My Sky

vlcsnap-2013-02-24-07h45m54s17_副本

Title         :   My Sky
Author    :  @adiezrindra
Length    :  1686 words
Genre      :   Thriller (?), angst
Cast(s)    :   Sky & Dragon 😉

Disclaimer :
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2013 adiezrindra, all right reserved.

Warning : Light rated. I’ve told you, guys~!

.

February 12nd, 2013 | 11.00 PM
Tokyo, Japan__

Aku tak percaya. Berulang kali aku membaca selembar kertas vinil sederhana itu dan isinya tak berubah. Aku tidak mengalami kesulitan mengeja, pun aku tetap berulang kali menilik satu persatu aksaranya. Jika saja tatapanku bisa melubangi kertas itu hingga kalimat di sana hangus tak bersisa.

Fuck.

Sky akan menikah.

My beloved Sky.

Fuck. Fuck.

Jemariku meremas kertas menyebalkan itu dan melemparnya ke dinding kamar. Dua bola mataku beralih pada papan target panah di satu sudut. Foto pria brengsek itu terpampang tepat di tengah sasaran. Aku tak mampu menemukan alasan, mengapa Sky memilih pria bodoh itu. Pria yang hanya tahu duduk di depan komputer. Bahkan aku jelas lebih bisa menjaganya. Tak perlu diragukan, aku lebih dari pria metropolitan yang bahkan tak tahu cara mengurus diri sendiri. Aku mengambil satu anak panah dan melesatkan tepat di matanya. Bibirku menyeringai puas.

Pandanganku berputar, menilik seluruh kamar. Tak semilipun dindingku yang bersih. Segalanya berhias fotonya. Foto Sky. Aku melepas paksa satu foto. Wajah gadisku begitu sumringah di sana.

Sky, kamu milikku. Hanya milikku.

.

February 13rd, 2013 | 01.00 AM
Tokyo, Japan__

Namanya Rin, codename Sky. Satu-satunya fighter dari tim A1 yang kutahu. Aku mengenalnya semenjak dia masih menginjak belasan, tentu saja masih belum mengenal senjata. Tak berapa lama semenjak kedatangannya, para petinggi THIRD-i sudah memperhitungkannya sebagai calon fighter yang handal. Aku mengenalnya kala aku akan turun dalam tugas pertamaku dan dia dengan senyum polosnya meregangkan keteganganku. Mengepalkan dua tangannya ke udara dan memberiku semangat. Semangat yang lantas menjelma berjuta kali lipat menjadi keberanian.

Aku mengenalnya, dan jatuh cinta padanya.

TING TONG! TING TONG!

Berulang kali aku menekan bel apartemen Sky, dan belum menerima seutas sahutan darinya. Sekali lagi aku memencet tombol yang sama, tak sabar. Aku harus menyatakannya hari ini, sebelum lonceng gereja sialan itu berbunyi. Aku harus memilikinya, sebelum pria tolol itu yang mengklaim tubuhnya.

Kenop pintu berputar. Gadis itu terperanjat bukan kepalang melihatku. Matanya membola, mungkin tak menyangka aku akan berdiri di hadapannya malam ini. “Dragon?”

Aku selalu suka mendengar namaku di lidahnya. Akan lebih baik jika lidah itu memang hanya akan mengucap namaku. Bukan nama orang lain, lebih-lebih janji-janji yang akan dia ucapkan pada pria lain. Aku tahu dia mencintaiku, dia hanya malu mengatakannya padaku.

“Ada apa kamu kemari tengah malam begini?” tanyanya padaku.

Aku terdiam. Mataku menelisiknya dari atas hingga ujung kaki. Begitu elok. Rambut coklat keemasannya tergerai sempurna. Dia hanya mengenakan kaus longgar dan hot pants merah. Kendati kausnya menyembunyikan lekuk tubuhnya, putingnya menyembul samar-samar di dadanya. Dia tak mengenakan bra, sepertinya. Tubuh itu milikku. Wajah rupawan itu milikku.

Semua yang ada dalam dirinya adalah milikku.

Aku berjalan ke arahnya. Tanganku terangkat, hendak menyentuh pipi halusnya. Tak kuasa ingin menyentuh pundaknya, dadanya, pinggangnya. Tubuhnya. Aku ingin dirinya malam ini, begitu pula dengan teman kecil di tubuhku.

Dia beranjak mundur, langkah demi langkah, di dalam apartemen berukuran sedang itu. Runut, seiring dengan langkanku terhadapnya. Apartemen itu sederhana, ruang tamu, meja makan dan bar dapur dalam satu ruangan besar, pun tak tersekat. Beberapa kali dia terseok, kakinya berbenturan. Wajahnya menatapku waspada, pun ada kepanikan di matanya. Pelipisnya mulai berpeluh.

Aku tak mengerti mengapa dia harus menatapku seperti itu. Aku bukan orang asing, kan? Dia bertindak seakan dia tidak mengenalku. Begitukah caranya memperlakukan kawan? Oh, aku tahu. Pasti pria itu yang mempengaruhinya. Pria itu yang menyuruhnya jauh-jauh dariku. Pasti dia meracuni Sky dengan cerita-cerita busuk.

Fuck!

“Dragon, lebih baik kamu pulang. Aku harus bangun pagi hari ini. Aku akan menikah. Kamu tahu kan?”

