Daydream Delusion

tumblr_m8cbboKGeV1rsf8foo1_500_large_副本2_副本

Wonderful threesome with Jusmalia Oktaviani and Wulan Martina

.

Wanita itu menarik nafas dalam-dalam, membaui rerumputan yang harum karena baru saja dipotong. Ia mengedarkan pandangan, ke seluruh penjuru taman. Wanita itu tersenyum, mengagumi keindahannya. Taman itu tampak jauh lebih nyaman dipandang setelah dirawat beberapa waktu silam. Ia melangkah pelan-pelan, menyusuri taman yang lama tak dikunjunginya itu. Ia lupa berapa lama tak berkunjung ke taman ini lagi. Setahun? Dua tahun? Mungkin lebih. Wanita itu mengingat-ingat. Ya, hampir lima tahun, ia tak pernah mau datang ke tempat ini lagi. Taman ini mengingatkannya pada satu kejadian pahit, saat ia pertama kali bertemu dengan pria itu. Pria yang menggoreskan kenangan padanya, dan kini sulit untuk ia hapuskan.

Jika dia sebegitu pengecutnya, he doesn’t deserve you, then. It’s too obvious his love isn’t big enough to fight for you.

Begitu yang diutarakan temannya sembari menggenggam tangannya, kala dia terjatuh. Kalimat yang serupa yang tak henti dia ucapkan bak mantra dalam hati. Namun semakin dia mengucapkan, semakin dia menyergahnya tanpa jeda. untuk kemudian dia ulangi lagi kalimat itu, lalu terbantahkan lagi. lalu berulang, hingga hatinya beraduk. Pikirannya masai.

Sudahlah. Tak ada guna dia bertahan di tempat ini, hanya menggarami perih tanpa arti. Tak mengundang senyum, hanya getir yang terus memilin. Dia mengeratkan jaketnya, menarik nafas panjang dan memejam mata. Kakinya berbalik pergi.

Goodbye, ucapnya dalam hati.

Wanita itu kembali menarik nafas dalam-dalam. Ia disekap dalam satu ingatan tentang perih yang pernah mengendap di sayu sudut hatinya. Perlahan ada yang menetes dari pelupuk matanya. Buliran-buliran air mata itu menderas, membanjiri pipinya yang gembil. Ia berlari kecil. Menahan teriakan yang tercekat di kerongkongannya. Nafasnya memburu. Ia ingin berlari lebih kencang. Lebih kencang dari ingatannya.

“Ka…Kamu…?” Suaranya tercekat saat menatap pria yang ada dihadapannya, yang baru saja ditubruknya. Ia tak menyangka, di tempat ini, persis lima tahun silam, ia akan bertemu lagi dengannya.

“Nila…” sapa Fajrin sambil tersenyum tipis. Wanita itu menatap Fajrin, pria bermata teduh itu yang kini dihadapannya itu. Pria itu tampak tak berubah, persis seperti apa yang ia ingat dahulu. Ini seakan menjadi suatu repetisi dari apa yang terjadi lima tahun ke belakang. Hanya saja saat ini, mereka tak lagi seperti dulu, tak lagi seoptimis dulu, dan tak lagi seenergik dulu.

Mereka terkelu. Masing-masing kaki seakan terpaku pada tanah, berpijak tanpa berpindah seincipun. Ini gila. Bertahun-tahun dia pindah ke Paris hanya untuk mengenyahkan diri. juga kenangan, pun bayangan pria itu. Lalu kini, pria itu berdiri menatapnya dalam jarak tak lebih dari sepuluh senti, dan rasanya dia tak lagi mampu mengendalikan buncahan yang seketika menyesak di tubuhnya.

Merongrong. Menghipnotisnya. Membisikkannya lamat-lamat.

Nila masih tercenung dalam dunianya, kala tangan Fajrin melambai di depannya. “Hey, kamu tidak apa-apa?” Wanita itu tersadar. Dia menggelengkan kepalanya, tak berkata seaksara pun. “Maaf, sepertinya saya salah orang,” ucap Fajrin kemudian, lantas berlalu.

