Ma Victoire (Part 6)

Title      : Ma Victoire (Part 6)
Length  : Continue (3254 words)
Genre   : Romantic, Friendship, Sad, Comedy (fail)
Cast(s)  : Lee Seung Ri (BigBang), Park Lee Bom (2NE1), Choi Dong Wook (Se7en), Park Han Byul

Disclaimer :

All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.

This story copyright © 2012 adiezrindra, all right reserved.

Warning :

(Proloque) (Part 1) (Part 2) (Part 3) (Part 4) (Part 5)
beberapa part yang saya kasih password, bisa langsung minta ke @adiezrindra untuk pw. ^^

Author’s note :

Ssa– saya… nggak bisa ngomong apa-apa selain meminta maaf yang sebesar-besarnya karena menelantarkan tulisan ini sekian lama. ><

Saya nggak bisa memungkiri bahwa kesibukan membuat saya mencoba mangkir. Serta beberapa hal seperti perubahan karakter tulisan, ketidakstabilan penulisan dan beberapa hal lain yang membuat saya memutuskan untuk menstabilkan penulisan saya. Iya, saya masih nyoba cari alasan disini.

Saya nggak mempermasalahkan bila kalian memang sudah tidak tertarik dengan cerita ini, mengingat ini memang kesalahan saya sedari awal. Seterusnya saya mencoba untuk lebih teratur update, mengingat tinggal beberapa chapter sebelum memasuki akhir.

3-4 chapter mungkin?

Yang pasti saya tidak akan meninggalkannya sebelum mencapai ending. 🙂

Euhm… apalagi ya.

Saya mohon sekali kritikannya, part ini kurang di bagian mananya, kurang apanya, tidak nyaman dimana, etc. Saya akan sebisa mungkin memperbaikinya untuk mendekati apa yang kalian inginkan.

Sekali lagi, terima kasih banyak untuk bersabar menunggu.

regard,
adiezrindra

PS : Ehem. Yang minta di-tag untuk update selanjutnya bisa langsung mention ke twitter saya, atau tulis twitter kamu di komen ya.. 😀

___________________________________________

.

Taking a major step has never been easy, but everything worthwhile is always difficult at first.

.

Normal POV

Dong Wook tercenung di meja kerjanya. Benaknya masih melayang bersama wanita yang selalu dicintainya. Park Bom, masih tetap The Spring Lady. Rasanya sekeras apapun Han Byul mencoba mengalihkan perhatiannya, pikiran Dong Wook akan selalu kembali padanya.

Pada seorang Park Bom.

Apa yang dilakukannya sekarang?

Apakah mata lentiknya itu masih basah karenanya? Adakah yang mengecup air matanya?

Haiiissh! Dia sudah habis akal untuk mencari cara berhenti mencintai wanita itu. Atau semudah bagaimana agar wanita itu tidak melintas bak angin yang berkelebat di siang bolong.

Pertemuan malam sebelumnya dengan Seung Hyun dan Chaerin tak pelak memenuhi otaknya. Malam untuk merayakan keluarnya adiknya itu dari rumah sakit, serta Chaerin yang resmi menjadi miliknya. Di sela perjamuan penuh tawa, Seung Hyun nyatanya masih sempat memperhatikannya.

.

“Jadi, kamu resmi putus dari Bommie noona, hyung?” tanyanya, sembari menenggak gelas soju-nya.

Gelas soju milik Dong Wook terhenti di udara. Dia terkekeh. Tawa pahit yang mengejek kenyataan. “Nee.”

Wae? Jangan bilang kamu melakukannya karena ahboeji?”

“Apalagi?” tanyanya balik dengan nada sarkastis.

Seung Hyun menggelengkan kepalanya, tak habis pikir. Kakaknya itu tak lebih dari sapi yang mengekor penggembala. “Hyung, it’s your life. Kenapa kamu selalu menuruti keinginan orang itu?!”

Dahi Dong Wook mengerut, menatap adiknya sengit. “Kamu pikir aku mau? Ini yang terbaik untuk Bom. Apa kamu tidak ingat dengan hubungan-hubunganku sebelumnya? Aku berusaha melawannya, dan apa yang terjadi?

“… semuanya celaka.”

Seung Hyun terdiam.

He has power, while I have nothing,” pungkasnya getir.

Seung Hyun menuang soju —entah yang ke berapa— dan meminumnya. Sementara Dong Wook hanya memandang kosong langit ruangan.

Hyung, aku tidak tahu apakah dengan menghancurkan hidupmu seperti ini tetap jalan yang terbaik. Tapi bagiku, tidak. Bagiku akan lebih baik kamu tetap bersamanya, dan menghadapi hal ini bersama.”

