Unpredictable She

Title         :   Unpredictable She
Author    :  @adiezrindra & @ShiraeMizuka
Length    :  Ficlet (935 words)
Genre      :   Fluff, romance
Cast(s)    :   Eli (U-Kiss), Lee Aira (OC)

Disclaimer :
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2013 adiezrindra and ShiraeMizuka, all right reserved.

______________________________________________

.

Aku tak mengerti apa yang aku pikirkan sebenarnya. Ini mungkin hanya cinta biasa. Atau tidak biasa. Atau luar biasa. Tapi aku menggenggamnya kelewat erat. Aku memimpikannya kelewat sering. Aku menatapnya kelewat dalam. Dan dia tak pernah terlepas dari bagianku.

Ini hanya cinta diam-diam.

Pagi ini tak akan berbeda seperti hari-hari yang terlewat sebelumnya. Aku membuka mata terlalu pagi, semangat menunggu bis menuju kampus. Lantas masuk dan berjejal dengan penumpang. Mataku mencari-carinya di tempat yang sama, di kursi kedua dari belakang, menerawang jendela dengan tatapannya yang kosong.

Dan aku akan mulai bercinta, dengan imajinasiku. Dalam dunia dimana aku, Eli bercinta dengan Aira.

Dalam imaji, ada kalanya aku melihat dia dengan sepasang sayap terkembang di punggung dan kemudian mengulas senyum padaku. Mendekat, merapat dan hingga pada sampai pada jarak yang membuatku terdesak oleh hasrat untuk merangkulnya.

Saat itu aku kira dia malaikat dari surga.

Kali lain aku melihatnya menari. Meliuk dan berputar di bawah sinar jingga kala petang di suatu pantai. Siluetnya membayang, sejuta kali lebih menggoda dari liukan daun di sepanjang pesisir pantai.

Saat itu aku kira dia seorang balerina yang kehilangan paggungnya.

Pada kesempatan lain bahkan imajinasiku juga dapat menjadi jauh lebih liar, kala aku melihat ia berjalan berjinjit di suatu pagi, menyingkap tirai jendela kamarku dan tiba-tiba melompat ke dalam pelukanku, lalu sekecup ciuman selamat pagi mengulum bibirku bersamaan dengan sinar menatari yang menelusup masuk.

Kali itu aku kira dia Eve yang tengah kehilangan Adam—sang belahan jiwa.

Ini mungkin terdengar konyol. Siapapun akan menertawakan aku dan imajinasiku. Tapi ini soal hati. Mereka tak berhak menertawakanku.

Okay, stop. Akhir-akhir ini memang delusiku tak terkendali. Bagaimana bisa aku melakukannya, jika surai bergelombangnya terpantul sempurna oleh riap matahari? Bagaimana bisa jika mata rusanya yang terdiam, bibir penuh dan pipi merona itu seakan menggodaku tanpa henti? Bagaimana bisa jika jemari lentiknya masih menggenggam buku tanpa pernah membalik halamannya?

Aku tak pernah tahu apa yang dibaca Lee Aira. Mungkin halaman itu memang favoritnya, hingga hanya halaman itu yang akan menguning. Mungkin halaman itu penuh dengan ukiran aksara nan indah. Mungkin. Seandainya saja yang digenggam Aira bukanlah buku, melainkan tanganku. Alih-alih bahagia, mungkin aku akan pingsan saking tak percayanya!

Rupanya aku menerjemahkan Aira dalam imajiku kelewat seru, hingga bis telah berhenti di halte kampusku. Aira sudah beranjak turun dari tangga bus, bersama penumpang lain. Aku lekas-lekas mengejarnya, menyelip diantara penumpang. Hari ini dia harus tahu namaku!

Ya, tentu saja. Hari ini dia harus tahu namaku!

Kujejalkan keteguhan itu kedalam setiap sel-sel di otakku. Setengah limbung karena dadaku yang berdegup-degup kencang, kuayunkan langkah menuju sosoknya yang semakin menjauh di antara kerumunan.

Sungguh aku tak menyangka, dengan jarak kami yang hanya terpaut sekian meter bisa terasa menjelma menjadi ribuan mil. Salahkan saja debuman serupa debur ombak yang menghantam dadaku. Aku rasa aku bisa mati karena kegugupanku sendiri.

