Ke Mana Peduli Bersembunyi?

tumblr_lnbi0idpsq1qzkgrmo1_500_large_副本

Pintu ruang Instalasi Gawat Darurat menjeblak lebar. Beberapa orang mendorong ranjang masuk tergesa. Seorang pasien di atasnya merintih, sesekali mengerang nyaring. Aku berlari menghampirinya, penuh peluh dan terengah. “Dokter, pasien dalam keadaan gawat,” ucap seorang dokter, melapor padaku.

“Bagaimana statusnya?” tanyaku.

“Pasien bernama ibu Rumiyah, 76 tahun. Pasien mengalami hipotensi[1], tensinya 80/50, dok. Selain itu, dia juga mengalami takikardi[2]. Respiratory rate masih normal. Tungkai kirinya nekrosis[3] dan menghitam, dengan ulkus[4] dan pus di bagian paha.”

Nekrosis? Ulkus?

Aku melihat pasien tersebut. Wanita itu sungguh renta. Di sela rintihannya, aku bisa melihat geligi yang sepenuhnya tanggal. Benar apa yang diucapkan rekanku. Kakinya menghitam, sel-selnya mati total. Dingin dan menebarkan bau tak sedap. Aku bisa melihat otot-ototnya mengecil, serta tendon belakangnya yang nampak memisah karena tak lagi berlapis kulit. Lebih dari itu, ada belatung yang keluar masuk ke di sela jaringannya yang hancur dan basah.

Nafasnya dangkal, kendati masih beritmik. Aku menggenggam pergelangan tangannya, menghitungnya sembari melirik arloji. Detak jantungnya cepat.

“Segera pasang IV NS[5]. Ini gangrene, prioritas dua[6].”

Dokter itu mengangguk, mengambil peralatan dengan sigap. Petugas yang lain bergegas mendorong ranjang menuju salah satu bilik dengan gorden kuning. Aku segera menulis status pasien tersebut dan memanggil salah satu dokter muda yang berjaga malam itu. “Theo!”

Anak muda itu baru saja selesai mengecek pasien lain, sebelum kemudian separuh berlari menujuku. “Iya, dok?”

“Ambil obat untuk pasien di P-2. Pasien mengalami gangrene pedis dextra[7]. Setelah itu langsung debridement[8] dan rawat luka,” jelasku sembari menyerahkan secarik kertas status pasien. Dia lantas berlari meninggalkanku.

Aku keluar dari ruang IGD, dan seorang wanita muda kontan berdiri dan menoleh padaku. Wajahnya pucat, peluhnya mengucur di pelipisnya. Jemarinya saling meremas, cemas. “Bagaimana keadaan ibu saya, dok?”

“Anda keluarga ibu Rumiyah?”

Dia mengangguk. Sorot matanya memelas, namun menuntut.

Aku melirik ke belakang, ada beberapa orang yang juga memandangku dengan arti yang sama. Mengharap ada ucapan yang tercetus dari bibirku. “Kalian juga keluarganya?” tanyaku.

“Mereka kakak-kakak saya, dok,” jawab wanita itu lagi. Dia menjawab sebelum bibirku merapat. Sungguh, rasa cemasnya merajai dirinya.

“Mari ikut ke ruangan saya,” tawarku. Lantas aku berjalan lekas-lekas menuju ruangan kerjaku, duduk di kursi. Wanita muda itu segera mengikuti, di belakangnya berdiri kakak-kakaknya. Dua wanita dan satu pria.

“Saya Dokter Rin, dokter bedah yang berjaga malam ini,” ucapku, memperkenalkan diri. “Maaf, nama ibu siapa?”

“Laksmi, dok. Saya anaknya. Ini kakak-kakak saya, Dedi, Mira dan Ria.”

“Begini Bu Laksmi, keadaan ibu anda tidak terlalu baik. Ibu anda mengalami gangrene pedis. Jadi kakinya sudah mati, tidak bisa digerakkan. Beliau terinfeksi bakteri bernama Clostridium perfingens. Saat ini beliau sedang dirawat lukanya. Maaf, sudah mulai kapan kaki ibu Rumiyah menghitam?”

Bu Laksmi menggigit ibu jarinya. Dia terdiam sejenak, mengingat-ingat. “Satu bulan ini, dok…”

Jawabannya sudah kuduga. Keadaan pasien itu sudah sangat parah. Bagaimana bisa anak-anaknya hanya diam saja?

“Kenapa tidak langsung di bawa kemari, bu?”

Mereka terdiam.