Nila terkejut. Apa maksud pria itu sebenarnya? Dia berbalik mengejarnya. Tangannya menggapai lengan sang lelaki. “Apa maksudmu?”

Fajrin mengerutkan dahinya. “Ah, maaf. Aku pikir kamu Nila. Tapi sepertinya aku salah orang. Sekali lagi maaf.”

Bibir Nila mengatup rapat. Banyak yang ingin ia ucapkan namun seakan semuanya tertahan dan memilih kembali ditelan. Nila berusaha menerka-nerka apa yang terjadi pada Fajrin. Adakah yang salah dalam dirinya atau dalam diri Nila sendiri. Ia membiarkan punggung Fajrin menjauh. Namun hatinya masih berharap. Kali lain bertemu, Fajrin akan mengenalinya sebagai Nila. Ya… Sebagian dari masa lalunya, yang… Ahh… Entahlah Nila tak mampu lagi menata aksara untuk diungkap, meski hanya dalam pikirannya.

Nila ingin sekali menguatkan hati untuk mengejar Fajrin, namun niat itu harus dibatalkannya saat ia melihat Fajrin didatangi oleh seorang wanita yang nampak cemas. Nila menelan ludahnya. Mungkinkah Fajrin sudah menikah dengan wanita ini? Ia tak pernah berharap bahwa Ia dan Fajrin akan bersatu suatu hari nanti, karena perbedaan mereka terlalu tinggi, perbedaan keyakinan yang tak mungkin ditolerir lagi. Namun, melihat wanita lain yang kini menggenggam tangan Fajrin sebegitu mesra, tetap saja Nila merasakan kakinya lemas. Hatinya baru saja terburai.

Wanita itu kini memandangi Nila dari kejauhan. Nila heran, saat wanita itu melangkah mendekatinya sendirian. Fajrin rupanya disuruhnya duduk menunggu di kursi taman.

“Kamu Nila, ya kan?” tanya wanita itu tiba-tiba.

Nila memandang wanita itu lekat. rautnya menyiratkan bimbang. Antara menjawab, atau… ah, dia tidak mampu berpikir hal lain. Tak pernah ada opsi yang baik untuknya. Akan selalu serupa dengan simalakama. “Ya. Saya Nila. Ada perlu apa?”

Sesaat dia merutuki diri. Ada perlu apa? Barang pasti hal itu tak usah dipertanyakan lagi. Mudah diterka, mungkin wanita itu akan menyerahkan undangan pernikahan. Atau mungkin hanya ingin berdesis di telinganya dan memperingatkan untuk tak mencampuri bahtera rumah tangga mereka. Bodoh.

Wanita itu memiliki tubuh semampai yang nyaris sempurna, dengan wajah Timur Tengah dan bola mata rusa. Pakaiannya sederhana, namun cantik di tubuhnya. Dia tersenyum, “Kenalkan, saya Jea.”

Nila mengangguk. Dia sudah menyebutkan namanya, bukan?

“Maaf, Saya mungkin lancang. Saya hanya ingin bertanya, kenapa kamu meninggalkannya tanpa pesan?”

Bola mata Nila membesar. Tak menyangka bahwa Jea akan mempertanyakan hal itu. Mendadak ia mendekatkan tubuhnya ke arah Jea. Ingin menjejali Jea dengan ribuan kata atas rasa sok tahunya. Jea tak tahu apa-apa tentang masa lalunya. Tentang semua perih yang pernah dilumatnya dengan paksa. Sendirian. Bagaimana mungkin ia bisa mempertanyakan hal itu. Jea tak mengerti berapa banyak waktu yang ia buang untuk semua hal yang tak patut dikenang. Berapa banyak ruang yang sengaja ia kunci hanya untuk mengubur semua ingatan yang terus memburuinya.

Saat ini wanita yang berdiri di hadapannya seakan menjadi hakim yang tak pernah ia harapkan kehadirannya. Nila menarik nafasnya dalam-dalam. Sekuat tenaga menahan amarah yang menderak-derak dadanya.

“Mmm.. Apa yang terjadi pada Fajrin?” perlahan Nila menata kata agar runtutan tanyanya di kepala tak membuyar.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” Jea berkata dengan nada sedikit menuntut.

