengkrama bersama anak-anak lainnya. Ed memandangi anak-anak itu bermain dengan lepasnya. Sebersit iri dan rindu tiba-tiba menelusup dalam batinnya. Ia ingin —sangat ingin— mengingat apa yang terjadi di masa lalunya.

Ed segera mengalihkan pandangan ke dalam kamar. Di salah satu bagian dinding ada foto gadis remaja yang menggandeng tangan wanita pemilik panti asuhan ini. Wajah wanita itu jauh lebih muda dari sebelumnya, membuat Ed berkesimpulan bahwa foto itu tampaknya diambil beberapa tahun silam. “Mungkinkah… ini anak wanita tadi…” Ia menggumam. Ed berkesimpulan dalam hatinya, mungkin panti asuhan ini didirikan wanita itu untuk mengobati luka hatinya karena kehilangan anak yang dicintainya.

Tapi mengapa begitu familiar? Wajah itu… tak asing di ingatannya. Bodoh, bahkan dia tak mampu menarik kembali ingatannya, lantas kini dia berceracau mengenal gadis itu. Ed menggelengkan kepala, menertawakan dirinya sendiri.

Ed berjalan pelan menuju cermin besar di hadapannya. Ia kaget, melihat luka dan memar tampak jelas di beberapa bagian tubuhnya. Ed memegang kepalanya yang terasa pening. Dan ternyata ada luka di sana. Ia memiringkan kepalanya, dan memerhatikan warna biru keunguan tampak di pelipisnya, dan juga bibirnya yang nyatanya sobek di bagian bawah. Pantas, rasa perih, sakit, dan ngilu sedari tadi ia rasakan di sekujur tubuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? pikir Ed heran. Namun keheranannya harus terputus dan tak berlangsung lama, saat suara keras menggelegar terdengar di luar sana.

Ed berlari keluar kamar susah payah. Seluruh tubuhnya menjerit, tak ia hiraukan. Tampak di hadapannya kini, plang Panti Asuhan itu terbelah dua, taman di halamannya luruh berantakan. Dinding depan berlubang besar. Nyaris runtuh. Asap keabuan membubung tinggi, menyekat pandangan. Anak-anak panti berhamburan masuk ke dalam rumah, diungsikan oleh para pengurus panti entah kemana. Lin meringkuk di balik meja tamu, wajahnya pasi, tubuhnya gemetar. Tangannya memeluk bonekanya erat dan menangis iam-iam.

Lelaki itu mendekati Lin, membelai riap rambutnya. Tangannya meraih tubuh Lin dan mendekapnya dalam-dalam. “Jangan takut, Lin. Aku melindungimu,” bisiknya. Ed mengangkat tubuh Lin dengan dua tangannya, hendak ikut berlari menghindar.

“Oh my… lihat siapa yang aku temui di sini. Jack!”

Panggilan itu tak ditujukan untuknya. Namun entah mengapa, ia berhenti dan berbalik. Mencari sumber suara. Satu alisnya berjengit. Pria kekar dengan wajah garang mengulaskan senyum puas kepadanya. Kulitnya kehitaman, terlalu sering terpanggang matahari. Dua lengannya merekah, seakan menyambut Ed dengan lapang.

“Jack, oh Jack… aku memang tak perlu meragukan kesetiaanmu. Kamu memang prajurit kebanggaanku. Lihatlah, aku sudah membuangmu karena kamu mulai mengganggu dengan halusinasi bodohmu. Apa namanya? Nurani? Tapi ternyata… kamu kemari dan mempersembahkan kacung empuk untukku,” ujarnya, sembari menatap Lin penuh minat. Dan tentunya dengan niat tak baik. “Aku bangga padamu, Jack!”

Ed mengerutkan alisnya. Tak mengerti sama sekali dengan perkataan si pria garang di hadapannya. Sementara Lin yang ketakutan mengeratkan peluknya pada tubuh Ed. Ed bisa merasakan debar jantung ketakutan anak itu. Ed pun merasakan hal yang sama terhadap lelaki itu. Ia sangat takut. Namun ia tak ingin menunjukkan ketakutannya pada lelaki yang terlihat sangat berbahaya itu, karena lelaki ini sepertinya mengenalnya dengan baik, dan mungkin bisa menceritakan sedikit tentang dirinya, identitasnya yang sesungguhnya. “Bangga… padaku…?” tanya Ed.

Lelaki itu terlihat sedikit jengkel. “Kamu bertingkah aneh, Jack. Ya tentu, aku bangga padamu! Dengan begini, kamu bisa menebus pengkhianatanmu yang sudah-sudah itu!” Lelaki itu memicingkan mata, menatap Lin dengan wajah penuh nafsu, seakan Lin adalah harta berharga bak emas dan perak. Lin membenamkan wajahnya yang telah basah oleh air mata di bahu Ed.

