Mencoba Berdamai

Kolaborasi hari kedua bersama Eka Puspita

.

Mengapa kita saling membenci? Awalnya kita saling memberi.
Apa tak mungkin hati yang murni sudah cukup berarti?
Ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika?
Jangan seperti selama ini, hidup bagaikan air dan api.
(Air dan Api – Naif)

.

Sejenak jantungku terasa berhenti berdetak. Sepasang mata cokelat itu, tatapan mata itu, dia tengah mengawasiku layaknya sepasang mata kucing yang siap memangsa tikus lemah dengan geramnya. Aku terperanjat. Dia masih tak bergeming, masih tetap manatapku lurus tanpa ekspresi yang tak bisa ku prediksikan.

‘Ya Tuhan… Apa yang harus aku lakukan?! Dia ngeliatin aku! Mati aku!’ Aku membatin.

Dia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan santai tapi pasti, dia menuju ke arahku. Aku semakin salah tingkah. Ada desiran darah yang naik ke wajahku, rasanya pipiku panas. Aku rasa warna tomat saja kalah dengan warna pipiku saat ini, merah padam.

Aron, nama lelaki itu, melambaikan tangan. Aku menengok sekeliling, mungkin saja ada yang disapanya di belakangku. Namun betapa terkejutnya kala dia sudah berdiri tepat di depanku.

“Aku ini menyapamu, Lian,” sapanya sembari tergelak kecil.

Bibirku terbuka lebar, tak percaya. Tuhan, ini mimpi ya? jangan bangunkan aku! Jangan!

“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya. “Euhm… Tempat lain sudah penuh.”

Aku tak bereaksi. Maksudku, bagaimana bisa aku bereaksi jika di depanku ada malaikat begini tampannya?!

“Lian? Lilian? Helooo?”

Ah, aku melamun lagi! Aku terkejut saat tangan aron dilambai-lambaikan di depan wajahku. Aku semakin salah tingkah. Dengan sedikit gelagapan, aku membalas sapaannya itu.

“Eh, hai Aron. Oh iya, duduk aja, ” entah wajahku sudah seperti apa saat ini. Jantungku semakin berdetak tidak keruan. Dia mengembangkan senyumnya yang begitu sempurna, senyuman yang bisa melelehkan bongkahan es di dalam hati setiap wanita.

“Kamu sendirian, Li? Sedang apa?” ucap aron mencoba memecah keheningan.

Aku menunjuk berkas-berkas revisian skripsiku. Dia seolah mengerti lalu mengangguk.

“Aku ganggu dong?” tanyanya kemudian.

“Oh enggak kok, enggak. Lagipula aku sudah mau selesai,” jawabku cepat. Aku tidak mau melewatkan kesempatan berharga ini, kapan lagi aku bisa berbicara sedekat ini dengan aron, lelaki yang sedari semester satu aku sukai.

Kami memulai pembicaraan ringan. Bagaimana kabar masing-masing, suasana kuliah yang tak kusangka, ternyata kami rindukan, kabar skripsi, masa depan. Hingga aku tak tahu sudah berapa lama aku bergurau dengannya. Setidaknya, sampai dia sampai ada satu pertanyaan. “Bagaimana kabar Anne? Kalian masih bertengkar?”

Sejenak aku tertegun. Aku sangat menghindari topik yang dia lontarkan barusan. Ya, tentang Anne, sahabatku, atau mungkin lebih tepatnya ‘mantan sahabat’-ku. Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Dia menghilang setelah pertengkaran yang terjadi tempo hari. Kejadiannya sudah terlalu lama sekali, mungkin sebulan, ah 2 bulan yang lalu. Kala itu, aku dan Anne bertengkar hebat perihal mana sahabat yang memang benar-benar sahabat. Anne yang kuanggap sahabatku dari dulu mengkhianati kepercayaanku. Anne yang kuanggap layaknya seperti saudaraku sendiri begitu teganya melakukan hal yang tak bisa aku maafkan. Terlalu menyakitkan.

Ah, aku malas membicarakan ini sebenarnya, tetapi Aron malah bertanya seperti itu.

“Entah,” jawabku tak acuh.