Jarak yang terpaut akhirnya menyempit. Tanpa banyak berpikir lagi kuangkat lenganku hingga menahan bahunya.

Langkah gadis itu terhenti seketika. Ia berbalik dan menatapku dengan mata rusanya yang sialnya justru kian memesona.

Hatiku saat itu seakan diterpa badai. Keteguhan yang tadinya telah kucengkeramkan ke dalam kepalaku seakan tak lagi berguna. Lidahku kelu. Bahkan untuk sekadar menyebutkan nama, aku telah kehilangan keberanianku.

“Lee… Ai… ra…” panggilku terbata. Aku tak perlu melirik cermin hanya untuk menyadari mukaku yang memerah. Panas, sungguh suhu tubuhku tak lagi berkompromi. darahku mencuat hingga ubun. Belum kuperhitungkan perutku yang terasa diputar, serta dada yang menghentak-hentak tak berirama. Mendekatinya sama saja dengan mendekati kematian.

Nee? Apa saya mengenal kamu?” suara melodiknya menyapaku. Tuhan, ini benar-benar lagu terindah sepanjang masa.

Aku dengan cepat mengangguk. Ah tunggu— aku— dia tidak mengenalku! Lantas aku berhenti dan menggelengkan kepala cepat-cepat. Bodoh! Bodoh!

Aira tidak bereaksi, bahkan tidak menyunggingkan satupun sudut bibirnya. Aku tak paham, apakah aku terlampau bodoh hingga dia tak habis akal?

“Aku… hanya ingin… mengembalikan buku ini,” lanjutku, menyodorkan buku yang ia tinggalkan di kursi penumpang.

“Buku?” tanya Aira, dahinya mengernyit. “Ahh… buku itu. ambil saja. Aku tidak perlu.”

Dia dengan cepat membalikkan tubuh. Dia meninggalkanku yang masih mencuat di tempatku berdiri semula. Menyebalkan sekali, aku kehilangan daya motorik untuk menggerakkan anggota tubuhku. Hanya tatapanku yang kubiarkan terus mengikuti kepergian gadis pujaanku.

Dalam hati aku mencerca diriku sendiri. Kesempatan seperti ini tidak akan datang berkali-kali. Aku mengutuk kebodohanku yang kali ini membiarkan kegugupanku meraja melebihi keinginanku untuk mendekati gadis itu.

Sial! Sepertinya esok pagi aku harus kembali berdelusi tentang Lee Aira. Begitupun pagi selanjutnya, akan terus begitu sampai aku berani bersikap jantan dengan menarik tangannya ke dalam genggaman, berlutut dan memintanya menjadi kekasihku.

Kupandangi buku usang di tanganku. Benda ini bahkan jauh lebih beruntung dibandingkan aku. Sekian lama ia merasakan jemari lembut Aira membelainya di setiap pagi. Aku iri!

Kubalik lembar-lembar buku itu dengan kesal. Tanpa sadar, dari lembar terusang di buku itu secarik kertas melayang pelan dan terjatuh di permukaan jalan.

Ternyata itu adalah sebuah surat.

Surat? Jangan-jangan ini surat… cinta? Dari kekasihnya mungkin? Ahh… pupus sudah seluruh imajiku. Mulai detik ini, detik selanjutnya, menit, jam, hari, bulan, dan setelah-setelahnya, aku harus benar-benar berhenti jika ini memang dari kekasihnya.

Aku membuka perlahan surat beramplop merah itu. Tuhan, jangan dari kekasihnya. aku tidak siap. Tuhan, jangan… oh noooooo–

Panggil namaku dan kejar aku, ELI!

Jadi selama ini… Sebuah kesadaran tiba-tiba saja menerjang kepalaku.

Ya Tuhan!

Dalam otakku mendadak saja bergelut sejuta spekulasi. Dadaku kembali berdegup kencang. Namun kali ini bukan karena gugup. Tapi bahagia. Rasa geli menggelitik di permukaan perutku bersamaan dengan langkahku yang kembali terayun menyusul gadis itu.

Saat langkahku berhasil menyusul sosoknya, saat itu tak akan ragu lagi untuk menjabat tangannya dan menyebut namaku. Lalu barangkali aku tak perlu berimaji lagi karena gadis itu telah nyata menjadi milikku.