Menikah.

Hah! Kamu tidak akan menikah, Sky. Tidak akan pernah jika tidak denganku!

Punggungnya bertemu dinding ruang tamu. Kakinya tak bisa lagi melangkah menghindariku. Sebagai gantinya, dia makin merekat di dinding. Dua tanganku menumpu dinding, di antara kepalanya. Aku menatapnya dingin, kesal. Mengapa dia harus menyatakan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi?

Dia menelan ludahnya. “Drr— Dragon?”

“Kenapa, Sky?”

Sky menatapku takut, bingung. Namun tak bergeming. Punggung tanganku membelai pipi tirus halusnya. Pipi itu milikku. Lantas meraih riap rambut yang jatuh di wajahnya, meletakkannya di belakang telinga. Dua mata kami bersirobok. Dia masih terkelu.

Bahkan matanya pun tak melihatku dengan cinta. Ah, tidak mungkin. Matanya penuh rasa kasih sayang yang besar. Sangat besar!

“Kke— kenapa?”

Aku tak mengacuhkannya. Tanganku mulai menyusup dalam kausnya, mengular di pinggangnya yang mulus. Sky kontan memukulkan dua tangannya berulang kali di dadaku, mendorongku kuat-kuat. Kenapa? Apa sentuhanku kurang halus? Ataukah tanganku yang memang masih dingin oleh udara luar?

“Dragon, kamu pulang sekarang!”

Aku meraih dua tangannya lekas-lekas, mengangkatnya di atas kepala dan menahannya di dinding. Dia memberontak tak berjeda, menggerakkan tangan dan tubuhnya. Tak bisakah dia diam sejenak dan membiarkan aku menunjukkan cintaku padanya?

Bibirku mencumbunya. Berawal dari kuping, menuruni lehernya, berhenti di pundaknya. Hidungku menyesap aroma sensual yang menguar darinya. Untaian kemerahan terbentuk di kulitnya, menjadikannya lebih menggairahkan. Dari sudut irisku, aku tahu dia menggigit bibir bawahnya. Dia menyukai cinta yang kupersembahkan padanya, aku tahu. Namun dia menyembunyikannya. Gadis itu menyembunyikannya di antara lenguhan yang dia tahan dalam-dalam.

Aku tahu dia mencintaiku.

Aku menciumi tulang selangkanya, beralih ke tenggorokannya. Lantas berbisik, “Kenapa kamu memilih dia?”

Dia menengadah, menutup dua pelupuknya lekat. Ada kristal yang mengendap di sudut matanya. beberapa kali pertahanannya meluruh, dia melenguh pelan. Diantaranya, dia terbata membalasku, “Apa… maksudmu?! Aku… mencin— hufftt—”

Dua pasang bibir kami bertemu. Aku membungkamnya dengan kecupan. Tidak, ini ciuman yang menggairahkan. Aku tidak tahan mendengarkannya berbohong. Aku tahu Sky tidak mencintai pria itu. Aku tahu dia mencintaiku.

Tanganku melepaskan pergelangan tangannya. Lantas mencapit dua pipinya hingga bibirnya mengerucut. Aku menyahut kesal, “Aku mencintaimu, Rin!!”

Tanganku yang lain masih bergerayang di balik kausnya, menjamah dada, memijatnya. Kendati lekuk tubuh sempurnanya selalu gagal dia sembunyikan di kostum fighter ketatnya, aku belum pernah menyentuhnya. Merasakan tubuh lencirnya, menikmati indah tubuhnya dan— ini sungguh jauh menyenangkan lebih dari yang selalu aku bayangkan.

Tubuhnya milikku. Perut ratanya milikku. Dada yang kini berada dalam genggamanku adalah milikku. Kulit susunya milikku. Bibir merekah itu milikkku. Leher yang memerah di sembarang tempat itu milikku.

Segalanya milikku.

Milikku yang tidak pernah dia sadari.

Aku mengklaim tubuhnya, dan berbisik diantara kecupanku, “Kenapa kamu berbohong, hah?! Aku tahu kamu mencintaiku. Aku tahu!”

“Aku tidak… berbohong…”

“Bohong. Aku tahu kamu melakukannya untuk membuatku cemburu.”

Tangannya yang bebas mendorongku sekali lagi. Harusnya dia tahu bahwa aku jauh lebih kuat daripada dirinya. “Jj—Ji… Stop…”

Hah! Kali ini kamu memanggil nama asliku, Sky. My Rin. Kita selangkah lebih dekat dari jujurnya perasaanmu. Kini kamu hanya tinggal mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Dan kita akan hidup bahagia selamanya. SELAMANYA.

“Ji, please stop!”

Mendadak ada yang menusuk perutku, tajam dan dingin. “ARRGHH!!!”

Aku menatap Sky. Tangannya menggenggam pisau dapur erat-erat. Aku tak mengerti darimana dia mendapat pisau itu, atau mengapa dia menusukku. Dia mencintaiku, dan tak ada alasan untuk menusukku, kan?

Oh, mungkin dia ingin bermain-main malam ini.

Ah, my little kitten.

Sky mendorongku kuat hingga aku terhuyung dan terjungkal berdebum di lantai. Dia mengambil langkah cepat dan berlari menjauhiku menuju tangga di belakang ruangan. Tangannya menyergap laci rak bawah tangga dan mengarahkan pistol padaku.

