Dup! Dup! Dup!

Title         :  Dup! Dup! Dup!
Author    :  @adiezrindra & @trililiii
Length    :  1576 words
Genre      :   Fluff
Cast(s)    :   Klee (Krystal F(x)), L (Infinite)

Disclaimer :
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2013 adiezrindra & trililiiiall right reserved.

.

Klee menelisik pantulan dirinya lamat-lamat. Lima belas menit sudah dilewatkannya, dan ia masih tak yakin dengan pilihan bajunya. Atasan sifon jingga tanpa lengan sebatas perut, dengan rok yang terpotong manis setengah paha. Perut ratanya sesekali menyembul dari balik bajunya. Sudah cantikkah dia? Apakah make-up-nya tak pucat? Atau berlebihan?

Ingin ia memulas ulang parasannya, tapi sudah tak ada waktu yang tersisa. Atau mungkin mengganti setelannya. Namun ia urungkan, menilik gunungan kain di atas ranjangnya, tercecer jatuh di lantai kamarnya.

Ia mengangkat tangannya, menggigit kuku-kukunya, nervous. Sudut matanya melirik detik yang berlalu. Jam delapan kurang lima menit. Kurang lima menit lagi. Semakin dekat, semakin tak bisa ditatanya degup jantungnya. Ia berjalan kecil berkeliling kamar, sekedar menenangkan hati, lantas gagal.

“Klee!” panggil ibunya keras dari lantai bawah.

Gadis itu terkesiap. Jantungnya seakan lompat jauh dari dadanya.

“L menjemputmu!”

Ini bukan pertama kalinya L mengajaknya bertemu. Bukan, tentu saja bukan. Ini pertemuan yang kesekian -tak terhitung- kalinya, mengingat ia mengenal sosok L sejak bertahun lamanya. Sejak saat ia menekuk mukanya di bawah pohon ek di taman kota karena menginginkan es krim dan L berhasil membuatnya tersenyum dengan memberinya sepotong coklat.

Tapi kegugupan ini tak biasa. Klee berulang kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk meredam degup jantungnya yang menggila. Sedikit membantu, sedikit sekali. Klee tau, ia tak akan seperti ini jika saja L tak berkata ‘Aku ingin mengatakan sesuatu’ padanya di perpustakaan fakultas siang tadi.

Klee mematut wajahnya sekali lagi di depan cermin ketika ia mendengar teriakan ibunya sekali lagi, kali ini lebih keras.

Klee tergesa menyambar tas tangannya dan memasang sepatu wedges jingganya. Dia berlari menuruni tangga, lantas terhenti di tengah. Matanya bertumbuk dengan sosok di ujung tangga. Lelaki itu menatapnya dengan lengkung senyum bak anak kecilnya yang menawan. Garis wajahnya tegas, tapi lembut di saat yang sama.

Dup! Dup! Dup!

“Hati-hati, Klee. Nanti jatuh,” peringatnya, sembari menyembunyikan tawa kecilnya.

Tak ayal pipi Klee bersembur kemerahan. Ia terkelu.

“Sudah siap, Klee?” tanyanya, mengulurkan tangan. Hingga beberapa saat, Klee masih mematung. Hingga lelaki itu memanggilnya sekali lagi, “Klee?”

Dup! Dup! Dup!

“A—ah…” Klee tersadar, mukanya semakin bersemu. Tangannya terangkat, menyambut jemari yang menyambutnya. “…nee.”

.

Malam itu cerah. Langit bersih dari gumpalan awan, bintang mengerlip jenaka dan bulan bersinar separuh.  Ini sabtu malam, dan Klee tak khawatir jika ia harus pulang lebih larut dari biasanya atau bangun kesiangan esok pagi. Tak juga khawatir jika ibunya akan mencemaskannya, selama L yang mengajaknya keluar, semua ‘aman’. Kadang ibunya lebih percaya ucapan L ketimbang putrinya sendiri.