Sejenak aku terkelu, menarik nafas dalam-dalam. Setelahnya aku memaparkan keadaan ibu mereka, sedetail mungkin hingga kuyakini mereka mengerti.

Raut Bu Laksmi kontan memasi kala aku menjelaskan penanganan utama yang harus disegerakan. “Aa— amputasi… dok?” tanyanya lirih, terbata.

“Iya, bu. Karena kematian jaringannya sudah sangat parah dan tidak mungkin terselamatkan.”

“Kalau tidak diamputasi, apa yang akan terjadi, dokter?” tanya Dedi, kakak lelaki Bu Laksmi.

Aku beralih menatapnya dan menjelaskan, “Kerusakan jaringannya akan semakin parah, pak. Bisa menjalar ke atasnya, kaki yang lain. Atau jika bakterinya ikut aliran darah, maka bakterinya bisa masuk ke dalam otak dan menyebabkan kerusakan otak. Jika bakterinya masuk ke dalam paru-paru maka akan terjadi gagal nafas, dan keduanya bisa berakibat pada kematian.”

Tubuh Bu Laksmi bergetar hebat. Air matanya menderas, melintas tak berjeda di pipi ke dagunya. Dengan nada yang bergetar dan isak di selanya, dia menatapku memelas, “Kka—kalau… operasi… berapa dok… biayanya?”

.

Aku menghela nafas, lelah. Keluarga Bu Rumiyah baru saja keluar ruangan. Mereka setuju untuk berunding sebelum memutuskan. Aku masih saja gagal mencerna, mengapa mereka membiarkan ibu mereka hingga mengalami penyakit separah itu?

Nekrosis sepanjang tungkai, menghitam. Dan belatung.

Belatung.

Satu bulan. Satu bulan ibu mereka merintih dan mereka berpangku tangan.

Ke mana peduli bersembunyi?

Aku menghempaskan tubuhku ke punggung kursi. Tanganku memijit pelipis, lelah. Samar-samar percakapan merea menembus dinding, melipir ke kuping.

“Kak, bagaimana ini? Ibu harus diamputasi…” suara ini, barang pasti Bu Laksmi yang berbicara. Dia yang sejak semula diruapi kekalutan.

“Tapi kita tidak punya uang, Laksmi,” kilah kakak lelakinya, setengah berteriak. Kalau aku tidak salah ingat, namanya Dedi.

“Kita bisa pinjam bank, kak. Atau Om Rudi. Aku juga punya simpanan uang, walau tak banyak.”

“Bank? Lalu bagaimana kita mengembalikannya? Dengan tubuhmu?! Bahkan kamu menari telanjang saja tidak akan cukup!” balas kakak tertuanya, Mira. Aku mengenal nada sarkastisnya hanya dalam perbincangan satu jam lalu. “Om Rudi? Kita bahkan tak tahu dia di mana. Dan apa? Uangmu? Uang yang kamu simpan diam-diam di lemarimu? Sudah kupakai untuk berjudi minggu lalu. Sudah amblas.”

“Judi?!” tanya Laksmi, melengking beberapa oktaf.

“Iya, kenapa? Tak suka?”

“Itu uang keringatku, kak!” Laksmi menggeram, lantas mencicit. “Sekarang bagaimana ini… ibu bisa meninggal kalau tidak diamputasi…”

Mereka terdiam. Aku pun demikian. Dalam hati berdoa, semoga mereka mengambil keputusan yang tepat. Itu ibu mereka, bukan?

Kakak keduanya yang semenjak tadi membisu angkat wicara. “Sudah sudah. Kita biarkan saja ibu begitu. Kita tidak punya uang, dengan apa kita membayar. Lagipula ibu juga sudah tua, sudah waktunya mati. Biarkan saja.”

Aku terperanjat. Pun begitu dengan Laksmi, sepertinya. “Kak! Apa yang kak Ria katakan?!”

“Loh, benar kan? Ibu sudah jompo begitu. Diamputasi pun tak ada gunanya. Hanya akan makin menyusahkan. Nanti dia pasti akan semakin bergantung pada kita. Aku malas mengurusnya.”

“Betul. Sudah keluar biaya banyak, makin repot pula. Dipikirnya kita pengangguran apa, setiap hari hanya mengurusnya,” timpal Mira.

“Tuh, Laksmi. Dedi juga setuju kan?”

“Terserah. Toh aku tidak serumah dengan kalian,” jawab Dedi tak acuh.

Mira terkekeh, “Ck! Sudahlah. Biarkan saja. Sudah, aku pulang. Aku sudah ketinggalan sinetron kesayanganku. Oh iya, tidak perlu kabari aku tentang keadaan ibu. Aku tidak peduli.”