“Kamu mau apa?” Ed bertanya saat lelaki itu dengan cepat berjalan ke arah Ed, hendak merebut Lin dari tangan Ed. Ed bergerak mundur menjauh, tangannya yang bebas berusaha menghalau lelaki itu.

“Tentu saja mengambil gadis kecil di tanganmu itu. Kenapa kamu jadi begitu idiot, Jack?” Lelaki itu mengeluh dengan wajah kesal.

“Jangan!” teriak Ed. Ia berlari menghindar. Namun satu tembakan meletus dari senapan pria sangar itu, menembus tungkai kanannya. “Aaakkh!!” Lenguhnya seketika. Ed limbung, berusaha keras menopang tubuhnya. Kakinya merangsek, masih berusaha menjauh. Satu tembakan lagi melecut paha di kaki yang sama, dan Ed terjatuh.

Lin tertimbun di bawahnya, meski tak tertindih. Ed masih berusaha melindungi Lin. “Ed…? Kamu tidak apa-apa?” cicit Lin khawatir. Air mata menghambur di pipinya, basah hingga di tangan mungilnya.

Ed hendak menjawab, namun urung. Rambutnya dicengkeram, hingga kepalanya mau tak mau menengadah. Tawa pria sangar yang sama menggelegar, berdiri jumawa di hadapan Ed yang tersungkur.

“Jack, oh Jack… Ini seperti deja vu ya. Kita pernah mengalami hal ini kan?” sindirnya. “Kamu jatuh cinta pada kacungmu sendiri, dan berusaha membebaskannya. Berapa peluru di kakimu waktu itu yang kutembakkan? Berapa orang yang menendangmu waktu itu?”

Ed nyaris ditinggalkan kesadarannya. Ia tak bergeming.

“Kamu benar-benar menyusahkan!”

Sepotong memori yang acak berdatangan di kepala Ed. Terbayang berbagai gambar yang muncul di kepalanya, memenuhi otaknya. Ia melihat dirinya sendiri akrab dengan lelaki itu. Dirinya yang membawa senapan, menyerang rumah-rumah orang di sekitar markas mereka. Dirinya yang tertawa saat menembaki orang-orang tak berdosa dan merampok mereka. Wanita dan anak-anak yang kadang mereka culik. Untuk dijual atau mereka nikmati sendiri. Ed bagai dihantam saat sadar bahwa ia bagian dari mereka, organisasi kriminal yang telah jadi keluarganya.

Ya, ia adalah penjahat, tak diragukan lagi. Sampai beberapa waktu lalu ia jatuh hati pada wanita yang menjadi sandera mereka. Wanita dengan senyum terindah yang ia tahu. Wanita yang sama dengan figur di foto kamarnya siang tadi.

Nurani yang dulunya buta kini terbuka. Pengkhianatan pun dilakukannya. Ia menentang rencana mereka menyerang pulau ini untuk menculik lebih banyak anak lagi, serta berusaha membawa wanita itu kabur bersamanya. Meski demikian, rencana itu gagal. Darah wanita itu tertumpah, dan ia sendiri mati-matian menyelamatkan diri. Hingga akhirnya terdampar di pulau ini, ditemukan oleh Lin.

Ed tak sudi kembali pada jurang yang sama, pun tak berharap pulau ini mengalami kepahitan yang berulang. Lelaki itu meludah, mengarahkannya tepat di wajah sang pimpinan organisasi. Mantan kepalanya itu seketika meraung marah. Pria itu hendak menembak tepat pelipis Ed, sebelum kemudian ada suara dentuman keras menghantam ubun kepalanya. Ia tersungkur seketika.

Hanya dalam beberapa kerjap, segala hal terjadi. Begitu cepat. Ketika Ed menengadah, dilihatnya wanita pemilik panti dengan gemetar mencengkeram balok kayu. Saat itulah ia mengerti, bagaimana pimpinan penjahat itu terpisah dengan kesadarannya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya panik. Lebih karena ia tak percaya bila baru saja menghabisi nyawa seseorang.

Ed mengangguk lemah. Namun dengan cepat ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia bisa saja ikut berlari, namun petarung sepertinya tidak akan berlari. Ia harus mengahiri kejahatan berlapis ini. “Cepat bawa Lin pergi dari sini.”

“Dan kamu?”

“Saya…” Ed bingung menjawabnya. “…akan menyusul.” Ia tersenyum tipis. Ia mungkin tidak akan kembali, namun ia tak mungkin mengatakannya dengan gamblang, bukan?

Wanita itu segera menggendong Lin dan berlari menjauhi bangunan. Sementara Ed, mencoba bangun dan mengambil pistol di tangan mantan pimpinannya. Orang mati tidak membutuhkan pistol bersamanya. Ia meletuskan peluru sekali, tepat di jantung pria itu. Memastikan tak ada nafas yang tertinggal.

Kali ini, semua akan berakhir, pikirnya.