“Aku tidak bisa, Hyun.”

“Kalau begitu, setidaknya dia harus tahu alasanmu yang sebenarnya, hyung. Dia berhak tahu.”

.

Setiap pria barang tentu mempunyai pilihannya sendiri, begitu pula dengannya. Hampir mustahil baginya melupakan Bom, wanita yang telah sekian lama bersamanya. Namun apa mungkin? Melangkahi ayahnya hampir sepadan dengan menyerahkan diri ke tepi jurang. Sebaliknya, dia pun paham, waktu yang berlalu tetap membuktikan bila hatinya memang bersama Bom.

Tak terhitung berulang kali dia bermain dengan imajinya seakan Bom datang dari pintu oak di depannya, berjalan dengan tubuh lencirnya, membisikkan cerita-cerita menyenangkan dengan suara manisnya. Atau telinganya yang mulai berdelusi mendengar suara Bom. Atau matanya yang mulai berhalusinasi melihat Bom. Atau banyak hal lain yang membuatnya tampak mendekati gila.

Dia tak mampu berhenti membayangkan, seandainya dia datang, apakah Bom masih mau menerimanya? Atau paling tidak menerima penjelasannya?

Terlebih, apakah masih ada cinta di hati Bom untuknya?

Apa masih tersedia kesempatan?

Mungkin Seung Hyun benar, ada kalanya dia harus berhenti menuruti jalan pikiran ayahnya dan mulai mengikuti kata hatinya. Mengambil langkah besar memang tidak pernah mudah. Tapi segala hal yang berharga memang pada awalnya memang sulit.

Tapi… bagaimana dengan Byul?

Jemarinya menekan pelipisnya penat dan menutup matanya sejenak. Too much. Apa yang harus dia lakukan sebenarnya?

Beberapa saat kemudian, dia sudah mengantongi kunci mobilnya dan berlari keluar kantor.

.

Han Byul baru saja memarkir mobilnya di pelataran gedung kala Dong Wook keluar dari gedung dan berlari menuju mobilnya. Dahinya berkerut, untuk apa tunangannya bertingkah kesetanan di siang bolong begini? Bahkan ini belum jam makan siang. Kemana sebenarnya dia ingin pergi? Padahal dia sudah jauh-jauh meninggalkan kantornya hanya untuk menghabiskan makan siang bersamanya.

Seingatnya bahkan hari ini tunangannya tidak ada jadwal meeting atau pertemuan-pertemuan membosankan lainnya. Begitu yang dia tahu dari sekretaris pribadi Dong Wook.

Tak menemukan alasan apapun di otaknya, dia kembali melajukan mobilnya, membuntuti Dong Wook.

.

***

.

Memories are too painful once the sweetest feature ever given by God

.

Gummy mencuri lihat bosnya untuk ke sekian kali hari ini. Wanita di sampingnya itu masih asyik dengan kegiatan mengelap cangkir-cangkir basah. Denting-denting berulang kali terdengar ketika tiap sisinya saling terantuk.

Ada yang berbeda. Jelas jauh berbeda.

Senyum yang semula dia kira tak akan terselip, kini muncul, bahkan dengan sudut lengkung yang lebih curam. Pun dengan pipi merona tanpa sentuhan blush-on dan dua bentukan croiscant matanya. Senandung lagu terdengar sayup-sayup dan merdu dari bibir penuhnya.

Belum cukup mencengangkan? Hari ini bahkan bosnya itu hanya mengenakan kaus berleher rendah tanpa lengan, hot pants, stocking dengan motif garis vertical dan ditutup dengan flat sneakers. Okay, dia tahu betapa sempurnanya tubuh Bom, tapi dia jarang sekali berpenampilan seperti ini untuk ke café. Pasti ada sesuatu! Atau akan ada sesuatu?

Aih aiiihh~~~!

“Bommie-ah~ kamu terlihat ceria sekali hari ini. Ada hal menarik apa kemarin? Atau akan ada sesuatu yang menarik?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Eh?” Bom meletakkan cangkirnya yang terakhir dan berbalik menatap Gummy. “Tidak ada, unnie.”

“Hull!” cibirnya tak percaya.

Bom hanya tertawa kecil, “Tidak ada apa-apa unnie…”

Jinja?” tanyanya menyelidik.

Nee.

Jeongmal?”

Omona… Unniee… kenapa unnie tidak percaya padaku?” tanya Bom jengah.

