Narnia

Narnia menyeburkan tubuhnya dalam bath up. Terkelu. Air dingin dari shower menghantam ubunnya keras, tak berjeda. Ia masih tercenung. Menatap kosong rintik yang bergelayut di riap rambutnya, dan terjerembap bersama genangan yang menyelimuti raganya.

Ia mengganjur batang sabun di ujung bak. Mulanya busa yang timbul laiknya rintik hujan, seiring dengan gerakan memutarnya yang lembut. Lantas kilasan peristiwa sore itu berkelebat. Seperti DVD player usang, ingatannya berjalan. Mulanya lambat, namun kemudian semakin cepat. Kadang berjeda sejenak, terputar balik. Lantas terpelintir maju. Hingga akhirnya berhenti. Mandek. Berulang di adegan yang sama.

Muak. Narnia sungguh ingin muntah. Memuntahkan otaknya.

Ia menggosok kulitnya semakin bengis, tak peduli dengan ruam yang menyebar di sekujurnya. Sabunnya mencapai buah dadanya. Menyikatnya hingga nyaris membiru.

Keparat!! Semua pria sama saja. Semua tak tahu malu. Tak tahu diuntung!

Narnia menenggelamkan sekujur tubuhnya. Beberapa lama ia menahan udara dalam peparu. Satu menit, dua menit, tiga menit. Kepalanya mencuat dengan nafas terengah.

Mengapa tubuhnya masih tetap sama. Ia tidak mau memiliki tubuh ini. Ia ingin melelangnya, membuangnya jika perlu!

Kakinya menjejak ubin lembab. Dinginnya menghujam saraf di telapak kakinya. Matanya tertumbuk pada siluet tubuhnya di cermin wastafel. Ia menelisik wajahnya mungil, hidung bagir dan bentuk mata agak sayu. Bibirnya tipis, dengan lesung di dua sisinya. Payudaranya sedikit menggantung, ukurannya acapkali mengundang lirikan iri wanita lain. Para kuli di televisi itu mengistilahkan tubuhnya bak gitar Spanyol. Pinggangnya yang ramping, beserta perut rata. Lengannya padat, pun dengan kaki jenjangnya.

Namun Narnia membencinya. Sama seperti ia membenci pacarnya.

Ia tertawa. Menertawakan hidupnya. Ia pikir hidupnya adalah sebuah neverland yang hilang. Ia tak pernah begitu mempercayai orang lain seperti ia mempercayai kekasihnya. Pria itu membawanya pada dunia penuh mekarnya kembang, dengan wangi mengalahkan Armani. Karpet hijau rerumputan dengan senandung burung mungil di celah dahan pohon. Raja siang mengintip malu-malu di balik salju langit. Begitu indah.

Harusnya ia tak terlena. Karena hujan yang menyerbu, menghantam tamannya hingga tumbang. Hujan mengundang pusaran lumpur dan menyapu padangnya. Dalam sekejap mata, semuanya berubah.

Bajingan!! Pria itu sama saja!! Sama saja dengan yang sebelum-sebelumnya, mantan sahabatnya waktu sekolah, atasannya, ayahnya. Mereka semua sama saja!

Tukang perkosa! Hidung belang tak punya malu! Nafsunya pada kelamin saja! Binatang!

Ia meraih belati dan melemparkannya ke arah cermin.

Tuhan! Aku tidak mau kelaminku!!!

Advertisements

14 thoughts on “Narnia

  1. Tak diragukan lagi, tiap tulisan adiez selalu kaya diksi. Alegori, simile, personifikasi, metafora? Bertekuk lutut di pilihan-pilihan diksi sekeren itu 🙂

  2. suka tema2 kyk gini,.. /plak/
    kkkkk,..
    seharusny narnia belajar ilmu beladiri biar gk d’perlakukan seenak oleh pria2 hidung belang i2,..
    kkkkk,..
    Tuhan! Aku tidak mau kelaminku!!! >>> jd narnia mw ganti kelamin nih,.. /plak/ >>> abaikan
    ngerti kok mksdny,.. hihi,.. 🙂

    • hhii.. suka tema menantang begini kak? :)))
      iya tuh nggak tau kenapa nggak belajar mempertahankan diri. mungkin udah belajar kak. tapi yang namanya kecewa kan tetep ada. 😦
      hha… narnia mau operasi kelamin sepertinya. :p

  3. caelah kaa, diksimu, parah, keren,
    tapi ini narnia, cantik versi rugi ya,
    kan leala versi beruntungnya,
    (padahal sama, tapi sudut pandang mereka berbeda, jadi beda juga hidupnya) ckckck..

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s