Siapa yang tahu.

“Lee Airaaa!!!”

Advertisements

21 thoughts on “Unpredictable She

  1. Okeee amkamiiiiiiiiiiiing!!!

    Satu kalimat yang terbesit *elah lebay lu* setelah membaca cerita ini:AKU IRI AMA MEREKA!!!
    iya nih, aku iri berat! seandainya ngeceng orang segampang itu, pasti indah ini dunia… (kok kayak semacam curhat sih?)
    plotnya asik sih kak, dis. sesuai judulnya, si Aira ini gak ketebak dong asli.
    Kupikir, Eli gak akan ketiban hoki dan akan selamanya menjadi secret admirer, haha!
    Gak kebayang itu kalo suratnya gak ditemuin sama Eli. mau ampe tua bang berdelusi tentang aira???? huahaha
    Ini bagus kok! apalagi pas di awal itu kata-katanya aku sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget!!! I’m waiting for the next colab! You both are great ^^

    • ahahaa~~!!
      ini nggak gampang niiiss!! uda berapa lama coba Eli mendem perasaan buat Aira. delusinya udah nyampe mana2 ituh…
      plotnya saya sendiri nggak ngerti kenapa bisa jadi begituh. hha…
      Aira emang unpredictable sekali. hha…
      kalo gak ditemuin, palingan Aira cari cara lain buat nyadarin si Eli. lucuk kali ya tar.. 🙂
      kata2nya itu bagus semua tauk nis. kamu harus sukak semuanyah!
      hhaa.. thankies nisaa, next time we will lah yaa.. let’s wish. 😀

  2. Ola. Saia datang. Maaf ya agak telat 🙂
    Er, awalnya saia bingung siapa nih yang jadi narator, dikira cewek lho. Eh, ternyata si Eli toh. Lucu deh. Kaenya lucu ngebayangin dia suka sama cewek, terus di bus diam di pojokan sesenyuman sendiri. Baca-baca buku orang. LOL. Astagah.
    Endingnya beneran lho kata Kak Nisa, beneran gak ketebak. Saia kira bakal gimana, si Eli bakal terus-terusan ngebayangin gitu di besok berikutnya juga. Ternyata dia “move on” hahahah. Bagus, bagus.
    Dari segi bahasa, saia menikmatinya kok. Ringan. Gak bertele-tele, walaupun proporsi narasinya lebih banyak ketimbang dialog, tapi ya, namanya juga ini monolog, jadi oke deh. Tetep bisa menjadi dialog buat diri Eli juga 🙂
    Nice writing.

    • aduh, maaf aku juga telat reply nya. ><
      iyes, yg jadi aku adl eli.
      saya mencoba seringan dan seenjoy mungkin bahasanya. soalnya pengen bikin yg ringaaann~
      iya ya? kebanyakan monolog. hihi…
      makasih.. 😀

  3. Oh em gie unn.-. aslinya udah baca pas di lab komp sekolah, cuma wkt itu karena lagi tengah” tes praktek jadi keganggu XD
    Kirain si Eli akan kembali berdelusi, ternyata… Bener ya judul sama isi imbang. Kalau judul unpredictable, emang isi apalagi endingnya unpredictable.
    Belakangan ini karena bobot bahasanya unnie mulai ringan jadi asik bacanya, langsung nyampe, biasanya harus berpikir ulang, karena majasnya terlalu metafora dan personifikasi sekali XD
    Cast nya yang menyimpang jauh dari BB atau 21 dan terbilang nggak umum sebenernya semacam nilai + buat baca ff yang berlabel author : adiezrindra.
    Salut unn 🙂

    • astaga… kamyuh ini, di sekolah malah baca beginian. –”
      aduh, maaf yaa… dulu2 berarti nggak asik dong yaa… hha…
      lagi males mikir sih akunya. hha..
      ini yg pilih cast si @ShiraeMizuka sih. kan kita duet gitu.
      kekekeke~~
      makasih udah baca.