Klee menurut saja, ke mana L membawanya, ia turut. Satu tangannya masih tergenggam oleh L, tak terlepas sejak awal. Tangan mereka masih terkait, bahkan di dalam bus ketika mereka harus berdiri karena tak ada bangku kosong yang tersisa. Klee menggenggam kuat satu tiang besi di dalam bus ketika merasakan bus itu terguncang cukup kencang dan wedges tujuh sentinya membuatnya tubuhnya goyah. Klee nyaris mengumpat. Tapi umpatan itu tertahan, ditelannya kembali. Tangan L melepas genggamannya, beralih meraih pinggang Klee dengan cepat agar gadis itu tak terjatuh. Klee bungkam, kepalanya terasa kosong seketika.

Katakan, apa yang seharusnya ia rasakan jika berada di posisinya saat ini? Tak pernah sekalipun dia berada sedekat ini dengan L. Tubuh mereka bertumbuk, hanya terpisah oleh dua tangan Klee yang menekuk, menyentuh dada lelaki itu. Tangan L masih merengkuh tubuh Klee erat, menenggelamkannya.

Klee tak tahu harus berucap apa. Ia terdiam. Sibuk menata degup jantung yang untuk kesekian kalinya malam itu melawan keinginannya, berpacu tak acuh aturan. Sibuk menyembunyikan rona pipinya. Sibuk menyembunyikan, entah apa yang berkecamuk di dadanya.

Dup! Dup! Dup!

Tak ada yang melebur sunyi selain derum laju bus malam itu. Namun pipi Klee yang menempel di kemeja L, mendengungkan denyut berirama yang menenangkan. Denyut L yang menyamankan, melenakan. Klee tenang di dalamnya.

“Kita berhenti di halte berikutnya,” ucap L memecah bungkam mereka.

Klee menjauhkan tubuhnya, sedikit tidak rela. Aroma citrus tubuh lelaki itu masih tercium, walaupun tak sepekat tadi. Kecanggungan berkuasa. Mereka berjalan dalam diam di sepanjang tepi sungai Han yang cukup ramai, tak lagi berpegang tangan. Klee kebingungan, takut-takut kalau ia melakukan kesalahan selama perjalanan tadi.

L menjadi sangat pendiam malam ini, dan itu membuat Klee bingung. Biasanya lelaki itu akan berbicara tentang harinya. Ia akan bercerita tentang tetangganya yang sering memutar musik dengan kencang hingga L harus memasang earplug agar bisa fokus belajar untuk ujian esoknya. L akan bercerita tentang anjing kecilnya yang bernama Venus yang sakit hingga L harus membawanya ke dokter hewan yang berada cukup jauh dari rumahnya. L akan bercerita tentang Sungjong, sahabatnya yang memasukkan tteokpokki ke dalam mangkuk sereal L karena ia kesal L tak ingat hari ulang tahunnya. L akan bercerita apa saja.

“L…” panggilnya lirih. L tak menyahut, lebih-lebih kini lelaki itu berada semakin jauh di depannya. Klee memanggilnya sekali lagi, kian nyaring, “L!!”

L tersadar, membalikkan tubuhnya menatap Klee bingung, bersama beberapa pengunjung di sekitar mereka. “Ya, Klee?”

Klee meremas jemarinya malu. Dia mencicit, “Kamu… terlalu cepat…”

Bibir L menyungging senyum lebar, dengan tawa kecil di selanya. Klee selalu tak terduga. L memutar arah, berjalan mendekati Klee dan meraih tangannya, “Maaf, Klee. Aku lupa kamu pakai high heels malam ini.”

Klee hanya terdiam, menuruti kemana L menuntunnya. Tentu saja, masih dengan tangan kokoh yang menggenggamnya. Dalam hati ia merutuki wedges yang dikenakannya, tapi mungkin tidak juga. Ini tidak buruk. Sebaliknya, bukankah ini menyenangkan? L tidak akan menggenggam tangannya jika dia tidak mengenakan wedges kan?

