Ma Victoire (Part 7)

Title      : Ma Victoire (Part 7)
Length  : Continue (3254 words)
Genre   : Romantic, Friendship, Sad, Comedy (fail)
Cast(s)  : Lee Seung Ri (BigBang), Park Lee Bom (2NE1), Choi Dong Wook (Se7en), Park Han Byul

Disclaimer :

All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2012 adiezrindra, all right reserved.

Warning :

(Proloque) (Part 1) (Part 2) (Part 3) (Part 4) (Part 5) (Part 6)
beberapa part yang saya kasih password, bisa langsung minta ke @adiezrindra untuk pw. ^^

Author’s note :

Saya mohon sekali kritikannya, part ini kurang di bagian mananya, kurang apanya, tidak nyaman dimana, etc. Saya akan sebisa mungkin memperbaikinya untuk mendekati apa yang kalian inginkan.

regard,

adiezrindra

PS : Ehem. Yang minta di-tag untuk update selanjutnya bisa langsung mention ke twitter saya, atau tulis twitter kamu di komen ya.. :D

___________________________________________

.

My favorite part is beginning, while yours is the epilog.
I don’t want a sad ending, but that is my heart you broke.

.

Normal POV

Sandara membolak-balikkan majalahnya bosan. Tidak ada yang baru. Setiap halaman hanya dipenuhi potret manusia-manusia tanpa lemak dengan fashion yang absurd. Dia sungguh tak habis pikir, mengapa wanita-wanita di dunia ini berlomba untuk sekurus penderita anorexia, tidak makan apapun, sementara dia harus berjuang untuk membiarkan jarum timbangan meliuk ke kanan. Harusnya mereka bersyukur dengan tubuh mereka! Hiissh!

Lagipula dia pun tak mengerti dengan liuk dunia fashion, dimana penutup tubuh tak lagi berfungsi semestinya. Hot pants, tank top, dan segala macam jenis pakaian ini, mana pula bagian tubuh yang tertutup? Cih.

Oke. Harusnya dia tidak mempermasalahkan apa isi majalah bodoh itu. Yang penting sekarang adalah malam semakin larut dan Seungri bahkan tak memberi tanda dia akan pulang.

Ke mana anak nakal itu hingga selarut ini?!

“Haiiiisshh!!!” dengusnya sembari membuang majalahnya ke lantai. Dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang, memberungut. “Awas kamu nanti, Seungri! Tidak ada sarapan dan makan malam selama seminggu! Aaarrgghh!!”

Can’t nobody hold us down~♫♪

Ponsel di meja riasnya bordering. Dara berguling menuju pelipir ranjang dan…

BRUKK!

Tubuh ringkihnya terjungkal sukses  di lantai keramik. Satu sikunya menumpu pemuka lantai, susah payah menyanggah raganya sementara yang lain terangkat mengusap dahinya. “Awww!! Appoo…”

Can’t nobody hold us down~♫♪

Nee nee… chakkamaann…” ucapnya sebal, seakan ponselnya akan berhenti bordering jika dia mengatakannya. Dara meraih ponselnya dan mengernyit bingung. Nomor tidak dikenal. Jemarinya menggeser tombol virtual hijau di layarnya. “Yoboseyo?”

Dara noona?”

Nee. Nuguseyo?” tanyanya bingung. Otaknya mulai mereka suara yang terkesan kalut di ujung telepon.

Hyun Seung.”

“Aaaa~! Seungi-ee!” serunya antusias. “Apa kabar? Kenapa tidak pernah ke rumah? Sekarang kerja di mana? Oh iya, aku lupa. Kamu ada perlu apa?”

Eh, aku baik, noona. Noona… Err… Seungri…—” nada panik Hyun Seung terhenti sejenak.

“Nee? Seungri?”

“Seungri…”

Hanya dari suara terbata dan penuh ragu dari lelaki itu, Dara tahu tidak ada perkara baik yang mengekor setelahnya. Mungkin buruk. Atau sangat buruk. “Seungri?”

Seungri… kecelakaan, noona. Sekarang masuk rumah sakit.”

Serentak jantungnya menghentak, sistem tubuhnya seakan berhenti bergerak. “Bwoo?!”

