Perlukah Alasan

3134682014_1_4_0z9aVky1_large

Kolaborasi Hari Ketiga dengan kak Jusmalia Oktaviani

.

“Perlukah alasan? Aku tak tahu apa alasan manusia untuk saling membunuh. Tapi, untuk saling menolong tidak dibutuhkan alasan yang logis, bukan?”
(Shinichi Kudo)

 .

Aku tercenung di meja kerja kamarku. Ruangan telah menggulita, hanya sinar dari lampu belajar tersisa. Beberapa kali aku menghentikan mengerjakan laporan-laporan kasus di depanku. Ucapan gadis siang tadi berulang kali terbayang, menyelip di antara lemahnya konsentrasiku.

Tolong sembunyikan aku…

Kak, aku mohon, sembunyikan aku…

.

Seorang anak remaja, berumur sekitar belasan tahun, datang padaku, di terik siang bolong itu. Ia gadis yang cukup manis, jika ia sedikit terawat dan datang dengan pakaian yang lebih pantas dari ini. Namun aku tetap memberikan senyum terbaikku padanya, memberikan pelayanan sebaik mungkin. Kupersilakan ia duduk. Ia tampak gugup. Tangannya saling meremas dengan gelisah. Matanya berputar kesana kemari, meneliti ruanganku yang kecil. Aku sudah sering menemui ‘klien’ yang datang dengan kondisi seperti gadis di depanku ini. Bahkan pernah yang lebih buruk dari ini. Kantorku yang, meskipun kecil seperti ini, merupakan sebuah lembaga untuk membantu hal yang berkaitan dengan kekerasan anak dan juga kekerasan dalam rumah tangga.

“Ada yang bisa saya bantu, Dik?” Aku mulai bertanya. Gadis itu memandangku dengan mata membelalak, terpantul penderitaan di sana, seakan ia ingin langsung menceritakan semua yang dialaminya dalam satu tatapan itu saja. Kuperhatikan baik-baik wajahnya. Ada memar di sana. Memar baru yang bercampur dengan memar lama yang akan pulih. Lagi-lagi, gadis ini pasti korban, aku membatin. Geram. Meskipun ini hal ‘biasa’ di kantorku, tapi aku selalu bertanya-tanya, kenapa wanita dan anak-anak selalu dijadikan objek amukan serta kemarahan? Apakah karena citra mereka yang lemah?

Gadis itu masih terkelu, tak bersuara. Hingga aku bertanya sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut, “Adik, kalau adik nggak cerita, kakak nggak bisa tahu masalah adik apa, sayang. Mungkin adik mau cerita, kenapa adik ke sini?”

Dia menatapku dengan mata berkaca. Lantas bibirnya yang sedari tadi gemetar, mulai berbisik lirih, “Tolong sembunyikan aku…”

Aku terkejut. Bahkan aku belum selesai mencerna, gadis itu mulai memohon padaku sekali lagi, dengan nada lebih memelas, “Kak, aku mohon, sembunyikan aku…”

“Ah, iya, dek. Tenanglah…” jawabku kemudian, mencoba menenangkan.

“Nggak bisa kak!” sergahnya, matanya menyalang, antara takut dan tak sabar. Berulang kali dia melirik pintu masuk, hingga sesosok bayangan membuatnya pucat pasi. Tangannya yang berkeringat mengayunkan pergelanganku panik, “Kak, sembunyikan aku…”

Lantas aku mengerti. Aku bergerak cepat mendorongnya ke salah satu kamar kosong di kantorku. Menyuruhnya diam dan menguncinya dari luar.

Tak beberapa lama, seorang pria bertubuh tegap masuk. Tampangnya tak terawat. Dari mulutnya, tercium bau alcohol yang menyengat. Dia menggebrak meja dan melotot padaku. “MANA LANA?!!”

Aku terperanjat, separuh karena suaranya yang menggelegar separuh karena tak paham siapa yang dicarinya. “Lana siapa, Pak? Di sini tidak ada yang bernama Lana.”