Ed merogoh ceruk di onggok jasad pimpinannya. Mencari sesuatu. Seharusnya dia membawanya. Harusnya ada di sakunya, pikirnya mengingat ingatan rapuhnya.

Ia menemukannya. Menemukan apa yang dia inginkan. Lantas berlari, bersembunyi di balik pintu. Menanti seorang cecenguk mereka masuk dan menemukan bos besarnya tergeletak di lantai.

Tak usah berhitung kelewat lama, tangan kanannya datang dan melihat sosok tersebut. Ed telah mereka kejadian selanjutnya. Pria cungkring dengan kulit kelam itu menggoyahkan mayat pemimpinnya. Mimiknya syok, nyaris tak percaya. Histeris ia meraung, “Bos!! Bos!!! Bangun!!” Ringkingnya menarik kawanan yang lain menghambur dalam bangunan panti. Tak ada yang tersisa di luar, semua berkerubung bak lalat.

Inilah yang Ed tunggu. Ia melepas penutup granat berskala kecil yang ditemunya, menggelindingkannya diam-diam mendekati kerumunan. Bibirnya menyeringai, setelah ini… berakhir sudah. Ed mulai menghitung mundur. Tiga, dua, satu…

BBOOOMM!!

.

“Ed, kupikir kamu akan…” Wanita pemilik panti asuhan itu terkejut, menatap Ed yang tiba-tiba muncul di balik karang tempat mereka menyembunyikan diri. Wanita itu beserta anak-anak dan pengurus panti yang lain sedang bersembunyi di sebuah tonjolan karang yang besar, yang membentuk cekungan seperti gua di bagian lain pulau.

“Kamu tidak apa-apa?” Lin berlari menyambut Ed dan memeluk laki-laki itu. “Ah, aku baik-baik saja, Lin,” sahut Ed sambil membalas pelukan gadis kecil itu.

“Ed, aku… aku pikir… kamu akan… yah, tidak akan hidup lagi. Seakan-akan kata-katamu tadi…menyiratkan demikian.” Wanita itu kini tak mampu menahan rasa keingintahuannya. “Aku pikir kamu akan… bunuh diri…” Ia mengucapkan kalimat itu dengan perasaan tak nyaman. Sesekali melirik puing bangunannya yang melebur. Menyatu dengan tanah, samar oleh bubungan debu.

Ed memangkas dugaan-dugaan. “Saya sadar, bahwa saya bisa melakukan hal lain yang lebih berguna, menebus dosa saya dengan berbuat kebaikan, daripada menghabisi nyawa saya sendiri.”

Wanita itu mengangguk-angguk.

“Oleh karena itu, saya ingin bekerja di panti asuhan asuhan Nyonya. Saya ingin memulai hidup baru di sini. Saya ingin jadi bagian dari keluarga besar ini. Berapa pun gaji yang Nyonya berikan pada saya, saya akan terima,” kata Ed.

“Baiklah, lagipula kamu pasti tak punya tempat lagi untuk pulang, kan?” Sang pemilik menjawab dengan ramah. “Ah, jadi kami harus memanggilmu seperti apa? Bukankah nama aslimu Jack?”

“Nama saya Ed, Nyonya. Nama ‘Jack’ adalah masa lalu saya, dan sudah saya anggap tiada.” Ed menyahut sambil tersenyum lebar, membayangkan kehidupan sederhana namun bahagia yang ia dan gadis di ingatannya impikan selama ini.

Advertisements

10 thoughts on “My Name is Ed

  1. as I said a couple days ago…… entah kenapa jadi kepikiran Ed yang bakal berlanjut dengan Lin /abaikan lol
    hahaha aku menikmati cerita ini dari awal sampe akhir, ceritanya emang simple, tapi gatau harus berapa kali bilang… pembawaan di cerita ini asik banget. hehe bacanya enak, diksinya pas; gak tinggi dan gak ringan 🙂

    • niss… tulung… -___-”
      aku sih merasa cerita ni terlwat simple. tapi seperti yang kamu bilang, itu tugas writer untuk mengolah yang simple jadi asik. semoga aku berhasil ya.. hhii..
      makasih sudah membaca, nisa.. 🙂

  2. wah suka bnget baca tulisan adis kl duet am Jusmalia Oktaviani,.
    sering pake tema2 yg gk biasa,..
    hihi,..
    nmny ed gara2 beruang teddy, msh bsa mikir jg si jack saat amnesia /plak/
    gr2 Lin ingetanny kebuka ya,..
    thanks to lin deh,.
    oh, nasib kekasih Ed udah ninggal ya?
    lanjuut baca yg lain,.. 🙂

    • hhii… saya juga suka duet sama kak Lia. 😀
      itu kan cuma pemikiran cepat kak. iya, thanks to Lin ya.iya, kekasihnya meninggal ceritanya.
      makasih kak sudah baca. 😀

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s