Tangan L besar, hangat. Ini pertama kalinya L menggenggamnya. Ah, tidak! L selalu menggenggam tangannya kalau mereka terlambat sekolah tiap pagi, atau kalau mereka kabur dari kelas bahasa yang super membosankan. L juga menggenggamnya tiap mengejar bus yang baru melaju. Tapi L tidak pernah menggenggamnya seperti ini. Seperti apa? Pun dia tak mampu mendefinisikannya.

Dup! Dup! Dup!

EHHH?! Tunggu! Apa yang dia pikirkan?!! Aduh, dia benar-benar harus lekas-lekas menyeiramakan degup jantungnya.

Klee menggelengkan kepalanya lekas-lekas, menghapus pikiran aneh yang melintas di otaknya. Dia lantas memanggil lelaki itu sekali lagi, “L…”

“Humm?”

“Kita mau ke mana?”

“……”

“L?”

“Sebenarnya aku juga tak tau kita mau ke mana,” L menggumam pelan, tapi Klee masih bisa mendengarnya.

Klee menghentikan langkahnya dan otomatis menghentikan langkah L juga. Gadis itu gemas. Hampir setengah jam mereka berjalan mengitari taman di tepi sungai ini, kakinya telah berdenyut nyeri dan L yang tak mengajaknya berbicara sama sekali sejak tadi. Dan sekarang L bilang tak tau mereka mau ke mana. Klee melepas genggaman tangannya, “L… Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Wajah tampan itu berubah pias. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie yang dikenakannya. Klee tahu diam-diam lelaki itu mengepalkan tangannya di dalam sana. Klee hapal gelagat itu, Klee tahu L sedang gugup bukan kepalang.

L menggigit bibir bawahnya pelan. Menghela nafas pendek sesekali dan memejamkan mata, “Klee…” L tak melanjutkan ucapannya, sedang Klee di depannya sabar menunggu sepasang bibir di depannya mengungkap. “Klee~ cuacanya cerah ya?” tanyanya tiba-tiba, intonasinya meninggi. L bertanya seakan-akan Klee baru saja keluar dari gua yang gulita. Atau seakan mereka baru aja bertumbuk di tepi  sungai tanpa saling mengenal.

“Iya, L. Aku sudah tahu,” jawab Klee.

L menarik nafasnya dalam. “Eungg… Klee, bajumu cantik. Kamu terlihat feminim.”

“Terima kasih, L…”

“Klee, malam ini dingin ya?”

Klee membuang nafas dan memutar bola matanya. Nyaris tandas kesabarannya. “L, seriously. Kamu ingin bicara apa?”

“Klee…” panggil L lirih, untuk ke sekian kalinya.

“Iya, L?”

“Klee, aku…” Klee menunggu L melanjutkan ucapannya. “Aku…”

Klee masih menunggu. Detak jantungnya semakin berdetum, semakn kencang di tiap detaknya. di tiap pergerakan bibir L.

Dup! Dup! Dup!

“Aku… Aku ingin waffle…”

Hening beberapa saat. Klee mengerjapkan matanya pelan.

“Ayah membawakan sekotak waffle beberapa hari yang lalu dan aku bersumpah itu adalah waffle terlezat yang pernah aku makan, Klee.”

Klee mengerjapkan matanya sekali lagi. Ia tau L sangat menyukai waffle. Tapi…

“Kita berputar-putar dari tadi tapi aku tak juga melihat ada kedai waffle. Padahal ayah bilang kedainya di sekitar sini,” wajah L tampak kecewa.

Klee tersenyum kecil. Kakinya melangkah mendekati pemuda itu, “Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku tau tempatnya. Ayo!”  Tangannya meraih tangan L, menggenggamnya dan menariknya beranjak.

Klee tersenyum diam-diam. Tak apa jika malam ini tidak berjalan sesuai harapannya. Berakhir di sebuah kedai dan makan waffle bersama L bukan pilihan buruk.

Di belakangnya, L sibuk merutuk dirinya sendiri sambil menjambak rambut frustasi dengan tangannya yang bebas. Lagi, ia tak cukup berani mengatakannya pada Klee.