“Apa penting?” tanya Nila balik.

“Sangat,” Jea menyambar cepat. “Apa yang terjadi pada Fajrin sekarang, berhubungan dengan kamu. Berhubungan dengan masa lalu kalian, lebih tepatnya,” Jea menghela nafas setelah mengucapkan kata itu.

“Aku terpaksa,” Nila menjawab getir. “Di taman ini, lima tahun lalu, aku mengajaknya bertemu. Aku… sebenarnya ingin memutuskan hubungan. Kau tahu, kami tak mungkin bersatu. Bagaimanapun kami saling mencintai, tak ada gunanya melanjutkan hubungan ini,” Nila berkata sambil memegang kalung emas rosario yang dipakainya. “Lagipula, aku juga akan ke Paris, melanjutkan studiku.”

“Lalu, kamu pergi tanpa berpamitan padanya, begitu?” sahut Jea dingin.

“Aku sudah sampai di taman ini,” sahut Nila. “Tapi…aku terlalu takut. Aku terlalu kasihan pada Fajrin… Aku hanya menatapnya yang menungguku dengan gelisah. Dan kemudian… aku pergi… ya, tanpa menemuinya,” Nila memandang sepatunya, tak berani memandang Jea. Nila merasa sangat berdosa pada Fajrin, bahkan hingga detik ini. Karena pergi begitu saja.

“Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang giliranmu. Bisakah kamu beritahu aku, apa yang terjadi pada Fajrin?” tanya Nila, hampir memohon.

Alih-alih menjawab, Jea berjalan duduk di kursi belakang mereka. Bola matanya berputar, menatap Fajrin yang asyik dengan gadget-nya. Sebentar-sebentar tertawa, lalu kembali serius. Jea kembali menatap Nila, “Dia menunggumu.”

Nila terdiam. Dia tahu. Tentu saja, dia tahu Fajrin menunggunya.

“Dia menunggumu, Nila. Hingga malam. Aku tak mengerti bagaimana cara hujan menampar tubuhnya, atau seberapa keras benturan kepalanya ketika tertabrak motor saat pulang… Yang aku tahu, ketika dia tersadar di rumah sakit…” Jea menarik napas dalam dan menggigit bibir bawahnya. “…dia tak mengingat apapun.”

Nila hanya berharap seseorang melempar tubuhnya. Membangunkannya dari mimpi. Ini pasti mimpi, kan?

“Dan kamu tahu, apa kata pertamanya ketika tersadar?” tanya Jea, menatap Nila tajam. Nila menggeleng pelan. Jea mendengus dan tersenyum getir. “Kamu. Dia menyebut kamu. Dia berucap, ‘Nila.'”

Tangisnya pecah sudah. Menghambur tak tahu aturan.

“Dari sekian banyak kosa kata di dunia ini, Nila, dia memanggilmu. Dia bahkan tak mengingat namanya, di mana dia, apa asal-usulnya, siapa orang tuanya. Dia tak mengingatmu, dia tak mengenal wajahmu. Tapi dia mengingat namamu. Bodoh.”

Temannya salah. Dia tidak pengecut. Penghalang merekalah yang memang terlalu kokoh. Temannya salah. Cinta Fajrin terlampau besar, hingga dia memilih untuk menukarkan seluruh ingatannya dengan namanya. Temannya salah. Bukan Fajrin yang tidak pantas mendapatkan cintanya, namun dialah yang tidak pantas merengkuh cinta Fajrin.

Kelu. Lidah Nila kelu. Hanya itu. Perlahan pandangannya memilih kepada sosok pria yang duduk di kursi taman. Sendirian. Nila bangkit dari duduknya. Seperti ada yang menariknya, mempercepat langkahnya mendekat pada pria itu. Nila duduk di sebelahnya. Berusaha memulai pembicaraan. Ya, pembicaraan yang mungkin juga tak dimengerti pria itu. Ah, Fajrin. Harus memulai dari manakah aku? Nila mendesis lirih. Namun keheningan tak mampu menyembunyikan suaranya dari telinga Fajrin. Pria itu menoleh, menatap Nila dalam-dalam. Matanya lalu menyipit, memerhatikan kalung yang menggantung di leher wanita yang kini ada di hadapannya. Nila mengikuti pandgan Fajrin. Ia menggenggam kalung rosarionya. Melepasnya, meletakkan dalam genggaman Fajrin. Fajrin menggenggam kalung itu. Erat. Sangat erat.