Aku menyeringai. Pemanasan kecil dengannya membuatku semakin bergairah. Hard to get, Sky. Okay, aku mengikuti permainanmu.

BANG!

Tembakannya melubangi dinding. Dia berlari mundur menaiki tangga. Aku berjalan mengikutinya, seraya tanganku merogoh ceruk belakangku dan mengeluarkan pistol milikku. Sedikit terseok, menahan luka di perut. “Kamu lupa seberapa cepat aku, Rin?”

Wajahnya memutih. Tentu saja, aku tidak akan menjadi andalan garda depan B2 team jika bukan karena keakuratanku menembak dan kecepatanku menghindar.

BANG!!! PRANGG!!

Vas di atas buffet hancur dan terserak di lantai.

“Kemarilah, dear… Kenapa kamu harus lari?”

BANG! BANG! BANG!!

Dia menembakkan pelurunya berulang kali, menghancurkan seisi apartemen. Dindingnya dipenuhi lubang.

“Perlu aku bantu, Rin?” tanyaku. Tanganku mengacungkan peluru, menembakkannya ke atap. Lantas mengarahkannya sembarangan, mengabrik segalanya.

BANG! BANG! PRANGG! BANG!

Serpihan kaca dan keramik berserak di segala tempat, langit-langitnya meretak, sementara beberapa blok diantaranya mulai meruntuh. Serbuk-serbuk entah apa beterbangan, mungkin dari atap, atau dinding, atau lantai. Semuanya menguar dan mengaburkan pandangan.

“Ahh… kamu ingin membawaku ke kamar tidurmu, Rin? Aku tak tahu bila kamu begitu menginginkanku berada di atasmu.”

Di ujung tangga, Sky mengokang dan menekan pemicunya. Namun tak ada yang keluar dari revolver-nya. Berulang kali dia mencobanya, penuh kepanikan. Hasilnya, nihil.

Aku menyeringai lebar. “Pelurumu habis, Rin?”

Wajah piasnya tak terkatakan. Dia segera berlari masuk menuju kamarnya. Aku dengan cepat mengejarnya. Ketika aku menemukannya, dia sudah membawa revolver lain di tangannya, berdiri dengan siaga di ujung ruangan. “Stop, Ji! Don’t move!”

Permainannya lucu sekali. Bukankah lebih mudah jika dia meloncat saja ke ranjang dan menungguku menghampirinya. Aku tahu dia menyukai pemikiranku ini. Aku tahu itu yang ada di pikirannya pula. Dia hanya ingin bermain-main.

Tapi permainan sudah berakhir.

Aku melangkah mendekatinya, tak peduli dia berceloteh entah apa. Tidak ada lagi appetizer. Aku menginginkannya. Aku menginginkan hidanganku malam ini.

Aku menginginkan pembuktian cintanya, tubuhnya. Aku menginginkan Rin.

Sekali lagi dia melangkah mundur, seiring dengan langkahku mendekatinya. Kakinya berselip, dia jatuh terduduk di lantai. Tangannya masih mengarahkan pistolnya padaku. Jarak kami menpis, hingga aku berhenti tepat di hadapannya. Dia menengadah, dengan dua tangan menggenggam revolver yang menunjuk wajahku.

“Sadar, Ji! Aku akan menikah!”

“Aku tahu kamu tidak mencintainya. Kamu mencintaiku, Rin!”

“Ji, stop… jangan mendekat…” pintanya, suaranya bergetar. Pun dengan dua tangan dan sekujur tubuhnya.

Aku tak mengerti, mengapa matanya menyiratkan ketakutan padaku. Apakah dia tidak lagi mencintaiku? Bohong. Dia mencintaiku.

Dia mencintaiku!!

Aku mengangkat tanganku. Kami berdua saling menodongkan pistol. “You know, Rin. Jika aku tak bisa memilikimu, maka lebih baik tidak seorang pun yang bisa memilikimu!”

BANGG!!!

.

February 14th, 2013 | 08.00 AM
Transylvania, Romania_

“Rin, kamu di mana, sayang?! Apartemenmu hancur. Kamu baik-baik saja kan?!!”

“Dragon, cepat datang ke kantor. Sky menghilang!”

“Dragon? kamu di mana? Cepat hubungi aku! Gawat!”

Ponsel-ponsel terus berdering nyaring, tersambung menuju kotak suara dan menyuarakan kepanikan. Rin menghilang. Ji tidak bisa dihubungi. Tentu saja, aku berada jauh dari mereka. Tak akan terjangkau untuk sementara waktu.

Mataku berpaling menatap gadis yang terlelap di ranjangku. Gaun membalut tubuhnya sempurna, indah dan megah. Rambutnya terburai, berhias mahkota mungil di puncaknya. Tangannya menggenggam buket bunga. Rautnya pias, tak berekspresi. Jemariku membelai kulitnya yang dingin dan tersenyum lebar.

Happy valentine, Rin. My Sky, kamu cantik sekali hari ini. Sudah siap untuk menikah denganku?”

.