“Bohong! Aku melihatnya berlari kemari!!!” sergahnya, dengan suara yang meninggi.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Satu, dua, tiga. “Tapi, pak, yang bapak cari tidak ada di sini. Bahkan saya tidak mengenal siapapun bernama Lana.”

“HAAHH!!! Kamu pasti menyembunyikannya, kan, HAH!!” bentaknya, mencengkeram kerah bajuku. Lantas dia melepaskanku kasar dan berjalan melaluiku. “Kalau kamu tidak mau mengaku, akan kucari sendiri!!!”

Pria itu mencari di tiap ruangan di kantorku, memberantakan beberapa barang, hingga dia sampai di depan pintu yang terkunci. Tempat gadis kecil itu bersembunyi. Dia memutar kenopnya beberapa kali, tanpa hasil. Dia menatapku marah.

“Maaf, Pak. Ini ruang arsip. Saya tidak punya kuncinya, hanya kepala kami yang memegang kuncinya. Sekarang beliau tidak ada,” terangku, berdusta. “Bapak kalau sudah tidak ada urusan silakan meninggalkan kantor ini, Pak. Saya masih banyak pekerjaan.”

Dia menatapku jengkel. Tangannya menggebrak pintu dan berbalik meninggalkan kantor.

Selepasnya, aku membuka pintu. Gadis itu menggigil hebat di ujung ruangan, menatapku penuh air mata. Wajahnya putih, pias. “Ssu— sudah… pergi?”

“Sudah…” jawabku, tersenyum menenangkan. Aku menghampirinya dan berjongkok, “Kamu Lana?”

Dia mengangguk pelan. Mata airnya terus mencurah.

“Tenanglah, kamu berada di tempat yang tepat. Kantor ini aman. Kami akan membantu. Ceritakanlah masalah adik.” Aku berkata dengan nada yang paling meyakinkan yang aku punya.

Kemudian ia menceritakan masalahnya. Ia baru saja mendapat kekerasan dari ayah kandungnya sendiri. Ayahnya beberapa bulan ini menjadi pengangguran karena PHK besar-besaran. Kehidupan mereka sebenarnya sudah cukup sulit karena ayahnya hanya seorang buruh, dan ibu gadis yang bernama Lana itu juga sudah meninggal cukup lama. Namun setelah PHK itu, sang ayah perangainya berubah menjadi kasar. Lana tak tahan, dan kabur dari rumah menuju kantor ini, setelah diberitahu dan dibantu oleh tetangganya.

Naluri kewanitaanku seakan diuji melihat gadis itu menceritakan masalahnya sambil berurai air mata. Aku menggenggam tangan mungilnya dengan erat dan berkata penuh keyakinan,”Sabarlah, Lana. Kami akan mencoba membantu sebisa kami. Jangan khawatir. Di kantor ini, kamu aman.”

Lana mengangguk pelan. “Apa kakak sering membantu gadis seperti aku?”

“Ya. Kamu entah sudah korban kekerasan yang keberapa kali, yang meminta bantuan pada kami.” Aku menjawab.

Lana terdiam sejenak. Memandangiku dengan ekspresi heran dan bertanya,”Kenapa kakak mau repot-repot membantu orang yang tak kakak kenal seperti kami?”

.

Kenapa?

Aku menenggelamkan wajahku diantara dua telapak tangan. Menarik nafas dalam, terdiam dalam hening. Malam sunyi ini, merta pertanyaan Lana siang itu… membawaku kembali ke waktu lampau. masa yang tidak ingin aku kenang, meski hanya sekilas detik. Segalanya berputar, laiknya tayangan monokromik televisi lawas.

Gadis kecil di ingatanku bernama Dara, hasil dari perbuatan lelaki mabuk pada ibunya. Ibunya membencinya, hingga melihatnya pun muak. Hidup di daerah kumuh, tempat segala yang bermasalah bersumber. Ibunya kekurangan uang karena permainan kasinonya, hingga Dara yang masih berusia 15 tahun, dijual pada seorang pemilik rumah bordil.

