Bukan Cinta Pertama

Dia bukan cinta pertama.

Cinta pertama mungkin adalah seorang handai dari kelas yang sama kala sekolah dasar, yang malu-malu menyelipkan surat cinta diantara jemari. Cinta pertama mungkin berupa kawan tambun bergaya hip-hop ketika sekolah menengah. Cinta pertama mungkin pria tanggung di seberang rumah, menjulang bak tiang bendera yang menyumpal senja dengan senda ringan di pelipir jalan raya.

Dia bukan cinta pertama.

Tapi dia adalah yang pertama, yang mengajarkanku bagaimana sesungguhnya cinta.

.

Dia duduk di sampingku, memainkan tablet miliknya, sementara aku tenggelam dalam lautan pemikiran. Kami menunggu dokter pembimbing tugas akhirku. Atau lebih tepatnya, dia menemaniku menunggu beliau yang terhormat kembali ke kantornya dari makan siang.

“Hey, kamu kenapa?” dia memecah keheningan.

Aku menatapnya bingung, “Hmm?”

“Kamu…” dia menunjukku, mengulang pertanyaannya, “Kenapa?” Hening yang menghujam memaksanya menerka seadanya. “Win lagi?”

Dia menyebutkan seseorang yang pernah kukenal. Aku tengulas senyum tipis, “Udah selesai kok masalahnya.”

“Terus?” kejarnya ingin tahu. “Kenapa ya ceweknya cemburunya begitu banget?”

Aku tergelak. “Ya mbuh, mas.”

 .

Kupikir —menilik  sesekali pria dewasa yang kembali mengutik gadget miliknya— hidup selalu memiliki caranya sendiri untuk menciptakan kospirasi. Bagaimana nyaris tujuh tahun aku mengenalnya, dengan segala liku yang terlewati. Kami pernah sekali memiliki kisah, kami pernah saling memunggungi, kami pernah saling canggung menatap. Ya, kami pernah.

Lucu adalah bagaimana seseorang yang dekat denganmu, bisa menjadi orang asing. Pun bagaimana seorang yang asing bisa memiliki arti yang tak berbatas di waktu yang lain.

Kurang lebih, begitu aku menafsirkan bagaimana kami.

Hidupku tak sedramatis para penulis skenario drama picisan di stasiun televisi swasta. Kami tak bertemu karena perjodohan orang tua, atau musuh yang lambat laun melumat benci. Kami hanya sepasang wayang yang bertumbuk dengan cara yang biasa.

Kami bertemu di perpustakaan kota. Dia meminjam buku Harry Potter edisi terbaru dariku, lantas berjanji untuk mengembalikan. Pada awalnya, dia hanya satu lelaki tanggung yang membuatku penasaran hingga mampus karena sikap tak acuhnya. Aku menawarkan pertemanan, hingga setahun kemudian dia memberikan perasaannya.

Semenjak kami masih menempuh usia belasan, dia tak pernah berhenti membuatku kagum. Di usia belia, kami belajar untuk menghargai prinsip masing-masing. Kami belajar untuk berkorban, kami belajar untuk membatasi diri. Kami belajar untuk jujur. Kami belajar untuk saling percaya.

Sebagaimana aku tak mencemburuinya dengan sahabat-sahabatnya, begitupun dia berlaku denganku dan lingkunganku. Dia tak memprotes bagaimana aku menghabiskan malam mingguku dengan teman-temanku di kota, sedang ia hanya berdiam di rumah. Oh yeah, we were like a North Pole and South Pole of earth. So different.

Di masa kini, dia hanya menggoda kebiasaan lama yang kutinggalkan dengan pertanyaan retoris, “Kamu sekarang beda ya?”

“Maksudnya?” tanyaku balik.

Dia mengedikkan bahu dan terkekeh, “Dulu kamu sukanya keluar mulu. Sama gengmu itu.”

Aku mencibir.

.

Aku memutuskan untuk menjauh setelah aku memutuskan hubungan kami sepihak. Namun dia menemukanku. Dia meyakinkanku untuk memulai kembali. Tidak pada kondisi yang pernah terlewati, dia menawarkan persahabatan.