“Lalu, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Kenapa kamu pakai baju santai seperti ini? Pasti ada apa-apa! C’mon girl, cerita padaku!!”

Bom tak bisa menahan tawanya, “Jinjayo jinja, unnie. Memangnya aku tidak boleh senyum? Dan seingatku ini masih café milikku kan? Jadi aku bebas pakai baju apa saja kan, unn?”

“Hull! Gotjimal! Park Bom, kamu pasti menyimpan rahasia! Jika kamu berbohong… Dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Iya kaaaann??” kejarnya, pandangannya menyengit.

Omona unnieee… Kekuatan bulan? Hahaha…” Dia lantas melirik arlojinya sejenak, dan melanjutkan, “Ah, unnie. Aku pulang dulu, nee?”

“Eh?! Wae?” Gummy mengejar Bom yang tergesa mengemasi barangnya di ruangannya. “Ah! Kamu ada kencan ya? Dengan siapa? Seungri? Atau kamu mau dinner? Atau—”

Bom tergelak. “Aniya, unniee~! Ada big sale hari ini di mal. Tujuh puluh persen!! Aku mau ke sana secepatnya. Aku mau beli stocking, high waist, crop-tee, lingerie…—”

Gummy memandangnya kecewa. Hancur sudah keinginannya menggoda Bom hari ini, terpatahkan bersama dugaan-dugaan cintanya. “Hiissshh!! Sana pergi, kha! Kha!”

“Hahaha… Nanti aku bawakan wine untuk unnie, nee?”

.

***

.

Bom POV

Gummy unnie masih saja mengejarku sampai ke ruanganku. Memangnya aneh sekali ya kalau aku berbinar-binar bahagia hari ini?

Humm… alasanku bahagia hari ini? Banyak!

Pertama, rasanya untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku harus mengakui bahwa Seungri punya sisi bijaksana. Aku berpikir panjang semalam suntuk tentang banyak hal. Tentang keputusasaanku akhir-akhir ini. Tentang cintaku dengan Dong Wook oppa yang kandas. Tentang keinginanku bunuh diri. Tentang aku ingin meninggalkan kota ini.

Tentang Seungri dan…

ucapannya.

“…Berdamailah, noona.”

Ya, aku memilih untuk berdamai. Berdamai dengan kenangan-kenanganku. Dengan cintaku pada Dong Wook oppa. Aku akan membiarkannya tetap di sana, tanpa berusaha melenyapkannya. Mungkin pada akhirnya, rasa itu akan berlalu dengan sendirinya. Dengan perlahan tanpa aku menyadarinya.

Hey, mungkin suatu saat aku akan teringat bahwa aku pernah merasakan cinta pada Dong Wook oppa, dan perasaan itu sudah tidak ada di sana. Mungkin saja, bukan?

“…Ingat noona, sebelum dia membuatmu sesakit ini, dia pernah membuatmu sebahagia itu.

Lagipula bukankah aku sudah membuktikan, bahwa melupakan Dong Wook adalah hal yang sia-sia? Semuanya hanya menjatuhkanku pada fase yang lebih dalam. Terpuruk hingga nyaris hilang akal. Pun sia-sia jika aku menghabiskan waktuku menyesali jatuh cinta padanya. karena seharusnya aku tidak perlu menyesal. Terlalu banyak tawa bahagia, walau akhirnya aku akan menangis kala mengingatnya.

Yes, itu kata-kata Seungri semalam. Ternyata lelaki itu bisa mengatakan hal yang berguna juga. Kamu baru tahu? Begitu juga denganku!

“…Forget him and love me, noona.”

Sekilas ucapan terakhir Seungri terlintas. Untuk pertama kalinya aku melihatnya serius menyatakan cinta padaku. Memang, ada rasa bersalah yang terbersit, tapi bukankah lebih kejam jika aku menyetujui permintaannya, sementara aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa. Mungkin tidak saat ini. Mungkin nanti. Mungkin tidak sampai kapanpun. Entahlah.

“Eh?! Wae?” Gummy unnie masih mengejarku dengan rentetan pertanyaannya kala aku mengecek barang-barangku di ruangan. “Ah! Kamu ada kencan ya? Dengan siapa? Seungri? Atau kamu mau dinner? Atau—”

Kencan? Dasar unnie~! Kenapa pikirannya selalu ke arah hal-hal picisan seperti itu? Lagipula aku mau kencan dengan siapaaaa??!

Aniya, unniee~! Ada big sale hari ini di mal. Tujuh puluh persen!! Aku mau ke sana secepatnya. Aku mau beli stocking, high waist, crop-tee, lingerie…—”

Haha! Gummy unnie sekarang memandangku kecewa. Barang pasti dia sudah menyiapkan sejuta kalimat untuk menggodaku dan semuanya terpatahkan.