Author’s note:

  • Aku nggak yakin sih ini Stream of Conciusness yang benar, dan Oh my God. This is really creepy, rite?  I even couldn’t understand why I made this suck fiction. Thriller macam apa ini?! Ini harusnya udah masuk tong sampah. Tapi ya sudahlah, Udah jadi juga. Mau diapain lagi. *sigh*
  • Yes, That’s light rated. I’m not sure whether a psycho will do this or not, but I think his mad love controlled him. Semoga ini tidak kelewat vulgar. I’ve tried to write as poetic as I can.
  • Oh yes, I know. Aku tidak menggunakan diksi berbunga-bunga. Sorry.
  • My oh my, I talked so much. Wish you enjoy it!

46 thoughts on “My Sky

  1. Jadi sebelum komentar ada dua typo yang saya temukan, he, dikit doang 😀

    “Jarak kami menpis, hingga aku berhenti tepat di hadapannya –> menipis

    Da menembakkan pelurunya berulang kali, menghancurkan seisi apartemen.” –> Dan
    _____
    Jadi pertama, kayaknya aku belum pernah bilang ke Onni kalau saya punya syndrome yang namanya aku-pengen-bisa-nebak-ending-tulisan-ini yang terjadi disetiap kali aku membaca ff, novel, atau tulisan apa pun, syndrome ini kadang mengganggu, kadang juga enggak. Mengganggu kalau misalnya saya tepat menebak endingnya, dan enggak kalau saya salah menebak endingnya. Dan untuk My Sky ini….
    SUMPAH, SAYA SALAH TEBAK! Dan saya seneeeeng bangeeet!

    Jadi, gini, diawal saya sudah tahu kalau misalnya Dragon bakal melakukan sesuatu yang buruk entah itu pada Sky atau si calon suami Sky (yang aku percaya adalah seorang hacker seperti Takagi Fujimaru, kwkwkwkw). Nah, pada saat kejadian di apartemen Sky, saya pikir Dragon berniat untuk membunuh Sky. Tapi ternyata? BUKAN! Saya salah tebak, ternyata Dragon cuman ingin “memperkosa” Sky. Well, pas adegan ditembok itu saya ketar ketir plus deg-degan. Well, meski umur saya udah 17, tapi saya kan masih murni, onni #plak hahaha.

    Oh, ya satu hal yang saya suka dari tulisan Onni adalah narasi onni yang sangat runtut dan bisa bikin pembacanya menikmati setiap adegan dengan baik. Dan bagian di tembok itu bener-bener kerasa banget betapa Dragon menginginkan Sky. Huhuhu, saya kepengen banget bisa kayak onni, saya paling bego soal action dalam sebuah cerita.

    Oke, lanjek. Wah, sampai situ saya yakin. Pasti ujung2nya si Sky di culik. TAPI! Salah, lagi. –__–” si Sky nusuk Dragon. Ternyata. Dan adegan tembak-tembakan pun terjadi, beugh, BANG! BANG! Saya suka banget bagian situ. PAS! kayak MV She’s Gone. Saya SUKA BANGET! Sampai akhirnya, di adegan acung-acungan pistol. Sambil terus baca saya menduga-duga, diantara kedua fighter itu siapakah yang akan mati. Tapi saya tidak menebak dengan pasti , syndrome saya akan berhenti bekerja kalau misalnya cerita itu sudah berhasil bikin saya menyerah untuk menebak ending dan mengikuti dengan tenang isi cerita tersebut. Dan…

    BANG!

    Ini bacaan mahal! 😀 Ternyata dua ending yang aku tebak itu berhasil dijadikan satu oleh onni. Ya, Sky diculik Dragon, dan Ya, Sky mati. Beugh. Setelah baca tulisan ini saya langsung ngerasa kalau saya harus komentar panjang2. Hahaha.

    oh ya, satu lagi point asyik saya temukan. Jadi cerita ini macem Hunger Game dan Bloody Monday jadi satu. Hohoho, THIRD-i dan A1 B1. Saya suka banget.

    Yak, sikan dari saya, tulisan ini JAUH DARI Creepy seperti yang Kakak bilang. INI SUPERB!! Terus berkarya Onni 😀

    • sudah diperbaiki ya kesalahan teknisnya. makasih ya dicta.. 😀

      alhamdulillah, kalo dicta gak bisa nebak endingnya. kan unpredictable ending itu yg berusaha dicari penulis.
      aduh, adegan ratednya nggak kelewat vulgar kan yaa? apa perlu diperhalus lagi?

      makasih compliment soal actionnya. aku nggak aware sih ttg detil action yg aku tulis, tapi gimana kalo semisal itu terjadi di hadapan kita, bagaimana pergerakan dan apa yang terjadi dgn pemain itu kita lihat, itu yg aku tulis. ^^

      sejujurnya aku belom pernah nonton Hunger Game. dan yeah, THIRDi itu dr Bloody Monday. untuk A1 & B2 itu aku terinspirasi dr satu cerita yg pernah aku baca. *dan gak tamat2*

      aduh, saya ttep merasa karya ini banyak kekurangan. semoga ke depannya bisa lebih baik yaa…
      makasih lho komennya dicta..

  2. Komentarnya Dicta sudah sangat panjang kan Dis. 😀
    Yang pasti, ini cerita yang berani. Lebih berani dibanding tulisan threesome kalian kemarin. Agak sedikit ‘kecewa’ sebenarnya dengan adanya fakta ada seorang perempuan jago karate. Hehe.