Siapapun tak akan melewatkan kecantikan bak dewi di wajahnya. Wajah tirus dengan hidung bangir. Mata mungil laiknya rusa, dan bibir tipis. Tubuh mungil dan suara yang merdu, Siapapun, tak terkecuali sang pemilik. Dara, gadis perawan polos itu, didandani secantik mungkin. Dikenakannya dua helai pakaian yang hanya menutupi puting susu dan daerah kewanitaannya. Dipamerkan di atas panggung. Dilelang setinggi-tingginya.

Malam itu pula, Dara berganti pemilik, kehilangan keperawanannya oleh seorang pria berumur. Lantas silih berganti pria menjelajah tubuh moleknya, puluhan tangan bergerayang, ribuan mata menelanjanginya. Dia tidak lagi polos, terlebih lagi, suci.

Hingga sepasang suami istri datang menyelamatkannya, menyelundupkannya diam-diam, dan mengembalikannya ke kehidupan selayaknya. Saat itu pula, tidak ada lagi gadis bernama Dara. Dia mengubah identitasnya. Nama yang aku sandang hingga hari ini, Sandy.

Ya. Sekelam itu hidupku.

Mengerikan? Iya. Namun sudah berakhir.

.

Aku tersenyum dan bertanya balik, “Kenapa?” Gadis itu mengangguk. Dua bola matanya menatapku ingin tahu. “Karena kakak ingin.”

Dahi Lana berkerut, tak paham. “Maksud kakak?”

“Begini Lana, kakak tak tahu apa tujuan orang saling membunuh, tapi untuk saling menolong, tak perlu alasan yang khusus, kan?”

“Aku takut, Kak.” Lana berkata lirih. “Untunglah ada kakak dan teman-teman kakak yang mau membantuku disini. Tapi, untuk seterusnya, aku…”

Aku memandangi gadis itu dengan kesungguhan bercampur iba, menatap matanya yang masih memantulkan rasa takut. Ia pasti merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan dulu. Ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, kebimbangan. Bercampur dengan pengalaman traumatis karena disakiti oleh orang yang ia sayangi, dan seharusnya menyayanginya. Wajar jika ia kemudian kebingungan. Tak tahu harus meminta perlindungan kemana. Persis sepertiku. Dulu.

.

Aku melirik jam dinding. Hampir subuh. Kututup semua berkasku dan melepas kacamata yang menggantung di hidungku. Jemariku mengusap wajah beberapa kali. Lantas menarik nafas dalam-dalam.

Inilah hidupku, tujuanku. Aku akan membantu Lana, sebaik-baiknya.

Advertisements

7 thoughts on “Perlukah Alasan

  1. Kalau kita bisa membantu orang lain keluar dari satu kesulitan, niscaya Tuhan akan berikan yang sama kepada kita di lain kesempatan. 😀

  2. inspirasi dr kuota conan ya,.. 🙂
    pengalaman d’masa lalu membuat sandy ini menolong orang2 yg prnh mngalami hal yg sama dgn dy,..
    hehe,..
    iya, skrng bnyk bnget kasus kekerasan terhadap wanita n’ anak2!! 😦

  3. hallo,
    quot itu, jadi keinget jamanjaman suka baca komik conan, jadi kangeen, #abaikan.

    tulisan kaka gada typo, keren ih, suka,
    juga, semoga kekerasan kaya gitu smakin gada,
    dan, suka tulisannya,

    ah! kaka ahli sastra?

    • hhii… iya, ini salah satu quote yang membekas sekali dari bacaan Conan. 🙂

      ih masaaa? saya padahal sering typo lhoo… ><
      iya, semoga saja.
      terima kasih sudah suka.

      saya? waduh, saya hanya penggemar sastra kok.

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s