Irregular Love

Ia pergi dengan gayanya yang apa adanya. Jaket kanvasnya ia simpan di belakang motornya, tidak ia pakai, hanya ia simpan begitu saja. Tangannya memegang kunci motor yang siap membawanya pergi ke mana pun. Ia menimang sejenak, lantas melesapkannya ke ceruk celana.

Pria itu tergugu di pelipir gagang jembatan, motornya teronggok di tepi jalan. Menilik jauh ke arah laut, sementara waktu beranjak diam-diam, menyeret kelam. Tak ada yang menyibak sunyi, selain debur yang saling menderu. Ia mengisap punting rokoknya, menyesapnya lamat-lamat. Menikmati bumbungan asap yang menjulai keluar dari bibir dan hidungnya.

“Udah gue bilang berapa kali sih, Ron. Berhenti ngerokok. That’s not good for your body!” seru seorang wanita di baliknya.

Ron berbalik. Wanita yang dinantinya sedari tiga puluh menit lalu muncul, berkacak pinggang dan memicingkan mata. Kendati iris coklatnya menusuk tajam, Ron tak mengacuhkannya. “I know, Ren. Lo sudah bilang berulang kali, ‘kay.”

So? Lo masih aja buang duit buat barang itu kan?” kejarnya sinis.

Ron mendengus. “Just shut your mouth, Karen. Gue cuma lagi butuh ini sekarang.”

Karen menghela napas. Ia melangkah menjejeri Ron, menyodorkan gelas karton panas. Espresso tanpa gula. Ron mengambilnya, bibirnya berucap terima kasih tanpa suara. Mereka menyumpal waktu dengan seruputan di tepi gelas.

“Jadi, gue ke sini, jauh-jauh ninggalin pasien gue di rumah sakit cuma buat coffee time tengah malem macam ini, Ron?” tanya Karen.

Ron menjungkat senyum di satu sudut. Ia melangkah kecil dan bersandar pada pagar jembatan. Matanya terpaku pada larutan yang terus mengebulkan harum legit yang khas.

Karen masih mengetuk dinding gelas, menanti frasa yang akan tercetus. Ia menelitik dari temara lampu, siluet berantakan dari pria di hadapannya.

“Ren, gue bodoh banget ya?”

Gerik jemari Karen terhenti. Satu alisnya berjingkat, heran. “Maksud lo?”

Ron menilik lalu lalang riak laut untuk beberapa saat, lantas mengujar, “Dia selingkuh.” Ia terkekeh. Bentuk tawa yang mengasihani diri sendiri. Yang membodohi kenyataan, yang menyerah pada kepercayaan. Lelaki itu menatap Karen dengan bibir yang tertarik ke kiri. Seringaian tergetir yang Karen ingat.

Karen terperanjat. Kopi yang disesapnya menyembur begitu saja, kembali pada genangan dalam karton. “Really?! Sama cowok?”

Tawa Ron menggelegak. “Iyalah. Lu pikir?”

Karen mengedikkan bahu. Ia menggaruk tengkuknya, bingung membalas pertanyaan pria itu. Pria yang dikenalnya semenjak masa putih-abu-abu. Pria humoris, namun apatis. Lidahnya berbisa, namun berkisah realitas.

Roman Ron berubah lisut. “Gue kurang apa, sih, Ren? Perhatian? Gue kurang perhatian apa sama dia? Gue ada di saat dia butuh gue. Gue rela keluar kantor tiap dia telepon gue. Gue dateng tengah malem kalo dia nyari gue. Apa lagi, sih? Dia butuh duit? Gue bayar deh hidup dia! Bayangin Ren, gue ngeliat dia cuma pake underwear sama selingkuhannya, di ruang tamu! Ruang tamu, Ren!”

Ron meremas gelasnya hingga remuk, melemparnya jauh ke tengah laut. Lantas tangannya meningkup, menenggelamkan wajahnya.

Karen mengeluarkan helaan napas berat.  “Ron, you already knew Daren is a player gay, yet you chose him. You just got your consequence.”

Ron tak menjawab. Karen akan selalu menjadi Karen yang dikenalnya. Mengungkapkan pemikirannya tanpa bumbu pemanis. Nona dokter itu tidak berusaha untuk menghiburnya dengan ucapan pembenaran. Kebas sudah telinganya.

“Ron, harusnya lo udah siap kan sama hal macam ini?” tanya Karen lirih. Bukan menginterogasi, hanya khawatir yang mencuat hingga tak mampu mengatup bibir.

Ron menatap Karen dengan bolanya yang mememar. “I know! But he promised to just love me. Only me, Ren.”

Yes, and he lied,” tandas Karen. Jelas, tanpa tedeng aling-aling. Pria itu tak bereaksi. “Lo juga sih, macarin cowok macam gitu.”

Ron terkekeh, renyah. Ia memutar bola matanya. “Terus gue macarin siapa dong, Ren?”

Iris coklat Karen menatap Ron lekat-lekat, memamerkan seringai kecil.“Gue,” jawabnya, mantap.

“Elo?” tanya Ron balik, intonasinya memuncak. Kelopaknya membeliak, terperanjat.

“Gue cewek. Kenapa nggak?”

And I am gay, Ren,” balas Ron, nyaris mendesis.

Karen mencibir. Kakinya melangkah mendekat, lantas jemari lentiknya meraih kerah baju Ron, menariknya. Mengikis etape antara mereka. Dua pasang mata itu bersirobok. Detik melindap, berjingkat tanpa terasa. Hembus napas dengan bau asap rokok, bercampur dengan aroma espresso.

