Truth and Dare

tumblr_md1ajjgdoA1riivzjo1_500_large

.

Taste so bitter and sweet every time our eyes could meet.

Tak ada ungkapan larut malam dalam kamusnya. Dia hanyut dalam irama menghentak. Sekujur tubuhnya mengular, mengekspos lekuk sempurnanya yang tak terbalut. Sebentar-sebentar jemantiknya membenahi headphone di kupingnya, sementara tangannya yang lain menggerayangi piringan hitam di gramafon. Dua mata kucingnya menutup sejenak, lantas terbuka. Berpuas diri atas lautan yang bergairah pada musiknya.

Make some nooooiiisseee!!!!” serunya. Kerumunan di depan panggung kecilnya berteriak, membahana. Beberapa mengacungkan minumannya, sebelum menenggaknya hingga tandas.

Dia masih melarut dalam performanya, kala seorang lelaki masuk ke dalam ruang club. Rambut merahnya mencolok, pun dengan perhiasan silver yang mengalung di tubuhnya. Lelaki itu menoleh, dan kedua pasang mata itu akhirnya bersirobok.

Jullie terkesiap, mata itu begitu tajam menatapnya. Wanita itu tak konsentrasi kini. Goyangannya yang larut dalam musik kini terhenti. Mata Jullie pun terus mengikuti tatapan mata itu, lelaki berambut merah mencolok itu, yang tak jua lekang dari dirinya. Jullie mengeluarkan beragam makian dalam hatinya. Tak menyangka lelaki itu datang ke sini, ke tempat dimana ia selalu bisa lari dan sembunyi dari hidupnya yang gerah.

Apa-apaan dia…? ujar Jullie dalam hati.

Jullie memanggil rekannya, Boy. “Tolong, aku ada perlu,” Jullie berteriak di telinga Boy, mengalahkan suara bising klub malam. Julie menyodorkan headphone di tangan Boy. Jullie memutuskan untuk berhenti dulu dari tugasnya sebagai disk jockey. Lelaki itu harus ia temui. Tak ada gunanya saling menatap. Adu kata. Itu yang ia butuhkan.

Jullie melipir menuju bar, menyesap vodka-nya tak bersisa. Menyuruh Jill menuangnya lagi, dan dia mencerupnya lagi. Lebih kuat, dia membutuhkan minuman yang lebih kuat. Minuman yang mampu menghapuskan akal sehatnya. Menendang ragunya untuk mendekati lelaki itu.

Dahi Jill mengernyit. Tak biasanya sahabatnya berlakon bak hilang akal. Masih dengan botol racikan alkohol di tangannya, dia berbisik, “What’s wrong?”

Jullie terdiam. Tangannya meremas kaki gelas erat. Matanya mengekor ke arah sang lelaki. “Dia datang.”

Jill mengikuti arah mata Jullie, menyaksikan lelaki itu tergelak nersama rekannya. Beralih dia menatap Jullie. Gadis itu masih tenggelam dalam pikirannya, entah apa. “Lalu kenapa? Nervous? Bukankah saat-saat seperti ini yang kamu tunggu?”

Jullie menyeringai. Ya, berdelusilah jika seseorang berpikir dia canggung, takut atau apalah sebutannya. Karena malam panjang ini akan sangat menyenangkan.

Kakinya melangkah perlahan, masih menahan bobot tubuhnya yang semakin labil akibat menenggak vodka. Namun dia masih memegang penuh kesadarannya. Dia tidak akan mabuk semudah itu, setidaknya tidak untuk sekarang. Kini lelaki itu melihat Jullie yang mendekati mejanya. Namun ekspresinya flat. Datar. Ia sama sekali tak terlihat terkejut. Ia tahu, Jullie akan mendatanginya. Memang itu yang ia inginkan.

Jullie mendekati meja sang pria. Duduk di kursi kosong yang ada. Dengan gerakan tangan, lelaki itu segera mengusir rekannya. Ia berisyarat, ingin berbicara berdua saja, dengan Jullie, yang kini memandanginya dengan wajah penuh emosi.

