Ceracau

etumblr_mggzapu5GR1qdj05oo1_500_large.
We weren’t made of iron and steel. Our hearts beat and break and the pain feels real.
.

Aku berjalan menyusuri lorong putih yang suram itu. Sendirian. Tuk, tuk, tuk. Langkah kakiku bergema dalam lorong panjang itu. Tak terdengar bunyi apapun, selain gaung langkah kakiku sendiri. Rumah sakit ini memang terlalu sepi, tak seperti rumah sakit pada umumnya. Tak banyak keluarga yang membesuk pasien. Tak banyak suster dengan pakaian seragamnya yang khas berkeliaran membawa papan bertuliskan berbagai catatan. Tak banyak dokter yang berkeliling, memeriksa pasien mereka. Wajar saja, ini bukan rumah sakit biasa. Ini rumah sakit dimana manusianya menjadi pasien karena sakit yang ada di jiwanya. Ini adalah tempat dimana manusia-manusia menjadi tubuh yang kosong, dengan jiwa yang seperti mati, tanpa isi. Manusia tanpa akal sehat dan rasionalitas.

Aku menarik nafas, sedikit gugup dengan suasana Rumah Sakit Jiwa yang membuatku jauh dari nyaman. Namun aku teringat tujuanku ke sini, dan aku pun melangkahkan kakiku lebih tegas lagi. Tak boleh mundur lagi, kataku dalam hati. Aku ingin menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan di tempat ini. Saat ini juga.

Sekujur lorong terasa begitu panjang, tanpa akhir. Berulang kali aku menyebul nafas ke kedua telapak tanganku, menghangatkan diri. Menenangkan hati. Aroma petichor mengiring langkah tak berhasil pula mendamaikan pikuk. Hujan baru saja enyah, tetap menyisakan dingin. Apa dia pun akan sedingin ini? Apakah dia hanya memberi punggungnya saja? Apakah kali ini dia akan menerimaku? Terlebih… apakah dia akan mengingatku?

Langkahku terhenti di satu bangunan. Bougenvile. Aku menggigit bibir bawahku, tak yakin apakah ini keputusan yang benar. Apakah aku harus kembali pulang dan menikmati senja, ataukah melangkah dan dengan sadar menyerahkan diri pada tebing?

Aku melangkah lamat-lamat, menunda detik. Ruangan itu cukup luas, dengan masing-masing sisi yang terbagi dalam beberapa ruangan kecil. Tiap sisi ruangan kecil itu adalah tembok, sementara bagian depannya adalah jeruji. Sederhana yang ada di dalamnya, hanya ranjang. Beberapa penghuninya tertidur, entah karena obat atau lelah meracau sepanjang hari. Sedang yang lain terdiam tak bergerak sedikitpun. Ada yang bermain dengan bonekanya, seakan hidup.

Kali ini aku berbelok dan berhenti di depan ruangan terujung. Penghuninya menyanyi lantang sembari menepukkan kedua tangannya keras-keras. Matanya mengawang, menatap langit-langit. Cegukku sudah mencapai tenggorokan tanpa kusadari. Kukerahkan segala keberanianku dan memanggilnya, “Mama…”

Ia, orang yang kupanggil ‘mama’, tak menyahut. Masih begitu sibuk ia dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan nyanyiannya yang ia lantunkan sebegitu kencang. Aku tak langsung memanggilnya lagi. Pasalnya, aku tertegun, mengingat nada-nada yang ia nyanyikan ternyata tak asing. Seakan dulu, lantunan itu pernah mengisi otakku sedemikian seringnya, sehingga aku masih mengingatnya hingga kini aku dewasa, meski nada-nada itu sedang dinyanyikan samar-samar oleh mulut seorang pasien rumah sakit jiwa, sebuah institusi yang berusaha memperbaiki mental dan kejiwaan penghuninya.

Suaraku tercekat. Ingin kembali memanggilnya, meski harus memutus kesenangannya yang sedang menyanyi di dalam sana. Akhirnya, kupanggil ia, dengan sedikit lebih lantang, dengan sedikit dorongan keberanian yang entah datang dari mana. “Mama. Mama.”

Sang wanita terkejut. Ia menoleh juga, ke arahku. Matanya memandang mataku, langsung. Tapi aku tak mudah menerka apakah pandangan itu bermakna. Entah apa yang kini dipikirannya sekarang. Apakah ia sadar, bahwa ia sedang dipanggil ‘mama’? Apakah ia tahu, bahwa di hadapannya, ada anaknya yang tak pernah ia sapa selama setahun? Apakah ia mengerti, bahwa yang sekarang memanggilnya, bukan sekedar orang biasa yang lewat, namun seseorang yang pernah menjadi bagian darinya selama sembilan bulan? Apakah ia kini memahami, bahwa anaknya, yang kini merindu, ingin sekali merasakan kasih sayangnya lagi? Aku tak berani berharap banyak. Mamaku sedang sakit, jiwanya.

