Dia di Ujung Jalan

tumblr_mhrxubPNAX1rqds0ho1_500_large

Akhirnya jatuh, air mata itu.

Air mata yang kamu lesakkan jauh di hati. Air mata yang gagal kamu bentengi tinggi-tinggi. Air mata penuh ketakutan akan ucapan selamat tinggal. Air mata keengganan untuk melepaskan. Air mata keputusasaan, atas serpihan keinginan yang musnah kemudian.

Air mata yang menggilas pembuluh darah, menghancurkan jantung. Air mata yang tidak melegakan peparu.

Air mata yang jatuh di punggungnya, membasahi jaket. Air mata yang diharapkan dapat mengubah kenyataan. Air mata yang keluar tanpa ada cicitan, isakan. Air mata yang lantas juga jatuh di mata yang lain. Beriringan, seiring dilesapkannya dalam-dalam jemarimu, mencengkeram kuat tubuhnya.

“Sudah sampai,” ucap sang lelaki. Menghentikan motor besarnya tepat di depan rumahmu.

Kamu mengangguk. Menyeka air mata, sebelum lelaki itu menyadarinya. Kakimu menjejak tanah, secepat mungkin ingin menerjunkan diri ke dasar bumi. Secepat kerjapan mata di pagi hari. Ironik. Secepat kamu ingin pergi, selambat itu pula kamu ingin bertahan. Menggenggam erat waktu yang tersisa.

Dia menyentuh pipimu. Menyeka mata yang sembab. “Jangan menangis,” katanya.

Kamu mengangguk, menahan ceguk di tenggorokan. Cukup satu tetes saja yang dia lihat, tak perlu yang lain. tak perlu tahu dia, akan jutaan isak di balik bantalmu tengah malam nanti. Tak perlu tahu dia, akan lemahnya tubuhmu esok hari. Tak ada dia yang akan menyanggahmu setelah ini. Tak perlu tahu dia, atas serakan potongan kaca yang akan kamu injak tiap langkah. Tak perlu tahu dia, atas apapun yang tak perlu dia tahu.

“Kamu cantik. Aku akan merindukanmu.”

Kamu mematung. Tidak akan ada lagi melodi pujaan dari bibirnya untuk mengawali kesadaranmu.

“Kamu kuat, kok. Aku percaya kamu lebih kuat dari ini.”

Seandainya dia tahu, bila tidak ada yang bisa kuat tanpa tiang di belakangnya. Bila kamu, menjadi kuat karenanya. Menjadi kuat, karena hadirnya. Menjadi kuat, karena dia. Apakah masih ada kata itu dalam kamusmu, kala lelaki itu tiada?

“Sudah ya, aku pergi dulu.”

Selirih itu dia mengatakannya, seluruh itu tubuhmu hancur. Menghantam bak ombak yang menyerbu pesisir. Sekuat itu kamu menginginkannya, selemah itu kamu berhasil mengatakannya.

Kamu terkelu.

Dia mengusap riap-riap rambutmu.

Dia membalikkan motornya.

Dia mulai berjalan, membaur di balik ramainya jalanan.

Kamu jatuh.

Dia menghilang. Selamanya.

Advertisements

8 thoughts on “Dia di Ujung Jalan

  1. tanpa ucapan hanya 1 kata,..
    tears,..
    wualah dis nyesek bgt nih,..
    suka diksi2 indahmu ttg air mata,.. :”)
    ayo dis, d’tgg tulisan yg laen,.
    fighting,.. 🙂

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s