***

Dara menghela nafas lelah kala mobilnya memasuki kawasan rumah sakit. Tak perlu waktu lama baginya untuk memasuki lobi dan menemukan Hyun Seung yang melambai padanya.

Noona!”

Dara terenyum lega, menghampiri lelaki tanggung itu. “Hey, Seungie! Mana Seungri?”

“Dia sudah dipindahkan, noona. Ayo ikut bersamaku,” ucapnya sembari memimpin jalan melalui koridor rumah sakit.

Dara mengekor di belakangnya, separuh berlari menjajarinya. Nafasnya masih tersengal, namun resah menjalarinya hebat. Tangannya mencengkam lengan Hyun Seung dan bertanya menuntut, “Pindah ke mana? Bagaimana keadaan Seungri?”

Hyun Seung hanya tersenyum kecil menenangkan, “Tenang, noona.”

Alih-alih ketakutannya mereda, akalnya justru dipenuhi dengan bayangan mengerikan. Tangannya mengcengkeram kian keras, intonasinya meninggi, “Bagaimana aku bisa tenang, Seung! Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Bagaimana kalau ternyata dia pendarahan otak? Bagaimana kalau dia lumpuh?” Dia terdiam, wajahnya seketika memucat. Kakinya terhenti, sementara kedua telapak tangannya membungkam mulutnya. Bahkan dia kelewat takut pada benaknya sendiri. “Atau… dia koma? Atau… mati…”

Hyun Seung memutar bola matanya dan mendesau lirih. “Noona—”

“Oh Tuhan!! Seungie, dia tidak—”

Lelaki itu menggenggam pundak Dara, menghentikan panik yang menguasainya. Dua pasang manik mata itu bersirobok, “Noona, tenang. Dia baik-baik saja, noona. Tidak pendarahan otak, tidak lumpuh, tidak koma. Okay?”

“Lalu?”

Alih-alih menjawab pertanyaan, dia hanya berbalik dan melangkah meninggalkan Dara. Wanita itu tak memiliki pilihan lain selain membuntuti di belakangnya. Hyun Seung terhenti di salah satu pintu. “Ini kamarnya, noona.”

.

Sekonyong-konyong kedua irisnya melebar kala dia membuka pintunya. Seungri terbaring di tengah ruangan, jarum infus melesap di tangan kanannya. Sandara lantas menghambur ke tengah ruangan, menghampiri. Wajah pasi terlelap di hadapannya membuat tubuhnya seakan kehilangan tulang yang menyangganya. Dua tangannya menggoncangkan tubuh Seungri, tak terhitung air mata yang deras mengucur. Ada ketakutan yang menggerogotinya hingga tak sanggup berpikir apapun. “SEUNGRI!!”

Tidak mungkin kan, Seungri…—

Tidak, dia tidak mungkin meninggal kan?! Tidak mungkin. Masih ada jarum infus. Lalu berarti… koma? Andwae!!!

Dia hanya marah pada Seungri tapi tidak menginginkan adiknya meninggalkannya. Dia hanya tidak akan membuatkan Seungri makan malam, bukan berarti dia harus marah dan membuatnya merasa bersalah seperti ini kan?! Seungri bahkan baru bekerja, baru umur dua puluh dua, yang benar saja! Dia bahkan baru benar-benar mencintai wanita…

Tidak secepat itu!

“Seungri?!” panggilnya sekali lagi, menguncangkan pundak Seungri.

Dia bahkan belum mengatakan padanya jika dia ingin mengungkapkan cintanya pada Young Bae! Jika dia serius ingin mengejar cintanya! Dia belum bilang jika dia pun harus berusaha untuk Bom. Dia belum— Oh Tuhan, banyak yang belum dia lakukan!

“SEUNGRIII!! IREONAAA!!”

“Euh…”

Euh?

Sandara terkesiap, tangannya terhenti. Dara ingin menampar dirinya sendiri, tak mempercayai penglihatannya. Kedua mata Seungri perlahan terbuka. “Eh? Seungri?”

Eh? Seungri? Dia… sadar? Dokter!? Mana dok—

Noona… ribut sekali.” sapanya lirih. Dia mengusap matanya, separuh sadar. “Jam berapa ini?”