Mama memandangku lekat, matanya terlihat bingung.

“Mama, mama…ini Fei.”

Dia tak bergeming. Sebaliknya, dia memilih untuk menghadap dinding, memunggungiku dan kembali bernyanyi.

Aku tahu ini akan terjadi. Aku tahu. Ini selalu terjadi setiap aku kemari. Tapi sakitnya tak pernah lebih baik. Selalu ada luka yang siap dibuka kembali, lalu ditepuk keras oleh tangan yang berpeluh. Aku menatapnya, berkaca. “Ma… ini Fei. Fei kangen mama. Mama kapan pulang? Mama kapan kita shopping lagi? Fei kangen omelet buatan mama. Fei kangen pelukan mama…”

Ada yang jatuh di ujung mataku, berasal dari mata air yang tak pernah mengering di kantungnya.

“Fei kangen…. mama kangen Fei nggak?”

Aku terdiam. Memberi jeda pada monolog menyedihkanku. Monolog yang selalu kuceritakan untuknya, setiap minggu, setiap bulan, dalam kurun satu tahun ini. Aku tak mengerti, mengapa aku tidak masuk dalam ruangan ini juga. Bukankah aku juga mengalami jatuh yang mama rasakan? Kehilangan papa. Belum cukup dengan itu, satu bulan setelahnya, aku harus menatap kenyataan bahwa mama perlahan menjauh dari kenyataan, menyendiri, meracau di kamarnya, mulai menangis dan tertawa. Perlahan melupakanku, melupakan segalanya. Meliar, menghancurkan seisi rumah.

Sampai akhirnya, tak ada pilihan. Mama, harus dititipkan di penjara ini. Dan aku, lagi-lagi harus meneguhkan hati, setiap kali menjenguk mama. Setiap menjenguk, aku tak pernah pulang dalam keadaan tersenyum. Mama, tak pernah menunjukkan kemajuan berarti. Rasanya, aku penat, membangunkan mama dari ketidakwarasannya. Ini kesia-siaan belaka. Selalu kutitipkan harapku serendah-rendahnya, saat harus menjenguknya, mamaku itu. Tak berani kuberharap mama akan sembuh sebegitu cepat, seperti mengayunkan tongkat sulap. Jika sudah melangkahkan kaki ke tempat ini, aku selalu ingin melangkah mundur. Aku benci dengan fakta, bahwa mama, seperti biasa, tak menganggapku ada.

Aku menatap mama, yang kini bersenang-senang dengan kegilaannya. Aku terbawa pada kenangan, saat mama masih sehat. Saat semua masih baik-baik saja. Saat papa masih ada… Saat itu adalah masa-masa yang seharusnya indah… Jika saja tragedi itu tak terjadi.

Jika kuingat penyebab kematian papa, secara tak langsung adalah akibat perbuatan kotor mama, aku sebetulnya paham, mengapa mama tak sanggup menghadapinya. Mengapa mama akhirnya menjadikan ketidakwarasan itu menguasainya. Ya, aku menyaksikan sendiri, pertengkaran mereka hari itu, saat papa akhirnya mengetahui aib yang selama ini mama sembunyikan. Dosa yang selama ini mama tutup rapat dari kami semua.

Setiap ucapan mereka bergaung tanpa henti, melekat kuat tak mengenal enyah.

“Jadi benar kan?! Kamu berselingkuh di belakangku?! Berulang kali, Din! Berulang kali kamu melakukannya, dan aku selalu memaafkanmu!”

“Maaf, pa… maaf…”

Dari celah pintu kamar, aku melihat tangan papa berayun, nyaris menampar wajah istrinya lantas berhenti. Beliau melemas, terjatuh di lantai. Kedua pasang mata mereka bersirobok, penuh air mata. Ada kemarahan mendalam, kekecewaan tak terbendung, kesedihan tak terbatas. Segalanya berdiri kokoh di atas kehancuran. kenyataan yang kemudian menganga tak lagi terlukis halus. Warnanya kini merah darah, goresannya meruncing kasar, penuh penekanan. “Aku gagal, Din.”

Mama terdiam. Hanya isak tangis yang menjawabnya.

“Aku gagal menjadi suami. Aku tak bisa memuaskanmu, membimbingmu. Aku lelah dengan semua pengkhianatanmu. Aku memaafkanmu ketika kamu hamil tidak denganku. Aku menerima Fei seperti anakku sendiri. Aku memaafkanmu di pengkhianatanmu setelahnya. setelahnya, dan setelahnya. Apa yang sesungguhnya kurang dariku, Din?”