    Pergerakan narasi, aksi sama dialognya proporsional. It’s thrilling. Sangat menarik Dis. 😀

    Meski akhirnya perbincangan batin karakter yang kamu buat, tak sepenuhnya tereksplor. Tapi, pembaca bisa melihat itu dari aksi dan dialog yang dituturkan. Well done. Really. 😉

    • sangat sangat panjang. dan punya kak bee juga jauh lebih panjang. hha..
      err… mungkin karena yg kemaren itu pertama kalinya saya *dan mereka* bikin tulisan yang berani, mungkin masih kagok. saya pribadi sih selalu kagok kalo sudah menjurus ke arah sana.

      iya, memang sangat kurang tereksplor. ttatapi saya bingung dengan perbincangan batin tokoh. karena pikiran psiko itu terkadang sangat rumit dipahami. ;;~~~~~”

      makasih coach complimentnya.^^
      semoga ke depannya bisa lebih baik lagi. ;D

      • Dari semua aspek, tetap, kamu paling bisa bikin greget itu sampai akhir. Dan sangat menyenangkan bisa membaca tulisan yang seperti itu. 😀

        Hihi, masalah pikiran batin psiko, nah gak ngerti juga diez, belum pernah ketemu juga.

        You’ve done well! Good job. 😉

  3. saya udah bikin komen beberapa baris tadi malam dan… eng ing eng, saya ketiduran sambil duduk. jadi saya perlu ulangi lagi rupanya. baiklah, langsung saja, saya komenin masalah teknisnya aja dulu ya.. o ya, ini cerita saya copy-paste di word terus saya bacanya di sana. sambil nandain beberapa hal. semoga cukup teliti dan tidak mengadakan kesalahan yg tidak ada.

    komen… sijak!

    saran penggunaan kata asing ‘vinyl’ dan ‘team’. menurut saya lebih baik kamu indonesiakan saja: vinil dan tim. kenapa? karena bahasa kamu cukup puitis dan sayang rasanya kalau harus terganggu dengan keberadaan kata asing yg tetap asing. penggunaan kata ‘fighter’ mungkin bisa dimaklumi karena kadang dalam suatu cerita ‘fighter’ tidak bisa benar-benar tepat diterjemahkan dalam bahasa indonesia. ini mungkin… semacam jabatan ya, kan? kalau diterjemahkan sebagai pejuang jadi beda konotasinya, kalau jadi prajurit, tetep ga pas, jadi ya… fighter aja.

    “Tak usah dinyana , aku lebih dari pria metropolitan yang bahkan tak tahu cara mengurus diri sendiri. ”
    > ‘dinyana’ atau ‘ditanya’ ? setahu saya dinyana punya makna sebagai ‘diduga’ / ‘dikira’. atau mungkin dia punya arti lain, ya… itu ketidaktahuan saya.

    “Aku mengambil satu anak panah dan melesatkannya tepat di matanya.”
    > boros kata ‘nya’. coba: Aku mengambil satu anak panah dan melesatkan tepat di matanya.

    “Tak ada yang bisa dipaparkan dari tubuhnya.”
    > kamu mengontradiksi paragrafmu sendiri. pada faktanya, paragraf itu memaparkan tubuh sky. dia pakai hotpants, putingnya pun terlihat. setidaknya, itu sebagian kecil paparan mengenai tubuh Sky.

    “Dia beranjak mundur, langkah demi langkah di dalam apartemen berukuran sedang itu.”
    > hanya tambah koma: Dia beranjak mundur, langkah demi langkah, di dalam apartemen berukuran sedang itu.

    “Runut, seiring dengan langkanku terhadapnya.”
    > ‘langkan’ atau ‘langkah’? typo atau memang mau menulis ‘langkan’? setahu saya, langkan adalah pegangan pada balkon atau yg semacam itu. kata benda. cemiwiw (cmiiw)

    “Apartemen itu sederhana, ruang tamu, meja makan dan bar dapur dalam satu ruangan besar, pun tak tersekat”
    > kata ‘pun’ di sini, kalau meminjam istilah beta saya: it brings you nowhere. kemubahan kata. tidak terlalu efektif dan terkesan agak dipaksakan. saran: Apartemen itu sederhana, ruang tamu, meja makan dan bar dapur dalam satu ruangan besar, tak bersekat

    “Beberapa kali dia terseok, kakinya berbenturan. Wajahnya menatapku waspada, pun ada kepanikan di matanya.”
    > kata pun di sini lebih bermanfaat. tepat sekali sehingga untaian kalimatmu terkesan kaya akan kiasan. saya rasa saya senang melihat penggunaannya di sini ^ ^

    “Aku bukan orang asing, kan? dia bertindak seakan dia tidak mengenalku.”
    > kapitalisasi: Aku bukan orang asing, kan? Dia bertindak seakan dia tidak mengenalku.

    “Dua tanganku menumpu dinding, diantara kepalanya.”
    > yakin kedua tangan ada di antara kepalanya? kepalanya terbelah dong…
    > diantara, yg benar: di antara

    “Merasakan tubuh lencirnya,”
    > boleh tahu arti kata ‘lencir’?

    “Kulis susunya milikku.”
    > typo?