“Hiissshh!! Sana pergi, kha! Kha!” usirnya.

Aku berjalan keluar pintu café sembari melambaikan tangan padanya. “Hahaha… Nanti aku bawakan wine untuk unnie, nee?”

Aku mulai mendaftar dalam hati apa yang ingin aku incar hari ini. Stocking, lingerie, hot pants, tank top, crop tee…—

.

“Bommie…”

Jantungku sekonyong-konyong menghentak. Rasanya darahku terserap seketika menuju atrium dan meninggalkan pucat di wajahku. Believe me, hanya dalam hitungan nanodetik pun aku mampu mengenali suara ini. Tentu saja, aku berharap aku salah. Aku mengalihkan pandanganku, menatapnya.

Manik mata gelap yang sama.

Bibir yang sama.

Bohong.

Senyum yang sama.

Shit.

Suara yang sama…

Kenapa dia ada di sini?

“…Dong Wook oppa?” desisku, nyaris tak menggetarkan pita suara.

Tangannya saling mengepal di masing sisi. Salah satu kebiasaan jika dia terlampau kalut mengutarakan sesuatu. Shit. Kenapa hal-hal yang berkaitan dengannya jadi lebih mudah teringat? How I hate my stupid brain.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ujarnya ragu.

Aku terdiam sejenak. Rasanya aku butuh waktu untuk mencerna tiap ucapannya. Untuk apa? untuk apa dia menemuiku? Mengatakan sesuatu? Bukankah tidak ada yang perlu dibicarakan?

“…tentang?”

Dia menggigit bibir bawahnya dan menjawab terbata, “Kita. Tentang mengapa kita— eh, maksudku, aku— memutuskanmu.”

Satu pisau tertancap tepat. Hey, aku baru saja ingin berdamai dengan perasaanku, kenapa kini dia harus mengungkitnya lagi? Apa baginya lubang di hatiku belum cukup besar? Bagaimana jika dia ambil saja seluruhnya, dan aku akan terbebas dari perasaan membelenggu ini?

Cih!

.

“Dong Wook oppa!”

Seorang wanita berjalan, tangannya melambai ke arah kami. Seketika kami memalingkan kepala, menatapnya.

Dia disana. Wanita yang ada di kantor Dong Wook oppa.

Mendadak kelebatan peristiwa berputar. Aku datang ke kantor Dong Wook, bertanya pada resepsionis, dia datang…

Bertanya urusanku…

Memperkenalkan diri… sebagai… tunangannya.

Aku masih tak menemukan kepingan puzzle, mengapa wanita yang kini berjalan mendekat itu, bisa ada di sini. Untuk apa dia kemari?

“Byul?” tanya Dong Wook oppa, nyaris mendesis.

Wanita itu menggelayut manja. Okay, it hurts.

Sungguh, aku sebenarnya berbuat dosa apa di kehidupanku yang sebelumnya? Aku tahu, aku berdamai dengan perasaanku. Tapi please, tidak perlu menguji kemampuanku hingga seperti ini. Aku masih belum sanggup!

“Dong Wook-shi? sepertinya kamu sibuk. Boleh aku pergi dulu?” tanyaku, penuh penekanan.

Andwae! Bommie, aku belum bicara!” seru lelaki itu, setengah berteriak.

Apalagi yang dia inginkan?!

“Ah! Kamu yang beberapa hari lalu datang ke kantor Dong Wook oppa, kan?” wanita itu unjuk wicara. Telunjuknya mengacung padaku, mungkin baru saja teringat padaku.

Aku menghela nafas pelan. Enak saja dia, melupakanku. Sedangkan aku, hampir pasti aku butuh waktu berabad-berabad hanya untuk melupakan suaranya!

Wajahnya? Mungkin satu abad kemudian.

Ucapan-ucapannya? Mari kuhitung… mungkin sepuluh attau dua puluh abad lagi.

“…err, nee.”

“Kalian pernah bertemu?” Dong Wook menatapku menuntut. Aku memilih untuk diam. “Bom?”

Nee, oppa,” suara ceria wanita itu yang menjawabnya. “Dia kemarin ke kantormu, lalu aku bertemu dengannya, dan—” ucapannya terhenti, dan beralih padaku, “kemarin kita belum sempat berkenalan kan? Han Byul imnida, tunangan Dong Wook oppa.”