Aku runtuh mendengarnya. Sama terseraknya oleh papa. Aku bukan anak papa. Aku bukan anak papa.

“Maaf pa… maaf…” isak mama.

Papa terdiam sejenak, mengumpulkan jiwanya yang meluruh. “Aku menceraikanmu, Din.”

Duniaku berhenti.

Aku tersentak, dari lamunanku sendiri. Papa, setelah mengucapkan kata cerai, pergi begitu saja dari rumah. Menghidupkan mobilnya, tanpa berkata hendak kemana. Itu terakhir kalinya, aku melihat beliau dalam keadaan hidup. Aku teringat saat polisi mengembalikan papa dengan keadaan yang mengenaskan. Mobil papa hancur, begitupun jasad papa yang berada di dalamnya. Aku bahkan tak mendengar dengan saksama, penjelasan para pria berseragam itu. Yang pasti, hingga saat ini, tak pernah diketahui, apakah papa, meninggal karena kecelakaan ataukah bunuh diri.

Aku memandang mamaku lagi, dengan campuran iba, kasihan, benci, dan rasa bersalah. Aku merasa kacau. Mamaku, yang merenggut papa yang kusayangi. Mamaku, yang kini berlindung di balik tembok pikirannya sendiri semenjak itu, sementara aku di sini, harus melihatnya bernyanyi dan bersenang-senang. Keputusasaan menderaku, lagi. Berbicara dengan mama, tak mungkin sekarang saatnya. Air mataku menetes, jatuh, satu demi satu. Mungkin aku tak boleh lagi berharap bahwa mama akan pulih. “Ma…Fei sayang mama, bagaimanapun mama dulu, maupun saat ini,” aku merintih, kali ini dengan ketulusan yang tak dibuat-buat.

Mama menghentikan nyanyiannya, berbalik menatapku. Beliau menatapku dengan mata cemerlangnya. Matanya tak lagi kosong. Aku terkesiap, mungkin ini harapan. Meski aku tak berharap banyak. Kontan aku teringat berita yang harusnya kuceritakan padanya sore ini. “Ma, aku akan menikah.”

Beliau masih menatapku, membuat kebahagiaanku membuncah. “Kak Ron melamarku. Mama ingat Kak Ron kan? Itu… yang sering ke rumah dulu. Lalu mama sering buatkan pancake untuknya. Mama ingat nggak?” Aku mengacungkan tangan kananku. Bulatan intan di jari manisku tak pernah gagal berkilau. “Lihat, cantik kan ma? Sama seperti mama…Aku—”

Ucapanku terhenti oleh tapak kaki yang mendekat. Seorang pria berdasi mendekat, kedua lengan kemejanya ditekuk hingga siku. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran, meski senyum berhias di bibirnya. “Fei, kamu lama sekali? Sudah berceritanya?”

Aku tersenyum. menarik tangannya dan menggenggamnya. “Ma, Kak Ron di sini. Lihat, katanya dia ingin aku menceritakan pernikahan kami sendiri. Jahat ya?” Kak Ron tergelak kecil. “Ma, restui kami ya…”

Untuk pertama kalinya, aku melihat mama tersenyum. Indah sekali.

.
And the smile that is worth the praises of earth is the smile that shines through tears. 

Ouch! Written beautifully with kak Jusmalia Oktaviani

Advertisements

9 thoughts on “Ceracau

  1. apa ini?? bru td bca yg sweet dan ini,..
    ya ampun,.. T_T
    butuh punggung, #joong ki oppa mana
    q gk bsa kl bca b’hbngan dgn ibu nih, t’haru bacany,.. 😥
    pas lanjut bca lbh miris lgi nasib fei, i2 smua gra2 ibu sendiri,..
    ‘puk2 fei’
    n’ pas adegan sggh bnr kajaiban deh ngeliatny,.. ‘t’haru lgi’
    ff ini kl soal diksiny, gk usah d’omongin lgi,..
    alur n’ feelny dpt,.. 🙂

    ok, d’tgg karya lain,..
    fighting,.. 🙂

    • muahaha…
      kalo baca blog ku mah harus siap dibawa terbang dan terjun langsung kak. :))
      iya ya, bagaimana cinta bisa menggetarkan siapa saja. termasuk orang gila sekalipun.
      makasih ya kaakk…

  2. Wait~ biar aku tenangin diri dulu *tarik napas dalem2*

    Ini sedih banget, aku suka begini klo baca story genre family.

    Walaupun konflik udah agak sering dibikin, tapi ini bagus kok.

    Like this… d^^b

  3. Love this 😀
    annyeong, eonni.. saya readers baru.. ^^
    udah beberapa ff eonni aku baca, dan hanya satu kata yang keluar,
    WAOW!!
    Daebak!! Kagum sayaa~~ 🙂

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s