“Kak Mira!!” panggil Bu Laksmi, menahan geram. Isak di tenggorokannya tercekat.

“Kak Mira, aku ikut!” Kali ini detum sepatu high heels menjauh, membuntuti Mira. Suara Ria yang nyaring membahana.

“Ah, kalau begitu aku juga pulang. Masih ada pekerjaan di kantor. Kamu tidak perlu terlalu ngoyo, Laksmi. Menyerah saja,” saran Dedi pada adiknya. Lantas berjalan menjauh.

Di balik ruangan, aku terperangah.

Dua telapak tanganku bertelungkup, menutup wajahku. Kendati aku tak mengenal siapa ibu Rumiyah, pun Bu Laksmi sebelumnya, rasa-rasanya aku pun tak sanggup membayangkan bagaimana kekalutan dalam diri bungsu keluarga itu.

Unbelievable.

Sungguh, aku ingin menerjang pintu dan membentak mereka satu-satu. Itu ibu kalian, yang mengandung masing-masing dari kalian selama sembilan bulan. Yang merelakan jatah makanannya untuk baju sekolah kalian. Yang terjaga sepanjang untuk berdoa untuk kalian. Kini dia renta, dan harus merintih dan berjuang melawan sakitnya. Lantas apa yang kalian lakukan? Mengangkat bahu tak peduli? Pikunkah kalian pada jasanya?

Hebat sekali.

Tak adakah satu kenangan pun yang teringat? Kebaikannya begitu melimpah dan kalian lupa?

Wow. Dunia memang gila.

Ke mana peduli bersembunyi? Menghilang diantara bumbung kenikmatan duniawi? Atau enggan menghampiri mereka yang memilih untuk menutup mata hati?

Kenop pintu ruanganku berputar, lantas berdecit. Bu laksmi melangkah ragu. Mata air di pelupuknya mencurah tak berjeda. Tubuhnya gemetar hebat, geliginya bergemeletuk. Matanya menatapku kalut, “Ddok— dokter… saya harus bagaimana?”

Aku terdiam.

Tuhan, ke mana rasa peduli bersembunyi?

.


[1] Tekanan darah rendah, dibawah normal (100/80 mmHg)

[2] Detak jantung atau nadi yang sangat cepat, di atas 100 kali per menit.

[3] Kematian jaringan karena kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki. Dalam kasus ini dikarenakan kekurangan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan.

[4] Luka berbentuk bulat dan dalam, sehingga dapat melihat jaringan di bawahnya.

[5] Intravenous Normal Saline, cairan yang digunakan untuk memperbaiki kekurangan darah, dimasukkan melalui vena.

[6] Prioritas dua, keadaan di mana pasien mengalami keadaan gawat tidak darurat –dimana pasien membutuhkan penanganan cepat, tapi keadaannya tidak membahayakan nyawa.

[7] Gangrene pedis dextra: gangren pada kaki bagian kanan. Gangrene adalah kematian organ karena kurangnya aliran darah dan asupan oksigen. Jika keadaan ini disebabkan oleh infeksi, maka organ yang terinfeksi akan berbau, mengeluarkan pus (nanah) dan berair.

[8] Pembersihan luka

Advertisements

17 thoughts on “Ke Mana Peduli Bersembunyi?

  1. Ini kisah nyata kan???
    sedih banget~ bukan sembunyi mungkin, tapi lenyap sama sekali.
    orang sekarang saling berlomba-lomba buat peduli sama dirina sendiri aja…

    At least Daebakk!! love it…

  2. Pingback: Ke Mana Peduli Bersembunyi? | Words of 'Poetica'

  3. kasian ibu i2,..
    tega bnr anak2ny?
    hati nurani anak2ny udah gk ad lgi,..
    siapa cba yg ngerawat wktu mereka sakit, ibu kan,..
    mntang2 ibuny sdh tua, jd pada gk peduli lgi,..
    bgs nih cerita, inspiratif,.. 🙂

  4. Astaga, parah banget tuh anak-anaknya, pertama, mereka udah lalai karena telat membawasang ibu ke RS, dan ditambah lagi dengan ketidakpedulian ini. Nggak tahu harus bersikap apa seandainya aku ada di posisi Laksmi ataupun dokternya 😦

    Cerita yang mengiris hati, sekaligus mengingatkan kita semua untuk berbakti kepada orang tua

  5. cerita ini bawa pesan banget.
    beneran jaman sekarang banyak orang yang entah kepeduliannya hilang kemana.
    termasuk kepada ortunya sendiri..

    Ceritanya nyampe kehati banget 😦

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s