Kamu dan Hidupku

Haru berlari kesetanan sepanjang koridor rumah sakit. Peluh menguasai tubuhnya, bercampur dengan kalut yang menghambur. Jantungnya menghentak, jauh lebih cepat dibanding jejak kakinya. Lelaki itu terhenti di satu pintu. Terengah, tangannya menggeser pegangannya kasar dan menyeruak masuk.

SREEKKK!!

Wanita di atas ranjang ruangan sekonyong-konyong terperanjat. Matanya membola kala menatap sang lelaki. Wajahnya memucat seketika.

Mengapa…—

Baka[1]!” Mata hazel Haru menyipit, penuh tanda tanya tak terjawab. Masih dengan nafas pendek dan berkejaran, dia bertanya, “Mengapa kamu ada di sini, Ai? Mengapa kamu tidak bilang padaku?”

Ai terdiam. Suara menggelegar sang lelaki membuat matanya tanpa sadar sudah menutup serapatnya.

Emosi Haru kian melambung. Dia melanjutkan pertanyaannya, makin menuntut, “Mengapa kamu menghilang? Mengapa, Ai?!”

Sekali lagi, hanya hening yang mengisi sela mereka. Ai mengerlung di balik selimutnya dan memilih menatap jendela. Di ujung matanya satu tetes jatuh dan menyeberangi puncak hidungnya.

“Matsumoto Ai! Jawab!”

Tangan Ai merambat, meraih memo kecil di meja samping ranjangnya. Dia mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas ranjang, masih di bawah selimut rumah sakitnya. Untuk beberapa saat, jemarinya menuliskan sesuatu di memo dan menunjukkannya pada Haru.

Aku tidak pantas untukmu

Haru terkesiap, tapak demi tapak mendekat dan terhenti di pelipir ranjang.

Ai kembali mencoretkan sesuatu, dan menunjukkannya sembari tersenyum,

Gomenne[2], aku menghindar dari kamu. Terima kasih sudah menjengukku.
Berjanjilah kamu akan bahagia,
nee[3]?

“Ai, mana mungkin aku bisa bahagia tanpa kamu,” ujar Haru, melirih.

Tapi aku bisu.

Haru bertanya gusar, “Lalu kenapa, Ai?”

Ai semakin cepat menulis. Tangannya menggariskan huruf-huruf kanji dengan penekanan, sama besarnya dengan bagaimana dia menekan air mata di pelupuknya.

Aku tidak pantas untukmu. Carilah yang lebih baik, Haru.

Tangannya meraih dua pipi Ai dan menatap Ai lekat-lekat. “Dengar, Ai. Yang aku mau itu kamu. Bukan orang lain. Okay?”

Ai menatapnya tak percaya.

Mungkin jikalau jarum jam berbalik arah, Ai masih bisa bertahan dengan makian orang tua Haru tiap kali lelaki itu tak bersamanya. Sindiran serupa ‘anak tanpa orang tua’ tak pernah lebih dari sekadar angin lalu. Namun itu dulu, sebelum kecelakaan itu terjadi.

Kilas kejadian berkelebat lagi. Bagaimana mobilnya terseret kala sebuah mobil lain menabraknya.Bagaimana rasanya dia begitu dekat dengan kematian dan berakhir tak sadarkan diri. Kini, dia masih teronggok dalam ranjang rumah sakit karena  tulangnya yang patah di beberapa bagian. Bahkan dokter mengvonisnya dengan afasia motorik dan tidak akan mampu menjelaskan sepatah pun kata sepanjang hidupnya.

Bagaimana mungkin dia mampu melawan dunia kali ini?

Ai menunjuk memonya sekali lagi. Ditekannya frasa kanji yang sama, dengan derai di pipinya. Tidakkah lelaki di hadapannya mengerti bahwa dia tak lagi pantas diperjuangkan?

Aku tidak pantas untukmu. Carilah yang lebih baik, Haru.

Baka! Aku yang tahu siapa yang pantas untukku, atau tidak. Bukan orang tuaku, teman-temanku, apalagi kamu,” Haru menyergahnya.

Haru menggenggam tangan Ai, ekspresinya meragu. “Atau kamu tidak mencintaiku lagi, Ai?”