“Ah? Jam?” Dara balik bertanya, bingung. Dia melirik arlojinya, “Tiga pagi, Seungri. Kamu—”

“Tiga?!” tanyanya balik, kesadarannya dengan cepat kembali pada tubuhnya. “Noona, kamu kemari jam tiga pagi?! Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu di jalan?! Bagaimana kalau ada pria yang menggodamu? Kamu naik apa kemari? Ada yang mengantar? Aigoo…”

“Yaa!!” Dara balik menghardik sebal dengan dua tangan di pinggang. Matanya memicing emosi, “Aku pagi buta kemari karena mengkhawatirkanmu dan kamu malah menceramahiku seperti itu?! Aku—” ucapannya terhenti. Air matanya tumpah sekali lagi, punggung tangannya bahkan tak cukup untuk menyekanya. “Aku mengkhawatirkanmu, bodoh! Aku cemas dan kamu— dan kamu…”

Seungri menyelipkan tangan di punggung kakaknya, mengusap pelan, “Mianhaeyo, noona. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Mianhaeyo, nee.

Air matanya perlahan mereda. “Dasar! Kenapa aku harus punya adik yang bodoh sepertimu.”

Seungri meringis kecil.

“Aku bahkan jadi tak yakin kamu benar-benar kecelakaan,” cicitnya.

Noona… aku benar-benar sakit!”

Gotjimal!” cibir Dara.

Jinja, noona!!” Lelaki itu memberungut. Dara masih menatapnya tak percaya. “Noona-yah, percayalah!! Aku benar-benar kecelakaan. Noona tidak lihat perban di kepalaku ini?” tanyanya sembari menunjuk dahinya.

“Nee, nee. Jadi bagian mana yang sakit? Bagaimana keadaanmu? Apa kata dokter? Parah tidak?”

Seungri menyingkap selimutnya, memperlihatkan kakinya yang membengkak oleh gips yang terpasang sepanjang tungkai.

Kali ini Dara tak punya pilihan lain selain mempercayainya. “Omonaa!! Kakimu kenapa?!! Patah? Ini tidak lumpuh kan? Kamu masih bisa berjalan kan?!”

Seungri memutar bola matanya. Perangai kakaknya sungguh berubah drastis dalam hitungan menit bak roller-coaster. “Noona, tenanglah… Ini hanya patah tulang, dan aku tidak akan lumpuh, okay?”

Dara menghela lega sembari duduk di kursi samping ranjang. Matanya lantas beralih melihat Seungri, “Jadi, kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?”

“Ehehehe… Aku masuk arena. Ternyata aku masih jago balap lho! Motorku memimpin sepanjang pertandingan, Hyun Seung saja tidak bisa menyalipku! Tapi, waktu aku sudah masuk tikungan terakhir, ada motor di belakangku berusaha menyalip! Dia masuk ketika jarakku dengan pembatas terlalu rapat. Dan akhirnya— BBAAAMMM!!! Aku masuk rumah sakit. The end. Hehe…”

“Lalu, kenapa kamu masih sadar?” Sandara tanpa sadar bertanya.

“Err… maksud noona?”

“Maksudku… biasanya yang aku tahu, orang kecelakaan itu darahnya mengucur dimana-mana, tidak sadar, koma, atau apalah. Dan kamu? Kamu bahkan bisa memarahiku beberapa menit lalu. Hiihh!”

Seungri menatapnya sengit. “Aku berhasil menghindar, tapi kakiku tertindih motor. Kepalaku terantuk jalanan, dokter bilang hanya sembuh dalam beberapa hari. Jangan-jangan noona lebih suka kalau aku koma?”

Dara mengedikkan bahu, terkekeh kecil. Dua lengannya lantas bertumpuk di atas ranjang, menjadi bantal untuk kepalanya. “Seungri-yah, kenapa kamu jadi ikut balap liar lagi, sih? Kamu kan sudah berjanji padaku untuk berhenti dua tahun lalu. Lihat, jadi begini kan akibatnya.”

Mian, noona. Aku hanya ingin menjernihkan pikiranku.”