“L! Itu kedainya!” seru Klee, menunjuk salah satu kafe kecil di jajaran pertokoan. Genggaman tangannya diayun-ayunkan girang.

L terkesiap, melongok area yang sama beberapa saat. Satu alisnya berjingkat, “Yang mana sih, Klee?”

“Ituuu, L! Ituuu…!” Klee menunjuk sekali lagi, menghentakkan genggaman agak keras. Sedikit sebal karena mata L tak juga menangkap kedai yang dimaksudkannya. Kedai itu agaknya terpencil, dengan lampu sedikit temara. Atapnya bertudung vertikal biru-putih. Dindingnya bersalut kaca, dengan beberapa kursi kayu bercat putih di dalamnya. Klee menoleh ke arah L, menaikkan intonasi suaranya,  “L! Kamu liat nggak—”

Klee terhenyak, gerik L terlampau cepat untuknya mengerti apa yang terjadi. L mengecup pipinya.

Mengecup.

Pipinya.

Sekejap. Saja.

Dan untuk detik yang sekejap itu, jantung Klee sudah lolos dari rongga dadanya. Mencuat entah ke mana. Bumi mungkin rehat berputar. Karena Klee masih terpaku, dengan pikiran yang sudah tidak pada tempatnya.

“Klee! Ayo cepat! Aku lapar!”

Klee tersadar, dia berbalik. L sudah melambaikan tangan di dekat kedai padanya, seakan tak terjadi apapun. Pipinya memerah. Apa yang baru saja L lakukan?!

“E— eh, iya!”

Dup! Dup! Dup!

Advertisements

37 thoughts on “Dup! Dup! Dup!

  1. Alah alah ini lagi kena virus anak muda banget ceritanya.-.
    nggak nyangka kak adiez bakalan bikin yang fluffy” begini lagi XD
    Bahasanya nggak terlalu berat sih, itu yang bikin nyaman bacanya haikk~
    Keep writing kak 😀

    • ahaha~~ iya dongs. 😀
      ini kan duet, jadi agak bisa lah bikin yg fluffy anak muda gini. hha..
      haikk! bahasa aku nggak seberat ituuhh.. ;;—-;;
      keep writing too, nana.. 🙂

  2. Ini fluffy banget dan banget dan banget! Apalagi castnya Klee sama L, udah gak tau lagi mesti ngomong apa, feeling dapet banget kalo castnya mereka :3 dan aku gemas sendiri sama L jadinya! Bayangin wajah dia yang malu-malu kucing, lalu tiba-tiba di bagian akhir kayak gitu… maunya apasih kamu L?! Aku juga suka sama karakter Klee di sini, berasanya manis sekali. Oke, terus berkarya Kak! Suka sama ff ini 😀

  3. Muahahahaha…oke aku ketawa dulu yaahh sebentar karena ini eummm enggak tau kenapa melihat fic semacam ini di blognya adis kayak…errr…apa yah…kayak makan pisang di kutub gitu kalo boleh di perumpamain /okeskip

    Pertama-tama…aaaaaakkkkk si kak trililili tralalala nulis juga dan kolaborasinya sama adis yaduhhh jadi ada satu perpaduan yang manis dan sumpah aku udah penasaran lho sama fic ini pas kak tri bilang dia lagi kolab sama adis. Dan ternyata ini myungstal dan ini fic lain dari fic myungstal yang lain karena ini gak pasaran yaduuhhh saya antara pengen ketawa sama senyum senyum gajelas. Aku suka pemakaian nama L dan Klee, gaberasa korea tapi korea (ih maunya apasih) dan ngebaca adegan di tembak di perpus fakultas pun aku jadi ngebayangin cinta sama rangga AADC MUAHAHAHAHAHAHA

    sebenernya ini fluff yang ringan dan simpel ceritanya, tapi entah kenapa nulisnya mungkin pake hati ya kalian berdua, jadinya manis gak ketulungan gituu :”)

    Oke maafkan untuk komen yg panjang. Tau lah aku semacam excited kalo nemu fic beginian apalagi aku kan suka fluff. Aku suka bagian pas L nyeritain yg lain2, pake bawa2 si sungjong dan AKU TAU ITU PASTI KAK TRI YG NULIS BAGIAN ITUUH HAHAHAHAHA

    okeh, aku cuma mau bilang i loooovvvveeeee this one okaaayyy. You both awesome, and i hope kak trilililalaalulu write again, okay? :))

    See yaaa!!