Dia tersenyum. Cantik. Aih, seharusnya aku tahu kenapa Dong Wook memilih dia. Jelas sudah, dia jauh lebih sempurna. Wajah ceria, senyum menggemaskan, tubuh semampai sempurna, apa lagi yang kurang darinya?

Tears, don’t come out.

Aku menelan ludahku. Sukar, dan sungguh pahit. “Ah, Park Bom imnida. Aku… teman lama Dong Wook-shi.”

“Aaahh…”

“…ssu… sudah berapa lama kalian… bertunangan?” tanyaku terbata.

Aku menanyakannya, kendati aku tak siap dengan jawabannya. Jika Dong Wook oppa sudah bertunangan sejak lama, maka seberapa bodoh aku di matanya?

“Bom!” Dong Wook oppa menghardikku.

“Berapa lama ya… Sebenarnya—”

“Cukup!” Dong Wook oppa nyaris membentak. Byul bahkan belum sempat menjawab pertanyaanku. Aku tak tahu apa aku harus lega, atau marah. Dia lantas menarik tangannya dari genggaman Han Byul, menyergahnya, “Apa yang kamu lakukan di sini, Byul?”

Han Byul lagi-lagi menampakkan senyum cantiknya, “Tentu saja menemuimu. Tadi aku ke kantormu, dan kulihat kamu mau pergi. Aku ikuti saja. Hehe…”

Aku benar-benar gerah! Aku tidak butuh adegan lovey-dovey di hadapanku sekarang. Sudah cukup aku hancur dengan realita dia bukan milikku lagi.

Berulang kali aku harus melesakkan ceguk tangisku. Menelannya agar tak ada air mata yang tak kuharapkan jatuh. Setidaknya tidak di depannya.

“Bom-ssi, kemarin kenapa kamu ke kantor oppa? Pasti ada sesuatu yang penting, hingga kamu repot-repot ke sana. Katakan saja sekarang. kalian belum sempat bertemu kan?” tanya Han Byul-ssi. Dia jelas tak tahu hubunganku dengan oppa sebelumnya, menilik dari nada suara tulus cerianya.

Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. mana mungkin aku mengatakan bila aku meminta tunangannya kembali padaku di hadapannya?

“Aku… eh…”

Mengembalikan barang? Mencari pekerjaan? Janji bisnis? No no no!

Apa yang harus aku katakan? Tolong…

“Ah… eh…”

Aku benar-benar tak sanggup berpikir alasan apapun. Seseorang, tolong aku!

Annyeong, Dong Wook-ssi.”

.

Annyeong, Dong Wook-ssi.”

Aku bahkan belum sadar penuh, kala orang tersebut sudah berdiri di sampingku. Aku menengok, dan menatap lelaki berkantung mata itu tak percaya. Seungri? Bagaimana dia bisa di sini?

Annyeong, Seung Hyun-ssi.”

Seungri tiba-tiba meraih jemariku dan menyelip diantaranya. Dia menggenggam tanganku erat dan mengangkatnya. “Noona-yah…”

“Eh?”

Apa yang…

“Bom noona ingin memberi tahumu bahwa kini kami berpacaran.”

Eh? Apa yang dia katakan?

“Itu yang mau dia katakan kemarin.”

Aku terperangah. Pun begitu dengan Dong Wook.

“Aaahh… chukkaeyooo!” lengking histeris Byul membahana, memecah hening. “Dong Wook oppa, kenapa kamu tidak mengucapkan selamat?”

Dong Wook oppa menatapku tak percaya. Dia berujar lemas, “Ah… chukkae, Bom.”

Aku terdiam. Apa yang harus aku ucapkan?

Lidahku terpaku. Apalagi yang lebih buruk dari ini?

Oppa, aku lapar,” cicit Byul kemudian.

Dong Wook oppa masih tetap terpaku memandangku. “Chakkaman, Byul. Bom, kamu… aku…—”

“Ayolah oppa… aku lapar…” Byul menarik lengan Dong Wook oppa hingga dia tak punya pilihan lain selain menuruti… tunangannya.

Tunangan.

***

 .

Aku tertegun. Dong Wook oppa sudah menghilang bersama mobilnya. Kini mataku memburu lelaki di hadapanku dengan tatapan menikam. Namun dia hanya membalas padanganku dengan polos, seakan tak sebersitpun rasa bersalah. Aku membencinya. Demi segala hal yang ada di dunia ini, aku membencinya.

Dia yang seharusnya yang paling mengerti, betapa aku masih sungguh mencintai seorang Choi Dong Wook.

Dia yang seharusnya yang paling tahu, betapa aku telah menghabiskan hidupku di relung cakrawala hanya untuk mengharapkan lelaki itu.