“Ya sudahlah. Jangan ulangi lagi, key?” Satu tangan Dara mengacak pelan surai rambut adiknya. “Oya, kamu sudah mengabari Bom-ssi?”

Jantung Seungri rasanya melewatkan beberapa detik tanpa degup kala mendengar nama itu. Dia menelan ludahnya susah payah. Geliginya menggigit bibir bawahnya hingga memucat.

Bom.

Memberitahunya? Perlukah?

“Cukup Seungri! Enyahlah kamu dari hadapanku sekarang juga dan jangan pernah kamu berani muncul di hadapanku.”

Sesaat kemudian, dia menjawab pelan, “Jangan beritahu dia, noona.”

“Eh? Wae?” kejar Dara bingung. Bukankah adiknya mencintai Park Bom? Tidakkah dia ingin wanita itu menjenguknya?

Hening sejenak, sebelum Seungri kemudian menggenggam tangan kakaknya. “Ayo tidur, noona. Aku mengantuk,” ajaknya. Tak menjawab pertanyaan yang terlontar. “Noona tidur di sofa saja, daripada duduk di sini.”

Dara hanya menggeleng pelan dan mulai memejamkan mata. Beberapa saat berlalu, dan Seungri masih terjaga. Matanya mengawang. Seandainya mengosongkan hati semudah mengosongkan benaknya.

“… jangan pernah kamu berani muncul di hadapanku.”

Sudah seharusnya aku berhenti. Aku sudah melewati arena. Aku harus mulai berhenti mencintai. Semudah itu.

Ya, aku yakin akan semudah itu.

Itu maumu kan, Bom noona?

 .

“Eh? Dara noona sudah tidur? Kenapa tidak di sofa?” Hyun Seung melangkah masuk menuju ranjang Seungri.

“Masih di sini, Seung? Kenapa belum pulang? Dari mana?” tanya lelaki di ranjang itu balik.

“Ini aku baru mau pulang. Hara meneleponku baru saja.”

Seungri mengangguk mengerti. “Seungie, bisa tolong angkat noona ke sofa?”

Alih-alih merespon dengan anggukan ataupun kalimat apapun, Hyun Seung segera meletakkan tangannya di punggung dan kaki Dara, mengangkatnya dan menidurkan di sofa pelan-pelan. “Done,” ucapnya kemudian sembari mengemasi tasnya. Dia lantas menatap Seungri, meyakinkan diri, “Kamu yakin tidak ingin menceritakan apapun padaku?”

“Tidak ada yang perlu diceritakan, Seungie.” Seungri tersenyum simpul, “Pulanglah.”

Hyun Seung tidak perlu memaksanya lebih lanjut. Tangannya melambai sebelum berlalu pergi.

Dia mengerti tabiat sahabatnya, tidak akan lelaki itu menceritakan sesuatu yang dirasanya tak perlu. Atau sesuatu yang terlalu menyakitkan walau hanya sekedar untuk diingat. Kendati Seungri acapkali terlihat cassanova dan menebar senyum, tak banyak yang bisa dikuak dari perasaan sesungguhnya dari lelaki itu. A silent mourner who cries in his sleep. Tearless.

Seungri memejamkan matanya dan menarik nafas dalam. “Tidak ada yang perlu diceritakan. Semuanya sudah berakhir…

“…karena dia tidak menginginkanku. Karena aku hanya ingin melupakan. Ini yang kamu inginkan kan, Bommie noona?”

 . 

As the windy April and the little cold hearted go by, where will our hearts go fly?

 .

***

Ckreeekk…!

Pintu kamar rawat inap Seungri terbuka perlahan. Decitnya membuyarkan konsentrasi Seungri yang sejak pagi berkutat dengan game di ponselnya. Matanya segera beralih pandang. Dara sudah pergi untuk bekerja sedari pukul delapan pagi tadi, dan seharusnya tidak ada yang mengetahui keberadaannya selain kakaknya dan Hyun Seung.

Apa mungkin Hyun Seung?