Fajrin melukis senyum kecil di wajahnya sendiri. Nila masih terdiam. Ingin berucapa meski hanya sekejap. Ia kumpulkan segala keberanian untuk mengungkap, meski  hanya satu kata. Baru sedikit mulutnya terbuka. Tak sengaja ia melihat wajah pria itu basah. Fajrin terisak menggenggam kalung itu. Serta merta mengarahkan pandagannya kepada Nila. “Dimana Nila, dimana dia?” Fajrin mengguncang bahu Nila.

“Aku minta maaf, Fajrin…” Nila membuka suara. Entah bagaimana ia akan memberikan penjelasan pada Fajrin. Pria malang yang lima tahun ini menderita karenanya. Tangis Nila pecah, menetes tanpa ada lagi penghalang. “Dulu, aku terlalu egois. Meninggalkanmu karena kamu tak mau masuk agamaku. Aku menganggapmu tak mencintaiku. Aku menganggapmu tak mau berkorban untukku. Kamu tahu betapa taat ayahku sebagai seorang Katolik. Makanya, makanya, aku…aku…meninggalkanmu. Padahal, aku-lah yang terlalu egois. Aku sadari itu belakangan ini. Aku…menyesal…” Nila terisak.

Fajrin masih menatapnya dengan wajah kebingungan. Entah ia paham atau tidak ucapan Nila itu. Namun, Nila tak ingin begitu saja angkat tangan. Ia merasa bertanggung jawab aatas apa yang terjadi pada Fajrin saat ini.

“Kita pertama kali bertemu di taman ini, apakah kamu masih ingat, Fajrin?” ucap Nila lembut, sambil menggenggam tangan pria itu, berharap Fajrin akan mendapat mukjizat.

Fajrin tersenyum tipis. Dia menggelengkan kepala.

Daydream delusion. Bagaimana cinta selalu membuatnya berilusi di tiap waktu. Siang, hingga malam. Bahkan ketika dia menutup matanya. Idiot sekali. Apa yang dia pikirkan sejatinya? Fajrin seketika mengingatnya? Neuron-neuron di otak Fajrin tiba-tiba bersambung?

“Maaf, aku tidak mampu mengingat apapun. Tapi entah kenapa… aku suka kemari. Rasanya tempat ini membawa damai,” jawabnya. Dia menatap jauh selangsa taman. Nila terhenyak. Cinta mungkin masih ada, mungkin jauh lebih kuat dari yang ia pikirkan. Fajrin tidak mengingat, tapi dia merasakan. “Kamu Nila?”

Nila mengangguk. Dia harus berusaha sangat keras, mungkin jauh lebih giat ketimbang hari-harinya terdahulu untuk mengendalikan isaknya.

“Apa kita benar-benar bertemu di taman ini?”

“Iya.”

“Nila… aku selalu mencarimu, tapi aku tak tahu kenapa aku mencarimu. Kenapa, Nila? Kamu siapa?”

“Kita hanya penikmat musik jalanan di taman ini, Fajrin,” Senyum Nila tampak begitu manis. Fajrin tertegun. Ada sesuatu yang membuat kepalanya berdenyut. Tak berapa lama, ia merasakan sakit yang sangat hebat di kepalanya. Sakit sekali. “Aaaarrgghh!!!” Fajrin tak bisa menahan sakitnya. Ia terjatuh. Jea pun berlari ke arahnya. Tak tertolong, Fajrin pingsan.

Ambulans membawanya ke rumah sakit. Nila dan Jea saling diam. Terbungkam kenangan serta kenyataan. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu.

.