    • maksudmu makan pisang di kutub ini apaahh diirr?? -____-”
      iya, trik juga nulis kok. kamu gak pernah liat blognya? aku gak tau sih ini pasaran apa nggak, lha aku gak pernha baca myungstal. hha..
      kagak, aku mah nulis aja kagak pake hati. :p orang nulisnya aja semingguan. kalo inget baru bales. si trik juga gitu. bhahak! XD
      iya, bagian si L nyeritain aneh2 itu si trik yang bikin. taulah, imajinasinya dia udah tercemari olehmu. 😛

      thankies dira… kapan2 kolab sama dirimu yuks. :*

  4. Hai Diez~ wah… rasanya udah lama gak mampir kesini ^^

    Abis mention”an sama kamu tadi jadi kangen sama tempat ini. Ganti perabotan lagi ya rumahnya??? (mulai gaje) >.<

    Ini sweet loh beneran. Aku gak tau sebenarnya Myungtsal itu apa, dan aku emang lagi butuh FF fluffy akhir" ini karena udah terlalu tercemari sama Shidney sheldon dan Kawan-kawannya.

    Ini singkat, sweet, gak bertele-tele dan ringan banget.

    Dan seperti biasa aku selalu suka… Good job buat kamu dan @trililili 😀

    • hei kak. 🙂 selamat datang kembali. ~^^
      nggak ganti perabot kok kak, cuma tata ulang. kekeke~

      makasiihh kak. itu nggak pusing kak, baca shidney sheldon mulu? hha..
      makasih untuk compliments-nya, dan makasih sudah membaca. 🙂

  5. Omg, tri nulis lagi??kirain udah enggak~

    Aku udah baca! Aku udah baca!! Dan oh pliiiiiiiiissss…. Aku gemes liat si Klee sama L!! Ya ampun, malu-malunya itu lho, deg-degannya itu lho, bikin serrr-serrran…

  6. kim myungsoo,..
    anak ganteng satu i2, yg semakin hari gk ilang2 gantengny,.. #lebay
    aaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk,… 😮
    bsa aj adis nyari cast,..
    atw jgn2 karena dy bru ultah nih jd milih dy,.. ‘sotoy’

    aduh, gemes liat nih couple,..
    pengend tak getok2in satu2,..
    hahaha,..
    jd inget ff diyan yg castny woohyun,.
    couple ngegemisin, bkn gregetan,..
    lucu pas bag. L ngmng mw cari wafel, sumpah pengend tak cium si L nih,.. /Lpingsan/
    eits, dah tapi nyium klee jg si L walau hanya dipipi,.. 😦
    tanpa ngmng pun udah bisa d’ungkapin 2h perasaan,..
    hihi,..

    dup,..dup,..dup,..
    d’tgg tulisan yg lain,..
    atw mw bkn drabble series nih ff kyk diyan,..
    hahaha,..
    fighting,.. 🙂

    • hha.. gantengnya emang gak tanggug2 kak..
      itu, partner aku kok yg milih. tapi emang karena L baru ultah sih. 😀
      banget deh gemesnya, malu2 mau adududuuhh gitu kan yaa…
      iya, L gak berani ngomong tapi berani tjium cobaa… hha. XD

      aduh, belom berani kalo bikin series. XD
      maapp ya kak… 🙂

  7. myungsoo oohhh myungsooo… ~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~
    Awalnya aku ngira dup! dup! Dup! Itu bunyi sepatunya klee wktu turun dri tangga, gak taunya, suara debaran toh. Hahahahaha.
    Fuck banget gak sik, udh deg2an nunggu L bakal ngmg apa ga taunya malah bilang gini ‘aku.. aku ingin waffle ‘ –”.