“Annyeong oppa…” nada mencicit kemudian menyapanya. Diikuti dengan sosok mungil yang memasuki ruangan. Kakinya seakan menari sepanjang sosok itu berjalan, surai rambut lurusnya tergerai turut melambai. Bibirnya melengkung, menampilkan senyum polosnya.

Seungri terperanjat. Terdiam beberapa saat, sebelum menyapanya dengan tanya,“Euh? Ji Eun? Kenapa kamu ada di sini?”

“Menjengukmu.”Senyumnya masih terulas kala gadis itu berdiri di samping ranjangnya, menyentuh lengannya, “Kata Hyun Seung oppa, kamu masuk rumah sakit. Aku khawatir, dan kurasa lebih baik aku menjengukmu. Bagaimana keadaanmu?”

Menjenguk? Hyun Seung? Pintar sekali dia menyuruh mantan kekasihnya kemari. Namun, dia tak memahami mengapa gadis itu masih tak segan menjenguknya, mengingat bagaimana cara hubungan mereka berakhir. Tentu saja, sama seperti gadis-gadis sebelumnya, putus oleh ucapan di penghujung lidahnya.

Seungri hanya tertawa kecil, memulas keterkejutannya. Ibu jari dan telunjuknya mengusap dagu, dan berucap bangga, “Haha…memang orang tampan itu banyak yang mengkhawatirkan. Aku baik-baik saja. Gomawo Ji Eun-ah…”

“Aigoo… kenapa oppa tidak pernah berubah?” Ji Eun memukul pelan lengan Seungri, tergelak kecil. Dia meletakkan keranjang buah yang dibawanya ke atas meja. Tangannya mengambil satu buah apel dan mengupasnya. Dia menyuapkan satu bagian buahnya pada Seungri sembari berbisik, “…lagipula, mungkin saja aku bisa membuatmu kembali padaku.”

Seungri terkesiap mendengarnya. Kontan matanya membola, “Eh?”

Ji Eun hanya melontarkan senyum tipis manisnya.

 .

***

.

Bom POV

Aku membuang batang jagung ke tempat sampah dengan serampangan. “Hiiiisshh!!” umpatku jengkel sembari menghempaskan tubuh ke atas ranjang. Mataku menatap langit kamar, kosong. Beberapa saat terdiam, hingga ucapan Seungri berkelebat kembali di telinga.

 “Bom noona ingin memberi tahumu bahwa kini kami berpacaran.”

Tanganku kontan mengepal erat, memukul ranjang berulang. Melampiaskan kekesalan yang menyentuh ubun. Cih! Memikirkannya saja aku jengkel! Jengkel jengkeeell!!

Apa maksudnya berbohong di depan Dong Wook oppa, hah?!!

Think the reasons, Park Bom. First, dia memang ingin aku jadi pacarku. Second, Dong Wook oppa, bersama pacarnya, di depanku melakukan ‘lovey dovey thing’ yang memuakkan, dan dia berusaha menyelamatkan.

Yeah. MENYELAMATKAN.

Tapi —OH MY GOD!! KENAPA HARUS MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU?!!! THANKS, LEE SEUNG HYUN.

Bagaimana jika Dong Wook oppa percaya dengan ucapan bodoh Seungri? Bagaimana jika—

Aku tercenung. Teringat. Hal mengerikan.

Dong Wook oppa sudah bertunangan.

BERTUNANGAN.

Oh hell yeah, that engaged.

Untuk apa aku meributkan perihal Dong Wook oppa harus percaya pada Seungri atau tidak? Baginya kan sudah bukan masalah? Iya kan?!

Cih.

Wajar jika Dong Wook oppa tidak peduli. Aku yang tidak wajar, berharap dia tidak percaya, meninggalkan tunangannya dan kembali padaku.

Kembali padaku. Nonsense.

“Baiklah, noona. Jika itu maumu, aku akan pergi dari hadapanmu sekarang juga dan kamu tidak akan pernah melihatku.”

Good. Akhirnya kamu sadar juga, huh! Pergi! Pergiii!!

Yeah, pergilah Seungri. Itu akan lebih baik. Aku tidak butuh pengacau dalam hidupku. Tidak butuh troublemaker. Hidupku sudah sangat kacau dan aku tidak butuh lagi satu alas an bernama Seungri untuk menambah segudang elemen kekacauan.