Pagi menyapa, hari telah berganti. Fajrin belum memperlihatkan kepulihan seperti yang diharapkan. “Ada yang bernama Nila?” seorang perawat keluar dari ruang rawat Fajrin. Nila beranjak, bersegera memenuhi panggilan perawat. Ia diijinkan masuk, ia mendekat pada pembaringan Fajrin. Nila kembali menggenggamkan kalung rosario miliknya. Berharap ada hal baik yang terjadi pada Fajrin.

“Nila…” Fajrin merintih lirih, mengucap nama Nila. Nila menggenggam tangan Fajrin semakin erat. Fajrin tampak masih sangat lemah, namun jemarinya berusaha menggapai wajah Nila. “Nila…”

“Fajrin…iya, aku Nila. Kamu ingat padaku?” tanya Nila. Fajrin tampak ingin berbicara banyak, namun ia sendiri masih tampak tak berdaya.

“Dia tak banyak mengingat. Namun, dia mengingatmu, Nila,” Jea tiba-tiba menyahut. Wanita itu tiba-tiba telah berada di kamar. “Tadi aku bicara pada dokter dan perawat di luar. Mereka berkata, kemajuannya tak banyak. Tapi, ia mengingatmu. Dan kurasa itu yang terpenting,” Jea berkata lagi.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Nila. Dia hampir tak tahu pada siapa sebenarnya pertanyaan itu ditujukan. Untuk dirinya kah, atau Jea.

“Dampingi, rawat, dan…cintai dia. Seperti yang kulakukan padanya saat kamu tak ada disisinya,” Jea menyahut. Namun wanita itu tak mampu menyembunyikan suaranya yang bergetar meski wajahnya tampak tabah.

“Bagaimana denganmu?” tanya Nila. Ia tiba-tiba merasa menjadi wanita yang begitu jahat. Merebut Fajrin dari Jea.

Jea mengangkat bahu. “Entahlah. Akan kucari kebahagiaanku sendiri.”

Nila menggeleng kuat-kuat. “Tidak, tidak.”

Nila mengambil Rosario-nya dari genggaman Fajrin dan memakainya kembali di leher. “Kamu harus ingat, bahwa kami tak mungkin bersatu.”

“Tapi… Fajrin hanya mengingatmu…” sahut Jea kebingungan.

“Ya, tapi dia akan melupakanku, dan dia harus melupakanku,” Nila berkata dengan air mata yang sudah mengucur deras di kedua pipinya. Menyerahkan Fajrin pada Jea, adalah yang terbaik. “Kamu akan selalu disampingnya, tak seperti aku yang telah meninggalkannya. Aku percaya, Fajrin akan mengingatmu, seperti ia mengingatku.”

Dan Nila mengambil langkah pertamanya, keluar dari kamar itu, setelah memeluk Jea, juga Fajrin, untuk yang terakhir kali. Nila memang meninggalkan Fajrin untuk kedua kalinya, namun kali ini, Nila merasa, ini adalah tindakan yang benar. Nila menggenggam Rosario-nya, berdoa untuk kebahagiaan Fajrin, bersama Jea.

.

Sometimes a person goes to save the situation. Sometimes situation more important than feelings. Sometimes the feeling is not saved.

Advertisements

11 thoughts on “Daydream Delusion

  1. Aku salut banget sama Nila. Gatau kenapa.
    Seberapa pun besar cinta dia sama Fajrin, ternyata dia lebih cinta sama Tuhannya. Dan bukankah memang seharusnya begitu?
    Ini realita yang banyak terjadi, dan tidak sedikit orang yang mengabaikan hal yang paling mendasar di dalam hidup mereka hanya karena sebuah perasaan cinta.
    Maknanya dalem banget!
    Sebenarnya kasian sama Fajrin, tapi gimana dong? Hidup kan pilihan.
    Pilihan yang menurut kita buruk di masa sekarang tidak menjamin akan berdampak buruk juga di masa depan 🙂 *ini apaan sih komennya*

    • yes, memang seharusnya begitu. Tuhan diatas segalanya nisa.. 🙂
      iyaa, aku pengennya mereka bersatu jugaahh… tapi ternyata para partner punya pikiran mencengangkan yg lain. hha…
      yeps, bcs everythin happen for some purposes we won’t know. 😀
      thankies uda baca orific kuh~~^^

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s