  4. Kalimat ini bikin aku ngerasa gimana gitu XD -> Dan aku akan mulai bercinta, dengan imajinasiku. Dalam dunia dimana aku, Eli bercinta dengan Aira.
    Fluff asli~ kata2nya suka :*
    Untung ada itu surat ya jd Eli ga bimbang+takut lagi deh 😀

  5. hahahaha aku pasti tau dis kamu bakalan bilang ‘ini bukan saya banget lho’ terus nangis pelangi hihihi
    haaaa tapi aku jadi mau nulis kayak gini…
    sebenernya aku ga terlalu tau sih eli ukiss tuh yang mana, tapi aku bisa ngerasain fluff-nya sampe ujung2 jari jempolku karena ini suiiittt bangeeetttt…
    dan soal bahasa, eumm iya sih ini rada begimana gitu ya kan, sperti bukan kamu walaupun aku masih menemukan beberapa kata yang adis banget dan tenang aja ini masih sangat berasa ‘kamu’ kok 🙂 dan mungkin taste temanmu juga hihihi XD
    haaahh alamak, saya gak nyangka itu yang belakang ternyata si ceweknya udah tau si eli dan minta di kejar ya, dikirain pupus udah harapannya hehe 😀

    good job kalian berdua 😀 aku ngetik ini sambil melayang-layang(?) lhoo…hahaha (‘.’)b

    • iya, maunya bilang begitu. hha…
      aku juga gak tau sih eli yg mana. /duagh/
      hhii… mungkin lebih kuat taste nya dia ketimbang akuh.
      yes, ceweknya geregetan sih, eli nya nggak maju2.

      makasih ya dira… :***

  6. Sweet banget~ aku suka…

    setelah sekian lama berkutat sama cerit mistery sama horor, dan mulai kangen sama yang fluffy akhirnya aku beruntung banget dapet cerita ini.

    Beneran sweet banget loh~

    And seperti sebelumnya aku bilang perbendaharaan katanya ‘extraordinary’ banget. Cara penuturan Daebak dan feelnya nyampe ke aku banget (gak tau klo ke yang lain ya…)

    walaupun aku gak tau yg mana Eli U-kiss itu, tapi aku suka karakter malu-malu kaya gini… >,<

    Betewe aku mau curhat ah, blo'on banget sih si Eli itu, pake nunggu ceweknya ngomong kaya gitu dulu baru dia pede. Dasar!!! hehe~ 😀

    • hhii… makasih..
      ini cuma cerita biasa kok.
      aduh, ini mananya yg extraordinary sih. biasa bgt begini bahasanya. hha…
      akuh juga gak tau sik eli yg mana. /ditimpuk/
      makasih udah baca.

  7. Hallo salam kenal ya sebelumnya 🙂 ini FF-nya bagus banget sweet dan itu deskripsinya wow banget~ bener2 klop sama judulnya 🙂 suka deh pas si eli berdelusi tentang aira, dan endingnya juga greget banget 😀 Kece deh cius ^^d pokoknya suka sama semua yang ada di FF ini 🙂 great! 😀

  8. hai adis,.. /lambai2/
    akhirny bisa jg mampir kesini,..
    tampilan bru nih blog,..
    ok, q lanjutan dr yg terakhir q baca,. ‘apaini’

    woahh, jd nih ff kolab am diyan ya?
    kkkk,..
    kolab yg bagus,.. 🙂

    ya ampun q ngebayangi si eli b’tingkah kyk gitu,..
    muka yg cocok bwt jd playboy tampil malu2 n’ gugupan gitu,..
    eh, ini menurut q lho,.. :p
    kl mslh diksi gk usah d’pertanyakan lgi,..

    aduh, sm deh am yg lain, q kira si eli bnr2 hrs berdelusi tiap hari,..
    eits, twny bnr2 bisa mewujudin untuk nyatain perasaan am aera,..
    hihi,..
    n’ gk nyangka jg aera ternyata merhatiin eli jg,..
    hihi,.. 🙂
    emang unpredictable bgt si Aera ini,.

    • halo kak wii~~^^
      iya, tampilan baru. suka yang mana kak? 😀

      iya, ini kolab sama diyan umma. makasih yaa…
      bhihik! Eli malu2 ituu…. imyutt tauhh kak! XD
      memang, awalnya Eli pun mikirnya begitu, sampee~~~ treng treng! ternyata Aira juga merhatiin dia. hha!
      unpredictable she sekali kan yaa..

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s