Yeah. Pergilah yang jauh. Kalau perlu ke ujung Pluto. Karena aku tidak akan memaafkanmu.

“Saranghaeyo, noona.”

Are you kidding me, Seungri? Even do you know what love is?

Aku mengerlung tubuhku. Dua tangan memeluk lututku, dan menenggelamkan kepala di antaranya. Aku tertawa, getir. Terkekeh hingga air mataku menemukan caranya untuk terjatuh. Untuk apa aku menangis? Hidupku? Insiden bodoh itu? Dong Wook? Apalagi yang aku tunggu? Dia yang sejak awal tidak ada di situ?

Pathetic. Park Bom, kamu benar-benar menyedihkan.

.

TENG TONG! TENG TONG!

Heum?

Bunyi bel apartemenku lamat-lamat mengembalikanku pada realita. Aku membuka mataku malas. Barang pasti sekarang mataku membengkak. Aku bangkit dari ranjang perlahan. Sungguh, aku tidak berminat memperkenankan siapapun bertamu siang ini.

TENG TONG! TENG TONG!

Hiisshh… Siapa sih?! Tidak sabar sekali! Gummy unnie? Seungri?

Yeah, pasti anak ingusan itu.

Katanya ingin pergi dari hadapanku, huh? Katanya tidak akan muncul lagi? Mana, hah? Sekarang kamu berada di depan pintu apartemenku dan membnyikan bel secara brutal. What the hell, boy?!

Haha… bodoh sekali aku mempercayainya. Barang pasti dia lupa kata-katanya kemarin.

Harusnya aku tahu dia tidak akan pernah serius mengatakan segala hal. Apa di dunia ini yang serius baginya? Hahaha!

Aku beranjak dari ranjang dan bercermin barang sejenak. Dua pelupuk mataku menggembung. Tak heran, aku lagi-lagi tak sanggup mengontrol air mata yang jatuh hingga terlelap. Menangis dalam tidur, untuk kesekian kalinya. Aku menggelung rambut panjangku berantakan. Tidak usah repot merapikan diri, hanya Seungri di depan pintu dan aku akan mengusirnya tanpa berpikir barang sedetik.

TENG TONG! TENG TONG!

Aku melirik pintu apartemen sebal. Kakiku menyeret enggan, dan membuka pintu tanpa minat. Anak ingusan ini memang benar-benar butuh pelajaran.

“Apalagi Seung—“

Sekonyong-konyong mataku membola. Dua hari berlalu dan dua hari pula aku harus menggiatkan jantung dengan kecepatan roller-coaster. Adrenalinku dengan cepat terpacu, memicu getar pada sekujur tubuh.

“Hey,” dia menyapaku sembari tangannya di belakang tengkuk. Senyum canggungnya terulas.

Dia. Lagi.

For God’s sake, mengapa dia ada di depanku sekarang?! Apa aku benar-benar makhluk hina di kehidupanku yang dulu, Tuhan?!

“Dong Wook… oppa?” sapaku terbata.

“Hey, Bom.”

Aku terpaku. Hanya ada dua pilihan yang tersedia di benakku, fight or flight. Mempersilakannya masuk dan menghadapi nightmare yang mungkin dia bawa,  merta ingatan dan rasa sakit yang saling berkejaran menyerbu. Atau mencari jalan teraman, menutup pintu dan menyuruhnya pulang.

Pilih, Park Bom!

“Bommie?” panggilnya sekali lagi, menatapkku khawatir. Aku masih terkesiap, berada dalam alam bawah sadar dan bertarung dengan diriku sendiri. “Bommie? Aku… boleh masuk?”

“Eh? Eh… nee. Silakan,” jawabku spontan.

Damn!

Aku bodoh sekali! Kenapa kamu memilih untuk mengiris nadimu sendiri, Park Bom?! Kenapa kamu tak menggantungkan tali di pintu ini dan melingkarkannya di leher saja? Apartemen ini lantai lima kan? Cukup kan untuk terjun?!! Anything, just bring me out please!!