Dia yang seharusnya yang paling memahami, betapa aku ingin bersanding dengan lelaki itu.

Dia yang seharusnya mendukungku…

Dan kini dia…

How dare?!

“Apa maksudmu?!”

“Apa? Maksudku yang mana, noona?” tanyanya. Sudah jelas dia sedang berakting polos. Cih!

Kedua mataku menatapnya sengit, memfokuskannya pada siluet sosok yang paling ingin kulenyapkan saat ini. Betapa aku ingin dia berubah menjadi pasir bia r bisa kuterbangkan hingga tak mampu ditemukan.

“Kamu tahu kan, AKU MENCINTAINYA!!”

Dia terperanjat dengan reaksiku. Dia tergagap, “Aku… aku hanya ingin membantumu. Kamu terlihat bingung dan panik di hadapannya dan yeoja-chingu-nya.”

Ya Tuhan, yang benar saja! Lalu dengan alasan tolol itu dia berani— Aaarrgh! Tidak adakah alasan yang lebih baik dari ini?!

Nafasku memburu, saling berkejaran antara hembusan yang satu dan yang lain. Seakan tak ingin kalah dari mataku yang menatapnya liar sarat emosi. “Terima kasih. Tapi aku tidak butuh! Aku bahkan tidak ingat bahwa kita PERNAH ADA HUBUNGAN SEPERTI ITU, LEE SEUNGRI!!”

Kali ini, dia yang terhenyak menatapku. “Noona… Aku hanya ingin…”

“Cukup, Seungri! Enyahlah kamu dari hadapanku sekarang juga dan jangan pernah kamu berani muncul dari hadapanku!!”

Noona… Aku…”

Kedua tanganku terangkat, membuat barikade di depan telingaku erat-erat, seraya kedua kelopak mataku rapat menutup. Aku tak ingin lagi mendengar apapun yang keluar dari bibir busuknya. “CUKUP!! PERGI!!!”

Dia menghela nafas panjang. “Baiklah, noona. Jika itu maumu, aku akan pergi dari hadapanmu sekarang juga, dan kamu tidak akan pernah melihatku.”

Lamat-lamat, aku dapat mendengar derap langkah yang menjauh. Perlahan, aku melonggarkan pertahananku. Ketika aku membuka kedua mataku dengan pelan, dengan samar aku mamp menangkap langahnya yang terhenti dan berbalik.

Dia menatapku nanar. Saranghaeyo, noona.”

Dia pergi, meninggalkan aku yang sekali lagi…

tertegun.

***

 .

Seungri POV

Aku menghentikan motorku tepat di samping Hyun Seung. Lelaki itu masih memperhatikan laju motor yang kesetanan di arena balap liar. Beberapa saat kemudian, satu motor melewati garis finish di depannya dan bendera serupa catur dikibaskan berulang kali. Hyun Seung tertawa puas, sembari tangannya terkepal di udara. Pasti motor itu jagoannya.

Barang tentu dia menghabiskan uangnya untuk bertaruh, dan dia menang. That little bastard.

“Hey.”

Hyun Seung berpaling ke arahku dan terkesiap, “Ri?! Sejak kapan kamu di sini? Kapan kamu datang?”

“Humm… sepuluh menit yang lalu.”

Dia turun dari motornya dan merangkulku laiknya kawan lama. Okay, kami memang kawan lama. “Dalam rangka apa kamu ke sini, Ri? Bukankah kamu sendiri yang bilang tidak ingin bermain di arena lagi?”

Yeah yeah, kalian sudah mengira kan? Aku tahu, aku berandal. Balapan liar memang bukan hal baru bagiku. Sebaliknya, hal ini seolah menjadi makan malamku semenjak sekolah. Aku mengenalnya dari Seungie –panggilanku untuk Hyun Seung— dan memutuskan untuk lepas kala aku mulai mendapat pekerjaan.

Terlalu riskan sepertinya jika nanti aku berurusan dengan polisi. Bisa-bisa pekerjaanku yang menjadi taruhannya.

Tapi hari ini berbeda.

“Iyes, aku sudah berhenti. Tapi tidak apa kan sekali-sekali? Sekalian ingin menjajal kemampuan anak buahmu itu,” kelakarku, sembari menunjuk anak-anak belasan tahun di pinggir arena.

Really? I know you too well, Ri.”

Aku tergelak. “Yaa yaa… You know me too well. Biasalah, perihal cinta selalu berakhir rumit.”

“Hiissh…” Seungie meninju dadaku tak sabar. “Jadi, siap turun?”