Then I will make you straight, Ron. Dare me.

.

Love is a regular verb. You are an irregular love

.

Author’s note:

Aaakk!! Apa yang saya bikin iniihhh?!! Ini… semacam dangerous topic. Tidak layak edar. Banned! Banned! Di saat kakak-kakak yang lain bikin elegant pieces, and I made a rated fic.
Ya sudahlah, udah dibikin juga. Sayang juga diapus. Toh I always be a controversial one. :p

PS: Don’t ask me to change the english convos. That’s how this scene ran in my head. 🙂

Advertisements

36 thoughts on “Irregular Love

  1. Hey Gladish! Gadis manis! Irregular words, irregular topics, irregular characters, yet I still like the post. Am I an irregular man? 😀

    • hey mas teguh. maybe you’re. or maybe I am, irregular one who make everything around me become irregular? bhihik~!
      sepertinya tempo ceritanya terlalu cepat ya? Am I right?

      • Maybe, we are the irregular ones.

        Kalau mau bicara tempo, iya, sedikit cepat. Pembaca seakan gak diberi jeda yang cukup untuk menikmati ceritanya.

        Kamu membuka dan menutup cerita dengan sangat tergesa-gesa.

  2. Adiiiis, aku suka ‘kebuasanmu’ dalam menghadirkan cerita. 🙂
    Iya, temponya terlalu cepat, tidak seperti biasanya. 🙂

  3. Aku setuju sama salah satu komen di atas; jarang ada wanita seperti Karen di dunia! Tapi justru itu yang buat aku suka sama cerita ini. Sesuatu yang rare terkadang lebih menonjolkan sisinya (aduh tentu sajaaa) tapi sungguh ceritanya keren unn, aku sampai berulang kali baca beberapa narasinya karena terasa nyaman dibaca dan ga terasa mengganjal di mulut wkwk. Oke, semangat terus unn hehe^^

    • iya. memang jarang kan. tapi bukan berarti tidak ada. ^^
      makasih banget compliment-nya. ini masih biasa kok, saya masih harus banyak belajar. 🙂
      mengganjal di mulut? itu seperti apa ya? hha…
      makasih sekali lagi ya.. ^^

      • Iya, aku juga sempet ketemu sama mereka di dunia nyata hihi 🙂
        Mengganjal di mulut… kayak kurang enak dibaca aja kak (terutama bagian narasi) dan keserempet di lidah gitu (?) cuma aku gak nemuin itu sama cerita kakak ini, justru malah bikin ketagihan diksinya. Banyak belajar juga sama kata-katanya yang beberapa belum aku tahu (makanya langsung buka kamus). Sama-sama kak!^^

  4. Hahaha~ gak tau mau komen apa deh…
    Bingung…
    mau dibilang sedih, tapi aku gak sedih malahan lucu pas tau fakta klo dia gay…

    Tapi jadi gak biasa ceritanya, aku suka cerita yang ngebahas topik” gak biasa kayak gini Kok Diez…
    Dan aku yakin reader lain juga gitu…

    Hehehe~ 😀

    • err… ini memang bukan cerita sedih sih kak, cenderung datar2 aja pembicaraannya. :))
      hhii… makasih kak, sudah suka sama cerita aneh macam ini. hha…
      thankies ya kak.

  5. wah, ini topik kontroversial bgt tpi ga mengurangi critanya yg keren..
    ron yg seorang gay dicintai gadis semacam karen? hellooo~ beruntung benar kau ron..haha nice ^^

  6. irregular love sekali,..
    ehm,..
    aduh ron beruntungny qmu ad seseorang seperti karen,..
    cba ap kurangny?
    iy, ron kan gay,..
    kkkkkk,.. 😀
    wah, adis,..
    suka am tema kyk gini,..
    langka plus kontroversi,..
    hahaha,..

    fighting,.. 🙂

  7. irreguler,
    espresso pake gula dikit, pahit diakhir ada manisnya, tapi ya, begitu rasa ceritanya, 🙂
    ah, kalo ada orang kaya ron, aku mau da jadi temennya, penasaraan,

    tuh kan, gada typo, *atau entah ada tapi aku gatau, banyak kata yg asing, tapi kayanya gada deh, suka ah!

    aku suka ko tema yg ga biasa, unik, 🙂

    • Aduh, penjabaran rasa ceritanya manis sekali. ^^ kalo ada daku juga mau deh kenalan. Hhii…

      Oya? Maaf yaa… Mana yang nggak ngerti say?
      Terima kasih sudah membaca.

      • ya meskipun lumayan banyak kata yg ga biasa aku temuin, tapi ngerti ko, itu ga ngurangin rasa pas narasinya, tetep enak dimulut, 😀
        ah, aku baca, “ia mengisap punting rokoknya” ini puntung ya harusnya? ato emang maknanya sama?

  8. Hai kak~
    Kok aku ngerasa cerita ini kependekan ya?._.
    Oh iya mau nanya dong, sikap apatis itu maksudnya apa?
    Kaget aja pas tau ternyata Ron itu gay dan Karen duh pokoknya Ron beruntung banget bisa punya Karen.
    Baca cerita ini berasa lagi baca novel masa

    • hehe.. iya. ini cuma fiksi pendek. 🙂
      apa ya.. apatis itu semacam cuek,gak pedulian gitu.
      how lucky lah ron punya karen ituh…
      makasih lho pujiannya. makasih juga sudah membaca

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s