Okay, sudah terlambat untuk menyuruhnya pulang bukan? Lidahku memang tak mampu bersekutu denganku. Tak ada pilihan lain kemudian. Fight. Yeah, mau bagaimana lagi. Mari berharap semoga aku tidak dihabisi oleh apapun yang membawanya kemari.

 Park Bom, sure you can do.

“Euh… Oppa, mau minum apa?” tawarku, memecah keheningan sembari berjalan ke bar dapur. Meninggalkannya yang kini memilih untuk duduk di sofa.

“Air putih saja, Bom.”

“Ah, nee.” Aku menuangkan air mineral dalam gelas dan berjalan ke arahnya. “Ada perlu apa, oppa?”

Hening. Dong Wook oppa meraih gelasnya dan menggenggamnya erat. Sama eratnya dengan bagaimana dia mengepalkan tangannya kemarin. Ada yang membebaninya? Tapi apa?

Aku tak tahu caranya membendung pikiran-pikiran buruk yang berkelebat, selain bersiap untuk berita terburuk. Pasti ada alasan  yang membuatnya seperti itu. Dan itu bukan alasan yang remeh. Mungkin dia ingin memberi undangan pernikahan?

Bom, kuatkan hatimu. Kamu bisa, okay. Itu… hanya… undangan, kan?

Undangan?

I just— no, I must accept it… right?

“Bagaimana kabar Seungri, Bom?” tanyanya tiba-tiba.

Aku mengernyitkan dahi bingung, “Kenapa bertanya anak itu?”

“Dia kekasihmu kan?”

Kekasih? Cih! Itu hanya mimpi buruk terakhir yang ingin aku alami! Aku tersenyum simpul, “Ani. Dia hanya ingin membantuku dari situasi sulit kemarin. Yaa… I mean, ada tunanganmu di sana. Jadi, dia refleks mengatakannya.”

Dong Wook oppa mengangguk kecil dan menghembuskan nafas panjang. Hening sekali lagi. Jemarinya bergesek di dinding gelas, sementara aku hanya menggenggam pegangan gelas di udara, menatap dasar ceruknya.

Aku tak bisa berhenti memutar otak mengapa dia kemari. Tidak mungkin kan dia hanya berbasa-basi tentang Seungri? Hingga mencapai kemungkinan yang terburuk, aku memilih untuk memembiarkan kesunyian menyelaput. Entah, aku lebih sibuk menata diriku dan bersiap, menarik nafas dan membuangnya perlahan, meremas tanganku di ujung kaus longgar.

“Bommie…” panggil Dong Wook oppa, akhirnya. Aku menengadah, menatap iris matanya lekat. Dia melanjutkan, “Mianhae…”

Aku terdiam. Dia meminta maaf. Untuk apa?

“…untuk?” aku memberanikan diri bertanya padanya.

“Memutuskan hubungan kita,” jawabnya singkat.

Dia memang hanya menjawabnya dengan tiga kata. Namun efeknya jauh lebih besar dari nuklir yang berpotensi menghancurkan separuh isi bumi. Jemariku yang berkeringat mulai bergetar. Aku menelan ludahku sendiri. “Ah, nee. A—aku… mengerti.”

“Bom, kamu tidak mengerti,” sergahnya, menatap gelasnya sendiri.

Dahiku mengernyit, “Maksudmu?”

Dong Wok oppa berpaling menatapku lekat, “Boleh aku kembali padamu?”

Sekonyong-konyong aku tersentak. Alih-alih bereaksi entah apa, aku hanya menatapnya tak percaya. Tidak mungkin kan? aku sepertinya tidak bisa mengontrol imajinasiku.

Aku baru saja ingin menampar pipiku kala dia melanjutkan dengan nada lebih tegas, “Apa kita bisa memulai dari awal?”

Ini nyata.

Memulai dari awal? Bersamanya? Aku tak mengerti apa yang seharusnya aku rasakan sekarang. senang, sudah pasti. Baru saja aku memimpikan dia kembali padaku. Tapi bukankah sebenarnya permasalahan bukan di sini?

“Oppa? Apa maksudmu? Kamu sudah bertunangan, kan?” tanyaku, tak yakin dengan pertanyaanku sendiri.