“Noval!” seru Jullie, memandangi pria yang dulu pernah jadi bagian hidupnya itu. “Apa kabar, mantan suamiku?” tanyanya sinis.

Noval tersenyum kecil. Sangat khas, beserta seringai bak anak kecil di sudut bibirnya. Dulu, mungkin senyum itu adalah pencerah harinya. Tapi sungguh, kini dia ingin memisau bibirnya sampai amblas. “Hey. Sopan sekali kamu, Jullie?”

Jullie mendengus.

“Bagaimana jika kita berdansa? Seperti dulu,” tawarnya kemudian. “Aku rindu lekuk tubuhmu.”

Jullie terhenyak. Tak sekalipun terlesap dalam benaknya lelaki itu akan menggiringnya ke lantai dansa. Siapa sangka? Namun beginilah dia, membiarkan tangannya digenggam. Juga dengan tubuhnya yang mengekor di belakangnya, menyusup diantara kerumunan.

Tangan Noval menyelusup di pinggang Jullie, berkait di belakangnya. Wanita itu tak bereaksi sedikitpun tatkala tangan Noval merayap di punggungnya, mendekatkan tubuhnya hingga tak berjarak. Noval menenggelamkan kepalanya di pundak Jullie, sembari dua matanya menikmati waktu yang terlewat. Kini Jullie mampu mencium aroma Armani tubuhnya. Merasakan anak rambut Noval di pipinya.

“Bagaimana kabar ayahmu? Apa ayahku berhasil membunuhnya?” tanyanya kemudian.

Bahasa tubuh Noval menegang karena pertanyaan Jullie. Namun ia tetap tenang, mempertahankan posisinya yang telah nyaman berkait dengan mantan istrinya. Jullie selalu menjadi magnetnya. Wanita itu penakluknya. Pemegang kelemahannya. “Kamu memang bajingan kecil,” jawab Noval, sambil menggerakkan kepalanya mendekat ke leher Jullie. Noval menyentuh pundak dan leher wanita itu dengan bibirnya, sengaja menghembuskan nafasnya di area itu. Jullie menggelinjang, ketika Noval mulai bermain di area sensitifnya. Tapi Jullie membiarkan pria itu berbuat sesukanya.

“Apa dia sudah mati? Ayahmu?” tanya Jullie, kali ini dengan sedikit mendesah. Noval masih mempermainkannya, mengecup lehernya. Jullie mendorong kepala Noval, menyuruhnya fokus pada pertanyaannya.

“Kamu tak sempat bertanya pada Ayahmu?” tanya Noval, dengan nada sedikit jengkel karena tak bisa menumpahkan kerinduannya akan kemolekan tubuh Jullie.

“Bagaimana aku bisa bertanya?” Jullie membalas. “Ia sudah di dalam peti mati. Aku tak tahu apakah ia berhasil melakukan ancamannya pada ayahmu atau tidak.”

“Dia sudah meninggal, Julie,” ucapnya lirih, masih menjejaki sepanjang pundak dan tulang selangka.

Jullie terhenyak. Dia tak menyangka ayahnya akan bertindak sejauh itu. Ayahnya kepala mafia. Dia adalah anak tunggal, satu-satunya penerus pohon keturunannya. Sungguh, dia mengerti tak seharusnya dia mencintai Noval, salah satu rival dalam perebutan kekuasaan dalam dunia hitam. Namun, melibatkan keluarga Noval adalah hal terakhir yang paling menakutkan di benaknya. Gila, ayahnya gila.

Tangannya merengkuh leher Noval, “Maaf… Aku… tidak tahu. Aku pikir dia tidak akan serius melakukannya. Maaf…”

Noval mengangguk pelan.

Baru saja Jullie ingin hanyut dalam momentum bersama lelaki itu, kala dia teringat mengapa malam panjang itu dinantinya. Dia mendorong tubuh Noval sekali lagi. Matanya menatapnya sengit. Seluruh tubuhnya menegang, “Tapi tidak seharusnya kamu membunuh ayahku, Noval!”