    Trik dan adiez, good job!! Aku sukak sama cerita kalian, manis! sering2 yah bikin cerita manis begini :))

  8. Hai kak*lambaikan tangan*
    salam kenal…
    aku reader baru….
    aku bener-bener ngefans banget sama karya-karya kakak…
    Baca sekali aja langsung klepek-klepek…so sweet bngt..!..
    Kapan-kapan buat lagi dong kak..
    Jadi kebayang beneran,..
    Sampe di sekolah pas pelajaran pun masih inget FF kakak ini..
    Cinta banget sih sama karya kakak ^^..

  9. yang ini rasa waffle, maniiiis,
    fluffy sekalii,
    sukaaaa,
    L ngegemesiiin, *oke cukup teriakteriaknya

    ini ringan ya, jadinya ga sering ada kerutan dikening karna bingung sama kata tak biasa,
    lucu, kalimat yg ‘bertumbuk di tepi sungai’ hhe, kbayangnya klee sma L tubrukan,
    trus jadi tau bedanya temara sama temaran, trimakasiih, 🙂

    • Ini sangat fluffy kan yaa.. :))
      Iya, ini bahasanya sangat ringan, dipadukan sama tema cerita yg juga ringan. ^^
      Semoga bisa menambah khasanah kosa kata ya. Hhii..
      Makasih sudah membaca.

  10. dear L-ssi, wae you super cute yet stupid here? boleh tau siapa yang ngusulin castnya kak? aku sukaaaak banget mereka berdua! sedikit kaget pas jalan-jalan di sini eh ketemu fic ini, bersyukur deh blogwalking ke tempat kak adis tak pernah sia-sia :3 *ceritanya ngegombal* *oot*

    iya aku juga suka L dan Klee, terus gimana ngegregetnya cerita ini di mana mereka saling deket-deketan di bus dan keliatannya cuma Klee aja yang deg-degan, eh ternyata L ada maksud buat ngomong tapi… akhirnya malah “aku… ingin makan waffle.” YA TUHAN demi apa itu aku udah mikir dia akan ngomong sesuatu yang menggembirakan tapi malah mau makan waffle? aku jadi Klee mungkin udah dorong dia ke danau! aku baru pertama kali baca tulisannya kak tri dan emang manis sekali, semanis tulisan kak amer dan kak dira 😀 bagian di mana pas ada Sungjong itu emang tipe-tipe kak dira yang tulisannya kadang suka dibawa ngelantur tapi jatuhnya ngundang tawa! >< mungkin L ngebawa Klee muter-muter taman itu karena dia mikirin kata-kata yang tepat atau karena nervous kali, ya? xD aku suka bagian dia ngelantur semacam, "“Eungg… Klee, bajumu cantik. Kamu terlihat feminim.”" yang bikin kesan manisnya berkali-kali lipat lebih terasa, soalnya kesannya dia kaya canggung gituu

    keep writing kak adis, kak tri! terima kasih atas bacaan fluff ini. menghibur menjelang UN<3

    • itu trik yg langsung minta myungstal. hhe…
      sedikit kaget karena saya nggak biasa bikin selain YG gitu ya. :)))
      aduh, gombalmu lho fik.. -_-
      itu benernya kn L mau nyatain gitu kan, tapi malu minta dibakar pake avtur banget. hha..
      trik mah tulisannya emang manis ringan kok. kamu keliling blognya ajaa. itu yg ngelantur kayaknya trik ketularan si dira banget deh. hhe..
      itu bagian akuh! bagian akuh yg canggungnya minta ampyun ituuhh! x))))

      thanks for reading fikha… semoga hasil UN nya baik yaa.. ^^

  11. sebelumnya, hai~ aku pembaca baru 😀 salam kenal^^
    ceritanya ya ampun bikin melele, manis banget ><
    apalagi tingkahnya klee sama L yang mirip remaja baru jatuh cinta, lucu banget 😀

  12. Pingback: Rekomendasi Fanfiction (Oneshoot) | Ice Flower

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s