Aku senang, tentu saja. Aduh, seharusnya bukankah aku hanya tinggal menjawab saja? Bagaimana jika setelah aku mengatakannya, dia akan tersadar dan menarik kembali ucapannya?

Die memalingkan mukanya, memandang kosong jendela apartemen. “A—aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku tidak mencintainya,” jawabnya.

“Lalu kenapa kamu bertunangan dengannya?” kejarku sengit.

“Rumit, Bommie. Aku dipaksa meninggalkanmu dan bertunangan sengannya. Tapi…” dia menatapku sekali lagi. Ada letih yang melingkari matanya. Ada resah yang melingkupi irisnya. Namun aku masih melihat tulus yang menatapku lekat, “…aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Aku ingin bersamamu.”

Benarkah apa yang aku dengar? Benarkah?!

Tapi apakah semudah itu? Aku bahkan tak yakin dengannya. Kendati aku memang sangat menginginkannya, dia sudah terikat dengan orang lain. “Aku… tidak…—”

“Kamu tidak mau, Bom?” Wajahya memucat seketika, menatapku tak percaya.

“Bbu—bukan begitu,” sergahku. “Tapi, bagaimana dengan Byul?”

Dia meletakkan gelasnya di meja dan beranjak dari kursi. Berlutut di depanku hingga mata kami berada dalam satu garis lurus. tangannya lantas menggenggam tanganku lembut. Oh Tuhan, kejut di kulitku masih berefek hingga hentak jantungku.

“Aku akan mencari cara menghentikan pertunangan ini. Yang terpenting… maukah kamu kembali padaku, Bom?”

.

If you don’t give a chance you will never know the possibility and capabilities.

Advertisements

12 thoughts on “Ma Victoire (Part 7)

  1. Kocak diawal dan bikin gemes diakhir. . Gw lempar nih si Ji Eun ama Dong Wook *trbwaEmosi* mengganggu deh. . Hyunseung juga,ngapain ama Hara coba? Sama Hyuna Ά̲̣Jäª sono *lho* . .

    Akhrnya update juga ni ff. .cuma kok saya ngerasa yg Ji Eun ama Dongwook kok kaya rada sdikit dipaksakan gt ya saeng?”̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮
    Mungkin cuma perasaan saya aja.

    • eoya ya, itu ngapain hara nongol? jiakakakaakakak. :)))

      sebenernya nggak juga sih, krna jieun sebenernya udah beberapa kali muncul sebelumnya. mungkin karena kelamaan apdetnya… jadi lupa. ><
      hha…

      maaf ya unn…

  2. wuaahh adiz,..
    tak kirain kmrn si seungri kenapa2,..
    tak twny lecet2 dong,..
    kykny kl koma lbh bgs deh,.. ‘d’tendang’
    part awal ini d’buka dgn btpa kocakny kakaberadik ini,..
    kwkwkw,..
    i2 knpa hara am hyuensung?
    hara kan punya junhyung,.. ‘abaikan’
    wah, seungri galau, suka liat dy menderita #eh
    kykny bom udah mulai suka seungri ya,..
    d’kepala k’byang mulu am sipanda,..
    ckckckc,..
    aduh, gmn nih, ap bom bkl nerima dong wook kmbali?
    ok, d’tunggu aj next partny,..
    fighting,… 🙂

    • iya tuh. seungri cuma lecet2 doang. ntar kalo kenapa2 aku dimarahin readers. ><
      hha…

      iya, aku lupa. kepikirannya junhyung mulu tuh pas bikinnya. :)))
      gimana yaa… apakaahh~~ bom akan menerima? hha..
      liat ntar ya unn.. ^^

  3. oenniii,,,baru baca yang ma victore…kereeeeeen bgt oen….
    bahasa yg oennie pake tuh gak dibuat2 trus gak cheesy,jadi bacanya bikin addict..
    cuma pas buka yg part 2 kok diproteksi…trus gmn bukanya oen..??
    penasaraaan niiiii….masak langsung ke part 3 kan gak nyambung ntar oen..kalo mau minta pw nya boleh gak oen??gmn caranya..??
    gomawooo…dari dongsaeng yang sok kenal..hehe

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s