Aku melihat arena yang sudah dimodifikasi sana sini dengan remeh. Halah, modifikasi macam apapun tidak masalah buatku. Seungri, pemilik keberuntungan di arena pasti dengan mudah merajai jalanan. Haha!

Aku mencibirnya, “Menantangku?”

 .

Kedua tanganku mencengkam kemudi erat. Jemari kananku memainkan gas berkali-kali, membiarkan bunyi meraung-raung. Aku mencuri lihat Seungie di sampingku dan menyeringai padanya. aku kembali fokus pada jalanan di hadapanku, mencondongkan tubuhku dan menunggu aba-aba untuk melaju.

“READY?!”

Aku meraungkan gasku sekali lagi. Hari ini aku akan melepaskan semua.

“START!!”

Seketika itu juga aku menjalankan motorku dengan kecepatan ekstrim. Hampir saja bodinya berputar, jika aku tidak cukup cekatan mengendalikannya. Aku mengegas lebih dalam, memacu hingga speedometer menunjukkan kecepatan maksimal.

Aku akan melepaskan semuanya.

Stress.

Depresi.

Sakit.

Cinta.

Bom.

Aku akan melepaskanmu, noona.

Dalam waktu singkat motor-motor sudah tertinggal olehku. Aku menyeringai sekali lagi. Nyatanya aku memang masih raja jalanan. Hahaha!! See, bahkan setelah aku meninggalkan kegiatan ini bertahun-tahun silam, aku masih bisa meraih pole position.

Kamu tak akan mengerti betapa bangganya aku dengan diriku sendiri. Haha!!

Aku melirik kaca spion. Seungie melaju di belakangku, mengekor semakin dekat dan bersiap menyalip di sampingku. Hoho! Aku tidak akan membiarkanmu meraih posisi dramatis ini, kawan!

Tanganku memutar kemudi semakin dalam, dan motor seketika melaju jauh lebih hebat. Pandanganku terhadap motor Seungie dari spion semakin kecil. Aku tertawa puas.

Katakan saja aku bodoh, karena rasanya jalan mudah tidak akan menghentikan rasa sakitku pada pernyataan Bom. Tidak sedikitpun. Aku harus menantang maut, membiarkan tubuhku mati rasa terhadap segala rasa.

“Cukup, Seungri! Enyahlah kamu dari hadapanku sekarang juga dan jangan pernah kamu berani muncul dari hadapanku!!”

Itu maumu, noona? Itu maumu?

Sebegitu bencikah kamu terhadapku, noona?

Okay. Aku tidak akan pernah muncul dalam hidupmu lagi. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Puas, noona? Hah!

Look, Bom! Look! Setelah aku mencapai garis finish, aku tidak akan mengingatmu lagi. Semudah itu? Ya, semudah itu.

I will stop loving you.

Tikungan curam menantiku. Aku sedikit memainkan rem dan bersiap meliuk melintasinya. Namun tiba-tiba dari sisi dalam tikungan sebuah motor melaju hebat, berusaha menyelipku. Terlalu rapat, dan kecepatan kami sudah hampir menyamai kecepatan cahaya. Aku tak sanggup mengontrol kemudiku untuk menjauh. Bodi motorku meliuk terlalu dalam, semakin mendekat hingga hampir bersentuhan dan…

BRAAAKKK!!!

.

there’s me in your home. there’s he in your heart. there’s u in my hurt. so there’s us in our illusions.

Advertisements

19 thoughts on “Ma Victoire (Part 6)

  1. Pingback: Ma Victoire (Part 6) « Fanfiction Lovers~

  2. setelah sekian lama haus akan kelanjutan perjalanan cinta Panda dan Bomtaro *alaybgt* akhirnya part6 ini dipost juga ^/\^ *prokprok*
    kalo crtanya seDAHSYAT ini, bahasa dan kata”nya yg KECE badaii, bner2 mengobatilah… thanks Adiez unn… *kalunginbungasetaman*
    buat seungri semoga jgn ampe mati ya, kasian belum kawin 😥 #ngenes

  3. akhirnya diupdate juga stelah sekian lama. . Tapi . . What ? ? Kok jd tabrakan bgtu? ? ? Jangan ampe mati yah. . Please. . Janji update yg traturnya harus ditepati yah. . Ho2