    ““Kamu lupa seberapa cepat kecepatanku , Rin?”
    > ng… gimana kalau begini: “Kamu lupa seberapa cepat aku?”
    > menurut saya kalimat ini tricky. dalam bahasa inggris kamu bisa dengan mudah menggunakan “do you forget how fast i am?” sepertinya saya semacam bisa meraba kemana arah kalimat ini. selain menunjukkan arti yg sebenarnya, dia juga ingin menunjukkan seberapa sok dan percaya dirinya si dragon. tapi dia betul-betul seorang yg menginginkan sky sehingga kalau di indonesiakan dengan “…seberapa cepat aku bisa bergerak,” kesannya seperti seseorang yg sok dan tidak butuh sky pada saat yg bersamaan. bukan itu image dragon di cerita ini, kan? cemiwiw ya.

    oke, catatan teknisnya sudah berhenti sampai di situ.
    sekarang mengenai ide cerita… ini seperti satu cuplikan film. beda dengan dycta, saya menebak pada akhirnya memang bakal ada character death (dan kamu membuat saya membacanya pada malam jumat!! *tusuk2 boneka teddy*). saya dukung pujian dycta mengenai runutnya jalan cerita, tapi kalau saya sendiri, ada satu hal yg ingin saya katakan: saya terpaksa meloncati beberapa paragraf karena menurut saya isinya relatif sama satu dan lainnya. monolog dragon tidak memecut (heah, cetar kali) benak saya dengan ke-psikopatan-nya. i’d already know clearly what he wanted, but there’s really not much evil in his mind.

    tolong jangan menganggap terlalu penting komen saya yg tadi. karena pada dasarnya saya memang rada abnormal, menginginkan sesuatu yg psikopat-ik.

    lalu tentang perbincangan karakter batin yg disebutkan oleh teguh, itu juga saya setuju. it’s like… umm… setengah-setengah. /sigh irdk how to put it into words. it’s just… dragon tidak terlalu menonjolkan dirinya sendiri. disebutkan memang, bahwa dia lebih baik dari calon suaminya, tapi tidak disebutkan lewat detil-detil yg lain. saya hanya menangkap “aku mau sky, aku mau sky, aku mau sky.” menurut saya, ketika dragon menginginkan sky, dia akan kembali pada dirinya sendiri lagi, yg rumit dan susah dipahami oleh orang waras. karena itulah salah satu ciri seorang psiko (obsesif parah juga psiko kan?) kerumitan inilah yg tidak saya temui dalam dragon kamu.

    apakah saya terlalu kejam? sepertinya komen saya bahkan lebih thriller dari ceritanya. duh, saya minta maaf ya. tapi ini bukan ‘suck fiction’ seperti yg kamu bilang. some people enjoy adrenalin rush by reading, perhaps by reading this kind of story. it’s just in my opinion, you need to explore a bit more.

    tapi, kalau ini adalah salah satu cara kamu ngilangin stres sebelum ujian/kuis yg bejibun sih, saran saya kamu langsung delete saja komen saya. ih, saya mah ih! bikin komen aneh-aneh.

    bagaimanapun, penulis yg cinta menulis pasti mengekspresikan emosi/perasaannya lewat tulisan. dan tentu saja kita berhak menulis bagaimanapun sesuka kita. i did that a lot too, it’s just nobody knows where i publish it /grin/

    cheers, dis!

    • yeyeyy kak bee~~^^ makasih untuk sudah mau membaca. hhe…

      untuk kesalahannya sudah saya perbaiki ya kak.
      lencir itu tubuh yg semampai begitu deh kak. itu sepemahaman saya.

      aiihh… maaf ya kak atas monotonitas dari pikiran dragon. saya sendiri kurang ahli untuk mengeksplor pikiran dia. *penulis macam apah ini*
      mungkin saya waktu itu hanya ingin mengfokuskan pikiran dia atas kepemilikan .

      nggak, saya butuh pecutan yg kejam kok. karena ya… ini thriller pertama saya, jadi saya tidak butuh pujian. hha…

      won’t delete lah. ini pembelajaran bagi saya kok, dan mungkin juga untuk yg baca fiksi ini selanjutnya.

      terima kasih ya masukannya, kak bee.
      sangat membantu, sangat berharga.

      love. ❤ ❤

  4. ehh saya telat banget yah.-.
    aduh maaf kak.-.

    Baru sempet buka laptop sekarang setelah service *ngeek*
    jadi minder deh baca comment nya beenim, kayanya semua yang nana mau sampe.in jadi sebagian kecil comment nya dia :”)

    Anyway, ceritanya agak nanggung.-. feel nya nggak nyentuh sedalam biasanya *aduh maaf* kaya ada yang hilang yang bikin ff ini kurang boom padahal idenya udah bagus 😀

    • gppa kok say. 🙂

      aduh, bee-nim itu mah emang teliti. aku aja perlu beberapa waktu untuk selesai membaca. hha…

      hhii, kurang yah feelnya? humm.. mungkin krna ini masih thriller pertama? semoga deh alasan ini bisa masuk akal. hhe..
      semoga ke depannya saya lebih baik lagi ya.. 😀

      • matanya ada puluhan kali makanya teliti banget orangnya.-.

        iya mungkin juga sih kak. biasanya kan nulisnya yang enteng-enteng. yang kalau nggak bikin melayang ya bikin nyesek :”) hihihi XD