Aku terdiam, Pikiranku mengawang. Adalah hal yang lucu, ketika beberapa bulan yang lalu, aku masih menikmati makanan cepat saji di salah satu mal, berbicara tak tentu arah penuh gelak tawa. Lantas kini, kami hanya saling berpunggung dan menatap dingin. Tak peduli. Saling membunuh eksistensi satu sama yang lain.

Mungkin aku tak akan terlampau membencinya, jika dia hanya menuduhku menghilangkan penghapusnya. Atau jika dia lupa hari shopping yang kita tetapkan. Tapi tidak sesederhana itu. Dia menuduhku berselingkuh dengan kekasihnya. Hey, mana mungkin! Aku bukan pengkhianat, atau wanita jalang yang menusuk dari belakang. Gila.

“Kamu tau, Li. Tidak baik bermusuhan terlalu lama…” ujar Aron.

Aku tak menjawab. Malas.

“Kamu masih belum bisa memaafkannya, Li?”

“Aron, aku… tak tahu. Aku tak tahu apa aku bisa memaafkannya,” jawabku, sembari meremas kedua tangan.

Aron menatapku dalam-dalam. Matanya seakan mampu menembus pikiranku. “Bagaimana jika dia datang dan meminta maaf padamu, Li?”

Aku kembali terdiam. Sebenarnya ada rindu yang bersemayam dalam lubuk hati yang terdalam, hanya saja egoku terlalu malas untuk mengungkapkannya. rasa sakit yang kurasakan terlalu banyak dan terlalu kuat hingga rindu itupun terkalahkan. Aron masih menunggu jawabanku, aku masih tak bergeming. Aku terdiam seribu bahasa.

“Li, tidak baik lho bermusuhan lama-lama, aku yakin anne pasti ingin bertemu lagi denganmu. Apa kamu tidak merindukan dia? Sahabatmu dari dulu.”

Entahlah, aku bingung. Apa aku terlalu egois? Sampai-sampai aku tidak mau memaafkan dia? Otak dan hatiku mulai berdebat hebat. Mereka saling menyalahkan, menuduh satu sama lain, tentang mana yang benar dan mana yang pantas. Tuhan, aku harus bagaimana?

Sepasang mata cokelat itu masih menatapku lekat, dia menunggu jawabanku.

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Aku…—”

“Lian…”

Ada suara lain di belakangku, memotong ucapanku. Pun membuyarkan sejuta pikiranku yang merumit. Suara itu tak asing. Aku mendengarnya beberapa bulan lalu. Aku berbalik dan menatap sang empu, “Anne?”

Anne tersenyum tipis, sementara Aron menyuruhnya untuk duduk di depanku, terpisah meja. Wanita itu menurut.

Mau apa dia kemari? Ingin menambah masalah? Tidak cukup caci maki dan sumpah serapah yang dia lontarkan padaku?

Hening. Kendati aku tak ingin memancing pembicaraan, namun aku jengah berada di situasi yang menyebalkan seperti ini. Aku melengos malas dan bertanya dengan nada datar, “Mau apa kamu kemari?”

Anne yang seolah paham atas konsekuensi yang tekah ia lakukan saat ini, dia hanya tersenyum pasrah kala mataku menatapnya dengan tatapan yang teramat tajam.

“Aku kemari ingin meminta maaf padamu, Li. Aku… aku rindu akan persahabatan kita, kita yang dulu, Li,” tuturnya.

Aku tetap bungkam.

“Ku mohon Li, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku lelah terus menerus menyimpan rasa salahku ini, aku ingin kita seperti dulu lagi, saling berbagi satu sama lain. Aku mohon Li, maafin aku…” kini suara Anne mulai terbata-bata. Ada isakan yang sengaja ia tahan sedari tadi. Hatiku rasanya seperti tersayat, ada kepedihan yang entah darimana datangnya membuatku merasa begitu iba saat Anne meraih tanganku.

Aku menghela nafas dalam. Kuakui, aku memang masih ingin bersahabat dengannya. Namun peristiwa itu, membuatku beringsut selangkah demi selangkah. “Memangnya kamu sudah yakin aku tidak berselingkuh dengan Andre?” tanyaku sinis. Separuh ingin tahu, separuh ingin menyindirnya.

Anne terdiam, menundukkan kepala. “Aku sudah putus,” jawabnya lirih. Aku terperanjat. Setelah menuduhku, menyumpahiku, mengusirku separah itu, lantas mereka putus? Great. Hebat sekali.