  4. wow bgs nih ceritany diez,..
    nih psnganny seungri am bom ya,.. 🙂
    jd cinta seungri b’tepuk sblh tangan ya,..
    tp gk bsa nyalahin bom sih, dy kan msh cinta am dong wook? tp bau2ny si bom nih suka am seungri deh,..
    oh ya, tokoh han byul 2h yg jd istiny haha kan? atw OC sih ‘sotoy’
    suka am nih quota :Memories are too painful once the sweetest feature ever given by God
    ttp deh kl pemilihan kata2ny keren,.. 🙂
    feel tokoh dpt nih,..
    n’ jgn bilang seungri die,..
    amnesia aj deh lbh baik,.. ‘d’tendang’
    oh, ya mw dunk d’tag_in d’twit kl udah d’publish ceritanya,..
    twiit q : @Wie_JK
    biasany kan prolog dlu kl bca cerita, tp q dr sini dlu,..
    hahaha,..
    pngend tw hbngan cinta bom am dong wook sblmya n’ mslh mereka,..
    bca dr prolog dlu ya,..
    lnsung aj k’TKP,..
    oh, ya d’tunggu lanjutanny,.. 🙂
    fighting,.. 🙂

    • hhi.. makasih unn..~
      iya, VI cintanya bertepuk sebelah tangan gitu…
      bukan, han byul itu aktris, emang pacarnya se7en (dong wook) di real life. 🙂
      hhii… makasiiihh yaa unn~
      nggak tau yaa~ diliat next part aja. ^^
      iya nih, unn langsung lompat part 6 cobaaa… :))
      sila dibaca prolognya. ^^
      makasih unn~~ 😀

  5. arggghhhhhhh
    finally keluar juga lanjutan FF ini
    btw, ini salah satu FF favorit
    hihiii

    eonni
    kenapa diksi eonnie selalu enak dibaca sih?
    *bagi resep dong*
    hee

    ngakak pas bagian ini
    ?Dengan kekuatan bulan”
    hahaaa jadi inget masa kecil
    *ketauan ya umurnya*
    -.-

    hemm…
    itu kenapa pake acara tabrakan?
    jangan mati please #tapi eonnie sering sadis
    jangan sad ending ya eon
    please, buat bom nyadarin perasaannya ke seungri oppa
    trus dong wook oppa biar sama byul aja
    ::)

    the last, “part ini DAEBAK!!!!”
    ^^

    *komennya kepanjangan* -.-

    • ehehe.. mian miaaann…
      aduh malunya ditungguin lama bener.. ><
      aduh, kenapa ya… rajin berlatih? kan semakin banyak latihan semakin bagus tulisannya. *katanya

      iya, itu gegara abis ngobrolin sailormoon~
      kekeke~~

      aduh, saya dibilang sadis. hha…
      nggak, nggak sad ending kok. 😀
      liat aja nanti yaaa…
      makasiiihhh…. ^^

  6. Keren sekali bisa membuat cerita ala korea. Kebayang kalau di film kayak apa. Coba deh dijual ke produser korea 🙂 Tapi translate-innya yang modyaaarr,,,hihihi Dinanti seri selanjutnya ya dis 😉

    • aduh, makasiihh kaakk.. ^^
      kakak kok mau sih baca cerita aneh gini.
      kekeke~ produser korea udah kebanyakan film kak. matilah aku kalo disuruh transletin. kemampuan hangul masih tengkurep gini.
      oke oke kak ana.. 😀

  7. Pingback: Ma Victoire (Part 7) | dandelion notes

  8. one of BEST chapter, Adiez… dunno, but i like it! imagining how Bom’ angry face, rejected Seungri…makjlebnya dapet! pdhl aq bacane yg part.7 dlu, hahaa…
    thanx fo da beautiful stories…semoga endingnya menggelegarrr!!

  9. halo
    salam kenal ya ,istri jidi here kkkkk ^^~
    btw suka sama ceritanya,si babon bikin gue ketawa sendiri haha
    gombalannya ke bom bikin ngefly >///<

    tapi itu cara bom buat jahuin seungri rasanya kurang sadis O.O hanya perasaanku saja atau gimana…
    yaudah deh gini aja maaf bawel *bow

    • salam kenal dear. 🙂
      hha.. gombalannya itu kan basi banget. hha.. 😀
      ya eungg.. kurang sadis ya? enaknya diapain lagi ya itu seungri? muahaha~~.
      gppa kok, makasih ya udah baca.

  10. aaaaa!!! akhirnya part 6 #sujud sukur
    keren bgt lah, unn!! gak berubah sama sekali kok dr tata bahasa ampe penulisannya ^^
    tetep daebak >w<
    betewe, lanjut dong unn!! penasaran ama nasibnya bg panda ku tercintah nih! #dipelototin champions -_-
    ya, ya, ya.. ah! saranghae, unn :*

.:: Leave a Note ::.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s