        Keep writing kak! 😀

  5. Kak Adiiiis! Maaf aku baru sempat baca sekarang, but is it for me?? /nangisterharu/

    ooh I’m not expecting a high-class diction karena aku tau kak adis sendiri punya gaya menulis yang asyik dan pastinya diksinya juga udah kece dong! kata-kata yang berbunga-bunga dan penuh kiasan kurasa kurang cocok untuk action fiction yang harus to the point dan jelas, jadiiii it’s all great and okay! aku gabisa komentar dalam sudut penulisan karena uhhh aku sendiri masih belum bagus, jadi mari kita lewatkan komentar dalam sudut itu dan berpindah ke sudut cerita!

    ide yang brilliant meski aku agak sedih Sky mati T.T tapi karena pada dasarnya Ji yang overload rasa cintanya buat Chae itu jadi gila dan ingin memiliki Rin sepenuhnya, psycho gapapa kaliyaaa lagian aku tertarik sama cerita psycho kok, dan agak kaget cerita ini agak mirip sama fic yang lagi kubuat, cuma ya pastinya beda, punyaku bukan dikemas dalam genre action! alurnya greget, dan alur dari awal sampai akhir itu menarik dan runtut, setiap scene ada kekuatannya dan kalau menurutku, pengulangan bagian ketika Ji menegaskan bahwa Rin miliknya dan mencintainya itu malah bagus, kenapa? karena itu memperkuat dan makin memperkuat bahwa Ji memang psycho, meski pada akhirnya bukan begitu kenyataannya. mungkin bisa dibilang dia sadar akan kenyataan, tapi karena dia punya anggapan dari awal bahwa Rin mencintai dia dan terlalu dibutakan sama perasaan itu, dia kembali dan kembali lagi menegaskan anggapannya yang pertama. Mungkin itu yang dimaksud kak Adis, kali ya? /soktau/

    dan mengenai karakterisasi, Ji sudah cukup psycho dan ummm pada akhirnya dia mengambil cara untuk mengklaim Rin dengan membunuhnya, itu berarti emang egonya udah luar biasa ‘kan? karena di saat Ji ‘menginginkan’ Rin itu berarti dia kembali kepada pemuasan dirinya sendiri, menolak penegasan Rin kalau Rin tidak mencintainya. Dan scene yang kusuka… semuanya! gatau deh, alurnya ini menarik banget dan aku gatau harus komentar dari segi apa lagi. kita sama-sama belajar ya kaaak!

    eh iya kak, aku pernah dapet saran dari orang, katanya “di hadapan” itu ngga usah dipisah, jadi “dihadapan”. Aku juga masih cari-cari yang bener sih, hehe 😀
    terus, “Runut, seiring dengan langkanku terhadapnya” –> langkan di sini aku cari artinya pagar, typo atau emang langkan kak?

    feeling? feeling cintanya Ji untuk Rin kerasa banget kok! dan di mana Rin ngerasa ngga nyaman sama perlakuan Ji juga dapet. oh dan ini juga udah masuk rating Adult ya, maaf ya kak aku baca 2 tahun lebih cepat=w= awalnya menarik dan endingnya pun menarik, aku tau bakal ada yang mati, tapi proses menuju kematian *APAAN SIH?* ini yang bikin greget, dan feel tegangnya itu dapat! kupikir calon suaminya juga bakal diapain gitu, eh ternyata cuma Sky-nya aja. tapi aku juga sering sih ngebayangin kalo psycho semacam Ji ini yang cintanya overload untuk seseorang bakal tiduran di satu ranjang dan ngomong berlagak kaya si cewek yang dia bunuh masih hidup :3

    oh dan aku baru sadar kalau pemuda yang duduk di depan komputer (calon suaminya Sky) itu maksudnya hacker setelah baca komentar kak Dicta, kupikir karyawan HAHAHA duh ya gasadar kalo lagi baca fic action. Tapi serius, setiap adegan yang kakak tulis itu berasa kaya aku nonton secara live! /heh!/

    tetaplah menulis, kak adiiiis! kabari aku kalau kakak bikin skydragon lagi ya, atau nanti aku yang main ke sini, hihi! great fiction, and you deserve 4 thumbs up! SEMANGAAAAT! untuk menulis dan segala macam lainnya, semangat dan sukses! terima kasih untuk bacaan yang menegangkan dan indah(?) ini<3

    • hhii… nggak papa kok fik. 🙂 nggak buat kamu juga sih. 😀
      kebetulan ada tantangan nulis thriller, dan di pikiranku udah yang tembak2an aja. dan kebetulan kamu juga pernah ngasih tantangan SD action, ya udah. aku gabungin aja. :))

      iya, aku takut kejebak sama diksi yang tinggi, sehingga esensi action-nya nggak nyampek. yaaahh… disamping otak cetek aku yg nggak mampu juga sih. /garuk2 kepala/

      aduh, mirip ya? semoga tidak sama hingga akhir ya.. 🙂
      gimana ya, kadang pikiran psycho itu nggak bisa ditebak. semacam Ji itu hidup dalam delusi, dimana Rin itu punya dia, cintanya sama dia. Jadi, kayak nggak terima sama kabar itu, karena believe nya dia sama cintanya rin. dan cintanya dia yang buta itu.
      uukkh! complicated ya?

      itu semacam typo, yang malas aku ubah. hha~!