“Andre… Ternyata dia selingkuh dengan orang lain. Dan sekarang selingkuhannya hamil dua bulan. Dia ternyata sungguh brengsek, ya, Lian. Atau aku yang terlalu bodoh? Karena aku tak bisa melhat mana yang berharga bagiku. Karena aku mencintai pria seperti itu. Aku malu padamu, Li…”

Untuk kedua kalinya aku dikejutkan oleh kalimatnya. Aku tak mampu menanggapi apapun, berkomentar apapun. Kelu.

“Lian…” panggil Anne, membuyarkan pikiranku. “Kamu mau ‘kan maafin aku?”

Aku bingung. Aku harus bagaimana ini. Disatu sisi aku masih merasa sakit hati atas tuduhannya tempo lalu, tapi disisi lain aku merasa iba, sahabatku yang kutahu dia sangat mencintai kekasihnya itu kini dicampakkan. Aku masih belum menemukan jawaban apa yang harus aku keluarkan atas pertanyaan anne barusan. Hatiku masih belum bisa berdamai dengan masa lalu. Anne masih mengharap belas dariku, pun dengan Aron yang sedari tadi mengawasi kami berdua.

“Aku maafkan,” jawabku. Pada akhirnya aku tak pernah tega pada Anne. Sekalipun aku marah bukan main padanya. Tapi apa kabar dengan lukaku? Memangnya aku yakin akan bisa baik-baik saja berteman dengannya? Hanya keledai yang masuk dalam perangkap untuk kedua kali, Lian!

Sepasang mata hazel Anne membola, tak percaya. Dia tak mengucap apapun.

“Aku maafkan, Anne. Tapi aku tak tahu apa aku bisa bersahabat denganmu. Kalau kamu mau, bagaimana jika kita memulai dari awal, sekali lagi?”

Bibirnya mengembang, “Tentu saja, Lilian.” Lantas dia menggenggam dua tanganku, “Aku akan membuktikan padamu, kalau aku masih pantas jadi sahabatmu.”

.

“Jadi, bagaimana rasanya?”

Aku menatap Aron bingung, “Apanya?”

“Bagaimana rasanya berdamai?”

“Lega.” Aku menutup mataku, merasakan sekali lagi rasa lapang di dadaku. Bibirku melengkung tajam. “Lega sekali. Sangat amat lega. Aku tak tahu apa ini yang terbaik, atau apa aku bisa melupakan sikapnya dulu. Tapi tidak ada salahnya mencoba kan, Ron?”

Aron mengangguk. “Seandainya aku menyatakan cinta padamu, apa kamu mau mencoba berpacaran denganku?”

“Eh?”

Advertisements

11 thoughts on “Mencoba Berdamai

  1. “Jadi, bagaimana rasanya berdamai dengan kolaborasi yang selesai?”

    “Aku senang sekali.”

    “Jadi, maukah kamu menulis bersamaku?”

    “Eh?”

    😛

    Back to the topic, pasti akan selalu menyenangkan kalau kita bisa terlepas dari rasa bersalah yang bercokol di hati. Semakin dilapangkan hatinya, semakin besar juga kebesaran hati kita menerima banyak hal yang datang dalam hidup.

    Cerita yang bagus, tema yang diramu dengan asyik, kolaborasi yang sangat manis. Hey, semoga kalian bisa menjadi sahabat baik juga ya selepas ini. 😉

  2. bnr bgt nih cerita,..
    lega bgt kl sdh berdamai i2,..
    walaupun bnr membutuhkan waktu untuk seperti dlu lgi,..
    ya, aron ya nembak #dor,..
    syock u/ kedua kali 2h lian,..
    oh, mngkn anne jg yg minta tlng aron nih u/ hal ini,..
    yah, sbgai ex_friends pasti tw kl shbt qt punya seseorang yg dy suka,..
    mw mnta mv n’ deketin aron dan lian,..
    atw jgn aron am anne ini sepupu jauh,..
    kkkkk,..
    nice story,.. 🙂

    • iya dongs kak. 😀
      yeps yepps~ aron nembak. Lian dapet dua kejutan dalam sehari.
      jangan2 juga sih, kemungkinan selalu ada. tapi rahasianya hanya aron yang tau. hhii…
      makasih kak. 🙂

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s