Untuk kesekian kalinya, dia mengajarkanku. Dia mangajarkanku bagaimana sesungguhnya cinta berbentuk. Mengajarkanku bagaimana seharusnya manusia bertumbuh.

Dia mengajarkanku untuk mengikhlaskan. Ketika ikhlas didefinisikan sebagai merelakan suatu hal tanpa ada lagi pertanyaan mengapa dan bagaimana, dia melakukannya.

.

Pada satu titik dalam hidupku, aku mempercayai bahwa diriku bukanlah sosok perempuan yang baik. Aku bukan perempuan pada umumnya yang lihai mengatur bibir, menata polah. Sebaliknya, aku percaya, ada banyak hal dalam diriku yang selaras dengan pelacur.

Aku melacur. Aku tak tahu bagaimana caraku ‘menjual’ diriku sejatinya, jika kamu bertanya padaku. Mungkin dengan menerima mereka tiap kali mereka berkesah. Mungkin dengan mengiyakan ajakan keluar cari makan di pujasera. Mungkin saja.

Namun, pada kenyataannya, banyak wanita menuduhku merebut pasangannya. Beberapa menghujamku dengan tuduhan tak berdasar. Beberapa memilih untuk menikam dari belakang. Beberapa, mencoba merendahkan diri sendiri. Mengancam bunuh diri misalnya.

Yeah, I am a whore unconditionally.

Pada satu titik yang sama, aku tidak mempercayai siapapun. Lantas, pada titik yang serupa, dia berdiri, meyakinkanku. Dia meyakinkanku, bahwa dia menerimaku, bagaimanapun aku.

“Why you still care to me? I’m not that pretty, ya know. Even I’ve acted like a bitch,” tanyaku padanya suatu ketika. Kala itu aku hanya mengatakan via Line di tengah malam. Menindak lanjuti serius pembicaraan ringan kami sebelumnya.

Dia mungkin mengernyitkan dahi di kamarnya, atau terperanjat. Atau… entahlah. Dia hanya menyergahku dengan pertanyaan, “Kamu ini kenapa sih? Kemana kamu yang aku kenal?

Kemana aku yang dia kenal? Aku tak tahu. Mungkin menyerpih lantas memudar.

Layarku mengerling lagi. Dia menuliskan beberapa kalimat, “Remember, setiap orang itu punya kelebihannya masing-masing. Dan aku menerima kamu apa adanya. Stop saying like that.”

Aku terkelu.

Yang dia tidak tahu adalah, dia berhasil meluruhkan genangan di pelupukku. Funny enough, even a whore could cry for a reason.

“Thanks,” pungkasku pada hari yang diam-diam berganti, padanya.

Untuk apa?

Sesungguhnya banyak hal yang ingin kuucapkan padanya. Terima kasih untuk membiarkan masa lalu kita tetap berdiam dengan indah, tak terkoyak. Terima kasih untuk berlapang dada atas segala luka yang kutorehkan. Terima kasih untuk bersabar dengan sikapku yang mendingin. Terima kasih untuk usaha tanpa lelah untuk meluruhkan bentengku. Terima kasih untuk tetap berdiam di tempat yang sama. Terima kasih untuk tidak meninggalkanku sendiri. Terima kasih untuk…

Kembali,” jawabku. Ya, dari sejuta terima kasih yang tak pernah terucap, yang paling kusyukuri hingga saat ini adalah, dia kembali. He came back to me is the greatest present from an ex-boyfriend do. He can ignore me, abandon me, curse me, or anything. However, he chose to forgive our past and made a new start.

“Thanks juga, karena udah menerimaku kembali.”

Aku tersenyum. “Yes.”

.

“Oh aku ingat!”

Aku menengadahkan wajahku, menatapnya. Segala ingatanku atas masa lalu yang tak berpihak padanya, perlahan menguar. Berganti dengan pertanyaan yang mendesak. “Apa?”

Dia menyeringai, “Kayaknya dulu ada cewek yang nangis minta dianterin ke Malang, gara-gara kameranya rusak.”