      aduh, maaf ya. udah masuk rating tinggi. abisan, rasanya kurang thriller tanpa adanya kekerasan, dan lebih mengena kalau kekerasan itu berwujud sexual thing. hha..
      yes, aku merasa Ji juga tipe orang seperti itu sih. :))

      suaminya? terserah kalian menerjemahkan sih. bisa seperti yg dicta kira, bisa seperti yang kamu duga. ^^
      terima kasih untuk compliments-nya ya…

      terima kasih ya fikha… ^^

      • aah maaf nih jadi kegeeran, abis di twitter kak adis bilangnya rikues aku xD wah iya, tapi seru kok!

        errr tolong jangan ngerendah kaya gitu kak, kalo kakak cetek aku di mana? inti bumi?

        ngga kok, lagian itu baru rencana aja dan ceritanya sebenernya beda cuma ya cowoknya psikopat ajaa, hehe. aah okeokee aku ngerti!

        tapi ngepas juga sih, nanggung udah thriller gini disambungin aja gitu kaliya ke rating tinggi, iya sih jatuhnya lebih keliatan si Ji mau nguasain Rin =))

        kembali kak, semangat terus yaaa o/

      • hha… ini juga bisa dibilang rikuesan kamu juga kok fik. kalo km gak rikues mungkin aku pake nama lain kaann?
        eyawalo aku gak yakin sih bisa bikin action tanpa cast skydragon. u,u
        hha… kita sama2 belajar ya fikha.. 🙂
        makasiihh… ^^

      • oalaaah okeee
        mereka emang kece buat action, eh akhirakhir ini momen mereka membludak sampe aku seneeeeng banget ><
        siaaap! 😀

  6. Pingback: My Favorite Fan Fiction | Cappulatte

  7. ya ampun jidi,.. 😦
    phscyo, ehm selalu ngeri kl udah dnger ini,..
    bnr2 tindakanny d’luar akal sehat?
    tapi kl orang pshcyo i2 pikran selalu pervert ya? ‘abaikan’

    n’ untuk masalah rated i2,.
    saya rasa gk telalu vulgar dis, msh d’ambang wajar deh,..
    kata2 yg qmu tulis,..
    action dapat bgt 2h,..

    saya kira td jidi bkl ngbunuh tunangan sky, u/ memperingati sky u/ putus,..
    eh, pas tak selusuri gk ad k’arah sana,..
    twny sky yg die,..
    jidi, qm bnr2 ya,..

    lnjut baca yg lain dlu,..
    hihi,.

    • iya, tindakannya agak nggak masuk akal sih. :))
      pervert itu, pokoknya delusif, obsesif, gitu lah.

      memang, rated itu relatif sih kak. 🙂
      makasih yaa.. ^^

      makasih lho kak sudah baca thriller aneh ini. hhaa!

  8. berasa ada yang menghujam dijantung waktu baca cerita ini sampai habis #lebaynyakeluar .. ( . . ) serius deh spechless saya jadinya .. Apalagi endingnya bagian kalimat “Mataku berpaling menatap gadis yang terlelap di ranjangku. Gaun membalut tubuhnya sempurna, indah dan megah. Rambutnya terrburai, berhias mahkota mungil di puncaknya. Tangannya menggenggam buket bunga. Rautnya pias, tak berekspresi. Jemariku membelai kulitnya yang dingin dan tersenyum lebar.
    “Happy valentine, Rin. My Sky,
    kamu cantik sekali hari ini. Sudah siap untuk menikah denganku?”” bikin saya terpaku sangking terbawa sama alurnya #okeabaikan Terimakasih dan salam sukses untuk authornya ^^)/

  9. awww.. aku gk bs komen panjang2 kya di atas tp aku stuju sma yg d atas2 dan aku sangat menikmati ff ini!! keyen de umma~

  10. keknya aku ga perlu komen panjang ya,
    buat aku ini ga vulgar ko, (mungkin karna kadang suka nonton thriller yg lebih dari ini) 😀
    dan kalo buat penulis macam kaka pengalaman pertamapun tetep aja keren,
    semangat!

  11. Anyeong….. Aku new reader disini Ъќ>:/ sengaja nyasar ϑϊ fp ini ….
    Tapi Ъќ>:/ nyesel baca ff pertama ϑϊ sini….
    Asli bikin tegang setiap kata n situasi bnr” bermakna. Alur Πγª juga susah ϑϊ tebak….
    Daebak ini ff ,,,,,,

  12. Hallo, salam kenal..

    Pertama baca saya suka ffnya, banget malah 😀

    Tapi saya kurang dapet imagine dragonnya..

    Tapi, tapi.. tapiiii FFnya bagus, sangat 😀 #apadeh

  13. Oh my God! Finally. Setelah melanglang buana mencari FF skydragon dgn penulisan dewasa dan gaya bahasa apik, nemu juga dsni. Suka bgt gaya bahasanya. Very mature rapih hahaha… well.. lets read another story..

  14. Gd cinta bgt sm si cewek Mungkin terobsesi, tapi si cwk gk milih dia, jadi dia mencoba menghibur diri, mengangap bahwa si cewek cinta dia, dan meyakininya denggan sepenuh hati karena jii gk mau terima kenyataan. Ahh jii menyedihkan disini, nyesek bgt akhirnya dia jdi gitu
    Daebakk ff nyaa… Fell nya dpt bgt, adegan action nya juga 👍

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s