Ya, dia memang hanya tahu Noval telah mengakhiri hidup ayahnya, tanpa tahu bagaimana ayahnya menghabisi nyawa ayah lelaki itu.

Lelaki itu memutar bola matanya dan mendengus pelan, “Lalu bagaimana yang seharusnya?” Dia merogoh ceruk celananya, sementara tangannya yang lain kembali menarik pinggang Jullie mendekat. Tangannya mengeluarkan sebuah pistol dan mengacungkannya ke dahi Jullie, “Apa kamu mau aku membunuhmu juga?”

“Brengsek!” Jullie berusaha berontak dari dekapan liar Noval. Noval semakin mempererat lingkar tangannya, memastikan Jullie takkan bisa bergerak satu inci pun. Noval memandangi mata Jullie yang tak henti melirik mocong pistol yang kini mengarah di otaknya. Noval diam-diam menikmati ketakutan Jullie. Noval dikuasai rasa gembira yang aneh melihat nasib Jullie kini ada di tangannya. Hidup mati wanita itu kini tinggal tergantung kebaikan hatinya.

“Ayah kita sama-sama mati, Jullie sayang. Kita sudah tahu bahwa mereka pasti akan saling membunuh.” Noval berbisik di telinga Jullie. “Aku tahu, perceraian kita saat itu juga karena paksaan Ayah kita, terutama Ayahmu. Makanya dia membunuh ayahku ‘kan? Ia tak terima putra musuhnya membawa kabur putri kesayangannya.” Noval masih berbisik, menikmati tubuh Jullie yang bergetar karena mulut pistol yang belum juga berpindah.

“Tapi kini mereka berdua sudah mati. Apa lagi yang kamu takuti, Sayang? Kenapa kamu selalu menghindar dan lari dariku? Aku akan selalu menemukanmu Jullie, dimanapun kamu sembunyi. Termasuk di klub murahan seperti ini.” Noval berkata sambil berusaha memagut bibir Jullie.

“Dasar pria bajingan! Gila!” teriak Jullie.

Noval membungkam lengkingan Jullie dengan bibirnya. Mengecup dalam dan hangat. Noval menggigit kecil bibir bawah Jullie, menyelusup masuk diantara erangan wanita itu. Lidahnya bermain,  menguasai dinding bukalnya. Pagutan yang intim antara dua manusia yang tak lagi berhubungan.

Secepat air mata yang jatuh ke pipi Jullie, sekilat itu pula Noval menghapusnya. “Jangan menangis. Matamu terlalu indah untuk menangis. Jika kamu mati, aku juga akan membunuh diriku sendiri. Lihat, bahkan sampai surga nanti kita akan selalu bersama. Kamu mencintaiku kan?” tanyanya menuntut, menciumnya sekali lagi, lebih intens, lebih dalam. Lebih bergairah.

“Noval…” engah Jullie di selanya.

Tiba-tiba ada yang dingin di belakang telinga Noval. Jullie membidikkan pistol miliknya di kepala Noval. Satu benda yang disembunyikan semenjak tadi, dipersiapkannya jauh hari untuk lelaki itu. Malam-malam penuh amarah akan tereksekusi di tempat itu, diantara puluhan manusia, dengan lelaki yang paling dicintainya. Dia menarik pelatuk pistolnya, “Aku mencintaimu, Noval. Hingga aku membenci diriku karena mencintaimu, yang membunuh ayahku.”

Noval tak sempat mengucapkan sepatah kata pun. Peluru telah menembus jauh ke dalam otaknya, membuat lelaki itu tak bernyawa. Di depan puluhan pasang mata, Noval rebah di hadapan Jullie, terjatuh berdebum di lantai klub malam. Jullie menghembuskan nafas lega. Inilah dia hari yang selalu ia nantikan. Dan kini telah ia laksanakan.

Jullie memandang dingin mayat Noval yang kini terbujur kaku, tahu bahwa ia akan digiring ke jeruji besi karena membunuh pria brengsek yang selalu mengikutinya ini. Namun Jullie merasa bebas, bebas yang sebenar-benarnya, karena ia tak lagi terjebak dalam seorang Noval, sumber arus rindu, cinta, dendam, juga benci.