Ai menarik tangannya dan kembali meraih memonya.

Aku selalu mencintaimu, Haru.
Tapi berpikirlah, Haruki. Mana yang lebih penting, aku atau hidupmu?

Ai sudah bersiap untuk jawaban terburuk. Dia sudah melepaskan lelaki itu.Tidak ada asa untuk menggenggamnya kembali. Namun, yang terjadi kemudian tidaklah pernah disangkanya. Haru mengecup ujung keningnya dan memeluknya erat. “Gadis bodoh. Boleh aku bertanya padamu? Apa bedanya kamu dan hidupku?”

.

Beri aku satu alasan agar berhenti memikirkanmu dan akan kuberi kau selusin alasan agar berhenti berpikir seperti itu.


[1] Bodoh

[2] Maaf

[3] Ya

Advertisements

14 thoughts on “Kamu dan Hidupku

  1. um, okay…. kayaknya kamu bener deh, ada hal yang agak ganjel di fiksi ini dis. tapi, jangan satroni aku ke bandung kalo-kalo komentar aku rada gajelas ya. maklum, musim hujan.

    aku masih rada ganjel sama Ai yang tiba-tiba ngilang untuk menghindari Haru. dan kenapa harus ke rumah sakit? apa pas dia berniat menghindar dianya emang kebetulan lagi sakit? *slapped*
    terus, alasan dia ninggalin Haru… itu karena dia bisu? atau ada tekanan lain? orangtua/teman Haru yang gak setuju misalnya? atau karena dia mengidap penyakit tertentu? jujur masih bingung, dis. atau guenya aja yang…. gak nangkep? ;;___;;

    entah karena aku biasanya baca tulisan kamu dengan diksi yang rumit, pas baca ini kok jadi agak aneh ya dis? ini sengaja dibikin begini?

    itu aja sih kayaknya ><" daaaaaaaaaaan… kalimat penutupnya aku suka banget :') ijin ngutip ah 😀

    • hha… makasih yaa kritiknya nis..
      udah aku edit sih. tapi entah. aku ttep ngerasa nggak pas. hiks. 😥
      kayaknya emang akunya yg lagi odong bikin cerita. /sigh
      emang diksi ini ringan sih, biasa… aku males mikir.
      entah ah, kayaknya emang aku lagi labil banget.

      hhii… kalimatnya itu emang mauuutt~~ kekkeke~

  2. Heee maaf ya baru baca tulisan kamu yang ini. Jadi teringat dengan kisah nyata yang dialami temanku. Pacarnya juga kecelakaan mobil sampai harus diamputasi kedua kakinya. Tapi endingnya mereka putus. Sedih

    • hhii… nggak papa kok kak. 🙂
      iya? ya ampun, sampe harus diamputasi dua2nya itu… nyesek pasti ya…
      why putus? bukan karena kecelakaannya kan? :'((
      really, just read ur comment and I wanna cry. 😐

      • ya putusnya memang gara2 kaki diamputasi itu. Tapi aku juga gak tahu apa wanita atau prianya yang memutuskan. Sekarang si wanitanya udah pake kaki palsu…

  3. wah, haru baik bnget,..
    menerima ai apa adny,..
    ‘terharu’
    aplgi pas bilang “Gadis bodoh. Boleh aku bertanya padamu? Apa bedanya kamu dan hidupku?”
    lelaki idaman 2h,.. 🙂

  4. lantas apa beda kamu dan hidupku?

    ending yang manis kak Adiez (aku harap aku ga salah nulis nih :D)
    suka intriknya dan kejutan di setiap ending diksi punya kak Adiez… aku pengen sekali nulis se’Jleb’ itu…:'(
    btw kalimat endingya bagus.. ijin ngutip ya kak? 😀
    semangat nulisnya!

    • Halo Ann.
      Sorry baru saya balas sekarang. 🙂
      Terima kasih ya, sudah setia membaca dan sesekali mengomen. Really glad when I read your name in my notification. ^^
      Sila dikutip, dear. Will be more grateful if you write my name too. Ehehe.
      Thanks ya, kamu juga semangat baca tulisanku. Ehehe.

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s