Aku membeliak. DIa mulai mengungkit masa lalu memalukan yang kubenci sampai mati! Aku paling malas mengingat aku pernah lemah di matanya. Air mata adalah hal tabu untukku untuk diperlihatkan. I’ve known being a strong woman.

“Lalala!” nyanyiku nyaring, berusaha mengalihkan perhatian.

“Nangis ngerengek-ngerengek pula.”

Mataku memicingkan mata, dan mendesis sebal, “Diem!”

tumblr_mji9xmpC2I1rh1wv4o1_400

 .

Author’s note:

  • Hard to write, but finally it’s done. I’ve tried to make it beautifully, since he is mean so much for me, although we are not together now. Somehow, I want to show if he changed me a lot.
  • Beberapa part tidak bisa saya tulis dengan baik. Entah kenapa. Mungkin lain kali saya akan memperbaikinya. Mungkin juga tidak. Haha!
  • Sebenernya saya berharap dia tidak membaca ini, tapi kalau semisal dia baca… mari berharap dia tidak menggoda saya waktu saya keluar dengannya. As far as I know, he followed my blog. Le sigh.
  • Thanks for reading! Please leave your comments and critics below.
Advertisements

41 thoughts on “Bukan Cinta Pertama

  1. wuaahh indah banget, aku paling suka kalimat ini “Kami hanya sepasang wayang yang bertumbuk dengan cara yang biasa.”, walaupun gak terlalu ngerti tapi suka aja hihihi, salam kenal 😀

  2. “Kupikir —menilik sesekali pria dewasa yang kembali mengutik gadget miliknya— hidup selalu memiliki caranya sendiri untuk menciptakan kospirasi.”
    kak, saya agak bingung sama kalimatnya. Terus bukannya kospirasi itu konspirasi yak?
    well, iya kak.. ada beberapa part yang nggak sebagus part-part awal. tapi overall saya suka. Sweet 😉

    • err… saya juga bingung, kamu bingung bagian mana ya? jadi maksudnya, si aku ini memikirkan hidup sll menciptakan konspirasi bersama pria itu. semacam itu deh.
      err… itu typo aja sih. hhii..
      maaf yaa… saya agak kagok sih ulis ini. kalo ada mood saya perbaiki deh. nggak janji juga sih tapi/ /diinjek/
      makasiihh..

  3. Hai, Kak. Aku pendatang baru. 😀 Tapi semua tulisan-tulisan Kakak sudah rampung aku baca. Dan untuk cerita yang satu ini, seperti biasa selalu bisa menyentuh. Kata-katanya selalu punya makna yang kuat. 😀 😀 😀

    Blog ku katakan-pada-bintang.blogspot.com
    Aku bakal terus latihan nulis supaya bisa sebagus Kakak. 😀

  4. Tulisan kakak nyentuh hati..:)
    kakak kaya’ berhasil menyuarakan hati pengguna ‘cinta biasa’..
    😀
    skrng-kan lagi nge-tren-nya benci jadi cinta, lo gx g2 nikah kontrak lama2 suka..
    Lanjut yang lain ya onn..
    Yang lebih nyentuh+so sweet kayak biasanya…*ngarep*

  5. Pertama aku ngeliat judulnya ya dis, dalem hati aku tuh bilang: “Cie adis, cieeeehh” hahahaha dan sekali lagi aku harus bilang CIEHHHH ADIIISSSS!!!

    Ah, terlalu banyak perasaan yang masuk dis. Aku sampe gak tau mau bilang apa (ya kecuali ‘cie’ itu) aku baca ini baru inget pas abis ngomongin spa di twitter *dezzingghh* hahaha
    Dan…ah ya, ini bukan fiksi..this is…real right? Enak ya ada seseorang yang bisa di tulis dalam sebuah cerita. Ya, kalo aku mah nulis tentang persahabatan dan sama keluarga dan…eumm ya ‘seseorang’ di masa lalu mungkin. Ya lalalalalmamamamalalalala gatau juga hahaha