Eye for the eye, Noval.

In revenge and in love woman is more barbaric than man is.

.

Collaboration masterpiece with Jusmalia Oktaviani

Advertisements

16 thoughts on “Truth and Dare

  1. menarik ceritany,.. 🙂
    tak kirain td julie am noval bkl balikan lgi,..
    eh, twny mlh saling bunuh,..
    gk nyangka si julie udah nyiapin pistolny bwt noval,..
    pasti galau abis 2h julie, hrs bunuh orang yg d’benci skaligus dy cintai,..
    d’tunggu karya yg lain,..
    fighting,.. 🙂

    • hhe.. makasih kak.. 🙂
      iya, awalnya sih mengira begitu. bahkan walo noval nya udah ngacungin pistol kan bisa aja jullie ngajak baikan. eh ternyataaahh… :))
      iya, itu kayaknya bakal sampe ke depresi deh. hha..
      makasih kakaaakk..
      aja aja fighting!!

  2. Duh gimana ya… Aku suka >__<
    Beneran ide2 ceiramu tuh lain dari biasanya. Mungkin di bagian awal cerita agak berat bacanya, tapi di ending tuh meninggalkan kesan oke buat pembaca ^^

    Selalu semangat menulis ya ^^v

    • hhii.. makasih unn.. 🙂
      iya, mungkin karena ada sentuhan dari penulis lain yaitu kak jusmalia, jadi ide nya lebih fresh. 🙂
      eungg… yg di awal itu emang bagian saya sih. *ditimpuk* senengnya kalo unyi suka endingnya.
      makasih ya unn.. :***

  3. annyeong eonni aku reader barumu~~
    Aku ketipu eon~~
    aku kira jullie sama noval eh ternyata, dugaanku keliru..
    ceritanya keren, dalem, walau di awal kata2nya ada yang bikin bingung tpi endingnya menurutku sweet banget..
    fighting eonni, kutunggu karyamu yang lain..

    • annyeong chensa. 🙂
      hhe… iya, ini ceritanya bener2 twisting yg ekstrim. 😀
      makasih yaa…
      itu yg kata2 di awal emang… sapa sih yang bikin?! *getokself*
      hha..

      makasihh yaa.. sila dibaca karya yg lain. 🙂

  4. YAH.-.
    Ehm sebenarnya nggak ketebak banget, walaupun sedih.
    Kirain Julie bakalan maafin Noval dan balikan lagi atau gimana, tapi ternyata Noval harus pai” di tangan Julie 😦
    Ehm, tapi nggak pernah deh yah diksinya unnie gk keren 😀 selalu TOP XD

  5. Hai aku dateng lagi, sebenarnya pengen sering-sering mampir kesini. Tapi karena satu dan lain hal jadi gak bisa deh 😦

    Aku suka banget loh sama ke ‘expert’an kamu dalam nulis. Perbendaharaan katanya banyak banget. Kok bisa ya? emang kuliah apa sih?? *kepo mode on*

    Btw story ini overall bagus banget. Kamu tertarik sama dunia mafia ya? udah 2 cerita yg ngungkit masalah itu soalnya… *sotoy

    and last Daebakk lah!!! 😀

    • hha… nggak papa kok kak…
      makasiiihh… aku? jurusan kesehatan kak. 😀
      nggak juga sih. cuma lagi kebanyakan baca yg begituan. jadinya terpengaruh deh. :)))
      makasih udah baca.

  6. you know what. Aku suka ampe kesengsem banget ama fanfict-fanfict kamu tau. maaf kalo baru bisa komen, maaf juga kalo sering mention gaje. tapi suer. aku syukaaaa ama karya-karyamu~

    Thanks to fanfict tentang Orionnya U-kiss bikinan kamu dulu yg bawa aku sampe sekarang 🙂

    • Eiguuu… terima kasih. 🙂
      Nggak papa kok, dibaca aja udah seneng. Hhii. ^^
      Thanks fo liking. 😀
      Bytheway, ternyata km masi inget ff ituu. Aaakk! ヽ(●´∀`●)ノ

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s