    Tapi emang sih susah ya nulis cerita pribadi, tapi ya memang ini semacam curhat gitu hahaha curhat yang so sweet tentang cinta-cintaan gituuhh >.< aduh gabisa komen banyak deh dis. you have a sweet story dan biarlah orang yg kamu tulis disitu ngebaca ini hahaha 🙂

    Mmm…apalagi ya, aku cuma bisa komen gitu dis, karena aku gabiasa ngomentarin diari(?) orang hahahaha

    Oh iya aku kan janjinya mau komen 'daebak nih' doang, kenapa jadi segini, eyy tapi ada part favoritku nih:
    " Lucu adalah bagaimana seseorang yang dekat
    denganmu, bisa menjadi orang asing. Pun
    bagaimana seorang yang asing bisa memiliki
    arti yang tak berbatas di waktu yang lain."

    Euww, because it happens to me…too. Lol 🙂

    Nice story dis! 🙂

    • bentar, aku mau bales komen dira dulu. CIEEEEE DIRAAAA!!! :))))
      gppa kok dir. nyante aja sik.
      terlalu banyak perasaan gimana? orang begitu doangs.
      err… ya begitu deh. ini juga seseorang di masa lalu kok dir. kayak ‘seseorang’ kamu ituh. hhaa..
      aduh tulisan aku di-quote.. ><
      it can happen to everyone sih dir. hhe..

  6. “Konspirasi” sesuatu hal yang alam buat untuk menunjukkan “Kedigdayaannya” sesuatu hal yang sering membuat orang tidak paham akan adanya factor “X” dan terkadang orang malas untuk membicarakannya

    Nice story very-very nice story next time just write a book 😀

  7. Well, the best story sometimes was written from a very deep experience that the author has. :p

    Well, one sentence that I really remember from Dee’s book: “if everything has been written, so why we worry?” :p

    Mas masih dan tetap selalu suka cara kamu menulis semua. 😉

    • somehow I still don’t think this is my best story I ever write. ‘though this is my deep experience. hhe.. 😀
      aduh, kalo yg muji ini coach bisa2 helm saya gak muat. hhe..
      terima kasih mas.. 🙂

  8. Bahahaha. Akhirnya bisa menapakan kaki di sebuah cerita yang berujung curcol di WA tempo hari (atau malah berminggu-minggu lalu)
    Um apa ya? Sebenernya sih ke sini cuma pengen cek si pria itu Dis akakakakak *kabur*

  9. Ceritanya menyentuh..
    Di tengah2 rasanya pengen nangis, cengeng :’)
    Postingan eonni bikin aku punya semangat baru 😀
    Daebak eonni.. 🙂

    oh ya, salam kenal. Nadia here ^^

  10. bgs dis, kisah yg manis plus gaya penulisan kamu yg penuh diksi2 cantik,.
    jd, bacany ehm ikut tersenyum dgn kisahmu,..
    aah, sm kyk dira aku jg suka kata2,..
    Lucu adalah bagaimana seseorang yang dekat denganmu, bisa menjadi orang asing. Pun bagaimana seorang yang asing bisa memiliki arti yang tak berbatas di waktu yang lain.
    bnyk makna tersirat,..
    scene terakhir i2 bwt nih cerita jd plus,..
    ehm, kykny kk’ udah tw si cow i2,.
    kkkkk,.. *kabur
    ok, d’tgg karya lainny,..
    fighthing,.. 🙂
    -kim hyura-

    • terima kasih kak. 😀
      bukan banyak makna sih kak, lebih aku yang tidak bisa menyuratkan apa yang tersirat. terlalu melimpah ruah.
      scene terakhir itu semacam… balik ke masa sekarang yang dia tetep nyebelin. hih!
      hha..
      tau juga gppa kok kak. dia memang menunjukkan diri. hha..
      makasih kak.. :**

  11. Hai kak. Affi here. Aku reader baru di blog ini hehe.
    Demi ini keren banget, bahasanya juga bahasa yang gak biasa aku baca. Based on true story ya? XD
    Gamau komen banyak deh ttg ff ini krn bagus bgt
    Kak boleh tau acc twitternya?
    Oh iya, salam kenal^^

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s